10 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 7:05 AM 15 comments


Arsip 2008 - sebuah pengalaman berharga


Kisah ini berawal saat aku dilamar seorang prajurit TNI. Sempat terbersit rasa bangga bercampur sedih dan takut dalam hatiku. Bangga karena aku telah menemukan pujaan hatiku yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupku. 
Namun disisi lain aku harus berpisah dengan orang tua, saudara bahkan kampung halamanku. Apalagi calon suamiku bertugas di daerah operasi yang sama sekali belum pernah terpikirkan di benakku. “Papua”…oh..rasanya hati ini miris dan ngeri mendengarnya. Beberapa kali kubaca berita di surat kabar tentang keganasan OPM, bahkan pernah kubuka halaman demi halaman di internet yang menayangkan gambar-gambar kontak senjata OPM dengan TNI, rasanya bulu kudukku makin merinding. Ah segera kutepis kekalutan dalam hatiku. Tekadku sudah bulat untuk menjadi istri seorang prajurit TNI. Apapun yang terjadi aku siap menjadi pendamping suamiku kelak baik dalam suka maupun duka. 



Aku siap menggapai asa di bumi cendrawasih yang sebelumnya sama sekali belum pernah terbersit dibenakku untuk menjamahnya.


Setelah menikah berarti aku memulai babak baru dalam hidupku. Menjelang keberangkatanku ke Papua ada sedikit rasa gamang dalam hatiku. Aku membayangkan harus menempuh jarak bermil-mil untuk sampai tujuan. Belum lagi aku harus hidup di daerah yang tergolong masih terbelakang, ya pendidikannya, wawasannya maupun kebiasaan atau adat istiadatnya. 


Bahkan orang bilang di Papua itu sepi, penduduknya sedikit, daerahnya dikelilingi pegunungan. Apalagi setelah menjadi Persit nanti aku harus bergaul dengan ibu-ibu yang tentunya cara bergaul dan cara pandang mereka berbeda dengan pergaulan remaja. Beribu tanya sempat terbersit dalam benakku. “Apakah aku bisa?”
 



Awalnya aku sempat takut. Saat pertama kali kuinjakkan kakiku di tanah Papua, batinku menjerit...”hiih benar juga, ternyata Papua itu sepi, sekelilingnya gunung-gunung..” Begitu memasuki gapura asrama Denzipur 10 rasa takutku semakin menjadi. Wah..jadi istri tentara itu pasti banyak aturannya, keluar masuk asrama harus lapor, harus ini, harus itu. 

Apalagi saat pertama aku menjadi Persit jabatan suamiku sebagai danton, otomatis aku harus membantu tugas suamiku mengatur anggota dan keluarganya. Tapi syukurlah kami sudah mendapatkan rumah dinas yang baru, meskipun ukurannya kecil yang penting bisa untuk tempat berteduh dengan perabotan yang masih minim.
 

Sungguh diluar dugaan, aku memang harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dimana aku harus bergaul dengan ibu-ibu dari berbagai daerah di nusantara yang tentunya cara pandang, watak dan kebiasaan mereka berbeda pula. Apalagi sudah menjadi tradisi di kesatuan tempat suamiku berdinas yang mewajibkan anggota baru untuk aktif di semua kegiatan persit. Saat perkenalan anggota baru aku diwajibkan menyanyikan sebuah lagu secara utuh. Aku harus mengikuti semua kegiatan persit yang sempat membuatku stres karena hampir tiap hari selalu ada kegiatan dan tidak ada hentinya. 

Apalagi sebagai istri perwira, aku diwajibkan menjadi pengurus persit. Pernah aku mengikuti ibu-ibu pengurus menyelesaikan ketrampilan membuat hiasan tumpeng sampai larut malam. Itu baru permulaan. Hari-hari berikutnya aku diwajibkan mengikuti latihan tenis sampai larut malam. Ini kadang membuatku beban, karena aku sama sekali belum bisa bermain tenis, pegang raketnya saja belum pernah apalagi mau menangkap bola. 

