8 Januari 2015

Posted by Sri Wahyuni on 12:10 AM 19 comments
Kadang seorang pemimpin lebih menggunakan egonya bahwa dialah pemimpinnya. Begitupun dengan seseorang yang mempunyai jabatan lebih bagus atau mempunyai pangkat lebih tinggi, kadang ego itu ditonjolkan sehingga dialah yang merasa lebih berkuasa. Namun ego yang berlebihan, tidak serta merta membuat seseorang itu dihargai, bisa jadi akan menimbulkan percekcokan atau jadi bahan gunjingan.

Mengapa saya berkata demikian? Sebenarnya ini hanyalah sebuah uneg-uneg atas keadaan yang tidak menyenangkan. Saya ibaratkan "buah simalakama", tiba-tiba menjadi seseorang yang tak tahu harus berbuat apa. Hanya melalui blog inilah akan saya kisahkan semua kejadian yang menimpa saya sore tadi.


Mulut dan lidah menjadi satu kesatuan yang bisa dikatakan tajam bisa juga tiba-tiba tumpul. Apalagi kalimat yang keluar dari dua hal tersebut, bisa menjadi sesuatu yang berbahaya jika tidak dipikirkan masak-masak. Dan saya termasuk orang yang ingin menjaga setiap kalimat yang akan saya keluarkan, karena saya tidak ingin hal buruk menimpa saya kemudian hari. Terlebih posisi saya saat ini, seolah memang membuat saya harus menjaga sikap.

Sebagai bagian dari keluarga besar TNI, saya memang harus menjaga sikap dalam artian, menghormati atasan dan menghargai bawahan. Namun apalah jadinya bila atasan dengan egonya berbuat semena-mena terhadap bawahan? Ini yang sangat saya sesalkan.

Pertama kali mendampingi suami, saya harus melanglang ke Papua. Delapan tahun saya merajut asa disana. Setelahnya, saya kembali mendampingi suami ke Denpasar - Bali. Rasanya bukan masalah baru bila rumah dinas diperjualbelikan, karena hampir di seluruh pelosok Indonesia, yang namanya rumah dinas, tanah milik negara, harus diganti dengan uang yang jumlahnya membuat mata saya terbelalak. Apalagi di Bali, memang wajar bila harga rumah dinas membuat saya dan suami tidak kuat membelinya.

Lantas, kamipun berinisiatif membuat rumah kayu knockdown. Tentunya bukan hal mudah untuk mewujudkan rumah itu. Jauh hari saya harus menghitung budget saya, lalu saya berburu kayu hingga ke pelosok desa. Di desa, yang saya beli bukan kayu yang sudah terbelah, namun masih berupa pohon yang berdiri tegak. Setelah sepakat dengan harga pohon itu, maka sayapun mencari tukang untuk membelah kayu sesuai ukuran yang saya inginkan. Dari situ, saya masih mencari sopir truk dan tukang yang mau mengangkut kayu dari desa ke rumah.

Setelah potongan kayu sampai di rumah, saya masih mencari tukang lagi untuk membentuk potongan kayu itu menjadi rumah knockdown. Tentunya sangat lama prosesnya, dan butuh waktu berbulan-bulan. Itupun saya lakukan sendiri, berhubung suami dinas di Bali. Semua proses pembuatan rumah kayu saya lakukan di Jawa. Setelah perakitan selesai, maka kayu-kayu itu diberi tanda dan nomor. Barulah diikat perbagian. Setelah semua dirasa selesai, maka saya kembali mencari truk yang bersedia mengangkat kerangka rumah kayu itu ke Denpasar.

Kalau dihitung semua proses dari awal hingga tiba di tempat tujuan, saya harus mengeluarkan dana sekitar dua puluh juta lebih. Jumlah yang sangat besar bagi saya. Ternyata begitu sampai tujuan, kerangka rumah itu belum jadi saya bangun, mengingat waktu itu ada sebuah rumah yang bisa kami tinggali, meski harus hidup dengan keluarga lain.

