1 September 2016

Posted by Sri Wahyuni on 1:27 PM 20 comments

“Biaya pendidikan sekarang mahal. Setara dengan harga mobil. Bayar pendaftaran, bayar SPP, bayar seragam, buku-buku dan sebagainya...hadeh, bikin saya pusing. Tapi ya mau gimana lagi. Terpaksa mengencangkan ikat pinggang demi anak.”
Setiap mendengar keluhan ibu-ibu tentang biaya pendidikan anak, rasanya membuat saya ingin menghela nafas. Jaman semakin maju, ditopang oleh tehnologi yang makin modern, otomatis biaya pendidikan pun makin membumbung tinggi dari tahun ke tahun. Haruskah kita menutup mata demi masa depan anak? Atau hanya mengikuti sebuah paradikma “yang penting anak sekolah, beres.”

Sebagai orang tua, urusan pendidikan anak menjadi salah satu kewajiban saya. Karena sayalah yang harus mengantarkan anak-anak ke pintu gerbang kesuksesan. Barangkali yang menjadi permasalahan saat ini adalah masalah biaya dan menentukan sekolah. Kadang kalimat saling lempar, sindiran atau pro-kontra kerapkali menghiasi sebuah percakapan tentang pendidikan anak-anak.

“Halah buat apa sekolah mahal-mahal, yang serba gratisan namun akhirnya sukses juga banyak. Sudah sekolah mahal, habis biaya banyak, ujung-ujungnya cuma jadi pengangguran. Buang duit percuma kan?”
Atau...

“Sayang bu anaknya tidak di sekolahkan di sekolah yang bertaraf internasional. Padahal ibu mampu dalam segi finansial, anaknya juga pandai.”
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini boleh dikatakan tidak seimbang.  Salah satu contoh nyatanya adalah kondisi rumah tinggal yang tergambar jelas adanya ketimpangan.  Dimana ada satu kawasan yang didominasi oleh deretan rumah besar dengan arsitektur indah yang didalamnya lengkap dengan perabotan mewah.  Sebaliknya, masih banyak deretan rumah kardus atau rumah berpapan bekas dengan kondisi memprihatinkan, minim  MCK. Sama sekali tidak mencerminkan sebuah rumah yang layak untuk dihuni.

Mengutip sebuah artikel Anne Ahira tentang kondisi perekonomian Indonesia saat ini dijelaskan bahwa: “Pendapat Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini menempati urutan ke-18 dari 20 negara yang mempunyai PDB terbesar di dunia. Hanya ada 5 negara Asia yang masuk ke dalam daftar yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Kelima negara Asia tersebut adalah Jepang (urutan ke-2), Cina (urutan ke-3), India (urutan ke-11), dan Korea Selatan (urutan ke-15). Indonesia kini mempunyai PDB mencapai US$700 miliar. Apalagi, dengan pendapatan perkapita yang mencapai US$3000 per tahun menempatkan Indonesia di urutan ke-15 negara-negara dengan pendapatan perkapita yang besar.”

Bila sebagian masyarakat Indonesia masih mengalami kemiskinan,  ini berarti ada ketimpangan penyebaran dan pemerataan pertumbuhan ekonomi dari satu tempat ke tempat lain. Hal inilah yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan memicu terjadinya konflik. Kenyataan yang ada saat ini, sebagian masyarakat Indonesia cenderung konsumtif dan bergaya hidup mewah. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin masih jelas terpapar. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Bahkan pendidikan pun agaknya belum diterima secara merata oleh seluruh anak-anak Indonesia. Mereka yang mampu secara finansial, sanggup membiayai pendidikan anaknya secara maksimal, sementara bagi yang kurang mampu? Bisa sekolah saja mungkin lebih dari cukup. Bahkan masih ada anak-anak yang tidak bersekolah karena orang tuanya tidak mampu.

Inilah diperlukan sebuah sikap saling memberi dan berbagi demi meningkatkan masalah perekonomian di Indonesia. Alangkah baiknya si kaya merangkul si miskin dalam hal penggalangan dana pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu. Mendirikan yayasan pendidikan, menjadi donatur sebuah lembaga pendidikan atau menjadi orang tua asuh bisa jadi solusi untuk membantu mensukseskan pendidikan agar merata sampai ke seluruh pelosok tanah air.

Pendidikan bukan soal asal sekolah. Namun merencanakan pendidikan yang tepat dapat mengantarkan anak-anak ke pintu kesuksesan. Bukan berarti kita boleh memaksakan kehendak, yang seolah membuat anak sendiri sebagai robot yang berjalan sesuai arahan kita. Kita harus punya prioritas dan tujuan yang matang, selebihnya berikan kebebasan kepada anak.  Yang terpenting bekal pendidikan untuk masa depan anak itu harus ada.

