28 Maret 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:51 PM 1 comment

Cerpen: diambil dari sebuah kisah nyata yang sarat dengan hikmah dan inspiratif

Dahulu kala hiduplah sepasang petani kaya di sebuah desa terpencil. Mereka mempunyai 4 orang anak. sayang hanya seorang anak laki-laki lah yang hidup. Sementara ketiga lainnya meninggal beberapa hari setelah dilahirkan. Namun mereka tetap tegar menghadapi cobaan itu, bahkan tekad mereka bulat untuk merawat dan mendidik anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
sumber ada disini
***************************


Hal ikhwal tentang “pak tani”, ia anak pertama dari 12 bersaudara, 7 saudara kandung seibu-sebapak dan 4 saudara beda ibu. Ayahnya menikah dua kali lantaran istri pertamanya meninggal karena sakit. Setelahnya sang ayah menikahi wanita lantaran belas kasihan, ia ditinggal mati ibu-bapaknya. Meski demikian, mereka hidup rukun. Dan sebagai anak pertama “pak tani” yang lebih akrab dipanggil Sudiro merasa bertanggung jawab terhadap kesebelas adiknya.

Tiap hari Sudiro bekerja keras. Ia termasuk anak mujur di desanya. Jaman dulu seorang anak bisa menamatkan SR 5 tahun (Sekolah Rakyat) adalah hal yang sangat luar biasa. Setamatnya dari Sekolah Rakyat, Sudiro mengasah ketrampilannya dengan belajar menjahit. Alhasil ia sukses menjadi penjahit desa yang banyak langganannya. Kadang jika jahitannya sepi, ia lebih suka mlijo (berjualan sayuran keliling dengan pikulan). Itupun juga membuahkan hasil. Banyak pembeli yang akhirnya jadi langganannya.

Bahkan di lain waktu, ia sering membantu ayahnya memandikan kuda-kudanya. Ayah Sudiro adalah seorang kusir, tak heran banyak kuda yang dipeliharanya. Namun demikian Sudiro tetaplah lelaki yang ulet dan tanggung, ia tak pernah pantang menyerah sebelum cita-citanya tercapai. Dari hasil menjahit dan mlijonya, Sudiro berhasil membeli sepetak sawah yang sangat luas.

Pun demikian Sudiro mempunyai sifat yang suka iba melihat pemandangan yang menyedihkan. Saat Negara kita dijajah Belanda, banyak rakyat yang mati kelaparan. Anak menjerit mencari ibunya, sementara bapaknya menderita karena harus ikut kerja rodi. Bahkan pemandangan yang memilukan saat melihat anak-anak yang tinggal tulang, mereka tak makan, tidurpun dengan alas seadanya. Sudiro tergerak hatinya untuk masuk menjadi polisi sukarela, yang siap membantu rakyat Indonesia melawan penjajah.

“Pak….aku pengen masuk polisi, boleh ya? Pinta Sudiro suatu hari disela-sela memandikan kuda-kuda bapaknya.

Mendengar kalimat itu, ayah Sudiro agak terkejut, ia tak menyangka jika anaknya mempunyai keinginan yang tergolong nekat.

“Le..(panggilan anak laki-laki Jawa)…menjadi polisi itu sama halnya dengan setor nyawa, apa kamu pengen mati muda?” Ingat Le, kamu masih bujangan, adikmu banyak. Hanya kamu satu-satunya harapan bapak yang bisa mbantu adikmu. Lha kalau kamu jadi Polisi, trus gimana nasib adik-adikmu? Simbokmu gak bakalan mampu merawat semua anaknya……

Sudiro hanya mesam-mesem. Hembusan nafasnya sedikit terdengar, sebagai tanda ia ingin mengatur kalimat yang akan dikeluarkannya, agar sang ayah tak murka.