Di lain waktu kita sesama pengurus disibukkan dengan kegiatan membuat souvenir untuk kunjungan Ketua Daerah, menerima pesanan untuk membuat tumpeng baik untuk ulang tahun Persit maupun untuk moment-moment penting di Kodam atau membuat parsel menjelang hari raya Idul Fitri dan Natal. Inipun banyak menyita waktu, bahkan sebagian pengurus ada yang rela tidak pulang dan menyelesaikan pekerjaannya di kediaman Ibu Ketua. 
 
Tumpeng kreasi kami

 
Papeda makanan khas Papua yang biasa kami makan

Belum lagi tugasku sebagai istri danton yang harus bisa membantu menyelesaikan permasalahan anggota peletonku. Inilah yang kadang membuatku pusing. Hampir tiap hari ada anggota yang datang kerumah untuk mengadukan permasalahan dalam rumah tangganya. Maklumlah kesatuan kami merupakan kesatuan kecil dimana anggotanya masih tergolong muda-muda, otomatis mereka masih energik dan tingkat emosionalnya masih tinggi. Namun sebisa mungkin aku dan suamiku berusaha membantu mereka walaupun ada rasa canggung dalam diriku karena aku sama sekali belum berpengalaman dalam berumah tangga.
 

Beberapa kejadian sampai saat ini masih tetap kuingat. Waktu itu aku diajak ibu-ibu pengurus besuk anggota di rumah sakit naik truk, duh.. kendaraan yang sangat kutakuti karena bodinya. Awalnya aku bisa memanjat, tapi saat turun aku merasa kesulitan, padahal sekuat mungkin aku sudah berusaha mencari pegangan, tapi ya...tetap jatuh juga. Aku jatuh dari truk dengan darah yang menetes karena kulit tanganku terkelupas. Bukannya dikasihani tapi aku malah diketawain sama ibu-ibu. 

Belum hilang rasa maluku tiba-tiba aku tercengang dengan pemandangan yang memilukan saat aku memasuki bangsal tempat anggota yang kami besuk. Didepanku terbaring sesosok tubuh yang lemah dengan tatapan mata kosong dan kedua tangan serta kakinya diikat. Ibu-ibu bilang, dia terkena malaria tropika +4, sudah tidak ingat apa-apa lagi. Temanku bilang katanya kalau sudah kena malaria berarti sudah resmi menyandang predikat orang Papua. Ah masak iya, batinku bergeming. Sebegitu mahalkah untuk menjadi orang Papua hingga harus mengorbankan nyawanya sekalipun. 

“Makanya kalau tinggal di Papua harus banyak makan, perut tidak boleh kosong, jangan terlalu memforsir diri, juga jangan terlalu banyak pikiran kalau tidak mau kena malaria”, jelas temanku seakan mengerti kebingunganku. 

Keluar dari bangsal tempat anggota dirawat kembali aku dikagetkan dengan seseorang yang duduk di kursi roda, dengan kedua kaki dan tangan yang lemas, seperti tidak bertulang, dengan kondisi kejiwaan yang terganggu. teriakannya lantang hingga mengagetkan orang-orang disekelilingnya. Dia adalah anggota sebuah batalyon yang beberapa hari lalu dikeroyok oleh orang mabuk, tubuhnya digebukin sampai tulang-tulang kaki dan tangannya patah, bahkan jiwanya terguncang. 

Akupun jadi merinding. Mengapa kebiasaan seperti ini (-bermabuk-mabukan-) tidak bisa dihilangkan, padahal sangat merugikan, bukan hanya orang lain tetapi juga bagi dirinya sendiri. Apalagi ditambah dengan kebiasaan orang Papua yang senang mengkonsumsi pinang. Ih.. kadang aku merasa risih, saat aku melewati sebuah jalan, kulihat beberapa orang mengunyah pinang dan meludah disembarang tempat dengan warna merah dan aroma yang tidak sedap. Awalnya aku merasa jijik, tapi lama kelamaan terbiasa juga karena memang itulah kebiasaan orang Papua.
 