Indonesia termasuk salah satu negara yang berpeluang menjadi negara yang besar.  Bisa jadi pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun akan meningkat tajam. Hal ini bisa berdampak pada makin tingginya biaya pendidikan.

Menurut catatan aninbakrie.com  dalam artikelnya yang berjudul “Tahun 2025 Indonesia akan Menjadi Negara Besar”, dia memaparkan bahwa: Dalam sebuah laporan riset bulan September lalu, McKinsey Global Institute menyebut Indonesia akan menjadi 10 besar negara dengan kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030. Dalam laporan yang berjudul “The Archipelago Economy : Unleashing Indonesia’s Potential” itu Indonesia ada di peringkat ke tujuh. Jika benar terjadi nanti, maka ini akan jadi lompatan besar, karena Indonesia saat ini (2012) berada dalam urutan 16 besar dunia.

Pemerintah sendiri dalam Visi 2025 menargetkan Indonesia berada di peringkat 12 besar dunia, dengan PDB sebesar US$ 3.8 trilyun. Meskipun 2025 itu tidak lama lagi namun target ini diyakini akan tercapai. Lihat saja kondisi Indonesia 13 tahun yang lalu jika dibandingkan dengan sekarang, terlihat kita telah mengalami transformasi yang sangat signifikan.”

Bisa jadi kondisi perekonomian Indonesia 15 tahun mendatang lebih stabil. Pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi, ditopang oleh konsumsi domestik yang tinggi. Bahkan Indonesia saat ini juga menjadi pasar yang atraktif bagi penanam modal dan berbagai perusahaan ritel dunia. Kesiapan sumber daya manusia yang kompetitif dan mempunyai wawasan global menjadi kunci agar pengusaha daerah bisa menjadi tuan di daerahnya masing-masing.

Berpijak pada prediksi diatas, pendidikan termasuk salah satu kunci utamanya. Diperlukan reformasi atau peningkatan agar Indonesia selangkah lebih maju.  Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa nantinya harus memiliki wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional. Dengan harapan agar mereka dapat bersaing secara global. 

Anak adalah harta berharga bagi setiap keluarga. Itulah sebabnya saya sangat mengutamakan pendidikan anak.  Sejak Fawaz masih berusia 1 tahun saya sudah menabung untuk masa depannya. Apalagi kehidupan kami berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain. Otomatis saya harus merencakan biaya pendidikan ekstra untuknya, termasuk biaya pindah sekolah.

Memang tak dapat dipungkiri besarnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun makin tinggi. Sejak duduk di bangku TK, saya sudah membuka tabungan khusus untuk Fawaz. Namun melihat kenyataan yang ada, rasanya besarnya nominal tabungan Fawaz belum tentu cukup untuk membiayai pendidikannya sampai jenjang atas. Saya pun mulai mengencangkan ikat pinggang dan berhemat.

Dan sadar akan masa depan anak, akhirnya saya mencoba berinvestasi. Maklum sebagai ibu rumah tangga, tentunya harus pandai mengatur gaji suami dengan baik.  Investasi jangka panjang maupun investasi dalam bentuk asuransi pendidikan telah saya lakukan demi masa depan Fawaz.

Mengapa harus asuransi pendidikan?

Dalam ilustrasi Perencanaan Pendidikan Si Kecil, disebutkan bahwa,” asuransi pendidikan akan memberikan manfaat proteksi, berupa perlindungan kepada pemegang polis hingga berusia 99 tahun atau tergantung jenis produk asuransi jiwa. Jika anak belum selesai sekolah hingga sarjana dan terjadi resiko kematian terhadap orang tuanya, maka anak akan tetap memiliki dana untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara bonus manfaat investasi dari sebuah asuransi pendidikan akan diperoleh jika porsi dana asuransi yang terkumpul terus berkembang dan memberikan hasil positif.”

Banyak macam asuransi pendidikan yang dapat membantu memenuhi biaya pendidikan anak. Salah satunya yang ditawarkan Morinaga Chil-Go!. Melalui Program Bekal Masa Depan (BMD) Chil-Go! Ini Morinaga ikut serta memfasilitasi dan membantu para orang tua untuk mempersiapkan dana pendidikan anak sejak dini.

BMD Chil-Go! Merupakan salah satu langkah Morinaga dalam mendukung gerakan #SiapCerdaskanBangsa yang ditujukan kepada para orang tua untuk dapat berbagi stimulasi dan ide kreatif dalam mengembangkan Kecerdasan Majemuk si Kecil sehingga menjadi Generasi Platinum yang multitalenta. Inilah pentingnya mengikuti program BMD Chil-Go!.

