4 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 12:39 PM No comments


sumber: google

Pesta pertunangan itu dua hari lagi digelar. Tak banyak perubahan yang terjadi. Kecuali raut wajah Anisa yang terlihat bahagia menunggu saat-saat yang mendebarkan itu tiba. Dia memang berusaha menyimpan rapat-rapat tentang siapa lelaki tampan yang telah memikat hatinya, termasuk kepada Bela.
@@@



Hubungan persahatabannya dengan Bela tak ubahnya sepasang merpati putih yang tak terpisahkan. Perbedaan itu amat dalam, tapi Anisa tak mempedulikannya. Baginya Bela adalah seorang sahabat sekaligus sosok kakak yang siap membantu kapanpun ia membutuhkan.

Bersama Bela pula Anisa bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadikan hidupnya penuh dengan warna. Masa-masa sulit itu pernah mereka lalui bersama, manakala Anisa lari dari kenyataan. Kenyataan dimana kedua orang tuanya lebih memilih mengejar karir ketimbang anak semata wayangnya yang haus kasih sayang.


Berbulan-bulan Anisa mengkonsumsi obat-obatan terlarang hingga akhirnya overdosis. Itupun tak dipedulikan orang tuanya. Beruntunglah Bela menemukan tubuhnya yang tergeletak lunglai di jalanan hingga dia bisa mengembalikan keadaan Anisa seperti semula. Meski kehidupan Bela tidak se-glamour Anisa, tapi bersama Bela Anisa bisa mengenal hidup senyatanya hidup, dia kaya hati, juga kaya iman.

Terlebih orang tuanya sangat mengajarkan prinsip kesederhanaan dan menerima apa adanya hidup ini. Sampai akhirnya Anisa lebih memilih tinggal bersama keluarga Bela ketimbang hidup di rumah mewah tanpa belaian kasih sayang kedua orang tuanya.


Lama orang tua Anisa sadar akan kekhilafannya, mereka larut dalam dunia masing-masing. Kehadiran Anisa bukanlah hal yang penting dalam hidupnya. Pernah mereka mencari keberadaannya, namun pencarian mereka tidak maksimal. Saat pencarian itu berlangsung mereka harus melakukan perjalanan dinas ke luar kota yang memakan waktu berbulan-bulan. Mereka seolah tak mempedulikan keberadaan Anisa.

Sampai akhirnya, kecelakaan itu hampir merenggut nyawa Anisa. Anisa tertabrak mobil saat dia menyeberangi jalanan yang sarat dengan kendaraan, tubuhnya terpental jauh bermeter-meter.


-------------------------------------------------
Balutan perban itu menutupi sekujur tubuh Anisa. Dua hari ia koma di rumah sakit. Kedua orang tuanya menangis meratapi keadaan anak semata wayangnya yang mengenaskan. Bela selalu setia menunggui sambil memanjatkan doa berharap akan kesembuhan sahabatnya. Sejak saat itulah orang tua Anisa merasa ketakutan, takut akan kehilangan anak gadisnya.


Dua hari, tiga hari....Bela selalu menghitung hari, sampai akhirnya hari ke empat Anisa benar-benar tersadar dari tidur panjangnya. Selama itu pula Anisa seperti melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan, tidak ada air, tidak ada makan, sampai ia merasa benar-benar capek dan ingin mengakhiri perjalanannya.

Saat matanya terbuka, antara sadar dan tidak, ia merasakan tubuhnya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan karena balutan perban yang masih melekat ditubuhnya. Dan....


”Dimana aku?”
”Apa yang telah menimpaku?”
”Kenapa tubuhku seakan susah digerakkan?
”Kenapa banyak orang disekelilingku? Ada apa denganku?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari mulut Anisa yang sejak empat hari terdiam membisu, seolah kebingungan.
Seketika itu juga mamanya langsung berlari memeluk Anisa sambil menangis sejadinya.


”Maafkan mama nak, ini semua salah mama yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang kamu. Mama janji mama akan lebih memperhatikanmu, mama akan menemanimu kemanapun kamu mau”, pinta mama sedih.


”Tapi apa yang terjadi denganku, kenapa aku seperti ini?”, tanya Anisa penasaran.
Didalam ingatannya mobil itu menabrak tubuhnya hingga terpental jauh. Setelah itu semuanya gelap.


Semua diam membisu. Tak ada yang berani menjawab. Sampai akhirnya…..


