6 April 2015

Posted by Sri Wahyuni on 8:24 AM 20 comments
Buah matoa? Adakah yang sudah tahu dengan buah ini? Atau malah mempunyai pohonnya dan sudah sering merasakan? Untuk saat ini buah yang satu ini makin terkenal dan makin berkembang di berbagai pulau. Justru buah ini sudah agak langka di pulau asalnya sendiri.

buah matoa kelapa yang legit

Saya mengenal matoa ketika menetap di Papua beberapa tahun yang lalu. Ya, matoa adalah buah asli Papua. Sepengetahuan saya buah ini mempunyai dua jenis yang rasanya pun sedikit berbeda. Kalau dari segi pohonnya akan sangat sulit membedakan jenis matoa. Namun dari buahnya, matoa akan dikenali dari warna kulitnya dan daging buahnya.

Matoa bapeda mempunyai kulit buah berwarna hijau dengan daging yang tidak mengelupas bila digigit. Berbeda dengan matoa kelapa yang kulitnya berwarna hijau kemerahan, dan dagingnya mengelupas serta sangat legit bila digigit. Inilah yang membedakan kedua jenis matoa ini. Dari segi harganya pun matoa kelapa jauh lebih mahal ketimbang matoa bapeda.

Di pulau asalnya, Papua, matoa kelapa harga perkilonya sangat mahal, bahkan dua kali lipat dibanding matoa bapeda. Namun bagi orang yang sudah mengenal buah matoa, maka matoa kelapalah yang diburu, meski harganya terbilang mahal.

Tahun 2007, saya mencoba membeli sekilo buah matoa di Papua. Lalu buah itu saya kirim ke Jawa. Dengan harapan agar ibu dan saudara-saudara saya turut merasakan buah asli Papua. Ternyata ibu saya berinisiatif mengumpulkan bijinya dan menanamnya di pekarangan rumah.

Tak disangka, biji-biji matoa yang ditanam ibu dalam gelas plastik semuanya tumbuh subur. Ibu hanya mengambil dua buah dan memindahkannya di pekarangan rumah. Selebihnya dibagi-bagikannya ke tetangga dan kerabat. Mungkin tanah di sekitar rumah saya sangat subur, hingga pohon matoa itu tumbuh tinggi dan subur. Sementara tanaman yang dibagikan ke tetangga dan kerabat, hampir semuanya mati.

Di tahun 2013, untuk pertama kalinya pohon matoa yang ditanam ibu berbuah. Buahnya pun lebih besar dari buah aslinya. Kalau dihitung dari tahun pertama pembibitan, berarti ada jarak 6 – 7 tahun pohon matoa itu berbuah. Sayang, di Jawa khususnya, masyarakat belum dapat membedakan mana matoa bapeda dan mana matoa kelapa, sehingga bila ada penjual buah menjual buah seperti ini mereka akan menjualnya sangat murah. Bisa jadi perkilonya hanya dua puluh ribu untuk semua jenis matoa. Padahal matoa kelapa bisa mencapai ratusan ribu perkilonya bila dijual di pulau asalnya. Sementara matoa bapeda harga perkilonya hanya setengahnya matoa kelapa.

Kebetulan ibu tidak pernah menjual buah matoanya. Beliau hanya membagi-bagikannya ke tetangga dan kerabat, agar semuanya bisa merasakan legitnya buah matoa. Perlu diketahui, pohon matoa berbuah setahun sekali antara bulan Oktober – Nopember. Sekalinya berbuah, ia akan menghasilkan buah yang banyak sekali. Setelah itu tidak ada buah susulan yang masak setelah buah pertama dipetik.

Bagi yang belum tahu buah matoa dan rasanya, Anda bisa membayangkan rasa buah rambutan binjai atau kelengkeng. Ya....rasa buah matoa mirip rasa kedua buah itu, hanya saja lebih keset dan legit tidak ada asamnya sedikitpun. Mungkin bagi yang belum pernah melihat bentuk buah matoa, mereka akan mengira kalau buah itu adalah buah makanan ular, sehingga dibiarkan begitu saja. Karena pengalaman teman-teman saya, banyak yang mengira pohon matoa itu mirip benalu dan makanannya ular, sehingga dibiarkan begitu saja, bahkan ada yang menebangnya.

