13 April 2014

Posted by Sri Wahyuni on 9:59 PM 12 comments
Bagiku, berani Move On sama halnya dengan siap menerima tantangan. Seperti halnya diriku, mungkin semua orang pernah mengalami situasi yang tak mengenakkan dalam hidupnya, hingga harus mengambil langkah baru dan berharap bisa lepas dari belenggu yang menjeratnya.  Setelahnya tantangan baru siap dihadapi demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Hidup senyatanya memang harus diperjuangkan. Aku masih ingat pertama kalinya sebuah keadaan yang tak menguntungkan resmi melingkupi hari-hariku. Saat dimana aku harus melepas jabatanku dalam sebuah perusahaan untuk mengikuti suamiku yang bertugas di Papua.

menikah membuatku kehilangan pekerjaan

Coba bayangkan saudara……aku yang dari dulu mati-matian mendapatkan gelar sarjana, sampai kerja sampinganpun kulakukan demi selembar ijasah dari universitas negeri di Malang.  Dan berkat  kerja kerasku, akupun diterima di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Disana, jabatan demi jabatan kudapatkan, hingga akhirnya pimpinan mempercayaiku untuk memegang sebuah divisi. Disaat karierku bagus, aku harus melepas semuanya demi sebuah pernikahan.

Dilema memang…..di satu sisi aku harus meninggalkan sebuah peluang besar di perusahaan itu, di sisi lain menikah adalah kewajiban bagi umat muslim. Begitu menikah aku harus resign dari tempat kerjaku dan mengikuti suamiku yang berdinas di Papua. Namun teman-temanku selalu memberiku support, di Papua kelak aku akan mendapatkan pekerjaan baru. Dan mereka yakin peluangku untuk bekerja lagi di sana sangat besar, mengingat pengalaman kerjaku di Surabaya sudah cukup banyak.

Ternyata, semuanya tak seindah bayangan. Suamiku yang notabene seorang anggota TNI yang waktu itu berpangkat Letnan Satu senior, mengharuskan aku aktif dalam organisasi Persit (Persatuan Istri Tentara). Apalagi jabatan suami bukan lagi sebagai Danton, namun sudah menjadi Pasi, otomatis anggotanya seluruh asrama.

Sudah bisa dibayangkan sebuah detasemen pasti mayoritas anggotanya relatif muda. Sebagian besar dari mereka adalah pasangan muda yang masih labil. Dan pertama kali aku bergabung dengan ibu-ibu di asrama, ada sedikit rasa gusar yang menyelimutiku.  Tadinya aku bisa ngakak sepuasnya di kantor dengan teman-teman sebaya, kini, disaat kumpul bersama, entah itu untuk senam bersama atau arisan anggota, yang kuhadapi adalah ibu-ibu yang usianya diatasku.  Otomatis aku harus menjaga sikap didepan mereka.

Sementara….karena aku istri perwira, sudah barang tentu mereka menghormatiku, dan bertingkah laku sesopan mungkin dihadapanku. Duh…..sungguh keadaan yang membuatku tidak nyaman.  Bahkan, sesuatu yang membuatku harus menghela nafas, manakala menghadapi tingkah polah ibu-ibu yang bermacam-macam. Yah…namanya ibu-ibu muda, meski umurnya diatasku, namun mereka masih labil. Apalagi mereka tidak berasal dari daerah yang sama, tentunya watak dan temperamennya juga berbeda.

aku dan aktifitasku

Yang membuatku seolah tak percaya,  tiba-tiba aku mendadak jadi seorang psikolog. Rumahku sering didatangi ibu-ibu dengan berbagai keluhan dan permasalahannya. Padahal aku ini baru saja menikah, tentunya belum banyak pengalaman. Aku juga bukan sarjana psikolog, bahkan statusku hanya seorang istri bukan pegawai. Yah…aku tahu, karena aku dianggap senior, akhirnya ibu-ibu menjadikanku sebagai tempat mengadu.

Dari sinilah aku mulai menghadapi situasi yang tak mengenakkan, dimana niat awalku untuk mencari pekerjaan di Papua, ternyata gagal. Jabatan suamiku yang mengharuskan aku terjun langsung mengurus ibu-ibu anggota, mulai dari menyelesaikan permasalahan mereka, membuat mereka jadi rukun satu sama lain, sampai dengan menunggui mereka disaat berlatih untuk sebuah lomba.

Awalnya aku merasakan sebuah dilema, karena aku tak bisa lagi mengenakan busana kantor dengan sepatu berhak tinggi. Sebaliknya, aku harus berseragam hijau dengan sepatu berhak lima senti dan siap berkeliling dengan truk bersama ibu-ibu.

Sempat lama aku berpikir, bahkan terbersit keinginan untuk pulang ke kampung halaman dan meninggalkan suami demi sebuah pekerjaan.  Namun seolah pikiranku terhenti pada sebuah kata “tanggung jawab”. Andai aku pulang ke kampung halaman, sama halnya aku lari dari tanggung jawab, meninggalkan suami dan meninggalkan ibu-ibu yang menjadi anggotaku.

Tak jarang dalam sujud panjangku, kumohonkan petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan terbaik dalam menghadapi masalah ini. Lama kuterdiam dalam kebimbangan, sampai akhirnya kudapatkan sebuah jawaban. Karena kuyakin inilah petunjuk yang Allah berikan padaku. Yaitu sebuah jawaban dimana aku harus mendampingi suami dan ibu-ibu di asrama.

