1 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 10:30 PM 3 comments

sumber: google



Sembilan tahun sudah aku mengarungi bahtera rumah tangga. Aku merasakan hidupku telah berubah seratus delapan puluh derajat. Semua ini berkat keteladanan ibu, seseorang yang telah membuatku bisa menatap indahnya dunia ini. Ya, ibu memang sumber inspirasiku. Jerih payahnya, petuahnya bahkan pengalaman hidupnya, menjadi pegangan dan semboyan bagiku untuk lebih memaknai hidup ini.

Hidup memang penuh perjuangan, Hidup memang terlalu singkat untuk hal-hal yang biasa, karenanya aku selalu berupaya melakukan perubahan di setiap hidupku. Masih lekat dalam ingatan ini ketika kepergianku diiringi lambaian tangan dan uraian air mata ibu. Ya, sembilan tahun silam aku pergi meninggalkan ibu tercinta, sanak saudara bahkan kampung halamanku demi mengikuti suami yang berdinas di luar Jawa.


Meski ribuan kilo jarak yang kutempuh dan berjam-jam waktu yang kulewati, namun takkan pernah memudarkan rasa cinta dan sayangku pada ibu. Bagiku ibu adalah sosok yang selalu hadir di setiap nafas hidupku bahkan menjadi penyemangat di segala aktifitasku.


Meski hanya melalui cerita almarhumah nenek, tapi aku tahu bahwa ibu adalah sosok yang amat bertanggung jawab pada keluarga. Ibu anak ketiga dari lima bersaudara. Sejak kecil rentetan peristiwa pahit telah dialami ibu, bahkan kemiskinan itu seolah menghimpit dan melingkupi kehidupannya.

Mulai dari meninggalnya kakek yang secara tiba-tiba sampai rela menjadi pembantu demi membantu nenek dan keempat saudaranya. Ibu rela membagi waktunya untuk pekerjaan dan sekolah. Baginya waktu amatlah berharga, dan ia tidak ingin ditertawakan sang waktu karena telah menyia-nyiakannya. Ibu yakin setiap detik waktu yang dimilikinya pasti akan membawa perubahan dalam hidupnya.


Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ibu rela mengabdikan dirinya menjadi seorang pembantu di rumah sang bibi. Tak peduli rasa letih dan penat di sekujur tubuhnya, ibu tetap bekerja dan bekerja, harapannya hanyalah agar ia dan keempat saudaranya bisa tetap bersekolah. Ternyata kegigihannya itu membuahkan hasil. Berkat sang bibi yang dermawan, ibu dan keempat saudaranya bisa terus bersekolah.

Pernah keempat saudara ibu diminta bibi untuk tinggal bersama dan membantu pekerjaan bibi, namun tak berlangsung lama. Didikan suami bibi yang moderat dan selalu menerapkan disiplin membuat keempat saudara ibu memilih kembali ke desa. Hanya ibulah yang kuat dan tabah menjalani hari-harinya dengan perlakuan seperti itu.

Kadang ibu dicaci, dimarahi sampai habis-habisan gara-gara ibu tidak disiplin waktu, namun semua itu dianggapnya angin lalu. Ia tetap teguh pada pendiriannya, bahwa ia ingin ibu dan keempat saudaranya bisa hidup dan mengenyam pendidikan yang layak. Pengalaman itulah yang menempa dirinya menjadi pribadi yang matang dan dewasa.


Bagi ibu kebaikan keluarga bibi merupakan suatu anugerah yang tak terkira. Ia pun bertekad untuk membayar semua itu dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, meski bibi tak pernah mengharapkan imbalan sedikitpun.


Sang waktu kian cepat merambat. Tak terasa ibu dan keempat saudaranya telah menamatkan bangku sekolah. Meski tidak sampai ke jenjang yang lebih tinggi, namun ibu amat bersyukur karena kedua kakak dan kedua adiknya telah mendapatkan pekerjaan. Ibu tak pernah menghitung setiap tetes peluh yang ia keluarkan untuk saudara-saudaranya. Sedikitpun tak ada rasa iri atas keberhasilan mereka. Ibu telah berjanji, selamanya akan mengabdi pada keluarga bibi yang telah membawanya pada perubahan teramat besar dalam hidupnya.


