18 Mei 2014

Posted by Sri Wahyuni on 10:51 PM 4 comments

Kita tahu bahwa Tuberkulosis atau TB sering diidentikkan dengan penyakit kemiskinan, karena penyakit ini biasanya menjangkiti masyarakat yang tinggal di wilayah yang sangat padat, kumuh serta mengalami gizi buruk. Namun demikian virus yang menjadi penyebab TB ternyata ada dimana-mana. Bukan hanya di tempat kumuh saja tetapi di mall, kantor, bahkan rumah sakit sekalipun juga terdapat virus TB. Nah, bagaimana supaya virus TB itu tidak masuk ke dalam tubuh kita?

sumber disini

Satu hal yang sangat membantu mencegah virus TB menjalar kedalam tubuh kita tak lain adalah dari diri kita sendiri, terutama menyangkut gaya hidup yang dapat membantu ketahanan tubuh kita, seperti:
  1. Makan makanan yang bergizi dan tidak terlambat makan.
  2.  Cukup istirahat, jangan sampai memaksakan tubuh kita untuk melakukan pekerjaan berat.
  3. Menjaga keseimbangan pikiran, jangan sampai stress fisik atau mental, sehingga kita akan mampu berpikir positif dan menerima keadaan dengan ikhlas.

Kasus TB di Indonesia dewasa ini menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan serius, karena masih menjadi permasalahan yang sulit ditumpas habis. Beberapa faktor yang menjadi penyebab TB tidak bisa dituntaskan karena paradigma masyarakat yang menganggap TB sebagai penyakit menular, keterbatasan alat diagnosis TB, kekinian obat dan vaksin.

Dan berbicara masalah TB, saya menjumpai dua buah kasus TB yang beda penanganan. Penanganan yang saya maksudkan tentunya berhubungan dengan si penderita. Penderita pertama, kebetulan dia adalah teman sekolah saya semasa SMP. Karena himpitan ekonomi, ia terpaksa harus bekerja keras membuat kue tanpa kenal waktu demi menghidupi suami dan ketiga anaknya. Sementara daya tahan tubuhnyapun tak pernah dihiraukan.

Akibatnya ia menderita TB. Sayang, ketika menjalani pengobatan yang pertama, ia tidak mengikuti anjuran dokter, hingga akhirnya penyakit itu menggerogoti tubuhnya. Dan nyawanyapun tak terselamatkan.

dokpri. 
Penderita kedua adalah ketua RT di komplek rumah saya. Awalnya saya melihat kondisinya yang makin parah, jalanpun sudah tak mampu. Beberapa kali ia putus obat, hingga harus mengulangi pengobatan dari awal lagi. Namun istrinya dan semua keluarganya terus mendukung agar ia dapat pulih seperti semula.

Dengan semangat tinggi, akhirnya pak RT menjalani pengobatan secara rutin seperti anjuran dokter. Ternyata kini pak RT telah sehat kembali. Ia dapat kembali menjalankan aktifitasnya sebagai ketua RT. Tubuhnya kembali sehat, ia dinyatakan telah bebas dari TB.

Melihat kasus yang dialami pak RT, saya dapat menyimpulkan bahwa ia mengidap TB resistan obat. Sebenarnya adanya kasus TB resistan obat, salah satu penyebabnya adalah faktor manusia itu sendiri yang tidak rutin menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter. Meski ada faktor lain yang  menjadi pemicu meningkatnya TB resistan obat dan TB MDR (Multi-Drug-Resistant), seperti pengobatan TB dengan tata laksana yang tidak standar.

Memang benar adanya, kasus TB ini akan semakin meningkat sejak ditemukannya banyak kasus TB resistan obat, yaitu pengobatan TB yang dilakukan tidak tuntas. Tentunya ada beberapa hal yang menjadi penyebab TB jenis ini, diantaranya :
  1. Tenaga medis. Kasus TB resistan obat bisa terjadi karena pihak medis tidak mempunyai panduan, atau andai mempunyai panduan namun ia tidak menjalankannya sesuai panduan. Disamping itu adanya pelatihan yang buruk dan tidak adanya pemantauan pengobatan dari pusat, tentunya TB resistan obat semakin tinggi jumlahnya.
  2. Obat sebagai alat penyembuh TB, ternyata kualitasnya kurang bagus, atau persediannya yang terputus (tidak selalu tersedia), lalu kondisi penyimpanan obat itu sendiri yang kurang terjamin kebersihannya serta dosis pemberian obat yang tidak sesuai, tentunya juga akan menambah jumlah pasien TB resistan obat.
  3. Pasien atau penderita TB. Tentunya ada banyak hal yang menyebabkan tingginya kasus TB resistan obat, terutama menyangkut kepatuhan pasien dalam berobat yang kurang, ditambah kurangnya informasi dan kekurangan dana serta masalah sosial yang melingkupi pasien itu sendiri.