Aku sering dipanggil ibu ketuaku untuk mendampingi ibu-ibu mengikuti berbagai kegiatan seperti lomba senam, lomba memasak, bahkan sesekali aku ditunjuk untuk menghadiri sebuah acara dalam rangka peringatan hari Kartini dan hari Ibu. Hanya rasa tanggung jawab dan kesabaranlah yang senantiasa kukumandangkan dalam hati, agar aku tak merasa jenuh merenda hari-hariku bersama mereka.

Kenyataannya, ketika aku sangat menikmati hari-hariku, sebuah pengalaman berharga telah kudapatkan dari sini. Memang rasa bosan atau rasa kecewa pernah menderaku, namun aku segera menepisnya dengan berbagai tantangan baru. Hidup di Papua, jauh dengan sanak saudara, membuat hubunganku dan ibu-ibu makin akrab. Tak ada lagi perbedaan, walau mereka masih menghormatiku karena aku dianggap senior.

Namun satu hal yang kudapatkan disini, saat tantangan itu berusaha kuraih, aku jadi tahu segalanya. Berteman dengan ibu-ibu membuat pengalamanku jadi banyak. Aku jadi pandai memasak, bisa menari bahkan aku jadi pribadi yang berani mengambil keputusan dan berani tampil di depan umum. Terlebih aku bisa menerima kenyataan, bahwa pekerjaan kini bukan lagi jadi prioritas utamaku.

Dan senyatanya tantangan terberat dalam hidupku adalah mendampingi suami yang berpindah-pindah tugasnya. Jauh sebelum menikah, aku sempat beberapa kali gagal menjalin hubungan. Seperti layaknya mereka yang patah hati, akupun sempat merasakan stress dan terguncang. Namun aku sadar mungkin mereka bukan jodohku. Lewat sujud panjangku kutemukan sebuah jawaban, karena tanpa kusangka Allah memberiku jodoh yang kini resmi jadi suamiku.

Menikah adalah caraku Move On dari keterpurukan, sehingga aku harus menghadapi tantangan baru dimana setelah menikah aku harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman.  Banyak kejadian yang menguras air mataku, mulai usahaku mendapatkan keturunan hingga melahirkan pun tanpa kehadiran ibu atau orang-orang terdekatku.


Bahkan disaat anakku sakit tanpa suami disampingku pun pernah kualami. Apalagi ketika suamiku harus bolak-balik masuk rumah sakit karena terserang malaria, sementara anakku masih balita, otomatis aku yang harus mondar-mandir mengurus suami dan anak. Yah, semua itu mengantarkanku menjadi pribadi yang tangguh dan siap merenda hari-hari yang penuh makna. Karena, kini kutelah memetik hasilnya, yaitu sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga.


move on
Categories:
Reaksi:

12 komentar:

  1. Wahhh, impian saya tuh jadi istri perwira tapi bukan jodoh hehehe, keren makk, jadi istri perwira lebih baik daripada wanita karier tpi tak diridhoi suami, gpp move on terus! banyak teman dan banyak pengalaman karena seringpindah tugas, sukses ya GA nya! salam kenal dari Cianjur

    BalasHapus
  2. hehehe...jodoh itu urusan Allah mak, saya juga tak pernah menyangka akan berjodoh dengan tentara, yang penting hidup ini harus kita jalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.
    Terima kasih ya mak

    BalasHapus
  3. Wah perjuangan hidup yang benar-benar hebat dirimu mba. Salut deh, seperti harus ikhlas mengorbankan karir demi keluarga. Peluuuh hangat deh mba ^_^ menginspirasi bgt :)

    BalasHapus
  4. Gimana niat ya mbak, move on bisa berhasil atau tidaknya. Aku juga dulu kerja tapi pas nikah jadi ibu rumah tangga

    BalasHapus
  5. Subhanallah, perjuangannya keren sekali mak, ikut suami ke tempat jauh pasti berat. Semangat!

    BalasHapus
  6. Aku suka sekali dengan para istri TNI, yang dengan setia menemani kemanapun suaminya tugas... Aku keknya juga pernah move on untuk masalah ini daaah *dah telat belum yaaa GAnyaa

    BalasHapus
  7. Move Onnya mendatangkan rezeki lainnya ya, Mba. Senang bisa diberi kepercayaan sam Bu Ketua, ya.

    Sukses selalu. . .

    BalasHapus
  8. bener2 tangguh. Kayaknya saya belom bisa kayak gitu. Kemaren ditinggal hampir 3 minggu aja, kayaknya gak tahan hihi

    BalasHapus
  9. Salut mak,dirimu kereeeen :)

    BalasHapus
  10. alhamdulillah mbak luar biasa perjuangannya, salut saya. soalnya saya anank tentara, saya juga paham rasanya pindah2 dan yaaa harus merelakan banyak hal hehe. ibu saya juga seperti itu.

    BalasHapus
  11. Wah, berasa jadi punya banyak anak juga ya mbak kalau sering jadi tempat curhat. Keren mbak bisa berdamai dengan "limpahan" tugas ;)

    Makasih ya mbak sudah ikutan GA Move ON ;)

    BalasHapus
  12. salut banget sama wanita yang menginspriratif kayak mbak ini. saya belum menikah tapi melihat seorang istri yang mendedikasikan hidup untuk melayani keluarga kayak mbak ini sangat mulia hloh mbak. semoga besok kalau saya menikah juga bisa jadi istri yang baik kayak mbak ini hehe salam kenal semarang

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...