“Kamu ada di rumah sakit Anisa. Beberapa hari yang lalu kamu tertabrak mobil ketika hendak menyeberangi jalan menuju rumahku. Tubuhmu terpental jauh hingga menyebabkan kepalamu gegar otak terbentur trotoar. Kamu sempat koma selama empat hari”, jawab Bela tiba-tiba.


Demi mendengar suara itu, Anisa langsung berteriak....
“Bela……”


Bela pun mendekati sahabatnya itu, keduanya berpelukan erat, seolah tenggelam dalam kepedihan. Ada yang menyengat ulu hati mama Anisa, mama iri dengan kedekatan mereka. Harusnya dia yang mendekap erat tubuh Anisa bukan Bela. Dia merasa Anisa telah mencampakkannya.


----------------------------------------------
Dua minggu Anisa di rawat di rumah sakit. Selama itu pula Bela dengan setia menjaga dan merawatnya sampai kondisi Anisa benar-benar dinyatakan pulih oleh dokter. Sedikitpun perhatian kedua orang tuanya tidak dihiraukan, bahkan Anisa berusaha mengunci rapat-rapat pintu hatinya untuk mereka.

Anisa terlanjur sakit hati dengan perlakuan kedua orang tuanya sampai-sampai permintaan maafnya pun diacuhkan. Dia lebih memilih kembali tinggal bersama keluarga Bela.
Lagi-lagi Bela berhasil meyakinkan Anisa dengan segala cara hingga akhirnya Anisa mau kembali tinggal di rumahnya yang serba mewah.


Ternyata kemewahan itu tidak membuat hidup Anisa bahagia. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang. Meski perhatian orang tuanya berlebihan, namun itu tidak sanggup mengembalikan keceriaan hatinya. Seakan semuanya terkesan basa-basi, bersifat kepura-puraan untuk sekedar menyenangkan hatinya.

Sosok Bela merupakan pelindung baginya. Tanpa Bela, hidupnya terasa hampa, tidak ada lagi yang memberikan semangat dalam hidupnya. Semenjak kepindahannya ke rumah mewah itu, Bela seolah menghilang dari pandangannya. Bela memang sengaja melakukan itu demi mengembalikan kedekatannya dengan orang tuanya.

Ia tidak ingin menjadi benalu di kehidupan mereka. Biarlah semuanya mengalir di telan arus kehidupan bak skenario yang telah dipersiapkan oleh sang sutradara. Celah itu memang benar-benar tertutup rapat. Anisa tak mampu untuk menembusnya, bahkan untuk sekedar melepas kepenatan dan mengendurkan urat syarat pikirannyapun.


--------------------------------------------
Berbulan-bulan Bela mengasingkan diri dari pandangan Anisa. Jauh di dasar hatinya ada pergulatan hebat. Mustahil bila dia merasa seorang yang tegar. Kegalauan itu seakan tak mau sirna dari hadapannya. Bahkan batinnya nyaris terombang-ambing seperti dasyatnya angin puting beliung yang siap merobohkan bangunan bertingkat. Dia nyaris bergumul dengan sepenggal kata yang terasa kelu diucapkan, “cinta”.

Mengapa hembusan nafasnya tega membuat hatinya porak poranda?
Lama dia menjalin hubungan dengan Rico, namun hubungan itu seakan membawanya ke dalam keterasingan.


“Inikah arti sebuah cinta seperti yang dikumandangkan penyair pujangga? Kenapa semuanya seperti arus datar yang tidak memancarkan sinar setitikpun? Dimana letak kedasyatannya?”


Kebosanan itu pernah melanda dirinya, manakala hubungan mereka diambang ketidakpastian seperti pasang surutnya air laut. Saat rasa itu ada dan kebersamaan menyelimuti hari-hari mereka, saat itu pula mereka harus dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ketika berjauhan karena perbedaan tugas di kantor, hubungan mereka harus merenggang bahkan nyaris tidak ada sama sekali.

Namun, saat berdekatan mereka menjalin hubungan kembali tak ubahnya sepasang kekasih yang lagi dimabuk asmara. Itupun berulangkali terjadi. Tak ada komitmen diantara mereka, seolah hanya kepuasan sesaat yang didapat. Sempat terbersit niat untuk mengakhiri hubungan itu, namun Bela sudah terperangkap didalamnya.

Ia tidak kuasa menolak pendar-pendar cinta yang dipancarkan oleh seorang Rico. Entah mengapa pesona Rico meluluhlantakkan perasaannya. Ia seperti tak berdaya dihadapan Rico.