Singkat cerita, karena suami saya mengemban sebuah jabatan, akhirnya kami mendapatkan rumah jabatan. Jadilah kami pindah rumah. Namun kerangka rumah kayu itu masih saya titipkan di rumah lama. Bahkan, penghuni rumah lama juga siap menjaga kerangka kayu itu, hingga dua tahun lamanya.

Tiba-tiba, rumah itu diminta seseorang yang dulunya mantan pimpinan disitu. Mendengar berita itu saya sedikit resah. Pasalnya, penghuni lama, yang tadinya menjaga kayu saya, diminta angkat kaki dari situ. Sementara keresahan saya semakin menjadi ketika tumpukan kayu yang sudah ditata rapi dan diberi label oleh suami saya tiba-tiba berubah posisinya.

Yang membuat saya makin geram, ketika saya mendatangi tempat itu, ternyata separo kayu yang sudah saya beri tanda, yang menjadi bagian dari rumah knockdown saya, dijadikan bahan untuk membuat garasi dan dapurnya. Saya marah bukan karena mahal atau murahnya harga kayu, namun kayu-kayu itu adalah bagian dari rumah kayu saya. Kalau separo bagian hilang, itu artinya rumah kayu saya sudah tidak berbentuk lagi. Anehnya, tak ada ijin atau kata-kata yang mengisyaratkan orang tersebut untuk minta kayu.

Inilah yang membuat saya berkesimpulan, bahwa seseorang yang mempunyai pangkat lebih tinggi, kadang menonjolkan egonya untuk berbuat semena-mena. Andai saya tidak berada di posisi ini, mungkin saya akan datangi orang itu, minta pertanggungan jawab. Namun posisi saya serba tidak mengenakkan. Ada suami dan jabatannya yang harus saya pertahankan dan jaga dengan baik, meski dalam hati ini ingin berontak.

Yah...hidup memang tidak selamanya datar. Kadang ada kerikil yang tiba-tiba menghadang di persimpangan. Dan ini adalah bagian dari skenario Allah. Mungkin juga, ini adalah cara Allah memberikan ujian kepada saya, bahwa kejadian itu menuntut saya untuk lebih menghadirkan hati yang sabar dan ikhlas.

Dengan sabar dan ikhlas, maka rasa geram saya perlahan sirna berganti dengan hati yang perlahan bisa menerima semuanya dengan hati lapang. Apalagi orang-orang disekeliling saya saling menguatkan, memberikan semangat bahwa Allah Maha Tahu. Apa yang saya alami memang telah digariskan olehNya. Jadi tak perlu saya naik pitam atau harus berteriak lantang demi mengusir amarah saya. Yang harus saya lakukan adalah bermunajad padaNya seraya menyerahkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di bumi ini tentu atas ijinNya. Jadi tak perlu saya marah atau merutuki nasib yang menimpa saya.

Dan akhirnya, sayapun plong. Terima kasih sobat blogger yang telah sudi membaca curahan hati saya. Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah, karena saya masih diberi iman untuk memasrahkan semua kejadian yang menimpa saya hanya padaNya......


Categories:
Reaksi:

19 komentar:

  1. Atasanmu harusnya memahami dengan baik asas-asas kepemimpinan TNI agar tidak melakukan perbuatan yang tidak pantas.
    Alhamdulillah atasan saya semua baik, sayapun selalu berusaha untuk menjadi atasan yang bagus.
    Sabar dan terus berusaha menjadi orang baik ya Jeng.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya seperti itulah atasan bersikap...coba kalau Pakde jadi atasan suami saya, pasti kayu2 saya tidak bakal ilang hiks...ah biarlah saya harus ikhlas supaya tdk terus nggrundel...terima kasih Pakde saran dan dukungannya.

