29 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 12:09 AM 1 comment


***************

Malam ini begitu sepi. Rembulan yang bersinar di atas sana, menyunggingkan senyumnya malu-malu. Andai kubisikkan sepenggal episode cinta, ia pasti menyambutnya dengan suka cita. Sayang, cerita yang ingin kugulirkan bukanlah cerita indah, justru aku menyimpan kenangan pahit yang tak ingin lama-lama kupendam dalam hati.

“Duhai rembulan, ku tak ingin wajahmu pucat pasi, karena ikut menanggung kesedihanku. Namun, yang kupinta darimu, dengarkan rintihan hatiku, agar lara di jiwaku segera sirna dan berganti senyum seindah biasmu saat ini.”


Mungkin ini adalah kisah lama, jauh sebelum aku meraih cinta abadi. Sudah lama aku berusaha menghapus bayangnya dalam ingatanku. Tapi, entahlah mengapa, rasanya sulit melupakan sebuah penghinaan yang dilemparkan tiba-tiba kepadaku. Dia….mungkin sudah bahagia saat ini, atau bahkan telah mengumbar senyum kemenangannya. 

Sebagai wanita, aku memang rapuh. Dan ketika cerita lara itu mendarat dihadapanku, sekujur tubuhku terasa lunglai, lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Hanya isak tangis dan air mata yang terus mengalir tiada henti. Aku resmi terjatuh dalam sebuah kubangan cinta. Dia pergi meninggalkanku dengan berbagai alasan yang menyesakkan dada.

Masih kuingat pertama kali berkenalan dalam sebuah bus kota. Aku yang berpakaian tomboi tiba-tiba didekati seorang cowok. Tak berapa lama diapun duduk disebelahku. Sambil berhaha hihi…..kamipun terlibat dalam sebuah pembicaraan. Percakapan yang sontak membuatku langsung menatap wajahnya. Dan tiba-tiba rasa kagumku mulai menggeliat.

Ternyata….kami berasal dari satu kota dan satu SMA. Lebih tepatnya dia adalah seniorku. Bahkan, yang membuatku nyaris berteriak, ketika dia menyebutkan statusnya yang seorang Sarjana dan sedang mengikuti test masuk Perwira. Bukan main senang hatiku bisa berkenalan dengan calon anggota TNI. Jelas inilah lelaki idamanku.

Sebuah cerita lucu yang membuatku masih tertawa mengenangnya, saat dia datang ke rumah sambil tersipu malu. Dia terlihat grogi, peluhnya bercucuran, padahal malam itu udara sedang dingin. Akupun heran. Bahkan, ketika aku tanya dia naik apa? Sedikitpun tak ada jawaban. Lelaki itu seolah menyembunyikan tunggangannya. Dan setelah kuselidiki, dia menaiki sepeda butut yang jelek sekali. “Tengsin kali, ngapel ke rumah cewek pakai sepeda butut.” Tapi apa daya kenyataanlah yang berbicara seperti itu.

Bagiku, semua itu tak kujadikan beban. Aku bukan cewek matre yang lebih melihat harta atau kemewahan yang dimiliki seorang cowok. Yang kuinginkan hanyalah kesetiaan, kejujuran dan ketulusan.

Dan semenjak pertemuan pertama yang membuat hati deg-degan, kamipun jadi sering bertemu. Aku masih kuliah di Malang sering mendapat kunjungan darinya. Dari situlah dia mulai berani menyatakan cintanya padaku. Bak gayung bersambut, akupun menerima cintanya walau raut wajahku sedikit tersipu malu.

Sayang tak begitu lama, kami harus berpisah, karena dia lulus test perwira dan harus menjalani pendidikan selama 6 bulan. Yes!…..itulah pekikku saat dia menyampaikan berita gembira itu. Bagiku 6 bulan bukanlah waktu yang lama dalam sebuah penantian. Dalam anganku sempat berujar, kelak bila arjunaku telah kembali, aku akan mengatakan pada dunia tentang mimpiku yang terwujud.

Dan……tepat 6 bulan kemudian, diapun kembali datang dengan seragam yang melekat ditubuhnya. Dalam sebuah perjumpaan yang begitu mengharu biru, kamipun saling berkeluh kesah. Dia yang mendapat tugas di Bandung, begitu riangnya menceritakan suka duka di balik asrama. Sementara aku dengan gembiranya menceritakan wisudaku yang sebentar lagi akan kujalani.

