Bersiap Menjadi Ibu Hebat Meski Hanya Di Rumah

menjadi ibu hebat


Kisah Ibu Yang Hebat

Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang hebat, yang rela berjuang seorang diri demi mengantarkan kedua putrinya meraih kesuksesan. Sementara bapak telah lama meninggal.  Beliau akhirnya menyerah setelah berjuang melawan penyakit komplikasinya yang makin parah.

Tak bisa dibayangkan, bagaimana kisah hidup Ibu yang pelik. Ibu yang banyak berjuang demi keluarga besarnya, hingga akhirnya menerima pinangan bapak, yang usianya terpaut sangat jauh. Boleh dibilang bapak lebih pantas dipanggil “pak” ketimbang “mas”. Namun karena kebaikan hati bapak, sementara ibu tidak bisa membalas kebaikan beliau itulah, akhirnya ibu menerima pinangan bapak yang kala itu berstatus duda.

Yaa…itulah kisah ibu. Namun yang saya tahu, meski usia bapak dan ibu terpaut sangat jauh, kami tetap hidup bahagia. Ibu sangat menghormati bapak, demikian sebaliknya. Bapak pun sangat menghargai ibu. Bahkan kami selalu hidup bahagia, anak-anak tidak pernah merasa kurang kasih sayang. Semua kebutuhan kami terpenuhi. Inilah yang membuat kami semua; ibu, saya dan adik sangat kehilangan ketika bapak meninggalkan kami.

Meski begitu ibu tidak pernah lupa akan tanggung jawabnya. Sepeninggal bapak, ibu terus berjuang demi membesarkan kami. Kala itu saya masih kelas satu SMA, sementara adik kelas satu SMP. Sedangkan ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa yang bergantung pada gaji pensiunan polisi bapak.

Ibu memang tidak pernah kehilangan ide. Tangan-tangan terampilnya membuat beliau mampu menyulap pekarangan rumah dipenuhi pohon buah-buahan yang tumbuh subur dan berbuah banyak. Sedangkan rumah kami yang luas dengan beberapa kamar kosong, disulapnya menjami kamar kost dan siap disewakan untuk anak-anak sekolah yang membutuhkannya.

Inilah yang membuat ibu berpenghasilan. Hasil kebun buah dijual ke pedagang buah. Sementara beliau juga menerima uang dari sewa kamar kost anak-anak sekolah. Bahkan, beberapa anak minta dimasakkan tiap hari. Tak lupa ibu juga jualan sembako kecil-kecilan dan menjadi agen minyak tanah di rumah.

Ibu juga tidak malu diajak kerjasama tetangga untuk berjualan kue kering atau bahkan jual beli sepeda bekas. Prinsip ibu semua usaha itu rela dijalaninya asal halal dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Inilah yang membuat saya salut dengan beliau. Bahkan dengan usaha keras ibu lah kami berdua bisa lulus kuliah dan meraih gelar sarjana dari universitas negeri.


Menerima Perjodohan

Dulu saya sempat bertekat untuk membahagiakan ibu. Setelah gelar sarjana saya raih, saya ingin bekerja. Yang ada di benak saya hanyalah kebahagiaan Ibu. Namun, takdir berkata lain. Baru tiga tahun bekerja, rasanya belum cukup saya membalas jasa Ibu, tiba-tiba ibu menjodohkan saya dengan anak lelaki temannya.  Teman ibu datang ke rumah dengan anak lelakinya suatu hari. Pikir saya hanya berkenalan biasa, rupanya itulah saat perjodohan kami tiba, karena seminggu kemudian dia datang bersama keluarganya ke rumah untuk melamar saya.

Entahlah, mengapa kala itu saya langsung menerima perjodohan itu. Dalam benak saya hanya ingin membahagiakan ibu. Saya juga ingin berbakti kepada beliau. Hingga akhirnya saya menyadari, bahwa inilah skenario Allah. Jodoh itu bisa datang melalui perjodohan singkat.

Rupanya benar adanya. Meski sebelumnya kami tidak saling kenal, tapi lambat laun kami bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan menikah, itu artinya saya harus lepas dari ibu dan menjadi pendamping suami kemanapun dia ditugaskan. Kebetulan suami adalah abdi negara yang ditugaskan di Papua. Mau tidak mau saya harus resign dari tempat kerja demi mendampingi suami.


