13 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 10:26 AM 2 comments




Pagi ini, mentari bersinar dengan indahnya. Seindah senyum Ibu yang selalu mengembang. Ibu….beliaulah sosok tangguh yang selalu ada di hatiku. Kasih Sayang Ibu tak kan pernah kulupa. Beliau selalu ada menemani hari-hariku. Bersama Ibu, kunikmati hari-hariku dengan ceria.


Masih kuingat betapa Ibu memperjuangkan hidupnya seorang diri, tanpa Ayah yang menemani. Namun, tak ada beban yang tergambar di raut wajahnya. Sejak Ayah meninggal, kasihsayang Ibu mulai dipertaruhkan. Ibu harus berkutat melawan kerasnya kehidupan. Ibu harus berjuang menghidupi kedua anaknya yang menginjak dewasa. Dan Ibu, harus tetap mengupayakan roda kehidupan yang dilaluinya selalu berputar mengikuti porosnya.

Ah…..sedih rasanya bila mengingat masa-masa itu. Tetapi, kasih sayang Ibu tak kan pernah goyah, meski ditimpa badai kehidupan yang menyesakkan dada. Jelas tergambar dalam ingatanku, betapa Ibu yang gigih berjuang menjadi seorang “single parent”. Gaji pensiunan almarhum Ayah yang diterimanya tiap bulan hanya 500 ribu, namun beliau tetap mengupayakan agar kedua anaknya menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Ibu tak pernah menghiraukan setiap tetesan peluh yang mengucur dari tubuhnya. Itulah kasihsayang Ibu kepada kedua anaknya yang begitu besar. Berbagai cara dilakukannya demi menggapai kehidupan yang lebih baik. Beliau rela berjualan kue kering dengan sepeda ontelnya. Bahkan beliau juga menekuni jasa tukar tambah sepeda ontel. Rumah kami yang sudah usang dimakan jaman, oleh Ibu disekat-sekat menjadi beberapa kamar, dan dijadikan tempat kost anak-anak sekolah. Bukan hanya itu, Ibupun menyulah ruangan dapur menjadi sebuah warung kelontong yang menjual berbagai kebutuhan dapur. 

Kasih Ibu sepanjang masa! Itulah sebuah kalimat yang bisa kuucapkan tentang Ibu. Ibu tak pernah sedikitpun menelantarkan kedua anaknya. Walau Ibu bukan malaikat, yang selalu membuat kami tertawa, namun perhatian Ibu begitu besar. Bahkan…andai kami menangis, tangis kami adalah tangis kebahagiaan. Terlebih tangis kami adalah bentuk rasa syukur kami kepada Allah. Ternyata Allah tak pernah ingkar akan janjiNya. “Ia” selalu mengabulkan setiap doa umatNya yang mau sungguh-sungguh berdoa, disertai usaha yang tiada kenal putus asa. Kami sangat bersyukur menjalani hidup apa adanya.

Masih jelas kuingat ketika Ibu terpaksa menjual sepeda ontel kesayangannya, atau menjual tanah warisan pembagian almarhumah nenek, demi biaya pendidikan kedua anaknya. Semua itu karena kasih Ibu sepanjang masa. Ibu yang tak pernah meminta imbalan atas pengorbanannya yang begitu mulia. Dan Ibu, yang tak pernah menghiraukan kulit tubuhnya menjadi hitam legam, demi mempertaruhkan kehidupan yang melingkupinya. Bahkan, Ibupun seolah tak mempedulikan kesehatannya. Yang beliau perjuangkan hanyalah kesuksesan anak-anaknya, seperti mimpinya dulu.

