10 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 4:28 PM 2 comments


SUMBER: GOOGLE



Pagi ini untuk pertama kalinya aku menghirup udara segar di kotaku, ya…setelah sekian lama kutinggalkan. Waktu memang cepat berlalu. Tak terasa lima tahun sudah aku resmi meninggalkan semua kenangan yang pernah kurajut di kota kelahiranku. Aku pergi demi mengejar mimpiku.
Dan sekarang, saat asaku telah kugapai, aku ingin sejenak mengendurkan urat-urat syarafku sambil bernostalgia mengenang masa-masa indah yang pernah kulalui. Bekas guyuran air hujan semalam, rupanya membuat kesadaranku seolah terhipnotis. Ehm…Blitar masih seperti yang dulu. Meski sekarang bangunan-bangunan itu telah berjubel, lalu lalang kendaraan semakin padat, namun Blitar tetap kota kelahiranku yang indah dan asri.



Aku masih melihat kesibukan disana-sini. Di pagi buta aktifitas itu sudah dimulai. Para pekerja pabrik rokok sudah mulai berangkat ke tempat kerjanya. Para penjual jajanan pasar sudah mulai menjajakan dagangannya sambil berteriak “onde-onde, onde-onde, kue-kue”. Bahkan kakek-kakek, nenek-nenek tak mau ketinggalan dengan aktivitasnya di pagi ini. Mereka antusias mengikuti senam jantung di depan bank BNI meski dengan badan yang sudah bongkok dan langkahnya tertatih-tatih.

Malu juga rasanya kalau aku yang masih muda, orang bilang “masih energik dan kuat” hanya berdiam diri di ujung jalan depan gang rumahku.


Rupanya sepeda bekas peninggalanku masa SMP masih tersimpan rapi di gudang. Ibu sengaja membungkusnya dengan kain sarung yang sudah usang. Ya…itulah kebiasaan Ibu yang suka mengkoleksi barang-barang bekas. Termasuk sepeda, karena bekas kupakai semasa SMP dulu.
Ibu bilang, kalau kangen aku, cukup dengan membelai-belai sepeda itu, wuih seperti kucing aja yang dibelai-belai bulunya. Perlahan kubuka balutan kain sarung itu. Ehm…masih mulus juga sepedaku, sayang bannya kempis, tapi tidak apa-apa aku bisa memompanya.

Kucoba memompa sepeda itu, satu…dua…tiga…napasku tinggal satu-satu…wiih capek juga membuat ban sepedaku kembali melembung. Ya…ternyata minyak remnya juga kering, wah aku harus benar-benar mengecek semuanya sebelum kunaiki. Daripada terjadi musibah di jalan, lebih baik dibenahi dulu semuanya, kayak mau buka bengkel dadakan aja…


-------------------


Perlahan kukayuh sepeda bekasku, rasanya aku memang benar-benar bernostalgia, kembali ke masa sepuluh tahun silam, saat aku masih mengenakan seragam putih biru. Sambil berhahak-hihik dengan para tetangga, tak terasa aku telah menempuh jarak bermeter-meter, hingga aku tertegun pada sebuah bangunan yang unik dan megah. Kuhentikan ayunan sepedaku di tempat itu.


“Busyet…bangunan apaan ini, sepertinya dulu aku sering ketempat ini”, pikirku. Ketika kubaca sebuah plang yang bertuliskan SMP Negeri 2 Blitar, rasanya aku tidak percaya. Bangunan yang sepuluh tahun silam kugunakan untuk menuntut ilmu sekarang bak sebuah istana, bahkan aku hampir tidak mengenalinya andai plang itu tidak ada.

Kuperhatikan susunan kelasnya. Masih seperti yang dulu. Meski sekarang telah disulap menjadi lebih indah. Dan diujung sana...ya...gedung perpustakaan itu masih berdiri kokoh di ujung itu. Walau tidak sesimpel dulu, tapi aku masih ingat kalau itu perpustakaan karena di pintu masuk terpampang tulisan besar P-E-R-P-U-S-T-A-K-A-A-N.