“Bel, aku ingin mengukuhkan hubungan kita ke dalam satu tali ikatan cinta, namun tidak untuk saat ini”, sela Rico angkuh.


”Apakah kau menganggap hubungan kita sesuatu yang pura-pura? Dua tahun kita membinanya, bukan berarti semuanya berjalan mulus. Onak dan duri telah kita lalui dengan penuh kesabaran sampai akupun merasa seluruh tubuhku letih, lelah menunggu suatu kepastian yang tak kunjung datang. Belum cukupkah untuk meyakinkanmu? Kemana arah hubungan kita?”, protes Bela.


”Justru itu, aku membayangkan kelak aku akan jadi kepala keluarga tentunya harus punya sandaran dan pegangan hidup sebagai pondasi dalam berumah tangga. Kita sama-sama baru merintis karir dari bawah.

Suatu saat karir itu akan berkembang, dan itu harapanku. Aku tidak ingin harapan kita berhenti hanya karena adanya satu ikatan. Yang aku inginkan disaat karir itu sudah berkembang dan impian ada di tangan kita barulah ikatan itu terjalin. Bukankah kamu juga berpendapat seperti itu? Aku ingin pendampingku kelak dikenal banyak orang karena kesuksesannya bukan mendompleng nama besarku”, tutur Rico panjang lebar.


Sejenak Bela menghela napas, dadanya terasa sesak. Ucapan Rico terkesan angkuh seakan menyiratkan sebentuk penolakan halus.


”Bukankah karir bisa berjalan berdampingan dengan ikatan yang kita jalin? Aku yakin kalau kita sudah mengikrarkan hubungan kita kedalam ikatan resmi, tujuan hidup kita akan tercapai. Kita akan bisa menentukan tujuan apa yang hendak kita capai dalam berkarir. Aku ingin hubungan kita dibawa ke suatu arah yang pasti. Aku sangat mencintaimu Ric!”


”Bela, yakinlah suatu saat kalau harapanku sudah tercapai, aku pasti akan melamarmu. Saat ini masih banyak impianku yang belum terwujud. Kelak bila masing-masing dari kita sudah sama-sama memetik hasilnya, kita akan bersatu kembali”, yakin Rico.


Bela pun diambang kebimbangan, ia tidak yakin dengan ucapan Rico. Bukankah di jaman sekarang banyak lelaki yang suka mengobral janji? Tapi harapan itu masih ada, bahkan saat Rico memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di London demi mengejar karir, Bela berharap suatu saat Rico akan datang melamarnya.


---------------------------------------------
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun….bahkan sampai empat tahun sejak kepergiannya ke London Rico tak pernah menghubungi Bela. Belapun tidak berusaha mencari tahu keberadaan Rico, ia tidak mau dianggap wanita murahan yang suka mengejar cinta lelaki. Meski dalam hatinya ada rasa miris. Bahwa sesungguhnya ia masih amat mencintai Rico.

Perjumpaannya dengan Anisa di suatu tempat sejenak melupakan kepedihannya. Bahkan saat rentetan kejadian itu menimpa Anisa, dirinya mampu menjelma menjadi sosok malaikat penolong yang menyelamatkan gadis itu dari ancaman maut yang bertubi-tubi.


Hari-hari yang dilaluinya bersama Anisa telah lama berlalu. Ia sengaja membiarkan Anisa larut dalam kebahagiaan dan curahan perhatian kedua orang tuanya. Selama itu pula ia juga tidak berusaha mencari tahu khabar Anisa yang telah dianggapnya saudara sekaligus adiknya. Ia tenggelam dalam angannya sendiri. Bahkan impian untuk mendapatkan cinta Rico masih menggema di dadanya.

Harapan itu tidak pernah sirna. Ia berusaha mewujudkan keinginan Rico, bahwa kelak dirinya akan dikenal karena kesuksesannya bukan bersembunyi dibalik ketenaran orang lain.


-----------------------------------
Pertemuan itu terjadi secara tiba-tiba. Sesosok wanita cantik dibalut dengan blue jeans dan t-shirt ketat tak sengaja menabrak pengunjung stand pameran komputer hingga keduanya saling beradu pandang. Sejenak keduanya tenggelam dalam diam seolah memutar otak, mengingat-ingat sesuatu. Kesadaraan itu akhirnya menyeruak di benak masing-masing sampai akhirnya mereka saling memeluk erat.

