14 April 2015

Posted by Sri Wahyuni on 10:52 AM 14 comments
Sewaktu masih duduk di bangku sekolah, saya hanya tahu bahwa upacara pembakaran mayat di Bali namanya Ngaben. Namun saya tidak tahu bagaimana bentuknya dan bagaimana pula prosesi upacaranya. Kini, rasa penasaran saya tentang Ngaben terjawab sudah. Hampir 3 tahun saya menetap di Bali, dan sesekali harus menyaksikan iring-iringan prosesi Ngaben di jalan. Bahkan, karena Ngaben itu pula saya harus menghentikan laju motor sementara, berhubung jalan utama di stop oleh Pecalang.

Sungguh saya sangat bersyukur, bisa menyaksikan upacara sakral ini secara langsung. Bagi saya, ini merupakan salah satu kekayaan budaya daerah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Ketika Ngaben berlangsung, tentunya menjadi tontonan menarik bagi para wisatawan. Bukan hanya wisatawan mancanegara, namun pendatang seperti saya juga tertarik ingin mengabadikan upacara ini.




Memang....saya tidak begitu paham apa arti sesungguhnya upacara Ngaben itu, namun dari hasil googling saya dapatkan pengertiannya sebagai berikut:

Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka.

Tujuan Upacara Ngaben
Upacara ngaben secara konsepsional memiliki makna dan tujuan sebagai berikut :
1. Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2. Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu : a. Pertiwi : unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu : unsur udara yang membentuk nafas. d. Teja : unsur panas yang membentuk suhu tubuh. e. Akasa : unsur ether yang membentuk rongga dalam tubuh.
3. Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

Rangkaian Upacara Ngaben[sunting | sunting sumber]

AcaraDeskripsi
NgulapinUpacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dapat berbeda-beda tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.
Nyiramin/NgemandusinUpacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).
Ngajum KajangKajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.
Gambar Kajang Pande
NgaskaraNgaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
MamerasMameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
PapegatanPapegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.
Pakiriman NgutangSetelah upacara papegatan maka akan dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu perputaran ini juga bermakna:
Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat.
Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
Sarana Pengusungan Jenazah
NgesengNgeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan , disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.
NganyudNganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai.
MakeludMakelud biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ngaben

Dari googling inilah akhirnya sedikit demi sedikit saya tahu tentang Ngaben. Terus terang saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Sesungguhnya Indonesia kaya akan budaya daerah. Sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap melestarikan budaya daerah tersebut, agar nama Indonesia makin dikenal oleh dunia luar sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman budayanya.
Categories:
Reaksi:

14 komentar:

  1. Balasan
    1. Bagi pendatang mungkin aneh ya, tapi sudah menjadi hal yang biasa bagi umat Hindu di Bali karena itu memang tradisi mereka

      Hapus
  2. makasih sharingnya mbak Yuni bermanfaat banget...aku pernah melihat upacara ini pas ke Bali tahun lalu :) tapi nggak melihat secara jelas...

    BalasHapus
  3. Mba, gimana dengan masyarakat yg kurang mampu masih bisa melakukan upacara ini ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya yang mampu Ngaben mereka2 yang kaya, karena upacara ini menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta mba, bagi yang kurang mampu biasanya ikut ngaben massal. Atau yang benar2 tidak mampu mereka hanya dikubur biasa seperti layaknya orang meninggal cuma gak ada nisan

      Hapus
  4. Aku ingetnya kalo dibakar itu kayak yang di India, mba. Abunya ditaruh di kendi terus dilarung di sungai. Ternyata diarak juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi...sepertinya di arak dulu mbak setelah itu baru dilarang, kalau gak salah lho

      Hapus
  5. Cuma bisa melihat upacara ini di Bali ya. Menarik sekali, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, saya sering takjup melihat iring-iringan ngaben di jalan raya

      Hapus
  6. Aku belum pernah lihat ngaben secara langsung T___T
    Ini upacara mirip kayak yang di Toraja itu yah, perlu biaya besar untuk melakukannya :D

    BalasHapus
  7. wah.. menarik sekali mba artikelnya.. jadi semakin cinta negara sendiri nih. semangat lagi ya mba nulis artikel budaya nya.. aku tunggu loh :) visit back ya.. http://ruangtulismu.blogspot.com

    BalasHapus
  8. Bagi yg miskin biaya ny gratis dari pemerintah😀

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...