Cuaca di Papua tidak menentu, seakan tidak mengenal musim. Kadang cuaca panas, kadang hujan berkepanjangan sampai beberapa hari. Pernah suatu malam, hujan turun demikian derasnya. Tiba-tiba air masuk menggenangi seisi rumahku karena selokan di belakang tersumbat dedaunan. Mulanya aku tidak tahu, karena malam telah larut dan mataku sudah terasa lengket. Tiba-tiba aku merasakan sekujur tubuhku basah, karena waktu itu tempat tidur yang dipesan suamiku belum jadi, hingga aku tidur beralaskan tikar. Saat aku tersadar, seisi rumahku sudah tergenang air, bahkan beras yang sedianya untuk satu bulan ikut tergenang air juga. Akhirnya malam itu aku dan suamiku korve membersihkan rumah.
Bagiku, Papua sangat mengherankan. Sebagai orang baru aku harus benar-benar bisa beradaptasi dengan lingkungan, kebiasaan dan gaya hidupnya. 


Mulanya aku kaget dengan gaya hidup di Papua. Semua kebutuhan baik itu sandang maupun pangan sangat mahal dengan gaya hidup yang tergolong mewah. Bahkan aku sempat stress dibuatnya. Setiap ada acara, baik itu acara perjamuan maupun rekreasi selalu makan dengan ikan. Aku memang paling tidak suka dengan ikan, apalagi ikan laut. Awalnya aku tidak bisa makan, tapi lama kelamaan terbiasa juga. Apalagi setelah tiga bulan tinggal di asrama bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, ada tradisi yang mewajibkan bagi yang tertua di peleton harus buka pintu alias menjamu anggotanya dengan membuat masakan dengan segala pernak perniknya. 

Wih..sungguh sangat berbeda 180 derajat dengan perayaan Idul Fitri di Jawa. Aku semakin pusing dibuatnya. Dengan kondisi keuangan kami yang belum stabil, perabotan belum lengkap, tidak ada meja kursi, tidak ada lemari es, sementara gaji suami tinggal separo. Dari mana lagi kudapatkan uang untuk hal yang satu ini. Akhirnya kuberanikan diri untuk pinjam ke persit. Inilah masa sulit yang kuhadapi di awal aku menjadi anggota persit.
Seiring dengan berjalannya waktu ternyata masalah yang kuhadapi semakin pelik. 

 
menu untuk lebaran

Tak terasa pernikahanku sudah menginjak bulan kesepuluh. Namun dalam rentang waktu selama itu belum juga terdengar tangis bayi di tengah-tengah kami. Kembali aku stres dibuatnya. Berbagai alternatif sudah kucoba namun tak kunjung berhasil. Bahkan kegiatan di persit semakin padat dan tak ada hentinya. Apalagi dalam waktu yang bersamaan jabatan suamiku meningkat dari danton ke pasi. Semula aku mengira dengan pergeseran jabatan ini tugasku semakin ringan karena aku tidak lagi menghadapi anggota dengan bermacam-macam problematikanya. E…ternyata dugaanku meleset. Tugas suamiku semakin banyak dan komplek. Otomatis akupun ikut sibuk. Namun disela-sela kesibukanku aku masih menyempatkan diri untuk berusaha mendapatkan keturunan. Sampai akhirnya berkat kerja keras kami dan tentunya atas ijin-Nya, kami berhasil mempunyai anak laki-laki.
 
Fawwaaz Rheznandya Rizqi Yuandono....buah cinta kami


Di bulan-bulan pertama setelah kelahiran anakku, aku merasakan ketakutan, takut tidak bisa merawat anak karena jauh dari orang tua, takut tidak bisa kembali aktif mengikuti kegiatan, dan berbagai rasa takut lainnya yang kian menderaku. Pernah seharian aku menangis karena capek mengurus anak, sementara suami sedang dinas luar selama beberapa minggu. Tapi syukurlah banyak ibu-ibu yang menguatkan hatiku. Aku tidak boleh cengeng, banyak anggota yang lebih muda dari aku, mereka juga mempunyai bayi, mereka juga pendatang yang jauh dari orang tua, mereka juga ditinggal suami, tapi mereka bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga sekaligus anggota persit. Berbekal pengalaman seperti itu akhirnya akupun terbiasa dengan situasi dan kondisi semacam itu.
 


Bagiku menjadi anggota persit memberikan warna tersendiri dalam hidupku. Awalnya aku merasa gamang, takut tidak bisa mengikuti berbagai kegiatan yang ada. Apalagi setelah aku benar-benar terjun di kepengurusan dan berusaha aktif dalam kegiatan persit, lama kelamaan aku menjadi senang. Beberapa waktu lalu aku pernah membantu teman membuat karya tulis dalam rangka ulang tahun persit, dan kami berhasil meraih juara pertama di tingkat pusat. Menurutku, dimanapun aku berada asalkan bersama suami aku akan merasa senang. 