Selain mempersiapkan dana pendidikan dalam bentuk asuransi pendidikan, tentunya kita harus menghitung kisaran jumlah dana yang dibutuhkan untuk membiaya pendidikan anak sampai selesai. Jangan buru-buru bahagia lantaran sudah ada asuransi. Terus terang yang menjadi kekhawatiran saya adalah persediaan dana pendidikan yang kurang. Sebuah survei yang dilakukan terhadap sejumlah sekolah swasta di Jakarta menggambarkan rata-rata biaya pendidikan di Indonesia naik sebesar 7% - 15% pertahun.  Bisa jadi biaya pendidikan Fawaz 15 tahun kedepan akan naik 8 – 10 kali lipat. Wow....bisa membuat pusing kepala kalau tidak kita persiapkan secara matang.

Seringkali saya bertanya tentang cita-cita Fawaz. Ia sempat menyampaikan niatnya untuk bekerja di bidang keuangan, dengan alasan ingin membahagiakan saya dan ayahnya. Entahlah....rasa haru itu tiba-tiba menyeruak dalam benak saya, manakala kalimat itu muncul spontan dari bibir mungilnya. Sebagai orang tua, saya ikhlas membiayai pendidikan Fawaz, namun bila cita-citanya seperti itu saya pun tetap mendukung dan mengupayakan kesuksesannya.

Melihat cita-cita Fawaz tentunya saya harus membuka wawasan dan mencari informasi pendukung. Banyak sekolah berbasis keuangan seperti STAN atau fakultas ekonomi diberbagai universitas. Sejauh ini menurut pengamatan saya kuliah di fakultas ekonomi membutuhkan biaya yang sedikit mahal dibandingkan fakultas-fakultas lainnya. Bukan hanya biaya pendidikan, biaya penunjang lainnya seperti biaya sewa kamar (kost), biaya hidup bulanan, juga harus diperhitungkan.


Tentunya tak ada kata menyerah demi anak. Meski hanya sebagai ibu rumah tangga, bukan berarti tidak mampu menyekolahkan anak hingga jenjang paling atas. Siapapun itu, tak peduli ibu rumah tangga seperti saya atau wanita karier, tetap anak adalah nomor satu. 

Makanya saya sependapat dengan tips yang disampaikan oleh Mba Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GcertFinPlanning, CFP, QWP, tentang langkah-langkah mempersiapkan dana pendidikan anak sebagai berikut:

1.       Orang tua sebaiknya mulai mendiskusikan pendidikan anak sejak anak masih dalam kandungan. Terlebih dahulu dengan melakukan survei ke sekolah-sekolah atau datang ke pameran pendidikan.
2.       Sesuai pilihan favorit orang tua dan anak, lakukan riset kebutuhan biaya pendidikan untuk tahun ini. Pahami bahwa biaya pendidikan tahun ini kemungkinan besar akan meningkat setiap tahunnya, sehingga saat anak masuk sekolah nilainya akan bertambah besar.
3.       Periksa tabungan atau investasi yang sudah disiapkan. Apakah sudah cukup dengan kebutuhan dana yang sudah dihitung? Bila jumlahnya masih kecil, secepatnya untuk merevisi rencana dana pendidikan.
4.       Pentingnya memeriksa keuangan keluarga, apakah sudah terlindungi? Menabung dan berinvestasi akan terasa mudah dijalankan oleh keluarga yang masih produktif dan mendapatkan penghasilan. Disinilah pentingnya perlindungan asuransi jiwa dalam perencanaan dana pendidikan.

Untuk menghitung kisaran dana yang saya butuhkan guna menunjang pendidikan Fawaz sampai selesai, saya pun menggunakan kalkulator finansial perhitungan dana pendidikan Si Kecil yang sudah disiapkan oleh Morinaga Chil-Go!, yang dapat diakses melalui: 



Saat ini Fawaz berusia 11 tahun dan sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Berarti kurang satu tahun ia menyelesaikan pendidikan dasarnya. Melalui kalkulator finansial ini saya bisa menentukan kisaran biaya pendidikan Fawaz hingga lulus SD seperti gambar dibawah ini. Saya asumsikan uang pangkalnya sebesar Rp. 20.000.000,- dengan uang bulanan Rp. 500.000,-




 Melihat tabel diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa untuk keperluan dana pendidikan Fawaz yang kurang satu tahun lagi menyelesaikan sekolahnya di SD, saya harus menyiapkan dana kurang lebih 29 jutaan. Tentunya sangat besar bila harus dibayar sekaligus. Alangkah baiknya dicicil dalam bentuk investasi sebesar Rp. 662.357,- perbulan supaya lebih ringan. Ini artinya saya harus menyisihkan uang tersebut setiap bulannya.

Dengan kalkulator finansial yang telah disiapkan Morinaga Chil-Go! ini saya juga dapat menghitung kisaran dana pendidikan Fawaz dari jenjang ke jenjang, baik SMP, SMA maupun Perguruan tinggi, sehingga saya dapat merencanakan total biaya pendidikan hingga jenjang paling atas.

