Siapa sih yang tak kenal Desa Adat Penglipuran? Desa Adat yang terletak di Bangli - Bali ini, selain terkenal karena rapi dan bersih, juga menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal di pulau Bali. 

Saya pernah menulis keunikan desa adat Penglipuran ini disini. Dan memang benar-benar bikin takjub ketika kita berada di kawasan ini. Kebetulan beberapa waktu lalu saya kembali mengunjungi area ini sekedar ingin refreshing bersama teman-teman. Sekitar pukul 16.00 wita saya dan rombongan sampai di Penglipuran. Inilah waktu yang tepat menikmati suasana alam Desa Penglipuran yang membuat suasana hati terasa adem.



dokpri

Memang cuaca di kawasan ini terbilang panas. Saat siang hari terik matahari begitu menyengat, namun ketika sore menjelang, hawa dingin ditambah hembusan angin yang semilir membuat saya benar-benar menikmati wisata alam di Desa Adat Penglipuran ini. Demi meninggalkan jejak kenangan, kami pun beberapa kali berswafoto. Dan senyatanya pemandangan yang terpampang begitu indahnya.


KARANG MEMADU

Ketika sore menjelang, pengunjung kawasan ini tak sebanyak di siang hari, sehingga saya pun bisa benar-benar melihat satu persatu keunikan yang ada di Penglipuran. Salah satunya adalah plang yang bertuliskan "Karang Memadu". 

memasuki kawasan Karang Memadu (dokpri)



Banyak spot menarik yang instagramable di Karang Memadu (dokpri)

Karang Memadu ini adalah sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami, yaitu lahan kosong seluas 9 x 21 meter yang terletak di ujung selatan Desa Penglipuran. Dan untuk membatasi lahan umum dengan lahan khusus ini, maka dibuatlah plang atau papan nama yang bertuliskan Karang Memadu. Karang artinya tempat sedang Memadu artinya poligami.

Inilah bukti bahwa semua agama di Indonesia tetap menganggap bahwa Poligami masih saja dianggap sesuatu yang merugikan bagi kaum wanita. Bagaimanapun juga yang namanya poligami sering membuat wanita tersakiti, meski ada beberapa kasus lelaki hidup rukun dengan beberapa istri didalam sebuah rumah tangga. 

Atas dasar inilah Desa Penglipuran sejak dahulu sudah memberlakukan anti-poligami bagi warganya. Bila ada yang melanggar aturan, maka warga yang bersangkutan akan diberikan ganjaran setimpal sesuai peraturan desa. Hukumannya berupa pengasingan dan ditempatkan di Karang Memadu. Bagi warga setempat, adanya lahan pengasingan ini membuat mereka takut untuk melanggar aturan desa, karena siapapun yang berada di kawasan ini pasti dianggap kotor.

Namun sebaliknya dengan para wisatawan. Dengan penataan yang rapi, ditambah spot-spot menarik didalamnya, membuat kawasan Karang Memadu ini selalu ramai pengunjung dan dijadikan tempat untuk berswafoto. 