Demikian halnya di Papua. Tadinya aku merasa asing, namun lama kelamaan aku menjadi senang dan terbiasa dengan kebiasaan serta adat istiadat di Papua. Aku jadi mengenal makanan kas Papua yang mayoritas bahannya dari sagu baik itu kue kering, kue basah maupun masakan seperti papeda. Demikian juga dengan tarian kas Papua yang terkenal yaitu yosim pancar. Aku juga sudah mengenal pakaian adat, bentuk rumah dan keadaan penduduk Papua senyatanya yang dulunya hanya kulihat di layar televisi.
Kian hari tugas dan tanggung jawab suamiku semakin berat. Beragam problematika yang dihadapi semakin komplek. 


Rupanya kebiasaan buruk masyarakat Papua ditiru oleh beberapa anggota. Permasalahan keluarga bukannya diselesaikan dengan cara damai melainkan mereka lari ke minuman keras. Pernah ada anggota yang mabuk dan membikin keonaran di lingkungan asrama, ada juga yang saling kejar-kejaran dan baku hantam gara-gara mabuk. Padahal hal semacam ini sudah berulangkali ditekankan ke anggota untuk menyelesaikan masalah keluarganya dengan cara baik dan penuh kekeluargaan, bukan dengan minuman keras. Tapi syukurlah saat ini sudah banyak anggota yang menyadari akan hal itu, meski ada beberapa yang masih sulit diatur dan diberi pengertian. Pernah beberapa waktu lalu, sebagian anggota kita didominasi oleh putra daerah. 

Suasana asrama kita dicekam ketakutan, bukan takut pada perawakannya yang tinggi besar, atau kulitnya yang hitam legam, melainkan takut pada kebiasaannya yang buruk. Hampir tiap malam anggota itu mabuk-mabukan dan mengetuk pintu tiap-tiap rumah perwira atau anggota yang dituakan di peleton sambil membawa parang. Mereka berniat meminta uang, kalau tidak diberi mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Ih..sungguh mengerikan. Di sisi lain, permasalahan yang mendasar dalam rumah tangga agaknya masih seringkali terjadi. Berbagai pelanggaran tindak susila yang kadang membuat hati ini nelangsa masih saja dilakukan anggota. 

Beberapa anggota persit ada yang mengadukan suaminya yang memiliki istri simpanan. Ada juga yang mengadu ingin bercerai dari suaminya karena rumah tangganya sudah tidak harmonis lagi. Pernah suatu hari di siang bolong anggota persit datang kerumah sambil menangis sesenggukan. Setelah kutanya duduk permasalahannya, ternyata hanya sepele, saat dia tidur siang ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya hingga dia kaget dan sulit untuk tidur kembali. Bahkan ada anggota persit yang sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan, mereka kabur, pulang ke kampung halamanannya meski tidak diijinkan oleh Ibu Ketua. 

Beginilah sulitnya menghadapi anggota dari berbagai ragam watak, kepribadian dan sifatnya. Konsekuensinya bagi anggota yang melanggar norma atau kode etik di satuan, mereka harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan. Ada yang dibotakin dan lari keliling lapangan, ada yang di sel, ada yang disuruh mendorong ban mobil yang besar, sedang bagi anggota persit yang melanggar akan dikenakan sangsi yang setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Semua itu kami lakukan untuk menumbuhkan rasa disiplin, kekeluargaan dan senasib sepenanggungan di lingkungan asrama Denzipur 10.
Salah satu hal yang sampai saat ini masih menjadi ketakutanku adalah isu OPM yang ingin mendirikan Negara Papua Merdeka. 


Masih segar dalam ingatanku saat terjadinya insiden Abepura. Meski aku hanya menyaksikan beritanya di layar televisi dan tidak langsung melihat kejadiannya, kurasakan saat itu begitu mencekam. Waktu itu suamiku sedang dinas luar selama beberapa minggu, belum kudengar adanya tragedi yang memilukan itu. Yang kutahu telah terjadi kerusuhan di depan kampus Uncend (-Universitas Cendrawasih-). 

