12 Agustus 2016

Posted by Sri Wahyuni on 10:33 AM 1 comment

Media sosial telah merubah segalanya? Betul? Banyak kasus terjadi akibat terlalu eksis di media sosial. Mulai dari kasus penipuan, pemerasan, perselingkungan, perceraian, pemerkosaan sampai pembunuhan. Sungguh tragis. Namun apakah peran media sosial begitu menakutkan hingga harus dihindari?

Beberapa waktu lalu ada himbauan dari Kasad untuk tidak terlalu eksis di media sosial bagi para anggotanya. Bahkan, ada larangan untuk mengupload foto dengan menggunakan seragam dinas atau berlatar belakang kedinasan.

Demikian juga bagi istri tentara (Persit). Ibu Ketua Umum  menghimbau agar para anggota Persit tidak menyalahgunakan media sosial, apalagi menggunakannya untuk mengupload foto-foto yang berlatarbelakang kedinasan. Bahkan, beliau juga berharap anggotanya bisa lebih bijak dalam berstatus di media sosial. Jangan  pamer atau membuat status yang dapat menyulut emosi dan pertentangan.

Teknologi berkembang demikian pesatnya. Banyak alat elektronik yang tercipta guna mendukung kemajuan teknologi. Apakah kita, sebagai generasi yang hidup di era ini harus tinggal diam dan abai terhadap hal ini? Tentunya tidak bukan?

Larangan dari pimpinan untuk tidak terlalu larut dalam media sosial adalah salah satu mediasi untuk menekan bahayanya menggunakan media sosial. Namun bukan berarti kita menutup diri dari kenyataan yang ada saat ini. Dengan adanya himbauan diatas, bukan bermaksud melarang para bawahan untuk tidak kembali memanfaatkan media sosial. Akan tetapi media sosial harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan tidak disalahgunan.

Kejahatan media sosial seringkali terjadi, dan tidak menutup kemungkinan kitalah korbannya. Adanya bisnis online abal-abal yang sering beredar di media sosial, seperti facebook, twitter, instagram dan lain sebainya, tentunya akan menyerang penikmat belanja online, bila ia tidak jeli dalam berbelanja online. Demikian juga bagi yang sering mengupload foto di media sosial, bisa jadi foto-foto yang telah diuplaod dimanfaatkan oleh hacker untuk mencemarkan nama baiknya. Mungkin dengan mengambil gambar kepala, sementara bagian tengah kebawah diganti dengan gambar yang kurang senonoh. Atau bisa jadi media sosial dimanfaatkan oleh para pemeras dan penipu yang ingin menghancurkan reputasi kita. Termasuk menghancurkan keluarga, bisnis atau bahkan menghasut kita.

Melihat dampak negatif yang timbul akibat menggunakan media sosial, barangkali membuat kita ngeri dan menghela nafas. Namun bukan berarti media sosial tidak boleh lagi dimanfaatkan. Satu-satunya jalan adalah kita harus bijak menggunakan media sosial itu.

Sebelum memblacklist media sosial alangkah baiknya kita kaji lebih dalam, bahwa kehadiran media sosial di era teknologi ini tentunya ada tujuannya. Tak lain agar kita terhubung dengan orang lain lebih banyak lagi. Media sosial terbukti menyatukan hubungan yang telah lama kandas. Kita dapat menemukan sahabat atau saudara yang telah lama terpisah. Eits....namun jangan salah ketika kita sudah terhubung dengan sahabat lama, bukan berarti seenaknya menyalahgunakan media sosial ini. Kita harus ingat status kita. Kalau masih sama-sama single, tentu tidak masalah. Akan tetapi bila kita sudah berkeluarga, harus ada batasan-batasan yang kita lakukan dalam menggunakan media sosial ini.

Banyak kita jumpai kasus perselingkungan dan perceraian yang berawal dari pertemanan di media sosial. Sebelum kita menganggap media sosial sebagai biang keladinya, ada baiknya kita lihat bagaimana keadaan rumah tangga mereka-mereka yang berselingkuh akibat media sosial? Sudah pasti kita tidak bisa menyalahkan 100% terhadap media sosial. Bisa jadi hubungan dalam keluarga tidak harmonis, tidak ada keterbukaan, sehingga adanya media sosial menjadi jembatan pemicu perselingkuhan atau perceraian.

Nah....guna menghindari terjadinya kasus diatas, maka keterbukaan dan hubungan harmonis dalam keluarga harus kita bina sebaik mungkin. Bila masing-masing terjalin dengan baik, saya yakin seberapa hebatnya gangguan akibat media sosial, tentunya tak akan menyulut terjadinya perselingkungan atau perceraian.

Demikian halnya dengan berstatus di media sosial. Kadang tanpa kita sadar, apa yang kita tulis di media sosial mengundang pro dan kontra. Tak jarang status-status yang dibuat tanpa berpikir matang akan berakibat fatal. Si pembuat status dipenjara, dikenai sangsi atau sebagainya. Ya...hanya berstatus, maka si pembuat status kena hukuman. Apakah tidak kebebasan berpendapat di negara kita? Eit...jangan salah mengartikan kebebasan berpendapat. Memang kita bebas berpendapat, asal pendapat yang kita sampaikan masuk akal dan tidak melukai hati orang lain. Inilah yang harus kita pikirkan, bahwa menuliskan status di media sosial tidak asal tulis saja, hendaknya harus melalui logika dan benar-benar dipertimbangkan.

Lalu bagaimana seharusnya kita menggunakan media sosial? Apa batasan dari bijak menggunakan media sosial? Saya rasa, adanya kemajuan teknologi ini tentunya menimbulkan dua dampak yang bertentangan. Ada dampak positif dan ada dampak negatif. Demikian juga dengan media sosial. Sebagai generasi yang berada di rentang era kemajuan teknologi tentu kita tidak boleh menutup mata dari semua ini. Jangan sampai kita tidak tahu apa itu internet, facebook, twitter, instagram dan sebagainya.

Bijak menggunakan media sosial dimaksudkan agar kita mampu mendalami sisi baik dari adanya media sosial itu. Saya contohkan sebagai seorang penulis atau blogger. Sebagai blogger yang juga berkecimpung dalam dunia menulis tentunya peran media sosial ini sangat besar. Berbagai event atau lomba blog kita jumpai di media sosial. Event-event inilah yang membuat para blogger berkompetisi untuk mencari kesempatan. Baik kesempatan menang, kesempatan mencari teman, maupun kesempatan menjadi dikenal publik.

Bahkan media sosial juga dijadikan ajang sharing ilmu bagi para blogger. Mereka saling menyemangati dalam menulis dan berkompetisi. Di lain waktu adanya media sosial ini menjadi jembatan bagi para blogger untuk menyambung silaturahmi melalui kopdar atau mengikuti berbagai event offline yang diadakan oleh instansi tertentu.

Selain itu manfaat media sosial lainnya adalah untuk media berjualan. Banyak ibu rumah tangga yang berprofesi pebisnis online. Media sosial ini sangat membantu mereka dalam memasarkan jualannya. Jadi saya rasa, media sosial bukan untuk dihindari namun mari kita manfaatkan dengan bijak. Syukur-syukur bisa menjadi lahan kita untuk mengais rezeki.

Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. Benar juga mba banyak media sosial di jadikan sebagai media jualan karena keuntungan nya mampu mencakup orang jauh lebih banyak di banding jualan offline :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...