Morinaga Chil-Go! akan memilih 9 orang pemenang hadiah utama dan 3.035 orang pemenang hadiah hiburan selama periode program berlangsung. Hadiah utama dari BMG Chil-Go! ini berupa Dana Asuransi untuk Pendidikan dengan total 3 Milyar Rupiah yang dibagi menjadi 3 (tiga) kategori di masing-masing periode:
a. Platinum   : Asuransi Pendidikan senilai Rp. 500.000.000,-
b. Gold         : Asuransi Pendidikan senilai Rp. 300.000.000,-
c. Silver        : Asuransi Pendidikan senilai Rp. 200.000.000,-
(Total hadiah dihitung berdasarkan perhitungan investasi hingga anak berusia 18 tahun)

Bekal masa depan yang terbaik merupakan hak anak. Mari para orang tua persiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin, agar hak anak yang menjadi tanggung jawab orang tua dapat terpenuhi dengan baik. Bagaimana cara? Tentunya dengan mengikuti Program Bekal Masa Depan (BMD) Chil-Go!

Untuk mengikuti program BMD Chil-Go! ini, caranya sangat mudah. Alur dan cara registrasinya dapat dilihat pada video dibawah ini:







Reaksi:

20 komentar:

  1. biaya sekolah makin mahal, jadi emang dari sekarang mesti menyiapkan dana pendidikan buat masa depan anak. .

    BalasHapus
  2. Aku belum nikah sih bund, masih single. Hehehe.. Tapi dari postingan bunda, aku jadi inget mama yang mempersiapkan biaya pendidikan adek pas mulai SMP. Mama bilang ini buat adek kuliah, dan prediksi mama tepat. Perekonomian keluarga pas adek masuk kuliah lagi g bagus, untung aja mama punya asuransi pendidikan yang udah dirintis dari jaman adek SMP. Alhasil, walaupun kondisi ekonomi lagi g stabil, adek tetep bisa kuliah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur ya mbak mamanya punya strategi yang bagus dan perencanaan keuangan yang matang sehingga saat kondisi susah adiknya tetap bisa kuliah....

      Hapus
  3. Duh kalau saja waktu dulu waktu masih saya sekolah sudah ada program ini mbak pasti bisa tenang deh kuliahnya, tapi ini bisa jadi pelajaran buat adik saya yang mau ke perguruan tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas biaya pendidikan harus disiapkan sejak dini supaya bisa mengcover seluruh dana yang dibutuhkan sampai akhir pendidikan....

      Hapus
  4. Anakku masih kecil2 nih Mba, tapi udah mikirin banget tentang biaya pendidikan buat mereka. Sebagai orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya, dan hal itu mau tidak mau membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
    Harus direncanakan matang2 dari sekarang nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba biaya pendidikan harus direncanakan sejak anak masih kecil, supaya hak mereka terpenuhi

      Hapus
  5. Dana pendidikan ini penting banget untuk dipikirkan sejak dini. Karena dana pendidikan tiap tahunnya meningkat *hiks pucing pala incess..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba melihat biaya pendidikan yang membumbung tinggi membuat kepala pusing. Sebagai orang tua jalan satu2nya adalah menyiapkan dana pendidikan sejak dini...

      Hapus
  6. Bener mbak..dana pendidikan mmng beda jauh klo dibandingin ma jaman kita dulu yaa.. Jadi mmng harus direncanakan baik-baik. Klo aku antisipasinya anak-anak ikut asuransi pendidikan mb...tapi kayaknya juga ttp masih nombok..:-)

    Btw, morinaga keren yaa..produsen susu tapi peduli juga dengan pendidikan anak negeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mba beda banget. Kisarannya juga jauh, dulu biaya pendidikan masih bisa diprediksi sekarang harus mikir jauh dan benar2 berhemat demi terpenuhinya hak pendidikan anak...

      Hapus
  7. sbg ortu bijak harus bisa memikirkan rencana pendidikan anak dari dini ya mb

    BalasHapus
  8. Bisa jadi referensi nih,

    salam kenal dan terima kasih Mbak
    barusan dari blognya Mbak Mollyta Mochtar, nyasar ke sini, dan ternyata isinya menginspirasi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, alhamdulillah bila menginspirasi. Semoga bermanfaat

      Hapus
  9. hadiahnya bikin mupeeng yaa...
    lumayan kan buat biaya pendidikan yg semakin hari terasa makin mihil yaa.
    Semiga anak2 kita insyallah ada rezekinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh Nchie hadiahnya bikin mupeng... Amin yra semoga ada rezeki untuk anak-anak kita....

      Hapus
  10. Hadiah nya dahsyat sampai 3 milliar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hadiahnya lumayan untuk biaya sekolah

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...