24 April 2015

Posted by Sri Wahyuni on 8:33 AM 19 comments
“Sudah 3 tahun menikah belum punya momongan, mengapa?

 “Kehidupan saya masih begini-begini saja. Suami nganggur, sementara saya baru saja dipecat. Kalau saya punya anak, takut tidak terurus. Saya ingin berbisnis mengumpulkan tabungan dulu, baru memikirkan anak.”

Barangkali banyak diantara kita yang merasa ketakutan menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Dulu ketika masih berpacaran, hanya hal-hal baik yang tampak. Namun setelah menikah, ternyata sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi.

Hidup tak ubahnya seperti panggung sandiwara. Ujian-ujian itu datang silih berganti. Kalau kita terus bersembunyi dan tidak berani menghadapi ujian itu, niscaya selamanya kita akan terbelenggu dalam ujian yang tidak akan pernah habis. Hanya orang yang beranilah, yang kelak akan terbebas dari ujian kehidupan.

Semenjak menikah, saya harus berjuang demi kehidupan dan pernikahan saya. Pasalnya, saya menikah karena perjodohan, tentunya kami belum saling kenal satu sama lain. Ditambah suami saya yang berdinas di Papua. Otomatis, saya harus resign dari tempat kerja dan mendampinginya kesana. Belum lagi gaji suami yang tinggal separo. Dia tunjukkan slip gajinya yang sudah tidak utuh lagi. Skep gajinya terpaksa dijaminkan ke bank demi membiayai pernikahan kami. Bukan lantaran orangtuanya tidak mau membantu, tapi memang dia ingin membiayai sendiri pesta pernikahan kami.

Sudah bisa dibayangkan betapa susahnya kehidupan kami waktu itu. Hidup di Papua dengan gaji yang pas-pasan. Sementara saya sudah tidak mempunyai penghasilan yang bisa diandalkan. Saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan aktif dalam kegiatan didalam asrama demi membantu tugas suami.

Sejak saat itu, tekad saya bulat. Saya harus #BeraniLebih tangguh menjalani kehidupan setelah pernikahan. Menikah sudah menjadi keputusan saya. Itulah sebabnya saya harus siap menerima segalanya, termasuk siap menerima sikap dan perangai sesungguhnya suami saya, juga siap menerima keadaan yang saya hadapi.

Ketika satu persatu permasalahan itu bermunculan, bukan air mata atau rasa penyesalan yang saya tunjukkan. Namun semangat untuk bangkitlah yang membuat saya tetap bertahan. Sebagai istri seorang TNI, tentunya banyak permasalahan didalam asrama yang harus saya selesaikan, mulai dari pertengkaran kecil antar tetangga, kesulitan keuangan ibu-ibu di asrama dan masalah-masalah lain. Belum lagi masalah pribadi saya yang membuat saya terus berjuang.

Dua tahun menikah, kami belum dikaruniai momongan. Namun dengan segenap keberanian, akhirnya saya terus berjuang untuk mendapatkan keturunan. Mulai dari pijat, mengkonsumsi obat-obatan, sampai berobat ke berbagai dokter kandungan. Tentunya semua itu butuh biaya yang sangat banyak. Sekali lagi, suami kembali menjaminkan skepnya untuk meminjam sejumlah uang di bank.
Barangkali hidup dengan gali lubang tutup lubang memang terasa berat. Namun hanya ada satu tekad dalam benak kami, bahwa yang kami inginkan adalah keturunan. Ternyata, Allah mengabulkan doa kami. Perjuangan kami dikabulkan Allah. Dan setelah anak kami lahir, saya dan suami merasakan bahwa kehidupan kami jauh lebih baik dari sebelumnya. Itu artinya, anak selalu membawa berkah dalam kehidupan orang tuanya.

Saya tidak menganggap anak sebagai beban. Nyatanya, setelah dia hadir dalam rumah tangga kami, penghasilan suami pun bertambah. Meski saya hanya seorang ibu rumah tangga, namun alhamdulillah kami merasa cukup. Bukankah dapat bertahan hidup selama sebulan, mencukupi kebutuhan anak dan melayani suami dengan baik, sudah cukup membuat hidup bahagia? Jadi mari kita #BeraniLebih menghadapinya!



Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek #BeraniLebih bersama Light of Women


Twitter    : @Yunihan09Sri

Jumlah kata: 498
Categories:
Reaksi:

19 komentar:

  1. Iya ya mbak. Namanya hidup, harus tetap tabah meski banyak kendala. Sukses selalu mbak Yuni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Susi, terima kasih supportnya

      Hapus
  2. Yang penting dalam membina rumah tangga adalah kesabaran dan saling mengerti, iya kan mbak... Semangaaat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bgt mas, sabar dan ikhlas...

      Hapus
  3. Kata ibu saya, kalau hidup lempeng-lempeng aja, gak ada gregetnya. Jadi dinikmati aja setiap perjuangan, karena pasti ada hikmahnya. Sehat dan bahagian terus ya, Mak Yuni :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bgt petuah ibunya mak...terima kasih saran dan dukungannya

      Hapus
  4. Bagus kalo gtu, suaminya mandiri pke uang sendiri buat pesta pernikahannya

    BalasHapus
  5. Sama juga Mak dengan saya, mau nikah pinjam uang di bank. Hehehe....badai pasti berlalu

    BalasHapus
  6. Membaca cerita di blog selalu terbayang perjuangan ibu2 rumah tangga yg keren bertahan apapun kondisi suami. Salut & inspiratif banget. :)

    BalasHapus
  7. Buat saya, berumah tangga juga merupakan proses belajar. naik turunnya membuat kita semakin banyak belajar dan memahami arti hidup.

    BalasHapus
  8. Yang penting pasrahkan segalanya kepada-Nya

    BalasHapus
  9. Saya sudah 15 tahun menikah. Dari awal pernikahan hingga 8 tahun penuh gejolak, hampir saja kami menyerah. Tapi alhamdulillah, semakin kesini kami saling menjaga perasaan dan berusaha saling membahagiakan. Sederhana...

    BalasHapus
  10. Sangat inspiratif, pada pragraf awal saya jadi takut untuk menikah (pernikahan terlihat begitu seram) namun setelah melanjutkan membaca sampai ending ternyata Happy ending dan dapat pesan #berani lebih menghadapinya. Sukses mbak

    BalasHapus
  11. kebayang susahnya mbak, jauh dari kampung halaman, gaji tinggal separo. tapi sukses ya mbak setelah itu.

    BalasHapus
  12. Perempuan tangguh mbak, nggak cepat menyerah. Itu poin yan aku suka Mak :-)

    BalasHapus
  13. betul mak, sebagai seorang istri, kita harus tangguh dalam menghadapi apapun

    BalasHapus
  14. Bacaan yang cocok nih buat saya yg mau menikah mak :D

    BalasHapus
  15. terkadang kita memang perlu tangguh dalam menghadapi pernikahan agar tidak terjadi perceraian di tengah jalan :(

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...