SEJARAH KARANG MEMADU MENURUT SUMBER DESA ADAT PENGLIPURAN

sumber: google

Menurut cerita, pantangan poligami ini lahir karena pada jaman dulu sering terjadi perselisihan antar keluarga. Pemicunya adalah suami menikah lagi tanpa ijin istri pertamanya. Hal ini membuat pemimpin desa kewalahan mengurus permasalahan yang sama berulang-ulang. Maka pemimpin desa (mekele) membuat aturan yang melarang lelaki Penglipuran untuk berpoligami. Hal itu disepakati semua warga dan dilaksanakan hingga saat ini.  
Bagi masyarakat Desa Penglipuran, Karang Memadu berstatus leteh (kotor). Segala sesuatu yang tumbuh di atas lahan Karang Memadu dianggap tidak suci, sehingga hasil bumi seperti palawija, sayur mayur, atau buah-buah  tidak bisa dihaturkan sebagai bahan upakara (sesaji). Sampai saat ini, belum ada warga desa yang menghuni Karang Memadu. Sehingga tempat itu hanya berisi semak-semak belukar.Karang Memadu yang hingga kini masih kosong. Menurut pemimpin Desa Penglipuran, dulu sempat ada seorang lelaki yang hampir ditempatkan di Karang Memadu karena beristri lagi. Warga desa sudah membuatkan orang yang bersangkutan pondok di Karang Memadu. Namun sanksi yang berat membuatnya jera terlebih dulu. Sehingga ia memilih menceraikan istri pertama dan hidup dengan istri kedua di luar Desa Penglipuran. 
Penghuni Karang Memadu hanya dibuatkan gubuk kecil sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Mereka pun tidak bebas pergi ke berbagai tempat, semacam ada batasan yang disepakati. Di antaranya mereka hanya boleh melewati jalan di selatan bale kulkul (bangunan tinggi tempat kentongan) desa.Orang Karang Memadu juga tidak diizinkan untuk mengikuti sembahyang di pura-pura yang menjadi tanggung jawab desa adat. Tidak boleh juga bergaul di masyarakat dengan bebas. Bahkan pernikahan orang yang berpoligami tidak disahkan oleh desa, sehingga upacaranya tidak diselesaikan oleh pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama. 
Ini membuktikan bahwa Karang Memadu mendidik kaum lelaki untuk setia terhadap satu pasangan saja. Hal ini juga menjadi bukti bahwa leluhur setempat sejak zaman dahulu memang sangat menjunjung tinggi dan menghormati keberadaan kaum wanita. (sumber website Desa Penglipuran)

LOLOH TELENG (LOTENG)

Satu lagi yang baru saya ketahui setelah memasuki berbagai area di Desa Penglipuran adalah Loteng atau Loloh Teleng, yaitu sejenis minuman khas buatan warga setempat yang bisa dijadikan oleh-oleh. Selama ini yang saya tahu hanyalah Loloh Cemcem, yang hijau warnanya, rasanya asem manis karena ada campuran kelapa muda, asam, gula dan perasan daun cemcem.


Ternyata Loteng alias Loloh Teleng ini tak kalah nikmatnya bila diminum dalam keadaan dingin. Minuman Loloh Teleng ini terbuat dari bunga teleng. Bunga Telang merupakan salah satu jenis tanaman merambat yang banyak dijumpai di hutan maupun di pekarangan rumah penduduk yang biasanya digunakan sebagai tanaman hias. Tanaman ini pada umumnya memiliki bunga yang berwarna biru terang, namun sebenarnya bunga teleng ini juga memiliki varian warna lain yang berbeda seperti putih, pink, dan juga warna ungu.

Selain sebagai tanaman hias bunga teleng ini juga memiliki banyak khasiat, diantaranya:
  1. Untuk mengobati gangguan penglihatan
  2. Mengobati sakit telinga
  3. Mengobati bisul (abses)
  4. Untuk mencuci darah
  5. Untuk mengobati bronchitis
  6. Sebagai pelengkap dalam persembahyangan
  7. Sebagai bahan pewarna makanan
  8. Untuk detoksifikasi
  9. Untuk mengatasi gangguan seksual pada wanita
  10. Untuk mengobati batuk
  11. Mengobati infeksi tenggorokan
  12. Mengurangi stress
  13. Menambah kekuatan otak
Melihat khasiatnya yang banyak ditambah bunga ini mudah dijumpai dipekarangan rumah, maka warga Penglipuran memanfaatkan bunga teleng  sebagai jamu yang mudah dinikmati. Cara membuat loloh teleng ini sangat sederhana, cukup gula batu dan air untuk merebus bunga teleng.
 
Loteng khas Penglipuran (dokpri)

Cara membuat loloh teleng ini sangat mudah, yaitu:
  • Bunga teleng dibersihkan terlebih dahulu.
  • Setelah bersih direbus dengan air hingga mendidih dan ditambahkan gula batu. 
  • Untuk menambahkan rasa asam sedikit ditambahkan perasan jeruk nipis. 

Awal melihat warna loloh teleng ini bikin saya takut untuk meminumnya, karena warnanya mirip spiritus. Namun, setelah saya mencoba loloh teleng yang telah disimpan di kulkas, nyatanya nikmat. Tak kalah nikmatnya dengan loloh cemcem yang sudah terkenal duluan.


