26 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:53 AM No comments
Persit adalah sebuah organisasi bagi istri anggota TNI. Tentunya organisasi ini didirikan dengan sebuah tujuan utama. Disamping untuk mendukung tugas suami, juga sebagai wadah untuk mengembangkan ide dan kreatifitasnya. Dengan demikian diharapkan Persit dapat bersatu mencapai sebuah tujuan mulia.

Namun jangan disalahartikan bahwa organisasi ini dibentuk untuk pamer pangkat atau jabatan suami dibalik seragam Persit. Tetapi hendaknya ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi ini semakin menyadari bahwa perannya sangat diharapkan untuk mendukung tugas suami dan meningkatkan kinerjanya sebagai seorang ibu yang notabene berdayaguna dan berhasil guna.



Sangat disesalkan bila ada seorang anggota Persit yang belum mengetahui benar apa tugasnya sebagai ibu dari anak-anaknya dan sebagai istri pendamping suami. Jangan hanya menjadi seorang wanita yang penuntut atau tak puas akan sesuatu. Tetapi, seorang anggota Persit harus mempunyai wawasan jauh kedepan, dan mengupayakan bagaimana dirinya bisa menjadi pribadi yang selangkah lebih maju dari yang lainnya.

Sebuah kenyataan yang sangat disayangkan bila rutinitas ibu-ibu hanya digunakan untuk ngerumpi dari satu tempat ke tempat lain, membicarakan keburukan orang lain, yang belum tentu cerita itu benar adanya. Padahal bila waktu yang tersisa itu digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, syukur-syukur menghasilkan, mungkin akan menambah semangat ibu-ibu untuk berbuat sesuatu yang menghasilkan.

Berbagai kenyataan lain juga menggambarkan adanya ketimpangan masalah ekonomi karena suatu sebab, atau adanya sebuah kasus yang mengakibatkan terjadinya keretakan keluarga. Sebisa mungkin hal-hal semacam itu diminimalisir agar citra ibu-ibu sebagai anggota Persit tidak jelek dimata orang lain.

Telah lama memang Ibu Ketua Umum menghimbau kepada seluruh anggota Persit untuk mendampingi suami dimanapun ia bertugas. Namun kenyataan berbicara lain. Bahwa kedua belah pihak, suami istri sama-sama bekerja tetapi berlainan daerah. Inilah yang menjadi kendala dalam sebuah keluarga untuk bersatu. Semua itu kembali pada komitmen keluarga masing-masing. Bila sebuah keluarga merasa nyaman hidup terpisah karena masing-masing bekerja, itu sah-sah saja. Tetapi jangan sampai lupa bahwa seorang istri anggota TNI otomatis menjadi anggota Persit.

Banyaknya kegiatan, seperti senam bersama, pertemuan rutin dan gabungan, anjangsana dan lain sebagainya, jangan lantas dijadikan beban. Namun jadikanlah semua itu sebagai pengalaman berharga sepanjang menjadi anggota Persit. Kelak ketika mengikuti suami pindah tugas, tentunya pengalaman itu dapat dijadikan pedoman atau bandingan untuk mengikuti kegiatan di tempat baru.

Tentunya semua anggota Persit berharap organisasi ini akan semakin maju di masa yang akan datang. Untuk itu ada beberapa yang harus diperhatikan agar Persit menjadi sebuah organisasi yang menginspirasi semua anggotanya.
  1. Anggota Persit hendaknya tidak bersikap egois, yang mengatasnamakan pangkat atau jabatan suami. Diluar kontek sebagai anggota Persit, ibu-ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa yang sama seperti ibu-ibu lainnya.
  2. Selalu menghargai dan menghormati, yang muda menghormati yang tua dan yang tua merangkul yang muda. Utamakan persatuan, jangan tercerai berai.
  3. Jangan suka membahas sesuatu yang belum pasti kebenarannya. 
  4. Jangan suka membicarakan keburukan orang lain, apalagi kebiasaan buruk suami sendiri. Bila hal demikian tetap terjadi, bisa jadi aib kita sendiri menjadi bahan gunjingan orang lain, karena dengan menyebarkan kejelekan suami sama halnya dengan menceritakan keburukan keluarga sendiri.
  5.  Isilah waktu luang dengan kegiatan positif, syukur-syukur yang menghasilkan dan dapat menambah penghasilan keluarga. Bagaimana caranya? Tentunya ibu-ibu sendiri yang tahu potensi dirinya. Manfaatkan sebaik mungkin kemampuan yang ada untuk menjadi pribadi yang berguna.
  6. Kedepannya semoga semua anggota Persit melek internet. Saat ini kemajuan teknologi semakin pesat, semoga ibu-ibu tak hanya diam berpangku tangan. Yuk manfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari dunia internet. Banyak peluang menjanjikan dalam dunia maya, seperti bisnis online atau menulis. Kedua kegiatan tersebut bisa menjadi ladang meraup rejeki bila benar-benar ditekuni. Mungkin ibu-ibu belum percaya bila belum membuktikannya. 
Ulasan tentang bisnis online dan menulis

Kedua kegiatan tersebut sengaja saya hadirkan dalam artikel ini karena memang sama-sama menjanjikan sebuah keuntungan. Bahkan bila ditekuni, hal tersebut dapat menjadi profesi yang menguntungkan seperti cerita disini. Adik saya, baru 1 tahun menekuni bisnis online, saat ini sudah meraup keuntungan 2 juta/pertahun. Ia hanya bermodalkan laptop dan modem, sedangkan untuk promosi cukup menggunakan media facebook. Memang namanya bisnis taka langsung melesat, ada beberapa kendala yang sempat dihadapi. Namun bila semua itu dihadapi dengan tekun dan telaten niscaya segala sesuatu yang menjadi penghalang lambat laun bisa dimusnahkan.

Sementara menulis juga tak ada ruginya. Seorang pensiunan Jenderal Berbintang Satu, beliau lebih sering dipanggil Pakde Cholik, kini berhasil mengisi masa pensiunnya dengan kegiatan menulis. Beliau adalah seorang master blogger terkenal dan piawai dalam merangkai kata-kata. Beberapa buku telah dihasilkan beliau dalam waktu singkat. Bukan hanya itu, beberapa lomba yang beliau ikuti juga terbukti menang dan menambah pundi-pundi tabungannya. Blog yang beliau kelolapun juga berpenghasilan. "Pensiunan harus kreatif". Itulah prinsip beliau. Jadilah beliau seorang pensiunan yang masih sangat disegani oleh para blogger.

Memang untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan sebuah proses. Panjang pendeknya proses itu tergantung bagaimana kita mengupayakan. Nah, untuk semua anggota Persit, harapan saya pribadi, semoga Persit dimasa yang akan datang akan menjadi organisasi yang solid, yang siap menghadapi perkembangan teknologi dengan menjadi pribadi yang berdayaguna dan berhasil guna. Mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendukung tugas suami. Dan jangan lupa anak juga prioritas utama yang harus kita perhatikan. Jangan sampai tidak memperhatikan tumbuh kembang anak sebaik mungkin. Justru kita harus membuktikan bahwa anak anggota TNI adalah anak-anak yang cerdas dan hebat berkat didikan orang tuanya yang hebat pula.



Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...