Perjuangan Hidup di Papua

Barangkali inilah liku-liku kehidupan di ujung timur Indonesia. Menjadi pendamping seorang abdi negara tidak serta merta menyenangkan. Saya yang sudah resign dari tempat kerja, terpaksa harus menerima kenyataan bahwa gaji suami tinggal separo, karena skep gajinya dijaminkan ke bank untuk membiayai pernikahan kami.

Sementara biaya hidup di Papua terbilang mahal. Bahkan ancaman penyakit malaria juga datang setiap saat. Rasanya hidup dirantau memang menguji kesabaran kami. Belum lagi kami yang harus berjuang mendapatkan momongan. Dari satu dokter ke dokter lain, hingga ke dukun pijat, mbak jamu bahkan semua nasehat orang saya lakukan demi mendapatkan keturunan.

Dan setelah hampir dua tahun kami berjuang, akhirnya suara tangis bayi itu terdengar di rumah dinas yang kami tempati. Bahagia rasanya kala itu. Meski begitu perjuangan hidup tidak boleh berhenti sampai disitu. Dengan bertambahnya keluarga baru di kehidupan kami, sama halnya saya harus memutar otak supaya penghasilan suami cukup sebulan.

Sempat berpikir ingin seperti ibu. Kala itu beliau berjuang demi kami anak-anaknya. Namun rupanya saya tidak sehebat ibu. Bahkan, beberapa surat lamaran yang saya kirimkan ke beberapa perusahaan juga tidak ada tanggapan. Padahal banyak teman bilang kalau di Papua sangat mudah mendapatkan pekerjaan, nyatanya berbanding terbalik.

Mungkin inilah skenario Allah. Saya harus di rumah, mengasuh anak dan menyiapkan keperluan suami. Tetapi, hanya di rumah saja, membereskan pekerjaan rumah tangga, rasanya sangat membosankan. Apalagi saya pernah mengenal dunia kerja. Lalu saya mencoba kembali menggeluti dunia menulis. Dulu, saat saya masih bersekolah, beberapa kali saya mendapatkan uang dari hasil kirim tulisan ke redaksi.


Cerita Saya dan Sebuah Mesin Ketik Manual

Saya masih ingat, bapak pernah membelikan mesin ketik manual untuk saya. Mesin itu lalu saya gunakan membuat cerpen dan cerita mini lainnya. Tiap malam selesai belajar, saya selalu menyempatkan membuat cerita. Suara hentakan tuts mesin ketik itu yang kerap membangunkan bapak dari tidurnya. Beliau lah yang akhirnya melarang saya untuk membuat tulisan, apalagi sampai begadang.

Begitu bapak meninggal, keinginan saya untuk memanfaatkan mesin ketik itu kian menggebu. Dengan seijin ibu, akhirnya saya berhasil menciptakan tulisan yang saya kirim ke beberapa redaksi majalah. Alangkah senang hati saya kala itu ketika pak pos datang mengantarkan wesel pos dari hasil pemuatan tulisan saya di majalah. Lalu ibu yang mengantar saya mencairkan wesel pos itu. Meski nominalnya tidak seberapa, tapi rasanya bangga bisa mendapatkan uang dari jerih payah sendiri.

Kini mesin ketik itu sudah rusak. Saya simpan rapi didalam peti. Saya tidak ingin melupakannya, karena alat pemberian bapak ini setidaknya telah berjasa membuat tangan saya mampu membuat tulisan yang menghasilkan.


Hasrat Menulis Kembali Menggebu

Dan kini, di hadapan saya bukan lagi sebuah mesin ketik, melainkan sebuah komputer PC lengkap dengan printernya. Saya ingin kembali menulis, membuat karya yang bisa membantu keuangan keluarga. Selain ingin kembali berpenghasilan, saya juga ingin menyalurkan hobi saya yang sudah lama terkubur. Saya mulai menulis dan mengirimkannya ke redaksi majalah.