“Pak….hidup dan mati seseorang itu Gusti Allah yang ngatur……bapak, simbok, saya atau siapapun tak bisa menentukan kapan saya mati. Yang saya inginkan sekarang hanya membantu rakyat Pak. Kasihan mereka…..sudah lama mereka hidup tertindas….dan saya tidak ingin negeri kita yang makmur, gemah ripah loh jinawi ini harus direnggut oleh penjajah yang keji itu.”

“Lha trus nasibnya adik-adikmu piye….”, tanya bapak penasaran.

“Bapak tidak usah khawatir. Menjadi polisi bukan berarti saya berhenti berjuang. Sawah diujung sana tetap milik saya. Hasilnya pun juga masih untuk adik-adik. Dan saya tak akan menghilangkan predikat saya sebagai petani, pak. Saya lebih suka dipanggil petani ketimbang polisi. Jadi polisi semata-mata karena panggilan kemanusiaan untuk membela rakyat”, Sudiro berusaha sabar menjelaskan kepada ayahnya.

Mendengar penuturan Sudiro, ayahnya pun manggut-manggut pertanda setuju. Legalah hati Sudiro, karena niatnya untuk menjadi Polisi direstui ayahnya.

#####

Sebulan sudah Sudiro mengenakan seragam polisi. Setiap pagi ia harus berangkat kerja. Namun ia tak pernah lupa akan janjinya. Sawah yang terbentang luas itu kini dipercayakan kepada kedua adiknya untuk mengelolanya. Sementara saat tidak sedang berdinas, Sudiro lebih sering menghabiskan waktunya di sawah bersama adik-adiknya.

Di tengah kerja kerasnya, tak henti-hentinya Sudiro memanjatkan doa kepada Gusti Allah agar kerja kerasnya membuahkan hasil. Ternyata benar adanya. “Gusti Allah mboten sare”, begitu petuah Jawa artinya Gusti Allah tidak tidur. Doa Sudiro terkabul. Ia yang pandai melantunkan ayat-ayat Allah ternyata didengar oleh Kyai masjid desa. Sudiro-pun dipercaya untuk menjadi imam masjid, dan sesekali ia diundang untuk memimpin doa pada sebuah hajatan di rumah tetangga.

Bukan hanya itu, dalam meniti karier di kepolisian, Sudiro termasuk anggota yang loyal. Itulah sebabnya, sang pimpinan menaruh empati padanya. Dan yang lebih menggembirakan, sawah yang digarap bersama adik-adiknya ternyata berbuah manis. Hasil panennya melimpah ruah. Dan uang hasil panen ia gunakan untuk membelikan tanah adik-adiknya. Kini, kesebelas adiknya sudah mendapatkan bagian tanah yang sama luasnya. Legalah hati Sudiro.

####

“Pak….saya mau menikah!”

Kalimat Sudiro yang spontan membuat batang rokok di mulut ayah Sudiro seketika lompat ke samping sandalnya.  Ayah Sudiro bukan main kagetnya.

“Kamu… kamu mau kawin sama siapa Le?” Apa sudah ada wanita yang cocok di desa ini?

Bapak terlihat gusar, ia seperti takut kehilangan anak pertamanya, yang selama ini menjadi tumpuhan hidupnya.

“Ada pak, dia anak Pak Suma, yang tinggal di ujung sana, Sulastri namanya.” Dengan menunduk Sudiro mengucapkan kata itu. Ia takut kalau-kalau ayahnya marah. Namun ia juga tidak bisa membendung rasa cintanya pada Sulastri yang sangat menggebu. Dan demi menghindari zina, ia bermaksud segera melamar pujaan hatinya itu.

Memang benar, mendengar penuturan Sudiro, sang ayah langsung membelalak. Ia sangat terkejut dengan ucapan Sudiro.

“Byuh…byuh…byuh…..Pak Suma itu orang kaya di kampung kita Le. Mbokya kamu ini noleh githokmu to, kamu ngaca Le, eling…ingat kamu ini anaknya wong mlarat. Apa pantas anak orang miskin bersanding dengan anaknya juragan? Duh…duh…..