Tiba-tiba aku seperti ingin tertawa lepas mengingat kejadian kala di perpustakaan tempo dulu, tapi mau tertawa sama siapa, aku hanya seorang diri, salah-salah malah aku dikira tidak waras alias orang gila. 

Kemana ya si Hadi, si Eni, si Karman atau si Agus sekarang? Ingin rasanya mengajak teman-teman alumni SMP 2 untuk reuni bersama, tapi siapa yang bisa kuhubungi?

Mereka seolah hilang ditelan bumi, tak satupun kuketahui rimbanya termasuk nomor hpnya. Bahkan kejadian itu sampai sekarang sulit kulupakan, aku sering tertawa sendiri bila mengingatnya.


--------------------
Seperti biasa ketika jam kosong, kusempatkan melongok sebentar ke perpustakaan, meski ”just say hello” dengan pak Edi, penjaga perpustakaan yang genit itu. Orangnya kerempeng, suaranya kuecil, tapi genitnya minta ampun, apalagi kalau ketemu cewek cakep, dia goda habis-habisan.


Untungnya aku tidak cakep-cakep amat, tergantung penilaian, mau dikasih tujuh syukur, dikasih enam juga tidak apa-apa. Yang jelas aku paling suka njailin pak Edi. Herannya ketika aku ke perpustakaan, si Karman sama si Agus selalu saja ngikut, mereka naksir kali ya sama aku, ge-er dikit kan tidak apa-apa. Tapi aku juga tahu diri kok. Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan di perpustakaan, salah satunya ”duduk manis dan membaca buku”. Ya...daripada ribut di kelas atau lempar-lemparan kapal-kapalan dari kertas ketika jam pelajaran kosong, hingga membuat kegaduhan dan mengganggu kelas tetangga.


Kubaca buku cerita sangkuriang dengan seksama. Tak ketinggalan disamping kiri kananku ada Karman dan Agus yang juga duduk manis sambil membaca buku. Seperti lomba cerdas cermat saja, aku juru bicaranya, sementara Karman pendamping sebelah kiriku dan Agus pendampng sebelah kananku. Kudengar di meja belakangku ada suara orang yang sedang nembang. Aku tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh papan triplek pembatas tempat dudukku dengan tempat duduk si pelantun tembang itu. Tapi aku hafal suara itu. 

Ya...itu adalah suara emas bu Sunami, guru bahasa daerahku yang sedang melantunkan tembang ”kinanthi”. Suaranya merdu meliuk-liuk. Tapi rasanya aku ingin tidur saja, menguap terus! Ruang perpustakaan yang lengang, harusnya disuguhi musik-musik penggugah semangat, bukan tembang-tembang mocopat yang ritmenya mendayu-dayu. Anehnya, kenapa juga bu Sunami berada di ruang perpustakaan pake nembang lagi, pikirku. Bukankah lebih baik beliau nembang di ruang kantornya saja?


Ternyata di perpustakaan itu bu Sunami sedang merekam suaranya bersama Estas dan Jujuk. Sungguh aku tak menyadari akan hal itu, dan aku memang benar-benar tidak tahu. Sementara Jujuk menemani bu Sunami, si Estas sibuk melancong ke bangku lain. Rupanya ia tercengang dengan aksi kami (aku, Karman dan Agus), yang serius membaca buku masing-masing.

Ya...namanya si Estas yang suka jahil dan usil, secepat kilat ia lemparkan seekor ular ke arahku. Sontak aku berteriak sekencang-kencangnya, “wauuuu ular-ulaaar”...jantungku rasanya mau copot, bunyi detaknya seperti suara beduk yang terus ditabuh, “duk...duk...duk...duk...”. Langit serasa mau runtuh.

