19 November 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:36 PM 6 comments


Membaca judul diatas, seolah bulu kuduk saya merinding karena ketakutan. Namun demi memenuhi permintaan pak Hariyanto Wijoyo untuk berpartisipasi dalam GAnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat sebuah artikel. Tentunya isi artikel ini bukan bermaksud membuka aib orang lain. Namun lebih tertuju pada diri saya sendiri. Karenanya saya ingin introspeksi diri, belajar menjadi pribadi yang lebih baik, dengan bercermin pada kejadian masa silam. 


Hidup senyatanya adalah perjuangan panjang untuk mengejar mimpi. Dan Allah telah menciptakan manusia lengkap dengan panca indera yang dimilikinya, tak lain agar  ia mampu mengupayakan hidupnya menjadi lebih baik. Namun sayang, terkadang panca indera itu tidak dipergunakan sebagai mana layaknya. Mata yang harusnya untuk melihat hal-hal yang baik, ternyata digunakan untuk kemaksiatan. Demikian juga kaki, telinga, tangan dan hati. 


Pernahkah kita menyadari apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan bahkan apa yang kita kira, tanpa sengaja menyakiti perasaan orang lain?
Itulah manusia. Terkadang ia tak pernah memikirkan akan akibat dari tindakannya. Yang ada dalam benaknya hanyalah berusaha mencari kepuasan belaka. Demikian juga dengan iman. Tidak selamanya iman manusia berdiri tegak. Ada kalanya ia terombang ambing diterjang badai kehidupan. Ketika berada di atas, manusia seolah terbuai oleh nafsu duniawi. Ia lupa dengan Sang Pemberi Nikmat. Namun manakala nikmat itu diambil oleh yang hak, buru-buru ia mengambil air wudhu, bermunajat kepadaNya sambil terus memohon hal yang lebih baik kembali melingkupinya.

Lantas…apakah Allah murka? Tentu “tidak”.  Allah Maha Baik, ia Maha Pengampun, yang mengampuni segala dosa hambaNya yang mau bertaubat, meski dosa itu sebesar buih di laut. Namun rupanya, bukan membuat manusia itu jera dan buru-buru bertaubat kepadaNya, ia justru membuat dosanya lebih banyak dan lebih banyak lagi. Astaghfirullah.

Haruskah Allah terus menimpakan musibah yang berkepanjangan agar manusia senantiasa bertaubat dan berjalan di jalanNya? Tentunya kita sebagai manusia tak pernah tahu akan kehendak Allah. Ibarat sebuah lakon dalam panggung, kita ini hanyalah pemain yang harus siap memerankan skenario yang telah Allah susun demikian indahnya.

Islam senyatanya adalah agama yang simple. Tidak pernah sedikitpun memberatkan pemeluknya. Lantas mengapa masih saja ada yang tidak melaksanakan ajarannya? Sholat lima waktu tidak tertib atau bahkan menunda-nunda waktu sholat. Padahal andai kita mampu melaksanakannya tepat waktu, niscaya kitapun akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jelas menguntungkan diri sendiri. Demikian juga saat menghadapi ujian, baik ujian hidup maupun ujian untuk mencapai sesuatu. Pasti dengan rajinnya kita melaksanakan sholat lima waktu dengan tertib ditambah sholat sunnah lainnya. Namun mengapa disaat ujian itu berlalu, ibadah-ibadah itu jadi jarang dilakukan? Andai semua itu menjadi kebiasaan, niscaya Allah akan dekat dengan kita.

Coba Anda bayangkan, mengapa seorang guru sangat menyayangi muridnya yang pandai? Tak lain karena ia rajin belajar, selalu mendapat nilai bagus, selalu memperhatikan saat diterangkan dan selalu bisa menjawab pertanyaan yang disodorkan kepadanya. Demikian juga dengan Allah. Allah pasti menyayangi hambaNya yang rajin beribadah. Dengan menyebut namaNya setiap hari, niscaya Allah akan semakin dekat dengan kita.