Kini, Loloh Teleng ini sudah mulai tersebar hampir di seluruh Bali, seperti Denpasar, Ubud, Jimbaran, Tabanan, dan  Bangli sebagai pembuatnya. Bagi Anda yang ingin memesan loloh teleng ini bisa melalui no hp. 08123602765 atau bisa langsung berkunjung ke Desa Penglipuran rumah adat no. 34 (Bu Devy). Harganya sangat murah, cukup lima ribu rupiah saja sebotol aqua sedang.

Nah, itulah sisi lain dari Desa Adat Penglipuran yang bikin saya tak bosan untuk berkunjung kesini, meski saya sudah bertahun-tahun tinggal di Bali. Anda menemukan keunikan lain di Desa Penglipuran ini? Yuk bagikan cerita Anda disini!


Sumber informasi: Website Desa Penglipuran

59 Komentar

  1. Seru banget memang ke Penglipuran, apalagi benar sekali banyak spot foto yang keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak spot yg Instagramable bikin betah berkunjung ke Penglipuran

      Hapus
  2. Unik juga ya hukim adatnya. Diasingkan ke tempat yg kini banyak spot wisata. Minuman tradisionalnya juga banyak khasiatnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, unik rasanya bisa mengetahui tempat yg bagi warga setempat termasuk tempat terkucil tapi malah dijadikan sarana pepotoan bagi wisatawan. Apalagi Loloh Teleng yang warnanya mirip spiritus ini, awalnya seperti gk mau minum tapi setelah tahu rasanya jadi ketagihan hehehehe

      Hapus
  3. Menurut cerita, pantangan poligami ini lahir karena pada jaman dulu sering terjadi perselisihan antar keluarga. Pemicunya adalah suami menikah lagi tanpa ijin istri pertamanya. Hal ini membuat pemimpin desa kewalahan mengurus permasalahan yang sama berulang-ulang. Maka pemimpin desa (mekele) membuat aturan yang melarang lelaki Penglipuran untuk berpoligami. Hal itu disepakati semua warga dan dilaksanakan hingga saat ini ---> Unik juga ya Mbak, story behind Karang memadu ini. Yap, tentu ada kearifan lokal yg diusung warga setempat. Dan ini menarik bgt dituangkan dalam artikel kayak gini. Jadi penasaran pengin cusss ke sana!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak menceritakan keunikan desa adat Penglipuran memang tak akan ada habisnya, bikin takjub mata memandang pokoknya.

      Hapus
  4. spot-spot wisatanya tidak hanya keren dan indah tetapi juga mengandung budaya dengan pendidikan moral tinggi, mantaplah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, nilai budaya sangat dijunjung oleh warga setempat bahkan mereka berusaha melestarikannya.

      Hapus
  5. Desanya tertata sangat-sangat rapi ya mba. Adat istiadat masih terjaga dgn baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari2. Ternyata teh bunga telang atau loteng menjadi oleh2 khas. Minuman sehat yg menyegarkan menjadi peluang penambah pemasukan penduduk. Inovatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak berkunjung ke Penglipuran ini bikin betah seharian karena udaranya juga sejuk bebas polusi

      Hapus
  6. Teleng itu sama dengan telang? Jadi pengen menanamnya juga untuk mengobati mata saya yang plus. ditambah masalah kesehatan lain. Tempatnya bagus dan rapi, itu seperti semacam desa purba karena penataannya apik.
    Soal poligami, pemangku adat unik konsepnya. Keluarga terasa betul dilindungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga baru tahu kalau bunga teleng bisa dijadikan minuman, dan enak rasanya mbak...khasiatnya juga banyak.

      Hapus
  7. Salah satu destinasi yang pengin aku kunjungi di Bali ya desa Panglipuran ini selain pengin eksplor Ubud yang kayanya tenang suasananya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak berkunjung ke Penglipuran bikin kita takjub terutama oleh kebiasaan masyarakatnya yang kreatif dan menjunjung adat.