Mukaku memerah menahan geram dan takut. Seketika itu suasana berubah jadi gaduh gara-gara ada ular masuk perpustakaan. Kulihat pak Edi yang perlahan berjalan mendekati bangku di belakangku, spontan melompat dan membanting bukunya. Bersamaan dengan itu, suara seorang ibu menahan amarah, ”hai siapa itu, bikin kacau saja!”. Sampai akhirnya wajah bu Sunami menyembul dihadapanku sambil matanya melotot kearahku. Aku seperti maling yang tertangkap basah, ketahuan menjarah sesuatu.

Sementara pak Edi, dengan tergopoh-gopoh ia menghampiriku dengan makian yang panjang lebar. Karena suaranya kecil, yang kudengar seperti kicauan burung prenjak ”cecet cuet cecet cuet”, yang intonasinya tidak jelas. Mampus deh aku, pak Edi marah-marah, pikirku.


Karman dan Agus hanya tercengang dengan kejadian itu, mereka hanya diam dan memandangi ular yang telah kulempar agak jauh dari hadapanku. Salah satu dari mereka mengambilnya.
”Ampun-ampun, buang jauh-jauh ular itu, aku jijiiiiik....”, teriakku.
”Ha...ha...ha...lha wong ular plastik gini ditakuti, ini mainan tau...”, kelakar Karman.


Seketika aku melotot, meyakinkan kebenaran ucapan Karman. Iya, ya bener juga ular mainan. Tapi, sumpah bentuknya hampir mirip dengan ular asli.
 

“Huuuh dasar Estas jahil...”, teriakku kencang banget sambil melempar ulang ular itu kearah Estas. Ya...aku juga ingin menunjukkan kepada semua orang yang ada di perpustakaan, terutama pada bu Sunami dan pak Edi, kalau aku murni tidak bersalah. Apa yang kulakukan tak lain hanyalah unsur ketidaksengajaan dan kekagetanku yang spontan karena telah mengira ular yang dilempar Estas adalah ular beneran, ternyata cuma ular plastik. Mungkin ini sebuah balasan karena aku sering berbuat jahil sama pak Edi. Tapi setelah mengetahui duduk perkara dari kejadian itu semuanya jadi tertawa ngakak.


“Weeh gara-gara kamu nih hasil rekamanku ada musik pengiringnya...dengar baik-baik”, bu Sunami memutar hasil rekamannya.


Ternyata benar, disela-sela suara bu Sunami yang mendayu-dayu terdengar lengkingan suaraku “wauuuu ular-ulaaar”. Untung cuma ular plastik, andai ular beneran yang masuk perpustakaan mungkin aku sudah mati berdiri. Dasar, Estas! Akhirnya semua kembali tertawa lepas “geeerrr”. Bu Sunamipun menepuk-nepuk bahuku.


Aku manggut-manggut sambil tersenyum. Ingin rasanya aku kembali mengulang masa-masa indah itu! Tiba-tiba seorang bapak mengomentariku, ”tersenyum sama siapa mbak, sama tembok, lha wong tidak ada orang kok senyum-senyum sendiri.” Aku cuma menganggukkan kepala, secepat kilat kutinggalkan orang itu dan kukayuh kembali sepedaku agar aku tidak menahan malu yang berkepanjangan.


”Aku dikira orang gila beneran nih sama bapak-bapak tadi, gara-gara mengingat kejadian sepuluh tahun silam.”


”Estas, kemana kamu sekarang, andai saat ini aku tahu keberadaanmu, kan kujitak kepalamu, karena kau telah menyebabkan aku dianggap tidak waras oleh bapak-bapak yang menegorku didepan pagar SMP Negeri 2 Blitar.”


Categories:
Reaksi:

2 komentar:

  1. hihii pengalaman masa sekolah yang tidak terlupakan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. HEHEHE........bisa jadi bahan cerita mbaak

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...