Demikian juga dengan janji. Ingatlah bahwa janji adalah sebuah hutang yang harus dibayar. Manusia demikian mudahnya berjanji. Ia pun tak pernah berpikir akibat apa yang akan terjadi bila janji itu tak dipenuhi. Mungkin akibat itu tak pernah kelihatan di dunia, namun di akhirat? Sungguh, manusia yang mengumbar janji sama halnya menumpuk dosa di akhirat. Nerakalah jaminannya!!! Mau tahu janji apa saja yang menjerumuskan manusia? Semua janji, yang tak sempat dipenuhi itulah yang membawa manusia ke neraka. Ketika menginginkan harta, ia berjanji akan bersedekah. Namun disaat ia mendapatkan rejeki, boro-boro disisihkan sebagian untuk sedekah sesuai janjinya, untuk memenuhi kebutuhannyapun ia merasa kurang. Akhirnya sedekah hanyalah sebuah janji.

Begitupun dengan puasa sunnah. Malamnya sudah berniat, ketika pagi menjelang, belum setengah perjalanan, tiba-tiba membatalkan puasa lantaran tergiur oleh makanan. Alasannya klise, menghabiskan makanan anaknya yang tidak habis dimakan, sayang bila tidak dihabiskan, mubazir!!! Puasa sunnahpun dijadikan sebuah janji yang belum tentu terbayar dengan baik, karena sebuah dalih “masih ada hari esok” untuk kembali melaksanakan puasa sunnah.

Ingatlah mati!!!. Tujuan manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk mati. Alam beserta seluruh isinya ibarat tempat persinggahan sementara sambil menunggu giliran. Dan ketika giliran itu tiba, tak ada seorang manusiapun yang bisa mengelaknya. Ia harus menghadapNya saat itu juga. Jadi hidup dan mati seseorang hanya Allah-lah yang tahu, karena Dia Maha Berkehendak……”Kun Fayakun”.

Ketika berjanji, hendaknya kita mengingat bahwa kematian akan menjemput kita, agar janji itu bukan hanya sebuah omong kosong belaka. Dan berbicara tentang kematian, sudahkah kita mempunyai bekal menuju kesana? Sungguh rasanya saya ingin menangis mengingat hal ini. Betapa banyak dosa yang telah saya perbuat. Dan betapa tipisnya iman yang saya miliki. Kadang seharian saya ingin menggelar sajadah, ingin terus memohon ampun padaNya. Namun kadang setan itu datang mengganggu hati saya yang ingin berbuat baik.

Bukan hanya itu, hati dan pikiran yang seharusnya digunakan untuk bertawakal dan bersabar, tiba-tiba berubah menjadi beringas. Sifat kurang sabar menghadapi kenyataan hidup, atau kurang ikhlas menerima keadaan, kadang sering menghampiri kita. Itulah manusia, makhluk yang tak pernah merasa puas atas apa yang telah diperolah. Ketika mendapatkan rejeki, walau jumlahnya sedikit, harusnya bersyukur sambil disisihkan sebagian untuk sedekah. Demikian juga dengan keinginan. Kadang kita tumbuh menjadi pribadi yang egois. Setiap apa yang kita inginkan harus secepatnya terpenuhi tanpa memandang porsinya.

Menuntut anak terlalu berlebihan, merasa kurang atas pemberian suami atau bahkan memaki-maki suami dan anak karena kekurangannya. Jelas akan berakibat buruk. Padahal andai kita sadar, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Hanya Allah-lah yang Maha Sempurna. Ketika kita menganggap diri kita sebagai pribadi yang sempurna, belum tentu Allah menganggapnya demikian. Kesempurnaan Allah tiada bandingannya. Dan kita tak boleh menganggap diri kita paling hebat, karena di atas langit masih ada langit. Sungguh orang yang sangat merugi bila ia menganggap dirinya paling hebat, paling sempurna dan paling lainnya.

