23 Maret 2015

Posted by Sri Wahyuni on 8:40 AM 10 comments
credit

“Aku bersyukur bisa menikmati heningnya suasana, terlebih bintang gemintang yang bertaburan di langit sana, membuatku makin mensyukuri kebesaran Allah swt. Sebuah kejadian langka, yang hanya terjadi setahun sekali, tentunya tak boleh kusia-siakan begitu saja.”

Mungkin Anda bertanya-tanya, kejadian macam apa yang tengah kualami?

Ya...dua hari yang lalu bertepatan dengan hari raya Nyepi, dimana seluruh umat Hindu dan warga yang bermukim di Bali harus menjalankan tradisi gelap-gelapan. Tepat di tanggal 21 Maret 2015, Bali menjadi pulau yang sepi, sunyi, tak ada aktivitas diluar rumah. Semuanya berkutat dengan kegiatannya di dalam rumah. Entah apa yang mereka lakukan didalam rumah, yang jelas suasana tampak lengang.

Seperti sudah menjadi tradisi bagi umat Hindu, ketika Nyepi tiba, dari jam 6 pagi hingga jam 7 pagi pada keesokan harinya, mereka tidak boleh menyalakan api, termasuk penerangan di rumah-rumah. Bahkan siaran tv pun dimatikan dari pusat.

Ini adalah pengalaman keduaku menghabiskan Nyepi di Bali. Setelah di tahun pertama aku harus bersusah payah mudik ke kampung halaman. Ternyata, banyak pengalaman berharga yang kudapatkan selama menghabiskan waktu libur di Bali. Memang ketika menjelang Nyepi, banyak warga pendatang yang terpaksa menutup warung jualannya. Mereka memilih mudik ke kampung halaman ketimbang harus menghadapi situasi yang gelap dan sepi selama hari raya Nyepi.

Sehari menjelang Nyepi aktivitas perekonomian di Bali terlihat lumpuh. Warga pendatang yang notabene meramaikan pasar di Bali lebih memilih pulang ke kampung halamannya. Namun meski demikian, masih ada warung-warung yang tetap bertahan menjual dagangannya, karena mereka memilih tetap di Bali ketimbang memutuskan untuk mudik. Tentunya faktor biayalah yang menjadi ,penyebabnya.

Faktor inilah yang juga menjadi salah satu alasanku untuk tetap berdiam diri di Bali disaat Nyepi tiba.

“Mbak, Nyepi gak mudik? Aku takut gelap gak kuat kalau harus gelap-gelapan sehari semalam.”

Demikian tanya seorang sahabat. Mudik, mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Namun bagiku sangat ribet. Apalagi semua armada dan harga tiket perjalanan seketika itu naik drastis. Sudah naik, penuh pula, kadang kehabisan tiket. Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh adalah naik sepeda motor. Sudah sering kuceritakan bagaimana suka dukanya bersepeda motor dari Bali ke Blitar. Jarak yang terbentang demikian panjangnya, belum lagi cuaca yang tidak bersahabat. Apalagi perjalanan kami membawa serta anak. Tentunya demi keamanan dan kenyamanan, bekal yang harus disiapkan adalah uang.

Dengan uang dapat digunakan untuk membeli makanan di jalan. Belum lagi bila badan terasa capek atau tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Salah satu alternatifnya adalah mencari penginapan. Ini hal yang sering kualami ketika di perjalanan. Demikian halnya saat akan memasuki pulau dewata. 
Saat Nyepi seluruh akses menuju Bali ditutup total, baik penyeberangan maupun bandar udara. 
Tentunya sudah bisa dibayangkan betapa macetnya arus penyeberangan. Inilah yang kadang membuatku jenuh untuk antri berlama-lama demi mendapatkan sebuah kapal ferry yang bisa membawaku ke Bali. Belum hilang rasa penat di perjalanan, memasuki rumahpun demikian halnya. 
Begitu masuk rumah, yang terlintas dalam benakku adalah bersih-bersih rumah dan segala isinya, termasuk mencuci seluruh baju dan perlengkapan selama di perjalanan. Sudah terbayang bagaimana capeknya seluruh badanku kalau aku harus ikut mudik demi menghindari gelapnya ketika Nyepi di Bali.

Dengan alasan seperti itu akhirnya aku memilih berdiam diri di Bali ketika Nyepi tiba. Toh listrik tidak ikut dipadamkan. Itu artinya aku masih bisa mengerjakan aktifitas di dalam rumah. Sebagai bentuk penghormatanku kepada umat Hindu, tentunya aku tidak menyalakan lampu-lampu diluar rumah. Bahkan ketika membunyikan tape recorder pun volumenya kukecilkan. Ya...meski Nyepi tiba aktifitasku masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Sedikitpun tak membuatku merasa takut atau was-was dengan gelapnya malam hari.