      Hapus


  8. Yah...kak...udah baru 2 kali ke bali..ga ngeh ada spot ini... ga di bawa sama guidenya ke tempat kek ini..hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan-kapan diulang lagi, kalau ke Bali jangan lupa singgah ke desa Penglipuran dan bawa pulang oleh-olehnya hehehe

      Hapus
  9. Uwah ini di Bali ya? Keren banget tempatnya.
    History tempatnya bagus ya mba. Bener banget tuh kasus poligami tu bikin pusing. Harusnya di Indonesia sekalian dibikin peraturan dilarang poligami, hahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. spot di Penglipuran sangat instagramable...kadang kita juga bingung dengan poligami, karena Islam sendiri juga tidak melarang namun tetap bersyarat, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan aturan, dan wanita sering tersakiti bila diduakan oleh suami.

      Hapus
  10. Wah saya makin ingin mampir ke Desa adat satu ini. Banyak hal.indah dan pelajaran ygbisa kita dapat di sini ya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, desa Penglipuran memang banyak memberikan pelajaan berharga bagi pengunjungnya.

      Hapus
  11. Menarik yaaa mba Karang Memadu.. dan aku penasaraaan dengan loteng mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya baru sekali icip-icip loteng ini mbak, rasanya ada sedikit wangi bunga namun enak kok diminum dalam keadaan dingin.

      Hapus
  12. Menarik banget desa adatnya. Kupikir Karang Memadu itu karang-karang daerah pantai. Ternyata tempat buat yang poligami. Berarti di sana pada setia ya orangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe....Karang Memadu tempat pengasingan bagi yang berpoligami mbak...dianggap tempat kotor, makanya tidak ada yang berani poligami disana takut dikucilkan.

      Hapus
  13. Bali, temlay wisata yang sangat terkenal. sampai2 nama Bali orang bule di LN mengenal Bali tapi ga tahu kalau Bali itu di Indonesia.

    Panglipur sendiri aku juga baru tahu. soalnya blm pernah kesana. next deh aku jadwalin main ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, bule tahunya Bali bukan Indonesia...ayo kapan ke Bali lagi dan mampir ke Penglipuran, syukur-syukur bisa menginap disana, karena ada rumah-rumah yang disewakan untuk wisatawan.

      Hapus
  14. Wah minuman loteng ini punya banyak manfaat ya mbak, warnanya memang asli ungu karena daunnya yang ungu ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya juga baru tahu khasiat loteng ini setelah berkunjung ke Penglipuran dan icip-icip minuman ini.

      Hapus
  15. Keren ini baru tau ada karang memadu dan memang poligami kebanyakan bikin perempuan merugi ya. Nilai adatnya luar biasa. Bwt, loloh teleng itu satu botol bisa diminum berapa kali kak? Viewnya bagus juga yoh

    BalasHapus
    Balasan
    1. masyarakat desa Penglipuran sangat menjunjung adat setempat, termasuk poligami. Loloh teleng ini minuman alami tanpa bahan pengawet, lebih awet bila disimpan di lemari es, satu botol aqua sedang dibanderol lima ribu rupiah, biasanya ada yang langsung minum sampai habis, tak ada aturan baku untuk meminumnya. Ya betul sekali view disana sangat instagramable dan pas banget buat pepotoan.

      Hapus
  16. Nah waktu aku ke Penglipuran diceritakan soal Karang Memadu tapi ga sempat lihat langsung lokasinya. Loloh cemcem ini Seger banget ya mbak, ternyata Ada loloh telang juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru kemarin ke Penglipuran dan jalan-jalan masuk ke Karang Memadu sambil menikmati sebotol Loteng. Dan indah banget pemandangannya disana.

      Hapus
  17. Seru banget mba bs ke desa wista penglipuran. Banyak spot foto instagramable pula ya. Jd pengen kesna deh. Btw itu minumannya gmn rasanya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kalau ke Bali jangan lupa singgah ke Desa Penglipuran, selain bisa membawa oleh-oleh khas sana, kita bisa juga berswafoto dengan spot-spot menarik disana. Loteng rasanya manis tapi ada sedikit wanginya, mirip air tebu mbak

      Hapus
  18. Wah jadi tahu something new ini

    Karang memadu.. Yang ada disana bak lagi di Blacklist dr kehidupan baik ya mbak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, makanya tak ada yang berani melanggar aturan adat. Karang Memadu tak ada yang menghuni, cuma dijadikan spot pepotoan saja bagi para pengunjungnya.