Dua tahun ternyata telah merubah segalanya. Anisa telah berubah menjadi wanita cantik yang energik, tak heran bila banyak mata lelaki mengerling padanya. Sementara Bela, apa yang bisa ia banggakan? Sedikitpun tak ada kelebihan dalam dirinya. Nyalinya kecil saat bertemu Anisa. Ia tak ada apa-apanya dibanding Anisa.


Semenjak hubungannya dengan kedua orang tuanya membaik, Anisa berusaha menunjukkan perubahan sikap, ia menjadi anak yang baik hingga akhirnya dipercaya memegang salah satu perusahaan papanya. Inilah yang menyebabkan karirnya terus bersinar.

Sedangkan Bela, ia merintis karirnya dari nol tanpa campur tangan dari manapun. Karirnya sebagai seorang accounting staff di sebuah perusahaan swasta di rasa sebagai anugrah dalam hidupnya, karena ia tidak gampang meraihnya. Butuh tantangan dan prosedur yang rumit.

Meski demikian, perbedaan itu tetap tidak ada. Semenjak pertemuan mereka yang secara tiba-tiba hubungan mereka terjalin kembali. Keakraban diantara mereka seakan lahir kembali.
Sampai suatu saat Mama Anisa datang menemui Bela secara tiba-tiba.


”Bel, tante mohon mulai saat ini tolong temani Anisa, bahagiakanlah dia. Tante tidak ingin kehilangan anak tante satu-satunya untuk selamanya.”


”Memangnya ada apa dengan Anisa, Tante?”, Bela tampak keheranan.


”Anisa terkena leukemia Bel. Andai tante tahu ini semua akan menimpa Anisa tante tak akan pernah menyiakannya. Tante menyesal. Tuhan tidak adil, kenapa tante tak diijinkan untuk menikmati kebahagian ini lebih lama, padahal tante sudah insyaf, sadar akan kekeliruan tante kala itu,” air mata itu tumpah membasahi pipi mama Anisa yang putih terawat.


”Astaghfirullah.......Anisa, kenapa cobaan itu bertubi-tubi menimpamu?”, batin Bela sedih.


”Tante yang sabar ya, Tuhan menguji kesabaran itu sebatas kemampuan umat-Nya. Penyesalan itu pasti datangnya belakangan. Saya yakin dibalik ini semua pasti ada hikmahnya Tante. Bela janji akan siap membantu Tante kapanpun Tante minta termasuk menemani Anisa. Apakah Anisa sudah mengetahui penyakitnya Tante?” Bela memeluk erat tubuh mama Anisa.


”Belum Bel. Kami sengaja merahasiakan penyakitnya. Tante tidak ingin Anisa kehilangan semangat hidupnya. Kamu tahu sendiri kan Anisa itu anaknya gampang menyerah, ia tidak bisa dihadapkan pada hal-hal yang menyedihkan. Terlebih jika mengetahui penyakitnya”, jelas mama Anisa.

Berita itu seperti mengguncang tubuh Bela. Ia tidak percaya dengan penglihatannya. Sosok wanita yang secara kasat mata kelihatan bugar, cantik, energik dan diidolakan para lelaki, ternyata tersimpan suatu penyakit yang dapat merenggut nyawanya.
----------------------------------------------------------
Setumpuk pekerjaan itu yang membuat Anisa tak mempedulikan dirinya. Bahkan ia tak menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk merayakan pesta pertunangannya. Hanya raut wajah kebahagiaan yang terpancar di rona pipinya yang mulus bak batu pualam.

Tentang sosok pria itu, tak banyak yang mengenalnya. Perjumpaannya secara tiba-tiba di sebuah hotel berbintang lima pada acara merger bersama perusahaan besar mengantarkan pria itu untuk mengenal lebih dekat sosok Anisa, hingga membawanya kepada kedua orang tuanya. Sampai akhirnya kedua orang tua Anisa meminta pria itu untuk membahagiakannya.


Bela menyambut bahagia rencana pertunangan Anisa. Meski belum tahu siapa calon pendamping Anisa, namun ia bersyukur kebahagiaan itu akan memperpanjang hidup Anisa. Bela nampak sibuk membantu persiapan pesta itu. Ia tidak ingin melewatkan moment yang berharga ini.


-----------------------------------------------------------------
Akhirnya hari yang dinanti itu telah tiba. Hari dimana Anisa mengumumkan siapa calon pendampingnya, termasuk kepada Bela. Anisa menggandeng mesra pria itu, tangannya menggelanyut manja di lengan kanan lelaki tampan itu.