Yah….cinta itu ibarat air tenang yang menghanyutkan. Dua sejoli yang dimabuk cinta, seolah menganggap dunia hanyalah milik berdua. Itulah yang kurasakan saat itu. Walau kami harus menjalani LDR (Long Distance Relationship), tapi tak menjadikannya sebagai sebuah hambatan untuk terjalinnya ikatan cinta yang bermakna ini. Karena kamipun jadi tahu tentang pribadi masing-masing, bahkan berusaha menyelami kelebihan dan kekurangan kami.

Sayang…..kisah kami tak mulus pada endingnya. Dia datang tiba-tiba menyampaikan sebuah kabar yang sontak menyekat ulu hatiku. 

“Dia bilang aku bukan cewek romantis. Dia bilang aku bukan cewek pemberani, yang berani menggandeng pasangannya atau berani mencium pasangannya.” Lantas diapun membandingkan aku dengan cewek itu. Aku tak terima. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa. Dalam diam, air matakulah jawabannya. Antara marah, sakit dan sedih, semua resmi menggerogoti nadirku. Bahkan, aku nyaris seperti orang gila, jiwaku terombang-ambing. Dia yang pergi meninggalkan sebentuk lara, dan cewek itu…..ya cewek itu datang dalam sebuah teror. Telpon rumahku tiba-tiba diteror seorang cewek yang menyuruhku untuk meninggalkan lelaki itu. 

Aku tak tahu siapa cewek itu, dan apa untungnya berulangkali menerorku. Bahkan, yang lebih menyedihkan, ibukupun kena damprat suara bengis cewek itu. Astaghfirullah, aku hanya bisa menggumam dalam hati. Cinta kami datang tiba-tiba, dan harus pergi dengan tiba-tiba pula.

Aku resmi terjatuh dalam sebuah gejolak cinta. Masih kuingat perjuangan ibu yang mencari pinjaman uang demi aku. Aku pergi ke Bandung dengan uang pinjaman. Oh….ibu, ingin rasanya aku terus bersimpuh dihadapanmu, memohon ampun padamu. Bahkan, setelah kejadian itu, aku mengalami sebuah kecelakaan yang membuat daguku harus dijahit dan sekujur tubuhku memar. Dengan sabarnya, ibulah yang kembali merawatku.

Namun aku yakin, selalu ada hikmah dibalik rentetan peristiwa itu. Aku sadar, kehidupan manusia seperti roda yang berputar. Tidak selamanya ia ada dibawah. Pastinya, hidup harus diperjuangkan. Hanya orang-orang yang gigih berjuanglah yang dapat mencapai kemenangan, layaknya semboyan “From Zero To Hero”.

Dalam sujud panjangku selalu kumohonkan kepadaNya agar aku senantiasa diberi kesabaran dalam menerima cobaan. Karena kuyakin, Allah pasti memberikan cobaan kepada Hambanya sesuai kemampuannya. Dan disepertiga malam, selalu kumohonkan seorang jodoh yang berakhlak mulia.
Ternyata….Allah tak pernah ingkar akan janjiNya. Doaku terkabul. Cinta abadi itu kutemukan dalam sebuah perjodohan. Ibu yang melihat kesedihanku, diam-diam menjodohkanku dengan anak temannya. Dan lelaki itu, seorang anggota TNI, yang lama kuidamkan. Demi baktiku pada ibu kuterima perjodohan itu, karena kuyakin dialah jodoh yang Allah berikan padaku lewat sujud panjangku. 

Kini….kami telah bahagia. Aku bersyukur kepada Allah atas anugerah terindah ini. Semoga dia yang telah meninggalkanku, juga mendapatkan kebahagian sepertiku. Karena kuyakin jodoh itu kuasa Ilahi. Dan untukmu rembulan, pintaku malam ini, agar senyummu kembali merekah seiring berakhirnya ceritaku. Jadilah saksi kemenanganku ini, karena sejatinya hanya kepadamulah kuumbar bahagiaku.
*****
Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. ini cerita nyata mbak? Allhamdulillah bisa melupakan semua kenangan pahit yang sudah dialami ya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...