      Hapus
    2. oh kirain ada penghuninta juga kak,, gak ada blas toh, hihi

      Hapus
  19. Luar biasa tuh kebijaksanaan Desa Panglipuran untuk mencegah poligami, jadi pada takut ya untuk melakukannya jika hukumannya harus masuk pengasingan gitu. Sangat menghargai keberadaan perempuan dalam kehidupan berumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, dengan adanya aturan adat, warganya tunduk semua, takut dikucilkan, makanya Karang Memadu sampai sekarang tanpa penghuni, hanya dijadikan spot pepotoan bagi pengunjungnya saja.

      Hapus
  20. Poligami memang masih menjadi pro kontra di kalangan masyarakat luas. Dan di Desa Panglipuran, benar-benar sangat bijak untuk mengatasi semua itu. Ya, daripada sering dikomplain oleh masyarakat khususnya istri pertama yang suaminya nikah lagi, lebih baik dibuat peraturan seperti itu.

    Dan kerennya lagi, Karang Memadu itu tidak ditempati, berarti warganya tidak ada yang berpoligami, benar-benar taat peraturan warganya. Malah tempat itu sekarang jadi spot wisata yang kece dan menarik, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak karang memadu masih kosong karena warga setempat taat aturan adat, cuma jadi spot pepotoan yang menarik aja sampai sekarang

      Hapus
  21. Wah next kalau ke Bali lagi harus masuk list destinasi wisata nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak terlebih kalau ke Penglipuran harus masuk ke semua lokasi yang ada plang atau papan namanya biar tahu sejarah disana

      Hapus
  22. Masya Allah baru tadi malam ngobrolin soal pengen ke Bali bareng suami dan saudara ipar baca ini jadi tambah pengen bismillah Semoga ada rezeki tahun depan kami sekeluarga besar bisa pergi ke Bali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak....Bali memang banyak destinasi unik yang bisa dikunjungi dan memberikan kesan bagi pengunjungnya

      Hapus
  23. Unik banget ini dibalik cerita karang memadunya, dan bagus juga ya bagi yang berpoligami langsung diasingkan ah suka makasih mba infonya paling suka baca-baca blog jalan2 sambil ada kisahnya kayak gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak bila bermanfaat.... terimakasih ya

      Hapus
  24. Seru banget ya liburannya mbak, jadi pengen ke tempat-tempat seperti ini dibalik padatnya aktivitas perkuliahan.

    BalasHapus
  25. Syukurlah karang memadu itu masih kosong sampai sekarang. Berarti para lelaki di Penglipura masih pada setia sama pasangan masing-masing ya hehe

    Aku klo ke Penglipuran biasanya nyari klepon ubi ungu. Itu enaaak banget rasanya. Baru tahu klo sekarang ada loloh telang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak loteng ini sepertinya minuman yang baru diciptakan oleh warga setempat

      Hapus
  26. Klo Bali aku gak heran ya, adatnya memang kuat. Soalnya aku lahir di Lombok yg banyak kampung Bali-nya juga.
    Ternyata minuman telang itu terkenal banget ya manfaatnya. Padahal baru beberapa bulan lalu aku tahu karena ada yg nawarin di Jogja sini. Katanya bagus buat berbagai macam penyakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama mbak baru sekali nyobain loteng yang ternyata banyak khasiatnya

      Hapus
  27. Villa view nya Instagramable banget, Dateng kesana harus foto banyak-banyak kak hihi, kira-kira kalo kesana harus menyiapkan budget berapaan kak? Biar aku nabung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penginapan saja kisaran 500 ribuan klo gk salah, belum makannya, beli oleh-oleh dan mengunjungi tempat wisata lain....trus ke Bali naik apa....cukup gak budget 5 jt klo gak cukup bisa ditambahin deh hahaha

      Hapus
  28. Oalah Ada karang memadu ya di desa panglipuran. Hiks januari 2018 lalu Aku kesini tapi kok nggak Ada yg mengarahkan kesini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan diulang lagi kak biar bisa berswafoto disini hehehe

      Hapus
  29. Wahh, ternyata sangat kaya banget ya budaya negeri kita. Semoga lestari dan tetap dijaga kedepannyaa

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...