3 Mei 2015

Posted by Sri Wahyuni on 4:59 PM 18 comments
“Adek kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Mau jadi pilot.”

Demikianlah jawaban seorang anak kecil bila ditanya tentang cita-citanya. Ya...setiap manusia pasti mempunyai sebuah impian. Tentunya harapan terbesar dalam hidupnya adalah ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Tak heran banyak cara ditempuh demi meraih impiannya itu.

Ada yang terus bersekolah hingga mendapatkan gelar sarjana. Ada pula yang bekerja agar kelak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya sendiri. Bahkan, ada yang bekerja keras merangkak dari bawah hingga akhirnya meraih kesuksesan. Semua itu dilakukannya demi meraih kehidupan yang lebih baik.

Tak ada yang salah dengan impian atau cita-cita. Baik laki-laki atau perempuan boleh bermimpi. Namun, tak ada juga yang perlu disalahkan bila mimpi-mimpi itu tak terwujud. Semua yang ada di dunia ini, berjalan sesuai kehendak Allah. Setiap manusia tentunya mempunyai cerita kehidupan masing-masing yang telah digariskan oleh-Nya. Tak satupun boleh mengeluh atas kehidupan yang melingkupinya, jika ingin merasakan bahagia dengan hidup yang dijalaninya.

Barangkali banyak diantara kita yang akhirnya menjalani profesi ibu rumah tangga seperti saya. Saya yakin, menjadi ibu rumah tangga bukanlah cita-cita yang sudah lama diimpikan. Namun ada pertimbangan lain untuk mengambil keputusan ini. Lantas, salahkah dengan profesi ini?

Saya berasal dari keluarga biasa. Semenjak SMA, ibulah yang membiayai sekolah saya dan adik. Itulah sebabnya saya selalu bermimpi kelak kehidupan kami akan lebih baik dari sebelumnya. Lulus SMA saya melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri. Demi membantu keuangan ibu, semenjak kuliah saya mencari pekerjaan sambilan. Menjadi instruktur komputer, membantu mengerjakan tugas teman-teman mahasiswa dan membantu menyelesaikan skripsi teman-teman tugas belajar, menjadikan saya sanggup membiayai kuliah dan sekolah adik.

masa-masa SMA
Bahkan disela-sela kesibukan kuliah dan bekerja, sesekali saya masih mendapatkan honor dari pemuatan tulisan di media. Ada rasa bangga yang menyeruak ketika saya bisa mendapatkan penghasilan dari jerih payah sendiri. Sejak saat itu saya memang berkomitmen untuk bekerja keras demi impian saya.

Alangkah senangnya hati saya ketika pekerjaan itu langsung saya dapatkan setelah lulus dari kuliah. Meski bekerja di perusahaan swasta, setidaknya saya bisa menghidupi diri saya dan membantu pendidikan adik. Kebetulan waktu itu adik saya juga sedang melanjutkan kuliah. Sungguh tidak tega bila terus menggantungkan kerja keras ibu untuk membiayai kuliah adik.

jaman kuliah sambil bekerja
Saya berusaha untuk menjadi karyawan yang baik hingga akhirnya kenaikan jabatan dan gaji berulangkali saya dapatkan. Bahkan, saya sempat berpikir untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Namun sepertinya Allah tidak mengizinkan. Berulangkali mengikuti tes penerimaan pegawai negeri, tetapi selalu gagal. Inilah yang menjadi pertimbangan saya untuk tetap bertahan di perusahaan swasta, agar saya berpenghasilan tiap bulannya.

Ternyata Allah menciptakan skenario yang jauh berbeda dengan impian saya. Tiga tahun saya bekerja, terlebih saat itu karier saya mulai bagus, tiba-tiba saya dilamar orang. Dan yang melamar saya tidak tanggung-tanggung. Seorang berprofesi sebagai anggota TNI yang berdinas di Papua. Bagai buah simalakama, saya dilanda kebingungan antara menerima dan menolak. Namun setelah melewati sebuah ikhtiar, akhirnya saya memutuskan menerima lamaran itu.