Sayang, niat baik ibu ditanggapi lain oleh menantu bibi (-istri dari anak bibi satu-satunya-). Dulu, ketika anak bibi belum menikah, ibu telah menganggapnya sebagai kakak yang penuh perhatian. Ternyata keadaan inipun berubah seratus delapan puluh derajat. Setelah menikah, anak bibi cenderung pendiam dan penurut pada istri, boleh dibilang ”suami takut istri”. Ibu dituduh perempuan pembawa sial, yang siap mengincar harta bibi dan menginginkan kematian bibi secara cepat. Memang, semenjak menantu bibi tinggal bersamanya, bibi sering sakit-sakitan. Namun semua itu tak pernah menyurutkan langkah ibu untuk terus mengabdi pada keluarga bibi. Ia yakin, semua kehidupan di dunia ini, bahkan hidup dan mati seseorang, hanya Allah-lah yang mengatur. Sedih, gembira, sakit atau lainnya Allah juga yang menentukan. Manusia tak kuasa atas semua itu.


Sungguh tak disangka ketika akhirnya bibi tercinta menghembuskan nafas terakhir karena sakit yang berkepanjangan. Ibu amat sedih, dan sangat kehilangan akan sosok bibi yang dermawan.
Bahkan yang amat memprihatinkan, beberapa jam setelah pemakaman bibi, menantu bibi pergi dari rumah dengan menguras habis seluruh isi lemari bibi, termasuk kotak perhiasan yang amat berharga. Sayang, anak bibi bagai kerbau dicocok hidungnya. Ia hanya bisa mengikuti kemauan sang istri dan tak bisa berbuat banyak untuk keluarganya.


Lagi-lagi cobaan itu menjemput ibu. Ketika sang bibi telah meninggal, ibu bimbang, karena belum banyak yang bisa ia berikan pada keluarga bibi sebagai imbalan atas kebaikannya. Ia pun tak bisa mengelak saat suami bibi, yang usianya puluhan tahun lebih tua darinya, yang seharusnya dipanggil ayah, meminta dirinya untuk menjadi istri keduanya. Pergulatan hati itu berlangsung lama.

Di satu sisi ia tidak ingin dianggap seseorang yang ingin merongrong atau mengincar harta warisan bibi, di sisi lain mungkin inilah bentuk balas jasa yang sepantasnya diberikan ibu pada keluarga bibi. Akhirnya dengan sebuah keyakinan bahwa bibi pasti bahagia di alam sana bila suaminya juga bahagia, dan dengan pertimbangan yang matang diterimalah pinangan suami bibi meski awalnya tanpa didasari rasa cinta.

Ternyata benar adanya, ketika ibu resmi menjadi istri kedua, berbagai tudingan miring kerap kali menimpanya. “Perempuan mana yang mau dinikahi duda tua kalau tidak hanya karena harta warisannya, karena sebentar lagi duda itu pasti mati, dan semua harta warisan itu pasti akan berpindah ke tangannya, wah memang benar-benar perempuan licik...”. Itulah yang seringkali dilontarkan saudara-saudara suami bibi yang merasa iri dengan kedudukan ibu. Namun semuanya itu dianggapnya angin lalu, seolah hati ibu telah mengeras bagai batu karang yang tak kan pernah bisa terkikis oleh gelombang pasang sekalipun.


Hari berganti bulan, dan bulanpun berganti tahun. Kehidupan ibu dengan keluarga barunya ternyata amat bahagia, terlebih dengan hadirnya dua anak perempuan, aku dan adikku. Tak terkecuali ayah (-mantan suami bibi-).

Kehadiran kami dianggap sebagai sebuah anugerah terindah dalam hidupnya, karena ayah kecewa dengan anak laki-lakinya yang belum bisa memberikan cucu. Kami dimanja, semua kebutuhan kami selalu dipenuhi. Inilah yang mengundang rasa iri menantu ayah. Bahkan ayah dianggap orang tua yang tidak adil, yang tak pernah mempedulikan anak laki-laki satu-satunya.

Pertengkaran hebat pun sering terjadi. Bahkan anak laki-laki yang tadinya penurut berubah menjadi bengis dan melawan ayah gara-gara hasutan sang istri. Berulang kali kakak tiriku datang menemui ayah hanya untuk meminta haknya, ia ingin dibelikan mobil, ingin dibelikan ini itu, sampai harta ayah sedikit demi sedikit habis dan hanya tersisa untuk kami (-ayah adalah seorang pensiunan perwira polisi-). Ibu tak pernah marah atau iri melihat kejadian itu, ia berusaha tabah dan pasrah atas apa yang dihadapinya. Beruntunglah kami (aku dan adik) masing-masing telah mendapatkan bagian rumah.


Ketika aku duduk dibangku kelas 1 SMA dan adikku masih di kelas 1 SMP, ayah meninggal. Ibu resmi menjadi janda di usia yang masih relatif muda. Namun ibu bertekad menjadi single parent, dan berniat membesarkan kami seorang diri. Ibu juga tidak ingin pendidikan kami berhenti di tengah jalan hanya gara-gara ayah telah tiada.