”Bel, kenalin ini mas Rico, tunangan aku”, Anisa menghampiri Bela yang celingukan seolah penasaran dengan pria itu.


Deg........seketika itu langit serasa mau runtuh, darah berdesir kencang dan jantung berdecak hebat. Pemandangan di depan Bela meluluhlantakkan perasaannya. Tubuhnya oleng. Lama ia menetralisir keadaan.


”Eh...Ah..ehm...Bela”.


”Rico”.


Sejenak keduanya beradu pandang. Diam dalam keterkejutan. Kekakuan menyeruak dalam benak masing-masing.


“Kalian sudah saling kenal?”, Tanya Anisa curiga.


“Hem…belum An, aku cuma sedikit kaget karena salah mengira saja, kukira dia temanku nyatanya bukan”, jawab Bela sekenanya.


“Sori aku harus kesebelah melihat kalau-kalau masih ada yang kurang, permisi.” Bela mengayunkan langkahnya secepat kilat meninggalkan mereka dalam keterpakuan.


Butiran-butiran embun itu sudah memenuhi dinding mata Bela, namun ia sadar kapasitasnya sebagai tamu pesta memaksanya untuk menahannya hingga pesta usai.

Ternyata hingar bingarnya acara itu tidak membuat dirinya larut didalamnya, tapi malah memaksanya menelan getirnya keadaan. Rico, lelaki yang bertahun-tahun menjadi harapan hidupnya, ternyata hanyalah sesosok lelaki materialistis yang lebih memilih wanita tajir ketimbang dirinya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Iapun sadar kalau dirinya hanya dipandang sebelah mata, nyaris tidak diperhitungkan terlebih oleh seorang lelaki bernama Rico.


Sorot mata itu tajam menghunjam manakala Bela menatap dari kejauhan. Secercah harapan atau malah kebencian yang menyelimutinya, Bela tak tahu. Lekas dikibasnya pandangan itu. Ia tidak ingin luka hatinya semakin menganga.


--------------------------------------------------------------
Pesta malam itu benar-benar membumihanguskan seluruh jiwa raganya. Seharian Bela mengurung diri dalam kamar. Matanya sembab oleh butiran air mata yang terlalu banyak tumpah. Peristiwa itu menghapus harapannya untuk seorang lelaki. Ia enggan berangan-angan tentang hadirnya lelaki di kehidupannya. Yang lebih tak dimengerti, kenapa Rico harus hadir di kehidupan Anisa? Dan kenapa harus Anisa yang menjadi lawan tandingnya?

Di hadapan Anisa ia tidak berani melakukan pembelaan terlebih perlawanan atau perbuatan balas dendam, karena persahabatan mereka diatas segalanya. Dan ia sudah berjanji untuk membahagiakan Anisa menjelang detik-detik terakhirnya.


---------------------------------------------------------------------
“Bel, dengar penjelasanku dulu. Aku bertunangan dengan Anisa karena terpaksa. Orang tuanya memintaku membahagiakannya. Sumpah aku tidak mencintainya, aku hanya kasihan padanya. Selamanya aku tetap mencintaimu, bahkan aku berharap bisa menjadi pendampingmu kelak. Tapi, tolong ijinkan aku membahagiakannya sejenak”, pinta Rico ketika menemui Bela di kantornya saat jam istirahat.


”Plaaaaak......”


Tamparan itu mengenai pipi kanan Rico hingga kemerahan.


”Jangan kau permainkan cinta. Cukup aku yang menderita. Aku tidak rela kau permainkan Anisa. Cinta Anisa tulus bahkan harapannya begitu besar terhadapmu. Aku tidak ingin kau menambah penderitaannya. Anisa sudah cukup menderita”, jelas Bela marah.


”Tapi, Bel, cintaku hanya untukmu bukan untuk Anisa,” pinta Rico memelas.


”Cukup, aku mohon pergilah dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi,” pinta Bela seraya mengusir.


Hati Bela telah benar-benar hancur. Ia masih amat mencintai Rico namun ia tidak ingin menyakiti perasaan Anisa. Baginya membahagiakan Anisa lebih penting daripada raca cintanya.


Akhirnya iapun lebih bijak dalam mengambil keputusan. Demi menjaga persahabatannya, ia memilih pergi menjauh dari kehidupan Anisa dan Rico. Ia terpaksa harus meninggalkan lelaki masa lalunya yang masih amat dicintainya dan merelakannya untuk bersanding dengan sahabatnya. Meski pilu itu masih ada.

-----------------------------------------,,,,,,,,,,,------------------------------------------
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...