Meski tidak setiap hari, karena kesibukan saya sebagai ibu dan aktif di organisasi, rupanya hobi saya ini menjanjikan. Beberapa kali saya mendapatkan uang dari imbalan pemuatan tulisan saya di beberapa rubrik surat kabar dan majalah. Bahkan, karena keisengan saya mengikuti lomba cipta kreasi masakan berbahan mie kala itu, membuat panitia memberikan penghargaan kepada saya.

Rupaya hobi saya ini membuat beberapa ibu di tempat tinggal saya penasaran. Saya pun akhirnya menjelaskan kepada mereka, dan alhamdulillah apa yang saya sampaikan memberikan berkah kepada mereka. Mereka mengikuti saran saya, memaksimalkan kemampuannya dalam menulis. Dan beberapa tulisan mereka akhirnya juga dimuat dalam rubrik yang mereka kirimi tulisan. Senang sekali rasanya bisa berbagi ilmu kepada teman seperjuangan di perantauan.


Memantapkan Diri Menjadi Blogger

Lebih dari sepuluh tahun saya mendampingi suami dinas di Papua. Lika-liku kehidupan pun sudah saya alami. Hingga akhirnya suami mengikuti pendidikan di Jawa dan saya pun harus mengucapkan selamat tinggal kepada pulau yang telah memberikan warna bagi kehidupan saya.

Setelah selesai mengikuti pendidikan, akhirnya suami ditugaskan di pulau Bali. Mau tidak mau saya harus mendampinginya, termasuk membawa serta anak dan memindahkan sekolahnya disana. Rasanya tidak ada yang istimewa. Menjadi pendamping abdi negara memang penuh perjuangan. Kata pepatah, hidup itu “sawang sinawang”. Tidak semua yang tampak indah akan senyatanya indah, demikianlah sebaliknya.

Inilah yang membuat saya harus tetap survive dalam kondisi apapun. Demi tetap berpenghasilan, akhirnya saya membuka les privat di rumah. Saya memberikan kesempatan kepada anak-anak teman sekolah Fawaz (anak saya) untuk belajar di rumah. Awalnya saya menggratiskan mereka, namun orang tua mereka yang berinisiatif memberikan uang ala kadarnya sebagai imbalan saya mengajar.

Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil mengajar privat anak-anak, saya juga bisa mengajar anak sendiri, agar tidak bosan jika banyak teman yang sama-sama belajar.

Tetapi, saya tidak berhenti sampai disini. Rasanya kalau hanya berpenghasilan dari les privat ini belumlah cukup. Saya harus mencari cara agar mendapatkan penghasilan dari usaha lain.


Sudah Lama Mengenal IndiHome

Sejak di Papua suami sudah berlangganan IndiHome. Namun kala itu hanya sebatas untuk menonton TV dan berkomunikasi dengan keluarga besar di Jawa. Lalu ketika pindah ke Bali, suami juga berlangganan paket IndiHome lagi. Tujuannya masih sama, supaya kami bisa nonton siaran TV dengan jelas dan lancar berkomunikasi dengan keluarga besar di Jawa.

Namun, seiring perkembangan jaman, dimana anak-anak diijinkan memegang handphone, akhirnya anak saya pun termakan trend. Saat musim liburan tiba, saatnya dia diijinkan memegang handphone untuk bermain game anak. Dari sinilah manfaat IndiHome bagi keluarga kami bertambah.

Apalagi signal IndiHome dari Telkom Indonesia di tempat tinggal kami sangat bagus dan lancar, inilah yang membuat aktivitas tanpa batas bersama internet ini makin menyenangkan. Bukan hanya lancar menyaksikan siaran televisi, namun browsing internet untuk mengetahui berita terkini juga makin mudah. Saya tidak pernah ketinggalan berita terkini dan selalu update hal-hal baru.

Dari sinilah akhirnya saya berpikir bagaimana cara menghasilan uang melalui internetnya Indonesia ini. Tentu dengan adanya internet lancar di rumah akan sangat membantu ibu rumah tangga berpenghasilan dari rumah. Kalau kita bisa nyaman nonton drakor, atau melihat tutorial memasak dari youtube, mengapa tidak mencoba mencari cara untuk berpenghasilan?

