26 Agustus 2013

Posted by Sri Wahyuni on 2:48 PM 4 comments
Senangnya hatiku melihat pohon cabeku tumbuh dengan subur.  Meski aku tak merasa menanamnya, namun pohon itu bukan pohon ajaib.  Aku pun sempat memutar otak mengingat-ingat kapan  menebarkan benih cabe di belakang rumahku.  Meski seribu kali mengingatnya, tetap saja aku tidak ingat alias lupa. 


Memang benar aku tidak pernah menanamnya.  Pohon itu tumbuh lantaran keisenganku yang suka sembarangan melempar biji cabe tepat di belakang dapur rumahku.  Alangkah bersyukurnya aku, karena keisenganku ternyata berbuah manis.  Sebatang pohon cabe tumbuh subur tanpa memerlukan sentuhan tanganku untuk sekedar menyiramnya atau memberi pupuk.

Tanganku berfoto bersama pohon cabeku

Ingat cabe aku jadi ingat kebiasaanku yang belanja sayur di warung bu Made sehabis sholat Shubuh.  Sepagi itu aku sudah mengayuh sepedaku lantaran rumah dinas yang kami tempati tepat di pojok lapangan tempat bapak-bapak biasanya melaksanakan upacara bendera atau apel pagi. 

Begitu jam apel dimulai, bakalan ada provost berjaga-jaga di gang-gang dan tidak mengijinkan orang umum berseliweran melewati jalan itu.  Itulah sebabnya aku berbelanja di pagi buta.

Warung bu Made meski harganya sedikit mahal namun sangat lengkap, bahkan tempatnya pun dekat dengan asrama kami tinggal.  Apalagi saat pertama buka, yang diincar pembeli adalah gorengannya yang masih hangat.  Aku biasa membeli gorengan beberapa biji untuk sarapan suamiku sebelum berangkat ke kantor.

Suatu hari aku membeli 6 buah bakwan sayur dan 4 buah dadar jagung.  Tak lupa akupun minta beberapa biji cabe sebagai pelengkap makan gorengan.  Tiba-tiba bu Made dengan ketusnya bersuara,
“Jangan banyak-banyak ambil cabenya ya, cabe lagi mahal, kalau ambil banyak rugi saya!”

“Tidak bu, nih cuma 2 biji”, jawabku sambil menunjukkan cabe yang kuambil.

Kukira begitu aku selesai menjawab, bu Made juga mengakhiri pembicaraannya tentang cabe.  Ternyata tidak.  Ia masih tetap nerocos sambil menceritakan pembeli gorengannya yang suka minta cabe banyak.

“Ibu-ibu itu memang susah, beli gorengan cuma satu, ambil cabenya sampai lima.  Itu minta apa ngerampok!  Tidak tahu apa kalau harga cabe lagi mahal.  Kalau terus-terusan seperti ini saya jadi bangkrut.  Makanya setiap pembeli gorengan selalu saya awasi berapa biji ambil cabenya.”

Duh….bu Made! Apa mungkin seperti itu ya jiwa seorang pedagang, harus perhitungan agar cepat kaya dan tidak bangkrut hehehe……. Ah, masa bodoh dengan bu Made.  Yang jelas aku tak mau mempermasalahkan bu Made dengan cabenya.  Dan aku sangat bersyukur, meski bu Made hanya memberiku 2 biji cabe untuk 10 buah gorenganku, aku masih punya cabe-cabe yang siap dipetik.

Terima kasih pohon cabe, engkau selalu ada di saat aku membutuhkanmu.  Gorengan tanpa cabe akan terasa hambar, demikian juga dengan sayuran kurang lengkap bila tidak ada cabe.  Bersamamu sayur yang kumasak semakin nikmat, dan gorengan yang kumakan tambah enak.  Semoga engkau tetap tumbuh subur meski menempel di dinding dapurku yang terbuat dari triplek.

Sekilas tentang cabe rawit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit


Cabai rawit atau cabai kathur, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili pepper.
Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada varietas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya.
Terdapat peribahasa Indonesia "kecil-kecil cabai rawit" (Malaysia: kecil-kecil cili padi), yang artinya kecil-kecil tapi pemberani.
Cabai rawit
Sumber Gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit
 Klasifikasi Ilmiah tentang Cabe Rawit :
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Asterids
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Genus: Capsicum
Spesies: Frutescens



2013-07-29 05.14.18 

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Give Away Aku dan Pohon"  yang diadakan oleh 
mbak Murtiyarini
Categories:
Reaksi:

4 komentar:

  1. Kalau punya pohon cabe endiri enak ya, Mbak. Nggak terlalu ngaruh klo harga cabe mahal... :) ira

    BalasHapus
  2. Memang paling enak kalo di belakang rumah ada pohon cabe, apalagi ditambahn pohon tomat dll :)

    BalasHapus
  3. Beruntungnya.. Saya pernah berkebun cabe mbak, tapi nasibnya apes karena terendam banjir 2 minggu,yang tersisa hanya satu, itu juga karena ada di dalam Pot :D

    BalasHapus
  4. Aku juga punya pohon cabe hijau dan rawit. Rasanya memang beda kalau memetik cabe di pohon sendiri.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...