Bahkan, yang paling disayangkan adalah berusaha memutus tali silaturahmi. Padahal, andai kita sadar dengan menyambung tali silaturahmi akan memperpanjang umur kita. Itulah manusia, terkadang rasa malasnya timbul manakala diajak bertandang ke rumah family atau kerabat. Jangankan yang demikian, ke rumah tetangga sebelah rumah saja, jarang dilakukan. Ia lebih memilih mengunci dan berdiam diri di dalam rumah. Memang benar, pekerjaan rumah tiada habisnya, seharianpun bila dikerjakan tak akan pernah selesai. Namun apakah lantas kita terus mengunci diri dalam rumah tanpa mengenal orang disekeliling kita?

Ingat!!!  Disaat kita sakit, siapa orang pertama yang akan menolong kita? Disaat kita mati, siapa yang datang melayat kita? Semua itu tak lepas dari bantuan tetangga. Karena tak mungkin saudara kita yang sangat jauh akan datang duluan disaat kita terkena musibah. Yah…inilah perlunya kita menyambung tali silaturahmi.

Tulisan diatas adalah sebuah gambaran tentang diri saya. Itulah senyatanya saya yang masih jauh dari sifat baik. Saya yang tidak bisa memanfaatkan panca indera dengan baik, saya yang masih mengedepankan sifat egois disetiap persoalan yang saya hadapi. Sumpah, tak ada niatan untuk menjelek-jelekkan orang lain. Kalaupun ada sifat jelek yang saya ceritakan, tak lain itu adalah sifat saya sendiri. Dan tulisan ini sekaligus sebagai cerminan bagi diri saya pribadi untuk berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik, yang selalu berjalan di jalan Allah tanpa terombang-ambing oleh nikmat duniawi yang menyesatkan. Karena senyatanya saya takut masuk neraka……

Ya Rabb….ampuni segala dosa hambaMu ini. Jadikan hambaMu menjadi pribadi yang sabar dan selalu berpegang teguh pada ukhuwah Islamiyah. Terimalah iman Islam hamba, tetapkanlah hati hamba agar senantiasa berjalan di jalanMu duhai dzat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Jadikan hamba sebagai umatMu yang senantiasa pandai bersyukur atas segala nikmatMu. Jangan kau buat hati dan pikiran hamba menjadi gelap mata. Hamba ingin menjadi hambaMu yang sebenarnya Ya Rabb, yang selalu mendekatkan diri padaMu dan tak pernah merasa kurang atas nikmatMu. Dan jadikan sisa umur hamba menjadi umur yang bermanfaat bagi orang banyak. Terimalah doa hamba ini Ya Rabb….amien.

Categories:
Reaksi:

6 komentar:

  1. Sebuah gambaran yang bukan hanya dialami Njenengan saja Mbak, saya rasa setiap kita akan merasakan hal yang sama ketika kita seringkali melakukan muhasabah diri. Bahwa kita akan selalu menemukan ketidak sempurnaan dalam banyak perkara baik hubungan secara sosial maupun dalam berntuk peribadatan. Namun demikian ini akan menjadi hal yang sangat beruntung jika kita menyadari bahwa kita adalah makluk lemah yang gampang sekali digoda menuju jalan yang tidak seharusnya dan untuk itu semua, menjadi bekal untuk memperbaiki diri menuju jalan dan ridho Alloh Ta'ala
    Salam silaturahim saking srengat

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kunjungan dan supportnya Pak'Ies, senang juga ketemu sesama orang Blitar disini....salam silaturahim kembali

      Hapus
  2. muhasabah itu memang diperlukan sesering mungkin ya mak, agar kita selalu ingat akan kesalahan dan dosa-dosa kita, lalu bertaubat dan memperbaiki diri.
    makasih mak sharingnya.. semoga sukses :)

    BalasHapus
  3. Aku memetik hikmah dan pembelajaran yang berguna dari artikelmu ini mbak. Semoga sukses untuk giveawaynya yaaa mba.. thks atas sharing ilmunya yang bermanfaat :)

    BalasHapus
  4. alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartisipasi,
    artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta..
    salam santun dari Makassar :-)

    BalasHapus
  5. Masih banyak orang yang mengalami hal ini, dan masih terlalu banyak yang juga masih di bawah kita. Yang terpenting kita masih terus dapat berusaha ya Mba. Terimakasih atas pencerahannya. Sukses untuk GA nya.

    Salam,

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...