Saya akhirnya mulai aktif di media sosial, menambah pertemanan di dunia maya dan mencari berbagai komunitas seputar blogging. Ternyata melalui media sosial inilah komunitas blogging tersebar sangat luas. Dengan gabung di berbagai komunitas ini akhirnya saya mencoba peruntungan di dunia blogging. Meski awalnya coba-coba, akhirnya saya tertarik menggeluti hobi baru sebagai blogger.

Tujuan awal saya hanyalah mengisi waktu luang sembari menyalurkan hobi. Namun makin kesini, ternyata menjadi blogger itu bisa menghasilkan. Dengan menjadi blogger, saya bukan saja belajar merangkai kata-kata indah, namun saya juga bisa belajar menciptakan video menarik, saya bisa membuat gambar melalui media canva, saya bisa membuat infografis, bahkan saya bisa menggabungkan berbagai aplikasi untuk menciptakan konten menarik yang digemari pembaca atau penonton.

Dengan aktivitas tanpa batas dari internet provider IndiHome ini membuat saya bisa memaksimalkan hobi saya. Selain menulis, saya juga suka membuat konten, seperti konten memasak di rumah atau konten bersepeda bersama teman-teman. Dari konten-konten yang saya ciptakan ini kemudian saya share di media sosial yang saya miliki, seperti tiktok, facebook atau instagram. Ternyata sambutan mereka luar biasa. Meski konten yang saya ciptakan masih tergolong biasa-biasa saja, namun membuat mereka ingin belajar seperti saya.


Dari IndiHome Saya Bisa Berbagi Ilmu

berbagi ilmu melalui IndiHome


Terus terang adanya IndiHome di rumah sangat membantu saya menyalurkan hobi sambil mengisi waktu luang. Seringkali saya update tulisan di blog, bahkan saya juga sering membuat konten video pendek yang saya share di tiktok dan reels facebook maupun instagram.

Kebiasan menulis di blog inilah yang membawa berkah bagi saya. Beberapa kali saya mendapatkan tawaran menulis berbayar yang bisa menambah pundi-pundi penghasilan saya. Saya juga sering dikirimi produk oleh beberapa brand, dengan harapan agar saya bisa mereview produk dari klien, setelah tulisan tayang di blog, lalu saya akan mendapatkan sejumlah fee dari tulisan tersebut.

Tak jarang saya juga mendapat undangan online dan offline yang setelahnya saya juga diberikan reward dari kehadiran saya. Dari sinilah saya bisa menambah jaringan pertemanan. Saya bisa sharing berbagai pengetahuan, terutama ilmu tentang blogging dan segala cara membuat blog lebih dikenal oleh mesin pencarian.

Sementara dengan keisengan saya membuat konten video pendek melalui aplikasi membuat banyak teman di sekitar saya mengikuti jejak saya. Mereka seringkali bertanya kepada saya bagaimana caranya membuat video menarik. Dan setelah saya jelaskan sesuai pengalaman saya, akhirnya mereka pun berhasil membuat video menarik.

Bahkan, tak hanya itu, beberapa teman suami juga diajari untuk membuat logo, membuat slide atau menciptakan twibbon di hari jadi kesatuannya. Tak jarang untuk momen lomba atau ulang tahun pimpinan saya juga diminta membuat desain tersendiri. Ah…rasanya sungguh sangat tersanjung. Saya yang hanya ibu rumah tangga biasa, lebih sering beraktivitas di rumah, ternyata masih bisa memberikan ilmu kepada yang membutuhkan.

Inilah yang membuat berkonten ria bersama IndiHome itu sangat menyenangkan, apalagi saat ini ada IndiHome Video Competition. Selain dapat menyalurkan hobi, saya juga bisa berpenghasilan dari rumah. Lebih dari itu, saya bisa berbagi ilmu kepada yang membutuhkan. Sungguh ini menjadi sesuatu yang sangat membanggakan bagi saya. Saya pun siap menjadi ibu rumah tangga yang hebat meski hanya beraktivitas di rumah saja.

 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Wow seru banget nih, lewat perjodohan kemudian melewati banyak hal bersama hingga ke Papua. Luar biasa.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...