Kasus TB resistan obat kini menjadi masalah kesehatan yang menghambat program penanggulangan TB itu sendiri. Karena kasus ini berhubungan dengan riwayat pengobatan sebelumnya.  Seperti kita ketahui, bahwa TB sering menjangkiti orang berpendapatan rendah.  Sementara TB MDR di Indonesia belum mendapat fasilitas pengobatan yang maksimal karena tidak semua obat yang dibutuhkan tersedia di Indonesia.


Bagaimana pengobatan dan cara mencegah terjadinya TB Resisten Obat?

sumber disini
Sebenarnya TB Resisten Obat itu bisa diobati dan dicegah, asal ada kesadaran dari kedua belah pihak, baik pasien dan pihak medis untuk meminimalisir penderita TB. Memang adanya pihak medis yang bagus ditambah dengan suplai obat yang berkualitas dan tidak terputus serta pengawasan pengobatan bagi pasien, belumlah cukup untuk mencegah kasus ini. Karena pasien yang menjalani pengobatan ulang tentunya beresiko tinggi terhadap TB resisten OAT.  Untuk inilah diperlukan sebuah standard bagi seluruh tenaga medis yang menangani kasus TB, yang lebih dikenal dengan ISTC (International Standarts for Tuberculosis Care).

ISTC itu sendiri di Indonesia sudah didukung oleh IDI, berisi panduan tata laksana kasus TB nonresisten dan panduan pencegahan TB MDR. Dengan demikian jika penanganan TB dilakukan dengan benar sesuai standart yang berlaku dalam ISTC, tentunya akan menekan jumlah pasien TB MDR.


Adapun cara pencegahan dan pengobatan TB resisten obat adalah sebagai berikut :
  1. Perlu diadakan diagnosis terhadap gejala-gejala yang mengarah ke TB, baik itu anak-anak, remaja maupun dewasa. Bila perlu segera dilakukan penanganan lebih lanjut.
  2. Semua tenaga medis yang mengobati TB harus mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengemban tugas dan tanggung jawab dalam kesehatan masyarakat. Ia harus bisa memberikan panduan obat yang benar kepada pasien. Disamping itu ia dituntut untuk menilai kepatuhan pasien dalam berobat serta menangani ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
  3. Semua pasien, termasuk pasien yang terinveksi HIV,  yang belum pernah diobati harus diberi panduan awal pengobatan sesuai standart yang berlaku.  Mereka harus menjalani beberapa fase pengobatan yaitu fase awal dan fase lanjutan. Sedangkan dosis obat yang digunakan juga harus sesuai dengan standart internasional yang berlaku.
  4. Perlu diterapkan pengawasan langsung menelan obat (directly observed therapy – DOT) oleh petugas pengawas menelan obat yang dapat diterima dan dipercaya oleh kedua belah pihak, baik pasien maupun tenaga medis.
  5. Memonitor respon pasien melalui terapi, seperti pemeriksaan dahak mikroskopik berkala misalnya dua bulan, lima bulan dan di akhir pengobatan.
  6. Memberikan rekaman tertulis kepada pasien berupa hasil pengobatan yang diberikan, respons bakteriologis dan efek samping yang terjadi.
  7. Pihak medis harus memantau keadaan pasien apakah ia benar-benar resisten obat. Bila memang demikian maka perlu dilakukan penanganan segera, ia harus diobati dengan panduan obat khusus yang mengandung obat antituberkulosis lini kedua. Setidaknya menggunakan empat macam obat yang masih efektif yang diberikan minimal selama 18 bulan.
  8. Tenaga medis harus memberikan dukungan kepada pasien untuk menjaga tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
  9. Sesering mungkin perlu dilakukan konsultasi antara pasien dengan tenaga medis yang telah berpengalaman.
  10. Semua tenaga medis yang bertanggung jawab dalam penanganan TB harus melaporkan kasus TB baik kasus baru maupun pengobatan ulang, serta memberikan hasil pengobatan ke kantor dinas kesehatan setempat.

Jadi siapa bilang TB resisten obat tidak dapat disembuhkan atau dicegah. Seperti kasus pak RT di atas, ternyata TB resisten obat dapat diobati dan disembuhkan, asal kedua belah pihak, baik pasien dan tenaga medis harus saling mendukung demi menuntaskan kasus TB di Indonesia.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #Sembuhkan TB 


Referensi :

1. http://blogtbindonesia.or.id/

2. http://www.tbindonesia.or.id/

3. Wikipedia

4. ISTC (International Standards for Tuberculosis Care

5. Buku Modul Pelatihan Penanggulangan TB MDR. Jakarta : Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI ; 2009

Categories:
Reaksi:

4 komentar:

  1. kita hrs selalu dukung agar pasien TB sembuh total ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mak, dukungan kita akan membantunya cepat sembuh

      Hapus
  2. untuk di daerah kurangnya informasi ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mbak informasi itu sangat dibutuhkan bagi setiap orang tentang TB, bukan hanya bagi penderita tetapi sosialisasi bagi semua orang sangat diperlukan

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...