Menerima lamaran itu artinya saya siap mengambil keputusan dalam hidup saya. Saya akan resign dari tempat kerja, menjadi istri dan mendampingi suami ke Papua, sebuah pulau nun jauh disana, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

“Tenang aja Yun, pasti nanti dapat pekerjaan lagi di Papua. Disana pasti banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan sarjana seperti kamu.”

Demikian kata seorang sahabat meyakinkan saya. Namun, impian memang tak sesuai kenyataan. Menjadi istri tentara dan tinggal didalam kompleks asrama memang banyak aturan yang harus dipatuhi. Apalagi posisi saya waktu itu adalah istri danton yang mempunyai banyak anggota. Dan demi membantu tugas suami, akhirnya saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan aktif dalam kegiatan di asrama.

aku dan kegiatanku
Hampir setiap hari saya disibukkan oleh berbagai kegiatan. Senam dan tenis bersama, membuat tumpeng, membuat kerajinan tangan, rapat, atau mengikuti berbagai perlombaan. Semua itu menguras waktu dan tenaga saya. Belum lagi bila ada anggota yang datang ke rumah menyampaikan permasalahannya, otomatis saya harus bertindak sebagai penengah. Saya seolah tidak mempunyai waktu santai bersama keluarga. Meski hari libur, saya masih beraktifitas diluar rumah.

Kembali kebingungan melanda saya. Hasrat hati ingin mendapatkan penghasilan sendiri seperti dulu, namun kegiatan di asrama tidak boleh saya tinggalkan. Itulah konsekuensi menjadi istri tentara waktu itu. Mungkin lain ceritanya kalau saya sudah menjadi pegawai negeri sebelum menikah, jadi ada alasan untuk tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan di asrama. Tapi sudahlah, mungkin itulah garis hidup saya.

Semakin bertambah tahun, pangkat dan jabatan suami pun semakin tinggi. Saya semakin tidak leluasa untuk mencari penghasilan diluar. Kegiatan pun semakin padat. Apalagi semenjak saya mempunyai anak, kesibukan saya pun makin bertambah. Waktu itu saya memang belum terpikir untuk fokus mencari penghasilan dari rumah. Namun sekali waktu saya masih menjalankan hobi lama, mengirim tulisan ke media dan mendapatkan honor dari pemuatan tulisan itu.

Ternyata rezeki itu datang tanpa saya duga. Seorang sahabat yang tinggal di Bandung menawarkan sebuah kerjasama. Kebetulan ia mempunyai sebuah konveksi yang bergerak dalam pengadaan seragam kerja dan seragam olahraga.  Saya pun menyetujui kerjasama itu. Teman saya mengirimkan banyak contoh barang, mulai dari seragam kerja Persit, seragam olahraga, tas bahkan pakaian santai yang saya jual kepada ibu-ibu di asrama dengan cara mencicil sebanyak tiga kali. Meski tidak mengambil untung terlalu banyak, namun saya bersyukur tiap bulan mendapatkan penghasilan dari jualan baju.

Sejak saat itu saya merasa nyaman bekerja di rumah. Namun, semenjak mengikuti dinas suami yang berpindah ke Bali, saya memutuskan kerjasama itu. Tentunya hal itu saya lakukan karena saya belum mengetahui situasi di Bali saat itu, sekaligus kami belum mendapatkan tempat tinggal yang tetap. Kebingungan pun kembali melanda saya.

Sekali lagi, saya mencoba memantapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin fokus mendampingi anak, baik dalam belajar maupun dalam kesehariannya. Terus terang saya sempat trauma ketika menitipkan anak di Papua. Tidak semua orang yang saya titipi anak bisa tulus mengasuhnya. Ada yang sembunyi-sembunyi menyakiti anak saya, hingga menyebabkan ia mengalami ketakutan. Sejak saat itu saya tidak ingin anak saya diasuh orang lain.

Saya pun melihat peluang di sekolah anak saya. Kala itu beberapa ibu merasa kebingungan mencari tempat les untuk anak-anaknya. Lalu saya menawarkan diri mengajar anak-anak itu secara gratis di rumah. Bak gayung bersambut, niat saya disetujui beberapa ibu. Jadilah saya mempunyai kesibukan mengajar les privat di rumah. Bangga dan senang, itulah yang saya rasakan. Saya bisa membantu anak-anak belajar, apalagi jika nilai ulangan mereka di sekolah bagus.