Dengan berbagai cara ibu lakukan demi kami, mulai dari terima kost di rumah, bisnis jual beli sepeda, menjadi agen minyak tanah, membuka warung kelontong dan mengantarkan pesanan kue kering. Aku masih ingat ketika ibu mengantarkan pesanan kue kering atau belanja sembako ditempuhnya dengan naik sepeda atau bahkan jalan kaki.

Dan aku juga masih ingat ketika gaji pensiunan almarhum ayah yang diterima hanya lima ratus ribu, sementara aku dan adikku harus membayar biaya kost dan kuliah, kebetulan aku dan adikku sama-sama kuliah di jurusan dan universitas yang sama, hanya beda tingkat. Mungkin orang lain akan menganggap semua itu tidak mungkin. Namun ibu selalu berprinsip tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bila kita berusaha semaksimal mungkin. Rejeki itu ada dimana-mana, tapi rejeki itu juga tidak akan turun dengan sendirinya bila kita tidak berusaha meraihnya. Ibu memang seorang arsitek kasih sayang yang handal. Ibu juga seseorang yang jeli dan pandai mengatur keuangan.

Dengan uang lima ratus ribu ditangan bisa berubah menjadi jutaan rupiah. Ibu gadaikan skep pensiun ayah untuk jaminan pinjam uang di bank. Dan pinjaman itu digunakan untuk biaya kost dan kuliah kami, sementara sisanya dijadikan modal untuk usaha apa saja yang bisa menghasilkan.

Alhamdulilah kami pun bisa memperolah gelar sarjana dari universitas negeri dengan gelar cumlaude, walau jalan untuk meraihnya penuh bebatuan yang terjal. Kami pernah memutuskan untuk berhenti kuliah ketika mengetahui gaji pensiun ayah yang diterima ibu tinggal empat puluh rupiah.

Lagi-lagi ibu bilang, ”jangan pernah berhenti menuntut ilmu”. Ibu juga pernah menjual sebidang tanahnya di desa yang masih tersisa untuk biaya kuliah kami. Namun sungguh malang nasibku ketika uang yang diberikan ibu untuk biaya kuliah diambil teman kostku, aku tak tahu siapa yang mengambil, yang jelas ketika kutinggal mandi uang itu masih terbungkus rapi di atas meja kamarku dan setelah selesai mandi bungkusan itu telah raib. Aku telah teledor.

Kemudian ibu menjual rumah yang menjadi milik adikku untuk pengganti uang yang hilang. Kebetulan rumah itu ditempati saudaranya, dan inilah yang menjadi pemicu pertengkaran hebat itu. Ibu dituduh ”kacang yang lupa pada kulitnya”, mentang-mentang sudah kaya tidak mau memperhatikan nasib saudaranya yang menderita. Demi pendidikan anaknya ibu tak mempedulikan semua itu.

Bukan itu saja, rongrongan dari kedua kubu ternyata makin gencar. Keluarga ayah dan keluarga ibu sama-sama menuntut bantuan dari ibu. Aku amat terharu sekaligus bangga atas perjuangan ibu. Kasih sayangnya pada kami mampu menghancurkan segala onak dan duri yang menghadang di tengah jalan.


Masih jelas terekam dalam memoriku ketika aku mendapat pekerjaan di kota lain yang jaraknya empat jam dari tempat tinggalku bila kutempuh dengan kendaraan umum. Aku sengaja pulang tiap minggu dan berangkat senin dini hari. Jam dua pagi aku berangkat dari rumah dan ibu dengan setia mengantarkanku ke tempat pangkalan bus. Setelah aku mendapatkan bus ibu pulang dan kembali lagi mengantarkan adikku ke stasiun kereta api pada jam empat pagi, karena ia akan menuju tempat kuliahnya. Itupun dilakukan ibu hampir tiap minggu dengan jalan kaki karena kami tidak punya kendaraan yang bisa ditumpangi. Sedikitpun ibu tak pernah mengeluhkan semua itu.

Ketika aku menikah pun, ibu bersikeras untuk menyiapkan pesta pernikahan kami, walaupun itu harus menjual sepetak tanah yang menjadi halaman rumah kami satu-satunya. Inilah yang kadang membuat iri saudara-saudara ibu, mereka mengira kehidupan ibu bergelimang harta. Terbukti kedua anaknya bisa meraih gelar sarjana, tentunya dengan biaya yang cukup besar.

Padahal untuk mendapatkan semua itu ibu harus berjuang mati-matian, namun pengorbanan ibu hanya anak-anaknya lah yang tahu.
 

Pernikahan itu telah membawaku pada perubahan besar dalam hidupku. Namun ibu tetap inspirasi dalam hidupku, yang selalu menumbuhkan semangatku manakala aku mulai goyah diterjang badai persoalan. Aku masih ingat ketika pertama kali hidup di rantau orang, rasanya ingin menangis, tidak bisa memasak, tidak mempunyai peralatan rumah tangga, bahkan aku menghadapi lingkungan yang benar-benar berubah.