Aku akan berangkat pengajian di rumah salah satu anggota. Tiba-tiba jalan di depan rumahku dipenuhi dengan orang-orang yang saling berhamburan dan berlari sambil berteriak-teriak, sementara anggota Denzipur 10 berjaga-jaga disekeliling asrama sambil membawa senjata. Lapangan bawah dipenuhi dengan kendaraan dari luar yang ingin menyelamatkan diri dari amukan masa. 

Sungguh mencekam dan menakutkan kala itu. Malam harinya suasana lengang seperti kota tanpa bertuan. Meski demikian kegiatan persit kita tetap berjalan seperti biasa. Kebetulan hari Jumat, kita melaksanakan olahraga bersama dinas. Namun ibu-ibu masih dicekam ketakutan. Anak-anak diliburkan sekolahnya, sementara truk yang membawa anak-anak sekolah kearah Abepura terpaksa balik arah karena didepan kampus Uncend masih di palang oleh kelompok yang saling baku hantam. 

Tersiar kabar beberapa anggota Brimob dan TNI ada yang tewas dalam insiden itu yang kemudian jenasahnya dikirim ke kampung halaman masing-masing melalui bandara Sentani. Kita menyaksikan mobil jenasah dengan sirinenya yang kas melewati depan asrama. Bahkan saat kita melaksanakan senam tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tak tau dari mana datangnya, disusul kemudian bau ban dibakar yang semakin menusuk hidung. 

Sontak senam bubar, ibu-ibu pada panik..”kebakaran…kebakaran…rumahku…rumahku….” mereka berhamburan menuju rumah masing-masing. Tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa di asrama kami. Belum hilang kekalutan kami, tersiar kabar OPM akan turun gunung, mereka akan mengadakan penyerangan untuk mendapatkan senjata. Semakin paniklah kami. Sementara separo personil/anggota Denzipur 10 sedang berdinas luar. Tinggallah ibu-ibu dan anak-anaknya yang ada di asrama. Kalau diserang habislah kita..jerit ibu-ibu dalam hati. Apalagi persediaan bahan makanan kami yang kian hari makin menipis. Sejumlah toko, supermarket dan pasar tutup. Kalaupun ada yang buka mereka menjualnya dengan harga yang tinggi, bahkan dua kali lipat. Ya terpaksa kami makan seadanya. Untunglah itu hanya isu, dan mudah-mudahan selamanya tidak akan terjadi. Aku berharap anggota OPM lekas menyadari kesalahannya dan mau kembali ke pangkuan NKRI.
 
Acara Tanam Pohon Bersama

 
Karaoke Bersama

Rekreasi Ke Perbatasan/PNG

Bagiku menjadi anggota persit sangat menyenangkan. Aku berusaha menjalin hubungan baik dengan sesama pengurus dan anggota. Sesama pengurus kami saling rukun dan berusaha menciptakan lingkungan yang penuh kekeluargaan. Di suatu waktu kami bersama-sama membuat ketrampilan yang kemudian kami jual ke anggota. Kami pernah membuat pita dan tas dari bahan saten untuk mengisi waktu luang kami. Kadang kami pergi ke monument Mark Arthur atau berenang bersama di lembah furia Kotaraja untuk sekedar melepas kepenatan setelah seminggu kami aktif di kegiatan persit. Di lain waktu kami mengadakan rekreasi yang melibatkan seluruh anggota Denzipur 10 dan keluarganya ke Base G, Buper atau bahkan ke Hoult te camp. Ikatan kekeluargaan kami sesama pengurus sangat kuat. Kami sering mengadakan korve barang saat aula di sewa untuk pesta pernikahan. Bahkan sekali waktu kami mengadakan pertandingan bulu tangkis antar pengurus. 

Hal yang sangat menggembirakan dalam rangka memperingati Hut Kemerdekaan RI yang ke-61 kami berhasil memenangkan beberapa perlombaan, diantaranya: juara I lomba Yospan tingkat kecamatan, juara II lomba Yospan tingkat kotamadya, juara III lomba Yospan tingkat propinsi, juara I lomba masak non beras tingkat kecamatan, yang sebagian pesertanya adalah pengurus persit kami. Sungguh suatu kebanggaan yang tersendiri bagi kami.
 
