15 Mei 2014

Posted by Sri Wahyuni on 8:38 PM 6 comments
26 Januari 2001


Sudah enam bulan aku bekerja di di Surabaya. Selama itu pula aku bertempur melawan gejolak hatiku. Andai saja bos besar mau bersikap adil terhadap semua karyawannya, tentu perang yang berkecamuk di batinku tak akan berkobar.

Dan aku hanya bisa gigit jari ketika menyaksikan Pak Giek menanggalkan handphonenya di pinggang, atau mbak Mima yang berjalan gontai sambil menggenggam handphone yang serasa sudah jadi milik pribadinya itu.

Nokia 5110 inventaris perusahaan untuk Pak Giek dan mbak Mima. Sumber gambar disini


Uhh…handphone lagi! Barang itu selalu memenuhi otakku. Sebenarnya waktu enam bulan sudah cukup bagiku untuk bisa memiliki handphone sendiri. Tapi, selalu saja ada keperluan lain, yang kadang membuatku harus bernapas sepanjang rel kereta api.

“Mbak Yun ada telepon dari ibu di kampung”, teriak Surati sang resepsionis centil.

Sontak pekikan itu membuyarkan lamunanku. Mungkinkah ibu minta aku membayar kuliah adikku? Atau bahkan membayarkan biaya ujian komprehensipnya? Ah… angan itu selalu saja menjejali lamunanku, hingga aku terjerembab dalam kebimbangan.

Ternyata benar dugaanku. Aku tak marah, karena  janjiku di awal kerja ingin membiayai kuliah adikku. Namun aku marah karena hasrat ingin memiliki handphone selalu menyudutkanku. Apalagi melihat lagak pak Giek atau mbak Mima yang seolah pasang aksi pamer dengan handphonenya.

*****

“Yun, kamu bisa balas sms ini. Pak Ali, PLN Riau minta smsnya segera dibalas. Aku tidak bisa membalas sms.” Suara pak Giek membuatku  segera mendekatinya.

Aku mengamati benda asing itu. Namun dengan lagak yang sok tahu, akhirnya kupencet satu persatu tombol didalamnya. Hingga akhirnya ketemukan cara membalas sms yang di minta pak Giek. Dan smspun sukses terkirim ke pak Ali.

“Yes…ternyata aku bisa mengoperasikan handphone”, pekikku tertahan. Aku tak mau dibilang “bocah ndeso” yang sok urakan pegang handphone.

*****

“Mbak Yun dipanggil mbak Evi tuh.” Nada centil Surati membuatku tersenyum geli. Suaranya mengingatkanku pada tokoh Sinchan yang lucu itu.

Segera kulangkahkan kakiku menuju meja bos Evi. Ternyata ia memberiku sebuah amplop sebagai bonus atas kerjaku. Aku tak percaya dengan semua itu. Allah Maha Tahu!

*****

Uang didalam amplop itu jumlahnya lebih dari cukup untuk membantu adikku dan membeli handphone baru. Rasanya tak sabar menunggu Sabtu tiba, saat hari kerjaku hanya setengah hari dan saat menepati janji untuk ibuku.

Hari Sabtupun tiba, saatnya aku menyelesaikan rekap gaji karyawan harian. Setelah semuanya beres, aku ijin kepada bos Evi untuk pulang lebih awal dengan sebuah alasan.

Perjalanan Surabaya – Blitar tak selamanya bisa ditempuh dengan sebuah bus. Aku memutuskan mengambil rute Malang untuk singgah di Malang Plaza demi sebuah handphone. Tanpa pikir panjang, sesampai tujuan segera kulangkahkan kakiku di etalase handphone. Pandanganku tertuju pada handphone cantik bermerek Siemens C45. Lekas kutawar barang itu, hingga akhirnya barang itu resmi jadi milikku dengan harga delapan ratus ribu rupiah.

Yes…benar kataku. Uangku masih sisa banyak. Aku bisa membantu adik. Segera kucari mobil angkot AMG jurusan stasiun Kota Baru, akan kutempuh perjalananku ke Blitar dengan kereta api  ekonomi.


Siemens C45.Sumber gambar disini


Kini aku tak lagi perang. Setelah bulan keenam bekerja handphone pertamaku kugenggam. Bangga rasanya bisa memiliki handphone Siemens C45 dengan layar monochrome yang sesekali menampilkan screen saver gambar bebek berjalan, serta ringtone monoponik yang kas, tentunya dari keringat sendiri. Terima kasih Ya Rabb.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway: Cerita Hape Pertama 
Categories:
Reaksi:

6 komentar:

  1. Kisah yang menarik
    Semoga berjaya bersama saya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. Allhamdulillah akhirnya kesampaian ya mbak punya hp, berkat ikhlas membantu adik ada rezeki tidak terduga

    BalasHapus
  3. akhirnya hp di tangan juga, mak. Sukses GA-nya:D

    BalasHapus
  4. Menarik juga ceritanya.. Banyak sedekah, banyak rezeki.

    BalasHapus
  5. Cerita hape pertama mb Yuni, saya serasa ikut isap nano2 deh,
    ikut sebel pada pak Glek dan ikut bangga bisa bayarin uang kuliah adik, pasti membanggakan/melegakan hati ortu ... Nice ;)

    Ini cerita hapeku - mampir ya : http://omman.blogdetik.com/2014/05/25/on-off-on-off/

    BalasHapus
  6. Ini ceritamu dijadikan FF ya mbak? Hihihi. Jadi ikut ngerasain jadi "aku".

    Makasih ya udah ikutan GA-ku. :))

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...