26 Agustus 2014

Posted by Sri Wahyuni on 3:03 PM 8 comments
Hidup ibarat mengurai mimpi. Kita tidak pernah tahu apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan, atau malah sebaliknya. Yang jelas berbahagialah Anda yang mempunyai banyak mimpi, karena dengan mimpi, kelak Anda akan berjuang mewujudkannya. Inilah semboyan yang selalu saya dengungkan dalam hati, agar saya bersemangat memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Masih teringat kenangan beberapa tahun silam, saat saya menunggu detik-detik kelulusan di bangku kuliah. Ibu menerima telepon dari teman kuliah saya. Beliau sempat ngobrol panjang lebar di telepon. Usut punya usut, teman saya ada hati alias naksir saya. Namun Ibu menolaknya secara halus. Beliau menyampaikan kalau saya sudah bertunangan dengan seorang cowok yang kini tengah dinas di Papua.

Wow…Papua! Saya terhenyak kaget mendengar penuturan Ibu yang spontan setelah menutup gagang teleponnya. Sungguh, rasanya seperti sebuah mimpi bila saya bisa menjamah Papua, apalagi mempunyai tunangan yang dinas disana. Sepertinya tidak mungkin. Yah…itu adalah kalimat penolakan Ibu agar teman saya mundur. Bukan matre, tapi namanya orang tua pasti menginginkan hal terbaik untuk anaknya. Terlebih saya seorang perempuan, tentunya Ibu menginginkan seorang pendamping yang sukses dalam kariernya dan setia pada keluarga.

Namun siapa sangka bila kebohongan Ibu berubah menjadi kenyataan.  Tiga tahun setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Surabaya, Ibu mengenalkan saya dengan anak teman beliau. Rasanya seperti mimpi. Hari Minggu kami sempat berkenalan di rumah. Esoknya saya berangkat kerja. Lima hari kemudian sang cowok menelpon, mengajak tunangan, karena dia akan berangkat ke Papua. Dan Sabtu sore acara pertunangan kami digelar. Minggu pagi, kami harus berpisah karena dia harus ke Papua melaksanakan tugas disana. Benar-benar seperti mimpi.

Papua yang dulu hanya dalam angan, kini jadi kenyataan
Inilah yang membuat saya yakin bahwa setiap ucapan Ibu adalah doa untuk anaknya. Kita tak bisa mengelak dari takdir Allah, bila mimpi itu berubah menjadi kenyataan. Meski kita menganggap bahwa mimpi itu tidak akan terwujud, namun jika Allah telah menghendaki-Nya, niscaya mimpi itu akan menjadi sebuah kisah nyata yang membuat kita terpana.

Dulu saya sempat membayangkan, menjalani hubungan jauh tentu banyak resiko dan butuh banyak biaya. Setiap waktu kita harus mengeluarkan biaya pulsa untuk sekedar berucap “halo” atau menanyakan kabar. Tapi, saya bersyukur, meski perkenalan kami singkat, kami tak pernah berbuat macam-macam, apalagi mengkhianati sebuah ikatan yang telah direstui orang tua.

Namun kami dibuat pusing saat menetapkan hari pernikahan. Menikah berarti saya harus siap mengikuti suami ke Papua, itu artinya saya harus meninggalkan pekerjaan di Surabaya. Sementara saya sendiri tidak tahu apakah nantinya bisa mendapatkan pekerjaan disana atau hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Lama kami memikirkan hal ini, sampai timbullah keberanian saya. Bahwa saya tidak ingin hubungan yang belum kuat. Sebuah ikatan resmi yang saya inginkan mengharuskan saya meninggalkan pekerjaan, saya siap menerimanya.

Dua bulan setelahnya, acara pernikahan kami di gelar di Blitar, karena kami memang asli Blitar. Bukan meriahnya pesta pernikahan yang membuat kami bahagia, lebih dari itu, kami telah mempunyai ikatan suci demi memulai kehidupan baru. Namun, ada sedikit gamang setelah acara usai. Yaitu saatnya saya mempersiapkan diri ke Papua.