Satu hal yang akan selalu kuingat, Ibu adalah teman hidupku. Inilah bukti bahwa kasih ibu sepanjang masa. Beliau selalu menjadi teman curhatku yang setia. Bahkan, Ibulah yang selalu mengantarkanku pergi walau dengan jalan kaki. Syukur itu selalu kupanjatkan kepadaNya, manakala perjuangan Ibu membuahkan hasil. Aku berhasil meraih gelar sarjana, sementara adikku sedang menempuh kuliah pada semester akhir. Begitu gelar sarjana resmi kusandang, akupun langsung diterima menjadi karyawan pada sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Karena sayangku pada Ibu, setiap minggu aku selalu menyempatkan diri berkumpul dengan beliau. Dan Senin paginya aku kembali ke tempat kerjaku. Ibulah yang selalu mengantarkanku menuju tempat pemberhentian bus, walau harus jalan kaki, meski masih dini hari, namun dengan setia Ibu selalu ada disampingku menemani langkahku.

Kini, mimpi Ibu telah terwujud, kedua anaknya telah meraih gelar sarjana dan telah menikah dengan lelaki pilihannya. Namun, kasih Ibu sepanjang masa. Cinta Ibu pada kami tak pernah luntur. Ibu bahkan tak pernah membandingkan anak dan menantu. Semua diperlakukan sama. Ibu selalu melayani kami dengan tulus, walau kami tak pernah memintanya. Setiap kami datang mengunjungi Ibu, meja makanpun telah tersedia dengan lengkap. Makanan kesukaan, snack favorit atau minuman yang membuat ketagihan, komplit tertata rapi di atas meja makan. Oh…Ibu, rasanya aku tak kuasa menahan setiap isak tangis yang keluar dengan sendirinya, manakala melihat semua ini.

Kini, yang bisa kuucapkan hanyalah terima kasih Ibu. Walau aku belum bisa membalas budi Ibu, namun tanpa perjuangan tangguh beliau, tak mungkin aku bisa berdiri setegar ini. Ibu selalu hadir di kehidupanku, bak seorang bidadari yang baru turun dari kayangan. Beliaulah bidadari yang tak bersayap itu. Beliaulah yang mengusap setiap tetesan kesedihanku menjadi secercah kebahagiaan. Dan…beliaulah yang selalu mengupayakan kehidupanku, tanpa kenal lelah.

Sampai kapanpun, Ibu akan selalu ada dihatiku, menemani hari-hariku. Meski kami berjauhan, namun aku tak kan pernah lupa tuk mengucapkan terima kasih Ibu. Walau beliau bukan siapa-siapa, tetapi Ibu adalah wanita berhati mulia yang tak pernah menunjukkan kesedihannya didepan anak-anaknya. Apapun yang terjadi, Ibu selalu menunjukkan ketegarahannya. Senyum itu selalu tersunggih di wajahnya yang kini mulai keriput. Ibu tak pernah berhenti berjuang, walau memperjuangkan dirinya sendiri.

Cinta Ibu sungguh luar biasa. Lewat goresan hatiku, jemarikupun tak berhenti berucap terima kasih Ibu. Air mataku yang mengalir saat ini, semata karena aku sangat menyayangi Ibu. Doaku, semoga Ibu tetap tegar menjalani hari-harinya, setegar perjuangannya dulu. Harapku, semoga Ibu diberi kesehatan dan keceriaan dalam merangkai kembali cerita kehidupan. Karena senyatanya, kehidupan itu harus terus diperjuangkan. Dan selama roda kehidupan masih berputar, cerita kehidupan akan terangkai dengan sendirinya.  Semoga cerita kehidupan yang Ibu rangkai akan semakin indah dan berkesan.



 Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Menulis Blog bertema Sejuta Cinta Untuk Ibu di PerempuanCom
Categories:
Reaksi:

2 komentar:

  1. Ibunya pasti bahagia sekali ya melihat anak2nya sudah berhasil

    BalasHapus
  2. Ibuku sayang masih terus berjalan
    walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
    seperti udara kasih yang engkau berikan
    tak mampuku membalas..ibu...ibu

    salam buat ibu indonesia

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...