11 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 2:28 AM No comments

Day 9 :


wawashshaynaa al-insaana biwaalidayhi hamalat-hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin wafishaaluhu fii 'aamayni ani usykur lii waliwaalidayka ilayya almashiiru 


Artinya : "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1181]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. " (QS. Al Lukman : 14)




Cerita ini saya ambil ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Suatu hari saya berangkat ke kantor dengan angkutan umum. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, pandangan saya tertuju pada sebuah halte. Pemandangan yang sontak membuat saya tertegun. Sebuah keluarga yang tengah menikmati hari-harinya dengan ceria. Namun keluarga ini bukanlah keluarga biasa, melainkan sepasang suami istri tuna netra dengan kedua anaknya yang normal.


Mereka sangat bahagia, seolah membuat semua mata yang memandangnya merasa iri dengan kebahagiaan mereka. Sepasang suami istri tuna netra yang tak melihatkan wajah sedihnya. Sementara di samping mereka dua pasang anak mereka (laki-laki dan perempuan) juga tengah asyik menemani kedua orang tuanya dengan berbagai candaan. Sungguh sebuah keluarga yang mensyukuri nikmat Allah dengan segala kekurangan mereka.

Kadang, kita yang diberi kesempurnaan oleh Allah, masih saja merasa kurang atas nikmat yang Allah berikan. Bahkan, kebahagiaan dalam keluargapun jarang kita hadirkan. Selalu saja keluhan, ketidaknyamanan, kekurangan, yang kita mohonkan padaNya. Harusnya kita mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita berapapun besarnya nikmat itu. 

Sungguh iri rasanya melihat keharmonisan keluarga tuna netra itu. Bahkan saya pun sempat membayangkan, bagaimana keseharian mereka di rumah. Siapa yang mengurus rumah, mulai dari menyapu, memasak, mencuci dan sebagainya. Lalu siapa pula yang mengurus anak-anak mereka sejak dari lahir hingga sebesar itu. Bagaimana pula dengan pendidikan mereka. 

Allah sungguh Maha Adil. “Dia” telah memilihkan jodoh untuk hambaNya. Kadang, kita pun belum bisa menerimanya dengan akal sehat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Seorang tuna netra beristrikan tuna netra juga. Sementara mereka dikarunia dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sehat, tak ada cacat ditubuhnya. Subhanallah.

Terlepas dari aktifitas mereka di rumah, anak-anak mereka adalah anak yang luar biasa. Mereka tidak malu mempunyai orang tua tuna netra. Bahkan dengan setianya, masing-masing dari mereka selalu setia menggandeng tangan orang tuanya saat menyeberang jalan. Tak jarang di halte itu mereka tampak menyuapi keduanya dengan makanan. Walau mereka tak hidup mewah, namun kebahagiaan itu selalu mereka hadirkan dalam segala suasana.

Harusnya kisah ini dapat kita jadikan contoh dalam keseharian kita. Harusnya kita merasa malu melihat keceriaan dan kekompakan keluarga tuna netra itu. Mereka yang diberi keterbatasan fisik oleh Allah masih mensyukuri nikmat yang diberikanNya. Namun mengapa kita yang diberi lebih oleh Allah masih saja merasa kurang?

Marilah kita sama-sama belajar mensyukuri nikmat yang Allah berikan, berapapun besarnya nikmat itu. Sesungguhnya Allah akan menambah nikmat umatnya, manakala ia senantiasa mensyukuri nikmat dariNya. Jadikan kehidupan keluarga tuna netra itu sebagai contoh untuk membina sebuah hubungan dalam keluarga kita, atas dasar rasa syukur atas nikmat itu, sebagai bekal untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal.

ayat


Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...