Jadi, bagi yang penasaran ingin merasakan buah matoa, saat ini banyak supermarket yang menjual buah matoa saat musimnya tiba. Kalau ingin menanamnya, caranya pun gampang. Cukup tanam bijinya dengan media polibag atau gelas plastik bekas dengan diisi tanah subur. Perawatannya pun gampang, cukup siram setiap hari. Bila biji sudah tumbuh menjadi tanaman kecil, biarkan agar tinggi kira-kira 15 – 20 cm, setelah itu pindahkan di tanah atau pekarangan yang tanahnya subur. Asal jangan terlambat menyirami, maka pohon matoa itu akan terus tumbuh. Tanpa pemupukan, pohon ini bisa tumbuh dengan sendirinya.

Seperti saya uraikan diatas, jarak 1 tahun pohon ini sudah terlihat tinggi. Namun untuk berbuah butuh waktu 6 – 7 tahun. Jadi diperlukan kesabaran untuk memanen buah matoa di pohon sendiri. Yang sangat menyenangkan, buah ini tidak pernah terlambat berbuah. Ketika tahun pertama pohon matoa sudah menghasilkan buah yang banyak, maka tahun-tahun berikutnya, pohon ini akan terus berbuah. Dan kalau sudah tahu rasanya buah matoa, lidahpun serasa ketagihan ingin terus merasakannya. Masih penasaran? Yuk berburu matoa!!!




Categories:
Reaksi:

20 komentar:

  1. Wah...di jogja jarang nemu matoa mbak....entah klo di penjual bibit2 buah....tapi klo buahnya masih susah. Mgkin di hipermarket ada....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Blitar sudah banyak yang nanam mbak, cuma mereka tidak tahu jenis matoa apa yang ditanam. Kebanyakan mereka menanam matoa bapeda. Kalau pas musim dipasar pun banyak pedagang matoa...

      Hapus
  2. Penasaran mau makan buah matoa. Tapi klo dari penampakan kulitnya buah ini tidak menarik sama sekali ya :D. Di Jakarta ada tidak ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bnyak yang ngira makanan ular tapi rasanya enak bgt mbak...di Jakarta sudah ada kok mbak teman saya pernah bilang

      Hapus
  3. Biasanya kalau musim matoa itu tiap bulan apa yah? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sudah saya sebutkan diatas mak, antara bulan Oktober - Nopember...gak baca ya hehehe

      Hapus
  4. Aku pernah makan ini dan aku akuin emang enak bangeeet!

    BalasHapus
  5. uwaaa mau,kalau lebaran pasti sering dipetikin matoa saa bulekku,punya kebun sendiri di belakang rumah^^

    BalasHapus
  6. Sekarang aku lagi nunggu panen matoa ( kira2 akhir bulan ini ), matoa punyaku Alhamdulillah berbuahnya estafet. belum di panen sudah berbunga. saat buah pertamakali dan kedua memang 1 th sekali, kmdian tahun berikutnya estafet. bln januari kemrin baru panen,sekrg nunggu panen dan sudah ada ranting yg berbunga.

    BalasHapus
  7. sip..sip mbak aku sekarang punya bayangan rasanya buah matoa. Seperti kelengkeng ternyata ya asam

    BalasHapus
  8. Di Tempatku ada nggak ya buah seperti ini? jadi penasaran... hehehe :D

    *SaHaTaGo (Salam Hangat Tanpa Gosong) pojok Bumi Kayong, Ketapang-Kalimantan Barat

    BalasHapus
  9. Aku punya teman yang tinggal di papua... tapi kok menurutnya matoa itu rasanya tawar....?

    BalasHapus
  10. Matoa, hmmmm uwenak mak nyus...
    Kalo nggak salah, panen sekitar bulan September atau Oktober ya Mbak. Di dekat rumah mertua saya ada, kalau berbuah banyak banget, sekomplek kebagian. Matoa yg warnanya kemerahan. Kalau di tempat tinggal kami di Pangkalan Kerinci, juga banyak. Bahkan sepertinya tumbuh liar aja, di tepi jalan lintas timur yg membelah pelalawan, riau. Jenisnya jg kemerahan. Kalau berbuah banyaknya luar biasa.

    BalasHapus
  11. buah matoa itu enak. Cuma saya jarang banget nemu buahnya di sini

    BalasHapus
  12. Ooh rasanya mirip rambutan dan kelengkeng, pasti enak ya. Aku baru tau buah matoa ini :)

    BalasHapus
  13. Belum pernah nyobain nie buah matoa, liat aja baru kali ini

    BalasHapus
  14. jadi pngen coba
    udah ada di jual di supermarket blum mba??

    BalasHapus
  15. Meski srg denger n liat tp sy blm pernah liat aslinya mak. Ternyata rasanya manis yaa. Jd penasaran euy

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...