Ternyata para ibu yang anaknya belajar di rumah tidak mau menerima pertolongan saya secara cuma-cuma. Meski saya tolak, namun mereka tetap memaksa saya untuk menerima uang pembayaran les. Dan sejak saat itu, saya kembali berpenghasilan. Sekali lagi saya harus memegang konsekuensi sebagai istri tentara. Ada beberapa kegiatan yang harus saya ikuti di tempat baru. Hingga akhirnya kegiatan mengajar les privat di rumah ini hanya bertahan sebentar dan terpaksa saya akhiri.

anak-anak yang belajar di rumah
Terbiasa mendapatkan penghasilan sendiri, membuat saya kebingungan ketika tidak lagi mendapatkannya. Meski setiap bulan kami masih bisa bertahan dengan hanya mengandalkan gaji suami, setidaknya ada rasa bangga ketika bisa berpenghasilan sendiri. Namun saya tidak ingin egois dengan meninggalkan keluarga demi mendapatkan pekerjaan.

Dua tahun yang lalu adik saya diberhentikan dari tempatnya bekerja karena alasan yang tidak jelas. Namun tidak mempunyai pekerjaan tidak membuatnya patah semangat. Dengan berbekal laptop dan modem yang ia miliki, akhirnya ia mencoba berbisnis online. Ia pun pandai membaca pangsa pasar, sampai akhirnya bisnis busana muslimlah yang ia geluti.

bisnis adik saya
Tak mudah membangun sebuah bisnis, perlu ketelatenan dan sebuah trik untuk membangun kepercayaan pelanggan. Berkat keuletannya, kini adik saya sudah mantap dengan bisnisnya. Kalaupun disuruh memilih antara bisnis di rumah atau kembali ke tempat kerja, ia lebih memilih menjalani bisnisnya. Bahkan, berkat bisnisnya ini saya pun kebagian jatah. Saya diminta untuk memasok satu produk untuk mengisi lapaknya. Inilah yang menjadikan saya kembali berpenghasilan.

Disamping itu saya kembali menggeluti dunia menulis. Saya membuat blog pribadi dengan harapan dapat mengembangkan bakat menulis saya. Bahkan, karena ingin membuktikan kemampuan menulis saya, saya sering mengikuti lomba blog. Sedikit demi sedikit saya mendapatkan hasil dari ngeblog. Uang dan barang seringkali saya dapatkan dari menang lomba blog.

bisnis yang mulai saya bangun
Terinspirasi oleh bisnis yang didirikan adik saya, kini saya mencoba membangun bisnis sendiri yang bergerak dibidang yang sama. Namun saya belum bisa sehebat adik saya, yang menjadikan bisnisnya sebagai ladang penghasilannya tiap bulan. Inilah sebabnya saya ingin mendapatkan buku panduan untuk memantapkan diri saya agar sukses bekerja dari rumah. Agaknya buku “Sukses Bekerja Dari Rumah” terbitan Stiletto Book ini wajib saya miliki sehingga saya pun tidak menyesal memilih bekerja dari rumah.

sumber: +zata ligouw 

Terus terang saat ini saya lebih nyaman mencari penghasilan dari rumah. Menulis dan berbisnis online adalah pilihan saya sembari mendampingi suami dan anak. Saya tidak ingin egois dengan menjadi seorang pegawai yang beraktifitas di luar rumah, apalagi jika sampai berpisah rumah gara-gara berbeda profesi. Yang saya inginkan adalah hidup bersama dengan keluarga tercinta bagaimanapun keadaannya.

Bagi saya berkumpul bersama keluarga akan menciptakan keharmonisan keluarga. Kita jadi dekat, bisa sharing berbagai hal, bisa mendampingi tumbuh kembang anak dan bisa menyiapkan segala kebutuhan keluarga. Jadi, kalau saya diminta memilih, bekerja di rumah lebih enak ketimbang bekerja diluar.

Mengapa?