Lagi-lagi ibu menguatkanku untuk tegar menghadapi kenyataan hidup. Apalagi kegiatan-kegiatan di lingkungan asrama yang menurutku asing membuatku stres. Aku dituntut bisa olahraga, voli, bulu tangkis, tenis, yang semuanya itu belum kukuasai.

Ibu juga tak segan mengingatkanku untuk selalu belajar dan berlatih, manakala aku mengeluhkan kegiatanku yang padat melalui telepon. Bahkan pengalaman yang teramat pahit sekaligus istimewa dalam hidupku ketika aku melahirkan tanpa bantuan ibu. Aku melihat temanku yang selalu mendatangkan orang tuanya ketika ia melahirkan, ada rasa iri dalam diriku. Sungguh bahagianya ia! Sementara aku, ketika berniat ingin melahirkan di kampung halaman, namun tak diijinkan atasan, sungguh sedih rasa hatiku.

Namun ibu selalu membangkitkan semangatku di setiap keluhanku, ibu meyakinkanku bahwa tanpa bantuan ibu aku pasti bisa melakukannya.


Masih banyak peristiwa-peristiwa yang kualami bisa kulalui berkat petuah dan dorongan ibu. Aku dan anakku sakit disaat suami sedang dinas luar, atau aku tiap hari harus mondar-mondir rumah sakit demi menunggui suami yang di opname gara-gara terserang malaria. Itupun bukan sekali saja terjadi, melainkan tiap bulan selama hampir setahun suamimu selalu absen masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama setiap ia ditugaskan di hutan. Otomatis menguras tenaga, pikiran sekaligus keuangan kami.

Akupun pernah marah ketika aku disuruh berhenti bekerja oleh atasan suamiku, alasannya aku harus mendampingi suami dan tidak boleh terlalu sering meninggalkan kegiatan karena aku istri orang nomer dua di lingkungan asrama. Sebagai seseorang yang pernah mengenyam bangku kuliah dan pernah bekerja, rasanya minder dan malu kalau aku hanya menjadi ibu rumah tangga murni tanpa mempunyai pekerjaan tetap. Mungkin aku lebih mementingkan ego daripada keluarga.

Sekali lagi ibu hadir dalam setiap masalahku. Walau hanya melalui suara namun petuahnya membuatku tegar dan selalu sabar menghadapi kenyataan hidup. Mungkin inilah jalan terbaik yang diberikan Allah untukku. Aku harus bisa mengambil hikmah dari semua ini. Ibu juga pernah berpesan padaku untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebaik mungkin.

Dengan berpedoman pada nasehat dan pengalaman hidup ibu aku berusaha menjadi seseorang yang bisa memposisikan diri sebagai istri bagi suamiku, sebagai ibu bagi anakku serta sebagai kakak dan saudara bagi ibu-ibu di lingkungan asrama.

Bahkan semua pekerjaan rumah akulah yang mengerjakan sendiri tanpa bantuan pembantu. Ya...rasanya aku harus bersyukur atas limpahan karunia-Nya karena saat ini kehidupanku telah berubah, aku bisa menjadi pribadi yang mandiri. Masalah ego karena tidak bekerja aku memang harus meninggalkannya, karena profesi ibu rumah tangga bukan berarti identik dengan pekerjaan dapur dan mengurus anak saja. Seperti ibu yang notabene ibu rumah tangga, masih bisa menjalankan berbagai usaha demi kesuksesan anak-anaknya. Dan aku yakin pekerjaan tidak harus di dapat di lingkungan kantor, karena belum tentu lingkungan kantor bersahabat dengan kita.


Aku akan terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi untuk keluargaku, seperti ibu yang terus mengupayakan perubahan dalam hidupnya. Dan aku akan menjadikan ibu ispirasi di setiap tulisanku, karena keteladanan dan pengalaman hidupnya yang luar biasa telah mampu mengubah kehidupanku seperti sekarang ini. Sungguh amat berdosa bila aku tidak mampu membahagiakan ibu, karena itu aku ingin membuat ibu senantiasa tersenyum menatap hari esok yang penuh makna.
Categories:
Reaksi:

3 komentar:

  1. Inspiratif, Mak. :)
    Menulis tentang Ibu emang selalu lancar inspirasi + mengharukan. :'D
    Ada juga tulisanku tentang Ibu di sini www.bonekalilin.com

    BalasHapus
  2. ya memang ibu menjadi inspirasi hidupku mak...ok blog walking tks salam kenal

    BalasHapus
  3. ibu memang sosok yg menginpirasi..love my mom so much :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...