Satu hal yang membuatku kembali bersemangat, heningnya suasana saat Nyepi ternyata memulihkan staminaku yang selama sebulan ini makin loyo. Terus terang dalam sebulan ini aku berhenti ngeblog, sama sekali tidak menorehkan curahan hatiku kedalam blog-blog pribadiku. Bukan karena aku sudah bosan untuk menulis. Namun ada berbagai hal yang membuatku tidak bisa mengungkapkan ceritaku melalui tulisan.

“Buat apa bermain-main dengan perasaanmu sendiri, kamu sendiri yang rugi. Jangan anggap sesuatu itu sebagai masalah, kalau kamu tidak ingin sakit. Life must go on....kamu marah dengan lingkungan sekitarmu, namun sesuatu yang membuatmu marah, ternyata tak pernah mempedulikanmu, siapa yang rugi? Kamu sendiri kan?”

Kalimat yang pernah diutarakan temanku melalui BBM-nya memang sempat menjadi tamparan bagiku. Namun sekali lagi, ucapan tidak bisa disamakan dengan kenyataan yang kualami. Memang sebulan ini satu persatu masalah datang silih berganti. Bukan masalah berat. Namun sangat membuatku tidak nyaman, bahkan malas melakukan apa-apa. Yang kubutuhkan saat itu hanya ingin merefresh hati dan pikiran. Seluruh waktuku kugunakan untuk hal-hal yang tidak jelas. Jalan ke mall, membeli ini itu, nyatanya tidak serta merta membuatku nyaman.

Dan saat Nyepi, ketika semuanya larut dalam keheningan dan kesunyian, akupun bisa merasakannya. Hati dan pikiranku menjadi benar-benar fresh. Memang benar kata seorang sahabat, permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan kita merupakan salah satu ujian kenaikan kelas kehidupan. Mungkin Allah tengah mengujiku. Hingga akhirnya ujian pun berakhir dengan sendirinya.


Kini, setelah Nyepi berlalu, satu persatu yang kuhadapi lenyap. Aku berharap ini adalah awal kebangkitanku untuk kembali menulis, karena aku tidak ingin kehilangan semangat untuk menorehkan ceritaku dalam tulisan. Semoga tulisan pertamaku semenjak aku berhenti ngeblog sebulan yang lalu, menjadi pemecut bagi diriku sendiri untuk bangkit mengejar ketinggalan. Aku ingin meraih bintang di atas sana, tentunya dengan kerja kerasku yang tidak ingin kupadamkan.

P.S. Untuk sobatku semuanya yang kebetulan berkomentar di blogku, maafkan aku ya yang tidak sempat BW kembali. Atau sobat-sobat blogger yang menginginkanku meramaikan GiveAway-nya ternyata tidak kuturuti, aku juga minta maaf. Atau bahkan sobat-sobat yang menunggu naskahku untuk sebuah buku antologi tapi tidak segera kukumpulkan. Semuanya aku minta maaf, bukan maksudku untuk meremehkannya, namun apa daya aku memang tak mampu untuk merangkai kata-kata. Insyaallah mulai detik ini aku akan mencoba lebih bersemangat kembali..........
Categories:
Reaksi:

10 komentar:

  1. mbak berarti semuanya gelap ya disana, nggak ada yg pake listrik..spt lampu, ac, tv, kulkas, dll..atau gimana mbak? sorry oot

    BalasHapus
  2. Terakhir saya ke Bali tahun 2011. Ada kegiatan di IALF Jalan Seetan Denpasar. Kalau sudah ceita BALI wah tidak akan ada habisnya. Sudah 10 kali saya trip ke Bali dari periode 2005-2011, rasanya masih ingin ke BALI lagi. Miss Bali so muchh

    BalasHapus
  3. sepi sekali pastinya ya mbak, aku belum pernah meraakan kesepian sebuah kota

    BalasHapus
  4. kemarin waktu nyepi maunya nyepi di bali, Mbak Yuni
    tapi suami sedang sibuk2nya
    pengennya tahun depan, insya Allah
    aku 3 kali mengalami nyepi di Bali :)

    BalasHapus
  5. pasti ramai menyepi dibali... aku juga belum pernah merasakan menyepi di bali

    BalasHapus
  6. seperti apa ya rasanya menyepi dibali ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya enak banget kak bisa nyepi d bali

      Hapus
  7. Ternyata nyepi bisa bikin hati hepi ya :)

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah, nyepi membawa ketenraman juga untuk dirimu ya mba...

    BalasHapus
  9. hmmm pasti jadi enak dan tenang ya kak hatinya ^^

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...