Saya tidak pernah membayangkan akan pergi sejauh ini, bahkan menjamah sebuah pulau di ujung timur Indonesia. Apalagi perjalanan yang saya tempuh menggunakan pesawat. Saya seperti hidup di negeri dongeng. Yang bikin tercengang, saya terlalu banyak membawa barang hingga over bagasi sampai jutaan. Akhirnya uang satu juta, yang tadinya dijadikan “mas kawin” terpaksa harus raib untuk membayar kelebihan bagasi.

Ternyata Papua tidak seperti yang saya bayangkan. Meski dikelilingi hutan dan danau, nyatanya pulau ini sangat menarik. Bahkan untuk perabotan rumah tangga atau bahan makananpun disana juga banyak. Pertokoan berjejer rapi, mall-mall dan pusat perbelanjaan lain juga lengkap. Sungguh saya menyesal terbelenggu dalam ketakutan. Andai saya berani tidak membawa barang-barang dari Jawa, tentu “mas kawin” itu tidak raib. Sungguh sebuah pelajaran bagi saya.

Papua membuat saya banyak teman
Sejak tinggal di Papua, kehidupan saya berubah 180 derajat.  Saya jadi berani naik pesawat. Bahkan untuk mondar-mandir Papua – Jawa saya makin terbiasa tanpa ditemani suami. Hanya satu hal yang kadang membuat saya harus berpikir berulangkali, yaitu harga tiket pesawat yang berubah-ubah setiap waktu. Terus terang saya pernah menghabiskan uang lebih dari dua puluh juta untuk pulang kampung bersama suami dan anak. Kalau tiap tahun harus pulang kampung rasanya tak mungkin. Apalagi semenjak tinggal di Papua saya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan kegiatan di dapur dan di asrama.

Papua memang mengasyikkan, apalagi bisa menarikan tarian mereka
wow...serasa menyenangkan
Sekali lagi hidup memang harus dinikmati, disyukuri dan diperjuangkan. Ketika sebuah drama kehidupan tengah kita mainkan, tentunya harus kita perankan semaksimal mungkin, agar penonton puas dan memuji peran kita. Demikian dengan keadaan kita. Saya sangat menikmati peran saya sebagai ibu rumah tangga. Saya bahagia dapat mendampingi suami, menemani anak bermain dan beraktifitas dengan ibu-ibu di asrama.

bangga ada ditengah-tengah mereka

Sesungguhnya ada hikmah dibalik rasa syukur kita terhadap kehidupan.  Meski di rumah, ternyata ada saja pekerjaan yang membuat saya mendapatkan penghasilan. Saya tiba-tiba dimintai tolong untuk membuat makalah anak teman saya, atau saya yang tiba-tiba menjadi pemasok seragam ibu-ibu asrama, baik seragam kerja, seragam olahraga atau seragam pengajian. Atau bahkan saya iseng membuat tulisan untuk media, dan honor pemuatanpun saya terima.

Sejak saat itu saya kembali menemukan sebuah keberanian, seperti seringnya berburu tiket promo bersama AirAsia. Bersama AirAsia, saya tidak takut kehabisan uang. Bahkan saya bermimpi ingin mengunjungi Nepal, Penang dan kota-kota bersejarah lainnya. Saya yakin, kelak mimpi saya bakal terwujud, pastinya bersama AirAsia.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia
Categories:
Reaksi:

8 komentar:

  1. wah,ada mall di papua..mungkin di kotanya ya mbk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak papua skrg sdh ramai, matahari, ramayana, dunkin donuts, pizza hut, gramedia ada di kota-kota besar di Papua

      Hapus
  2. semoga menang ya mbak kontesnya, nanti jalan2 ke Nepal aku ikut ya :) maaf mbak aku baru bisa bw lagi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak Lid....saling mendoakan ya hehehe.....

      Hapus
  3. Rejeki bisa datang dari mana saja ya mak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mak, yang penting kita harus pandai bersyukur

      Hapus
  4. Balasan
    1. iya mbak sekarang bisa lebih lho.....

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...