14 Februari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:59 PM 19 comments
Lahir dan besar di Blitar membuatku menjadi salah satu bagian dari sejarah meletusnya gunung kelud. Dan tadi malam, Kamis 13 Pebruari 2014, siapa sangka kelud kembali memuntahkan isinya. Sungguh sebuah musibah yang tak pernah diharapkan datang begitu tiba-tiba.

sumber : facebook
Awal tahun 2014 Indonesia seolah dihujani oleh musibah yang bertubi-tubi. Banjir, tanah longsor, kecelakaan hebat, dan gunung meletus, terjadi dimana-mana. Tak ada yang bisa menghindar dari musibah ini, meski orang hebat sekalipun, karena semua ini hanyalah kuasa Ilahi.
  Dan meletusnya gunung kelud tadi malam, seolah menggugah ingatanku untuk mengenang kejadian tahun 1990, saat aku masih duduk di bangku SMP. Kelud selalu meletus tiba-tiba dan mengagetkan semua orang. Aku merasakan betapa dahsyatnya letusan gunung itu. Diawali dengan langit yang makin gelap, hujan kerikil sampai akhirnya hujan abu yang berkepanjangan.

Musibah itu terjadi di siang hari, kala masyarakat masih beraktifitas di luar rumah. Sontak semuanya kalang kabut. Lalu lintas jadi padat tak terarah, semua sekolah ditutup, anak-anak yang sudah terlanjur sampai sekolah terpaksa putar balik. Sementara teriakan orang-orang makin memekik, membuat suasana begitu mencekam. 

Mereka yang berasal dari desa lari ke kota berharap perlindungan, sambil membawa bekal dan harta sekenanya. Dan langit itu nampaknya makin gelap, abupun makin tebal membuat pandangan makin kabur. Sementara atap-atap rumah sudah tak kuat menampung abu pasir yang berjatuhan. Dan pohon-pohon lebat itu sudah tak mampu melawan terpaan abu yang berjatuhan. Akhirnya satu persatu atap rumah mulai roboh, dan pohon-pohon tumbang berserakan di jalan. Anak-anak berteriak histeris, listrikpun padam. Nyaris semuanya lumpuh.

Sedih!!! itulah yang bisa kuungkapkan kala mengenang peristiwa itu. Dan kini, kelud kembali meletus disaat aku tak bersama keluarga besarku. Airmataku seolah sulit kubendung, mengingat kenangan-kenangan pahit tempo dulu. Aku tak ingin peristiwa silam kembali menimpa keluarga besarku dan saudara-saudaraku di sekitar gunung kelud.

sumber : facebook

Aku selalu mengikuti perkembangan gunung kelud melalui siaran televisi dan bbm grup teman-teman alumni SMP.  Setidaknya aku sedikit terbantu dan dapat memantau keadaan mereka. Karena jaringan telekomunikasi saat ini sedang terganggu, kabel telpon terputus, aku hanya bisa mengandalkan hp, itupun kalau hpnya nyala dan full batrei.

Namun alangkah bersyukurnya aku saat mengetahui Blitar tak begitu parah terkena imbas abu vulkanik gunung kelud, tidak seperti bayanganku kala mengenang letusan tahun 1990. Memang kehendak Allah, hanya Dia-lah yang Maha Tahu. Meski begitu aku tak henti-hentinya menetaskan air mata manakala menyaksikan imbas letusan kelud meluas sampai ke Kediri, Tulungagung, Sleman, Klaten, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo dan Jawa Barat.

Sobat Blogger, marilah kita sama-sama berdoa semoga musibah yang datang bertubi-tubi ini akan segera berakhir. Yakinlah bahwa musibah ini atas kehendak Allah sebagai bentuk peringatan kepada kita, umat-Nya. Agar kita kembali ke jalan-Nya, agar kita senantiasa taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini. Amin
Categories:
Reaksi:

19 komentar:

  1. Bunda, saya mau memberi tahu bahwa bunda berhasil jadi pemenang giveaway saya.
    silakan cek email ya~
    Salam. :)
    http://gungrangga.blogspot.com/2014/02/pemenang-giveaway-understanding-love.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow....terima kasih mas, alhamdulillah

      Hapus
  2. ya Allah fhotonya aja bgitu mengerikan ya, gimana kalau lihat langsung, yang sabar ya mba! semoga segera berakhir.
    *btw soundtracknya bikin saya teringat sang kekasih hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak letusan gunung kelud kali ini lebih dahsyat dibanding tahun2 sblmnya, tapi alhamdulillah Blitar tidak separah dulu imbasnya
      Hehehe senangnya hatiku bisa membuat temanku terkenang kekasihnya

      Hapus
  3. tahun 90 saya masih di Jember Mbak, dan masih belum menjadi warga Blitar. Hanya saja saat itu teman kuliah saya (sekarang istri) nggak bisa menghubungi keluarganya di srengat karena jaringan telpon terputus. Dan akses masuk ke Blitar di tutup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi syukur alhamdulillah ya pak Ies blitar tak kena imbas kelud seperti kejadian tahun 90

      Hapus
  4. Wah,,,,, semua kini hanya sebuah kisah dan cerita yang harus di bangun kembali. Di balik musibah pasti ada sesuatu yang menanti di depannya.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali, saatnya kita membangun dan berbenah diri, jangan hanya diam sambil menyesali diri
      Terima kasih

      Hapus
  5. Mba, hukan abunya sampai Bnajrnegara juga. Gelap bgtt di sini. . .

    Semoga saudara2 kita yg sdg trkena musibah diberi kekuatan, ketabahan ya. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak ini letusan gunung kelud yang terhebat imbasnya sampai kemana2, malah Blitar hanya sedikit imbasnya tidak sprti kejadian silam
      Iya mbak amien

      Hapus
  6. aminnn... ambil hikmahnya aja yukk, jngn berlarut2 dalam ksedihan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, sedih dan menyesali yang telah terjadi malah tidak membuat keadaan jadi baik
      Terima kasih

      Hapus
  7. wah saya turut berduka mbak atas kejadian ini. semoga kita semua bisa lebih instropspeksi diri, sudah sejauh mana kita dekat dengan tuhan? itu yg haarus dipikirkan menurut saya

    Kunjungan perdana mbak, salam blogger :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya terima kasih
      Musibah ini adalah sentilan Allah kepada umatNya, seberapa besar prosentase keimanan kita itulah yang harus kita koreksi dan benahi agar kedepannya kita menjadi manusia yang lebih bertaqwa dan taat beribadah

      Hapus
  8. Wah Mbak Yuni kelahiran Blitar rupanya ...
    Semoga semuanya baik-baik saja ya Mbak ...
    dan semoga bencana cepat reda ... kehidupan kembali seperti semula

    Salam saya Mbak Yuni

    (16/2 : 4)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya orang Blitar tulen Om tapi yang terdampar di Bali hehehe
      Amin terima kasih Om NHer

      Hapus
  9. Semoga dampaknya tak terlalu parah ya Jeng
    Saya kebagian abunya juga
    Semoga semua keluarga baik-baik saja
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Pakdhe Blitar tak terlalu parah meski kebagian abu dan krikil
      Memang kelud sangat baik hati suka bagi2 termasuk abu hehehe
      Amin terima kasih Pakdhe

      Hapus
  10. Semoga baik-baiak saja ya Mbak Yuni

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...