“Pak…..Gusti Allah saja tidak pernah membeda-bedakan umatNya.” Mengapa kita yang hanya berstatus sebagai makhluk ciptaanNya harus membedakan mana yang kaya, mana yang miskin. Di mata Allah semua manusia itu sama. Mengapa mesti takut? Saya sadar Pak siapa diri saya. Justru itu demi menghindari zina hati dan zina mata, saya memberanikan diri untuk melamar Sulastri.

“Lagian Pak Suma baik orangnya, beliau merestui hubungan kami. Makanya saya ijin dulu sama bapak, saya mohon restu bapak.” Sudiro berusaha sesopan mungkin berbicara dengan ayahnya, agar niat baiknya direstuinya.

Sementara simbok dari tadi hanya duduk mematung di pojok dipan kayunya. Ia merasa tak berhak ikut campur. Kapasitasnya sebagai ibu tiri hanya sebagai pendengar, meski Sudiro pernah meminta sarannya, namun simbok tetap berkata, “terserah bapakmu saja, simbok ngikut dan setuju saja.”

#####

Kini Sudiro resmi menikahi Sulastri. Ayah Sudiro ternyata seorang ayah yang bijaksana, ia tak pernah mengekang anaknya. semua keputusan dikembalikan kepada anak-anaknya, termasuk keputusan Sudiro yang ingin menikahi Sulastri.  Demikian juga Sudiro. Ia sadar sebagai anak tertua, ia sangat diharapkan kedua orang tua dan adik-adiknya. Makanya setelah menikah ia tetap tinggal di desa dan mendirikan rumah disamping sawahnya.

Keluarga Sudiro sangat rukun. Mereka saling mengasihi. Terhadap orang tuanya, adik-adiknya, mertuanya bahkan saudara iparnya, Sudiro selalu santun dan hormat. Demikian juga Sulastri. Dan semenjak menikah kehidupan Sudiro semakin makmur. Sawahnya yang terus menghasilkan, sementara di kepolisian ia semakin disegani. Sedangkan Sulastri, karena kepiawaiannya memasak, ia dijadikan tukang masak di asrama polisi. Tak jarang ia mendapat pesanan masakan untuk sebuah hajatan.

Dan seperti awal cerita, rumah tangga Sudiro-Sulastri yang tadinya dikarunia 4 orang anak, karena ke-3 anaknya meninggal, akhirnya hanya seorang anak laki-lakilah yang mereka rawat sebaik-baiknya. Namun demikian, ditengah kehidupan yang bergelimang harta karena hasil panennya yang melimpah, mereka tidak sombong.

Hartanya mereka gunakan untuk membantu saudaranya yang kurang mampu. Tetangga yang dirasa membutuhkan uluran tangannya, segera mereka bantu. Dan demi meringankan beban orang lain, akhirnya Sudiro mengangkat dua orang gadis desa sebagai adik angkatnya. Niatnya pun diamini Sulastri.

Dengan kedua adik angkatnya Sudiro juga tak membeda-bedakan. Mereka bahkan mendapatkan bagian tanah sama seperti kesebelas adiknya. Perihal adik-adik Sudiro, mereka juga tak iri akan sikap kakaknya. Bagi mereka mendapatkan bagian tanah dari kakaknya adalah sebuah anugerah dan nikmat yang harus disyukuri.

Bukan hanya itu, suatu waktu kakak Sulastri kena musibah. Pak Samsun, kakak sulung Sulastri yang ikut transmigrasi swakarsa ke pulau Sumatera ternyata meninggal disana. Ia meninggalkan seorang istri dan 4 orang anaknya yang masih kecil, sementara seorang lagi masih jadi calon bayi alias masih dalam kandungan.  Yang lebih menyedihkan, karena suatu hal keluarga pak Samsun bangkrut, hartanya ludes. Apalagi sepeninggal pak Samsun, nyaris mereka hidup menggelandang.