Kebun Percobaan

 
Team yospan yang selalu menang lomba

Lomba Senam

Akhirnya, harapanku bagi seluruh anggota persit dimanapun berada janganlah ragu atau bimbang untuk melangkah. Berusahalah untuk menikmati segala sesuatu yang ada didepan mata. 

Persit itu indah, kaya akan warna. Bila kita mengenalnya lebih dekat dan berani menghadapi tantangan yang ada niscaya kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita bisa menggali potensi diri melalui organisasi Persit. Semoga persitku tetap jaya dan memberikan nuansa baru dalam menghadapi tantangan era globalisasi dan arus modernisasi. Baca juga ceritaku disini ya sobat.....
Categories:
Reaksi:

15 komentar:

  1. Wiiiih ceritanya sangat detail dan informatif banget, terimakasih mbak jadi tau situasi mengenai Papua. Sukses selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kenangan yang tak akan pernah kulupa mbak...terima kasih sudah mampir ke blog saya ya

      Hapus
  2. Asik dheh ceritanya,,, heheh
    Terus berkarya bak tuk anak Bangsa
    Saya juga di Papua nie
    Tapi dy Timika,
    Moga Papua, semakin terkendali aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itulah kenangan saya saat tinggal di jayapura, ke timika hanya transit aja saat pulang ke jawa hehehe.........

      Hapus
  3. Selalu bikin ngiri nih cerita papuanya maak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau orang belum pernah kesana, mungkin bayangannya papua tuh menyeramkan....sebenarnya asyik lho mak.....semua kebutuhan disana sangat lengkap, sayang ada sebagian masyarakatnya yang masih tertinggal dan perlu uluran tangan kita

      Hapus
  4. saya pengen ke sanaaaa >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. pergilah kesana, lihat sensasinya....pasti menyenangkan hehehe.......

      Hapus
  5. wew, liat makanannya kayaknya enak bgt...

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak sekali tuh, papedanya, makanan khas Papua, gampang juga masaknya. kalau mau mencoba silahkan buka resepnya di blog ini pada label Resep Masakanku yang berjudul Papeda

      Hapus
  6. Swastika febriana5 Agustus 2013 00.07

    alhamdulillah dapatt gambaran tentang PAPUA....
    Kepengin cepat nyusul suami yg dinas disana ^^

    BalasHapus
  7. Sampai terharu banget bu sy bacanya , luar biasa... Papua slalu buat sy ingin kembali kesana Meski hanya satu bulan ϑȋ̊ sana mendampingi suami,... Membaca blog ibu mbuat Sy pengen ada d sana lagi kembali mendampingi suami tercinta... Salam kenal ibu

    BalasHapus
  8. Saya gak tau musti bicara apa ttg tulisan ibu, yg jelas saya sangat amat berterima kasih krn tulisan ibu banyak memberikan saya pencerahan ttg bagaimana suka duka kehidupan ibu2 persit. Jujur saya benar2 buta akan dunia militer, padahal saat ini saya sedang dekat dg anggota TNI, tulisan ibu seakan menampar saya, agar saya lebih paham dunia apa yg akan saya hadapi jika saya bergabung menjadi bagian dr ibu persit..
    Pria yg saya cintai bukan pria berdasi yg berada dibalik meja, melainkan pria berseragam yg mengabdikan hidupnya demi bangsa dan negara.
    Jika pria itu adalah pilihan Allah untuk saya, saya hrs siap mengabdikan hidup saya seperti dia.. Terima kasih ibu.. ^_^

    BalasHapus
  9. selamat siang ibu, senang membaca blog nya....bulan 5 besok, insya allah saya akan menikah dengan anggota TNI AD yang bertugas di nabire papua.....
    kecemasan" yang pernah ibu rasakan dan ibu paparkan di blog ibu,,seperti mewakili kecemasan saya...
    mudah" an saya sanggup dan mampu bergabung dalam persit kartika chandra kirana, dan bisa melewati segala suka duka mendampingi suami saya bertugas di nabire nantinya.....
    mohon informasi dan bimbingannya.
    Terimakasih

    BalasHapus
  10. Wah selamat ya mak, meski berbagai kesibukan tetap bisa imbang mengurus rumah dan kegiatannya. Sukses slalu ya mak

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...