      Hapus
  2. Salam kenal bu...
    bersabar ya, Insya Allah, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Serta bersyukur atas anugrah kelapangan hati yang Dia berikan sehingga bisa menerima kejadian sebagai suatu takdir yang harus dijalani..
    Benar kata ibu, tak ada sesuatupun yang terjadi diluar kehendakNya, dan insya Allah pasti ganjaran pahala pun telah Dia sediakan atas semua musibah yang menimpa.

    BalasHapus
  3. Persoalannya berat sekali. Saya hanya ikut berempati saja kemudian mendukung dengan perkataan yang sabar yang sabar yang sabar yang sabar

    BalasHapus
  4. sabar ya bu yuni, itu lah kadang hidup ini yang dimana setiap orang mempunya ego yang tinggi.

    BalasHapus
  5. Akhirnya Blog kembali menjadi sandaran curahan hati penulisnya
    Its okayyy

    BalasHapus
  6. Andai rumah itu selesai pasti indah ya Mba, saya sll memimpikan punya rumah kayu yg memiliki hamparan rumput luas.

    BalasHapus
  7. ya ampuun mba, membca ini seolah saya pun berkata, apakah ini cara Allah menegur saya agar saya lebih sabar dan ikhlas (ingat akan masalah yg sedang saya hadapi). Makasih ya mba, saya seolah diingatkan lewat tulisan mba Yuni

    BalasHapus
  8. Biarlah orang melempar kita dengan batu, kita balas melempar dengan kapas. Intinya sabar dan ikhlas, Allah maha melihat segalanya.

    BalasHapus
  9. saya penasaran dg rumah kayunya, jadi akhirnya bagaimana? knapa waktu itu tidak dibawa saja? ga ngomong langsung kah ke orang ybs?

    BalasHapus
  10. Sisa kayu saya kirim ke kampung halaman mbak. Waktu itu rumah tempat kayu saya berada adalah tempat tinggal saya, trus saya pindah ke rumah jabatan, dan kayu saya taruh disitu karena ada anggota yang menempati, jadi saya titip. Tiba2 ada senior yang pangkatnya lbh tinggi minta rumah itu, anggota diusir. Kayu saya yang sdh dibungkus rapi dan diberi tanda ternyata dibersihkan alias digunakan untuk membangun dapur dan garasi tanpa ijin. Di TNI ada aturan yang mengharuskan bawahan hormat pada atasan, inilah penyekat yang membuat saya tidak berkutik. Kalau orang umum saya sudah labrak dia, tapi biarlah Allah Maha Tahu

    BalasHapus
  11. Coba di foto Mba rumah kayunya, jadi penasaran

    BalasHapus
  12. Tidak bisa difoto mas, karena separo tiang penyangga dan papannya sudah diambil orang tanpa ijin...

    BalasHapus
  13. apapun statusnya, terutama jika seseorang tersebut memiliki status sosial yang tinggi bahkan sebagai pemimpin, tentu ego akan muncul baik sengaja taupun tidak disengaja,jika ego tersebut positif tentu imbasnya juga bakalan positif.

    BalasHapus
  14. HHmmm ... Seharusnya tidak bisa seperti itu ...
    Saya hanya berharap semoga yang bersangkutan menyadari bahwa apa yang dia lakukan tidak benar

    salam saya Mbak Yuni
    (9/1 : 13)

    BalasHapus
  15. Yah namanya juga manusia. Mereka lupa kalau yang membuatnya lebih tinggi juga anak buahnya.

    BalasHapus
  16. Ya Tuhan...yg sabar ya, Mbak. Semoga ada jalan keluar untuk masalah ini. Semoga kayu2nya segera dikembalikan ya. Krn bukan miliknya.

    BalasHapus
  17. Allah lagi kasih ujian ya mak, mudah2an lulus dan dam dapat gantinya jauh lebih baik. Kalau mengingat itu hak kita, tentu geram dan sedih :(

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...