25 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:19 PM 1 comment


Kalau ditanya usaha apa yang sudah kamu lakukan dalam hidupmu? Aku langsung jawab “menjadi seorang ibu yang baik”.  Loh???  Pasti si penanya pun akan balik tanya, mengapa menjadi seorang ibu termasuk sebuah usaha? Bukankah itu merupakan proses kehidupan?

Bagiku menjadi seorang ibu adalah sebuah usaha terbaik yang sudah kulakukan sepanjang hidupku.  Memang setiap wanita selalu mengalami proses metamorfosa sampai ia benar-benar menjadi ibu.  Namun untuk menjadi seorang ibupun diperlukan suatu usaha untuk sampai ke titik itu.

Aku ingat kala masih gadis.  Dalam bayanganku, kelak aku akan menjadi seorang ibu.  Namun ketika aku berkaca pada diriku sendiri, sebuah tanya lalu menghantui diriku.  Mungkinkah aku bisa menjadi ibu yang baik bagi anakku kelak.  Lantas bayangan itupun membuatku gamang, seolah tak percaya pada diri sendiri.

Dan proses kehidupan itu bak air yang mengalir ketempat dangkal.    Akupun akhirnya sampai ke jenjang pernikahan, dimana pintu kedewasaan itu mulai terbuka lebar.  Babak baru dalam kehidupanku resmi kumulai.  Sebuah genderang yang siap ditabuhkan.  Dan aku harus bertarung dengan semua titik yang serba baru.  Hidup yang baru, lingkungan yang dikelilingi orang-orang yang baru kukenal. Bahkan suamipun kudapatkan dari sebuah perjodohan.  Resmi semuanya kumulai disini.

Dilema atau keterpaksaan, yang pasti semua serba sulit menurutku.  Bukan lantas aku tak mau menerima sebuah keadaan.  Justru kuterima semuanya dengan hati lapang.  Nyaliku diuji, bahkan batinku pun sempat bergejolak.  Ternyata….tak mudah menyatukan dua hati yang berbeda.  Lama aku dan suamiku harus bercengkerama dengan hati yang belum menyatu.  Walau akhirnya kami pun menemukan sebuah “klik” dalam ikatan kami, meski untuk menujunya kami harus tertatih-tatih.

Tadinya aku berpikir,  setelah hati kami menyatu, kebahagiaan itu pasti segera menghampiri.  Setiap pernikahan, anaklah yang menjadi tujuannya.  Ternyata dua tahun pernikahan kami, anak pun tak kunjung datang di kehidupan kami.  Otomatis segenap tenaga, usaha dan doa, bahkan materipun resmi kami curahkan untuk mendapatkan anak.

Bahkan aku sampai membayangkan, wanita yang diperkosa begitu mudahnya hamil.  Sementara aku, yang resmi menikah, bahkan surat nikahpun sudah kugenggam, mengapa tak juga diijinkan mengandung buah cinta kami.  Lama sekali aku berikhtiar demi mendapatkan seorang anak.  Sampai akhirnya, dalam doa panjangku, Allahpun kabulkan doaku.  Dan Sembilan bulan aku mengandung anakku, sampai akhirnya dia benar-benar lahir ke dunia dengan selamat.

Tetanggaku bilang, anakku adalah anak mahal.  Memang….untuk mendapatkannya aku harus mengorbankan harta bahkan tenaga dan waktu.  Justru saat ini anakkulah harta yang termahal melebihi secuil harta yang kumiliki.

Bangga memang saat anakku memanggilku ibu.  Namun ternyata menjadi ibu yang baik itu tidaklah mudah.  Coba kita bayangkan.  Banyak wanita yang melahirkan anak-anaknya, tapi apakah dia bisa menjadi ibu yang sabar, berhati lembut, bahkan perhatian kepada anaknya?  Akupun susah untuk menggapainya.

Masih ingat ketika aku memarahi anakku atau mencubit pipinya, rasanya ingin aku meminta maaf padanya.  Atau bahkan mencacinya saat dia tidak bisa mengerjakan PRnya.  Duh….maafkan ibu ya nak.  Terus terang aku menyesal karena pernah berbuat seperti itu pada anakku.  Karena sejatinya anakku mempunyai kelebihan.

Suatu hari teman suamiku mengamati anakku dari ujung rambut sampai ujung kaki.  Dia pun berujar kalau anakku mempunyai kelebihan.  Aku tak tahu kelebihan macam apa yang dimilikinya.  Ternyata aku baru menyadari kalau dia bisa melihat makhluk halus, setelah dia menjerit pada sebuah kafe di malam hari.  Rupanya kafe itu mempunyai semacam jimat yang ditanam di bawah sebuah ruangan.  Dan jimat itu menjelma menjadi sosok menyeramkan yang membuat anakku menjerit sekencangnya.

Di lain waktu, aku melihat anakku demikian lihainya memainkan ipad barunya.  Tak ada yang mengajarinya, dia langsung tanggap dan cekatan menggunakan barang baru.  Bahkan saat memainkan PSP atau PS2nya, dia juga browsieng internet dengan hp blackberry-nya untuk mengetahui password permainannya. 

Yang lebih membanggakan, dia pun dengan mudahnya menghafal perkalian, bahkan mata pelajaran lainnya pun cepat dikuasainya meski umurnya belum genap 8 tahun dan dia sudah duduk di kelas 3 SD.
Bahkan di bidang agamapun dia termasuk anak yang rajin beribadah dan mengaji.  Hari jumat, tanpa dipaksa dia akan pergi ke masjid seorang diri untuk menunaikan ibadah sholat jumat.

Ternyata Allah selalu mengabulkan setiap doa hamba-Nya.  Aku selalu memanjatkan doa untuk kesuksesan anakku.  Dan kini, aku dianugerahi anak yang luar biasa adalah hal yang terindah dalam hidupku.  Memang benar semua itu akan indah pada masanya.  Aku merasa saat ini akulah yang kebagian jatah berada di masa itu. 

Menjadi seorang ibu menurutku adalah usaha terindah bahkan terbaik yang sudah kulakukan dalam hidupku.  Aku jadi bangga dengan hidupku, karena aku bisa mempunyai sebuah keluarga yang bahagia, terlebih anak yang kulahirkan ternyata anak yang luar biasa.  Sungguh sebuah hidayah yang datang dari Allah yang harus kusyukuri.  Walau aku tak tahu apa yang nantinya akan terjadi, yang jelas pengorbananku, jerih payahku, bahkan usahaku yang penuh liku kini telah mencapai klimaksnya.  Akupun telah memetik hasil dari semua itu………………

 
Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. Terima Kasih Partisipasinya dalam Semut Pelari Give Away Time :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...