Tentunya dengan bekerja di rumah, kitalah yang menjadi manager dari seluruh pekerjaan kita. Sukses tidaknya sebuah pekerjaan tergantung kepada kita. Kalau kita bekerja keras sesuai target, tentunya kesuksesan itu akan menyertai usaha kita. Saya rasa tantangan terberat dalam berbisnis di rumah adalah konsekuensi dan disiplin. Kadang ada sisi buruk yang membuat kita merasa malas sehingga ingin menunda pekerjaan:

“Ah besok aja, ah nanti sore aja....ah......”


Dan hanya ada satu kunci bila ingin sukses bekerja dari rumah, jadilah manager yang baik bagi diri sendiri, yang disiplin dan konsekuen dengan rencana yang telah kita buat. Dengan demikian kita semakin mantap berpenghasilan dari rumah dan “say goodbye” pada sebuah ego untuk bekerja di luar rumah.


Categories:
Reaksi:

18 komentar:

  1. Ceritanya bagus mbak, semoga menang ya mbak lombanya :) Salam kenal, senang bisa blogwalking disini :)

    BalasHapus
  2. Semoga bisnisnya bisa lancar seperti punya adik mbak biar ada penghasilan sendiri. Kalau terbiasa punya penghasilan emang gatel banget nih tangan. Hihihi.

    BalasHapus
  3. Kecanggihan teknologi (internet) membuat ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus meninggalkan tanggung jawab mengurus suami dan anak karena bisa bekerja di rumah dengan waktu fleksibel. Sukses buat bisnisnya mbak dan semoga menang dalam lomba ini

    BalasHapus
  4. Kita yang menjadi pekerja, kita juga yang menjadi atasan. HAru sbisa mengatur diri sendiri ya mbak kalau bekerja di rumah

    BalasHapus
  5. Bisnis online ini banyak kemudahannya, semoga lancar, dan semoga saya pun bisa memulainya sesegera mungkin amin

    BalasHapus
  6. Sukses ya mb untuk bisnis dan lombanya.....tulisannya keren! Eh..rupanya pernah jadi pejuang cpns juga. Toss,, sama mb:-)

    BalasHapus
  7. Jaman skr kerja ga harus dikantor belajar ga harus di sekolah. Moga2 lancar usahanya mak
    Sukses ya

    BalasHapus
  8. Wah, hebat. Macam2 profesi pernah dijalani. Semoga bisnisnya membawa berkah bagi keluarga ya Bunda

    BalasHapus
  9. Bagus mba cerita'a. Mudah" bsa jdi juara

    BalasHapus
  10. setuju banget, perempuan mesti berkarya dan itu bisa dari rumah. Meski di luar atau di rumah berkaryanya, hal yang paling penting adalah jangan sampai perannya sebagai perempuan di rumah terabaikan

    BalasHapus
  11. bener mak, harus konsekuen dengan rencana sendiri , harus pinter manage diri sendiri

    BalasHapus
  12. bener mak, harus konsekuen dengan rencana sendiri , harus pinter manage diri sendiri

    BalasHapus
  13. wah nostalgia itu foto pas SMA'a :D
    semoga bisa jadi juara mba :)

    BalasHapus
  14. Meski masih jauh dari keberhasilan, saya sendiri menjajal kerja dirumah setelah berhenti dari pekerjaan lama. Alhamdulillah waktu luang jadi terisi.
    Inspiratif postingannya, dan semoga sukses lombanya.
    Salam!

    BalasHapus
  15. pgn ikut jg,sukses terus mba :)

    BalasHapus
  16. betul mba, harus disiplin dan konsekuen, krn keberhasilan usaha tergantung dr seberapa besar usaha kita ya..sukses mba :)

    BalasHapus
  17. Satu sisi memang mengasikan & banyak waktu buat keluarga terutama anak, saya hampir tiap hari anter jemput anak selain kerja dirumah :)
    tapi yg kadang bikin agak2 gimana itu pas ditanya anak, bapa ko ga kerja lagi :) walau udah dijelasin kerja dirumah tapi yg namanya anak kadang suka pengen ngikutin anak lain yg bapanya pada kerja kantoran

    Tapi biar gimana juga memang disiplin & konsekuen penting banget & Alhamdulillah walau kerja dirumah tapi penghasilan malah lebih besar dibanding waktu masih kerja kantoran

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...