Melihat kenyataan itu, akhirnya Sulastri dengan persetujuan Sudiro membantu Minah, istri Pak Samsun beserta semua anaknya. Sulastri bahkan menjemput mereka dari Sumatra dan mengajaknya tinggal di rumahnya yang tergolong luas. Minah-pun menerima tawarannya, karena hanya Sulastri-lah satu-satunya tumpuhan hidupnya, apalagi kondisinya yang sebentar lagi melahirkan, seolah ia sudah tidak bisa berpikir panjang lagi. Yang ada dalam benaknya hanyalah keselamatan anak kelimanya yang kelak dilahirkan tanpa suami disampingnya.

######

Rumah Sudiro kian ramai. Dan kebahagiaan mereka makin lengkap ketika anak kelima Minah lahir. Minah melahirkan anak laki-laki yang sehat. Sedih dan bahagia itu bercampur jadi satu, pasalnya Pak Samsun sudah tiada, ia tidak bisa menyaksikan kelahiran putra kelimanya.

Kini Rinto, anak semata wayang Sudiro tidak sendiri lagi. Ada Marwan, Siti, Sri, Eko dan si kecil Daud yang menemani. Saat pagi menjelang rumah itu tak sepi lagi. Seperti suara ayam yang bersahutan di pagi hari, begitulah keadaan mereka. Namun Sudiro tak pernah marah. Ia menganggap mereka seperti anak sendiri, dan tak membeda-bedakan dalam berbagai hal.

Sebagai seorang polisi, Sudiro memang amat disiplin. Dan untuk urusan disiplin, ia ingin menerapkan disiplin itu di rumahnya, termasuk kepada anak istrinya dan kepada Minah beserta kelima anaknya. Sayang…anak-anak Minah tak terbiasa dengan sikap disiplin. Bagi mereka sikap Sudiro yang terlalu disiplin dianggapnya sebagai suatu kekangan. Mereka jadi tak bebas tinggal di rumah itu.

Ketiga anak Minah berontak, hanya Sri-lah yang menurut, sementara si Daud karena masih kecil iapun tak tahu apa-apa.  Menyadari hal ini, akhirnya Minah mengajak serta anak-anaknya untuk pulang ke rumah orang tuanya di kampung sebelah kampung Sudiro. Sebenarnya berat hati Sudiro dan Sulastri melepas mereka, namun demi kebaikan mereka akhirnya diijinkanlah mereka pergi.

Meski begitu janji Sudiro tak pernah diingkari, walau anak-anak Minah sudah tidak tinggal di rumahnya, tetapi Sudiro tetap menanggung biaya hidup mereka termasuk biaya sekolahnya sampai mereka lulus nanti. Mendengar penuturan Sudiro, Sri merasa iba. Ia bertekat tinggal dan mengabdi di rumah Sudiro apapun yang terjadi, demi keempat saudaranya.

########

Sri menjalani hari-harinya di rumah Sudiro. Meski tidak pernah diperlakukan sebagai pembantu, namun ia selalu membantu pekerjaan Sulastri setiap hari sepulang sekolah. Dan di rumah itulah Sri belajar banyak hal, mulai dari belajar memasak dari Sulastri, belajar disiplin dari Sudiro dan belajar menjadi anak yang rajin dari Rinto. Ia berani menepis anggapan saudara-saudaranya yang rela meninggalkan rumah itu karena Sudiro galak. Senyatanya Sudiro adalah ayah yang baik dan bijaksana. Bahkan, di mata Sri, Sudiro termasuk seorang polisi dan petani yang budiman.

Sri bahkan merasa tenang dan nyaman hidup ditengah-tengah keluarga Sudiro. Sampai akhirnya Sri-pun menyelesaikan pendidikannya di SMEA. Sementara Rinto yang lebih dulu lulus SMA, ia melanjutkan kuliah ke Surabaya. Dan Sri,….rupanya ia tak mau beranjak dari rumah itu. Rumah yang memberinya banyak hal, termasuk membiayai kehidupan ibu dan saudara-saudaranya, membuatnya ingin terus mengabdi pada si empunya rumah.



Hari telah berlalu, tahun telah berganti. Sri masih tetap mengabdikan dirinya di rumah itu. Ia sering menemani Sulastri semenjak Sudiro sering dinas luar. Sementara Rinto, yang sedang kuliah di Surabaya, rupanya ia tergoda oleh rayuan perempuan matre yang sangat tidak disukai Sudiro. Namun seolah Rinto sudah terjerat panah asmara Rukmini, perempuan penggoda itu, hingga nasehat Sudiro pun tak didengarnya.
sumber ada disini
Melihat kenyataan itu, Sulastri jadi sering sakit-sakitan. Dan Sudiro juga tak ingin anaknya terjerumus ke dalam nafsu syetan. Ia mencari hari baik untuk menentukan tanggal pernikahan Rinto dan Rukmini. Meski setengah hati, akhirnya Sudiro merestui hubungan Rinto dan perempuan pujaan hatinya.



Pesta pernikahan itu berlangsung sangat megah bagi penduduk desa sekitar rumah Sudiro. Ia hanya berharap setelah pernikahan itu, anaknya bisa menjadi suami yang baik dan merubah tabiat Rukmini yang kurang baik.
Ternyata dugaan Sudiro salah. Rinto bahkan pergi meninggalkan rumah besar itu bersama Rukmini. Ia meminta bagiannya agar dibelikan tanah lengkap dengan rumah di tempat yang jauh dari orang tuanya. Demi menyenangkan hati anaknya, Sudiro-pun meluluskan permintaan Rinto.

Mengetahui Rinto pergi meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya, agaknya sulastri menjadi stress. Penyakit yang telah lama dideritanya, kian lama kian menjadi. Ia semakin sering berjuang melawan penyakitnya, hingga suatu waktu perjuangannya mencapai puncak yang tak bisa digapainya. Sulastri meninggal di hadapan suaminya dan meninggalkan pesan kepada Sri.

“Sri…..sepertinya aku sudah tidak kuat lagi berjuang melawan penyakitku. Aku ingin bebas dan hidup lebih tenang lagi. Ada 2 buah mesin jahit, suatu saat rumah ini akan diramaikan celoteh dua gadis cantik yang kelak menjadi pewarisku.” Tolong berikan 2 mesin jahit ini pada mereka ya……..

Setelah mengucapkan kalimat di depan Sudiro dan Sri, Sulastri-pun langsung menghembuskan napas terakhirnya. Sri yang sedari tadi duduk mematung, seakan tak sempat menerjemahkan maksud kalimat Sulastri. Ia bahkan tak mengerti ada maksud apa dibalik kalimat Sulastri yang membingungkan itu.

########

Semenjak Sulastri meninggal, hari-hari Sri sepenuhnya untuk menemani Sudiro. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya meninggalkan rumah itu, namun ia tak mau mengingkari janjinya. Keinginannya untuk mengabdikan diri di rumah itu sudah bulat, apapun yang terjadi tetap harus ia jalani. Dan sekarang…..ketika Sudiro hidup sebatang kara, tegakah ia meninggalkan lelaki yang sudah banyak membantu kehidupannya dan keluarganya?

Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Andai Sudiro memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya, Sri pun akan menerimanya. Bukan semata-mata karena hartanya, tetapi hanya itulah yang bisa diberikan kepada Sudiro sebagai wujud balas budi keluarganya.

Tetapi bagaimana dengan Minah? Apakah ia membiarkan anak gadisnya menikah dengan lelaki yang lebih pantas dipanggil ayah? Sri duduk tertegun sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Categories:
Reaksi:

1 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...