14 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 6:19 AM 23 comments


Anakku hari ini sengaja bunda menulis semua cerita tentangmu.  Meski beberapa tulisan bunda menceritakan tentang kelucuanmu, keusilanmu bahkan kenakalanmu, namun rasanya kurang lengkap bila tidak kembali menulisnya dari awal engkau lahir hingga sebesar ini.

Sudah lama sebenarnya, bunda ingin mengabadikan moment-moment indah bersamamu dalam sebuah buku, namun karena belum ada waktu, buku itupun belum sempat terealisasi.


Namun bunda sangat senang bisa bergabung dengan komunitas blogger dan Komunitas menulis lainnya.  Lewat Kumpulan Emak-emak Blogger, bunda mendapat kesempatan untuk menuangkan segenap rasa tentangmu, melalui event #DearSon.  Bersama mereka pula, bunda mendapatkan sebuah pelajaran hidup, bahwa senyatanya hidup itu penuh warna.


Anakku……..memilikimu adalah sebuah anugerah terindah bagiku.  Sujud syukur itu selalu bunda panjatkan atas kehadiranmu.  Tak mudah bunda memilikimu.  Satu setengah tahun bunda berjuang untuk mendapatkanmu.  Berbagai pengobatan bunda lakukan demi mendapatkanmu.  Meski harus menguras banyak tenaga, waktu bahkan materi, namun semua itu tak bunda hiraukan demi engkau.

Hadirmu, membuat hidupku bersinar...nak.  Betapa tidak.  Ternyata, semua pengobatan yang bunda jalani, bahkan sampai dokter yang ahli pun tak bisa membuatmu segera hadir di dunia ini.  Hanya untaian doa dan sajadah panjang yang bunda gelar tiap malam yang membuat engkau datang di kehidupan bunda.  Subhanallah mukjizat Allah sungguh luar biasa.

Aku merasakan betapa Allah sangat menyayangiku.  Dan aku pun merasakan sebuah keajaiban doa.  Disaat semua daya upayaku untuk mendapatkan seorang anak sudah mati rasa, hanya doalah yang bisa kembali menghidupkan semangatku.  Dan dalam keyakinanku doa itu benar-benar terkabul.  Terima kasih Ya Allah.




Anakku.......pada akhirnya bunda pun sadar, ternyata rencana Allah memang indah pada waktunya.  Engkau tidak segera hadir dalam kehidupan bunda, karena Allah telah menciptakan sebuah skenario untuk ayah dan bunda.  Bunda menikah dengan ayah karena perjodohan.  Dan begitu acara di kampung halaman selesai, bunda langsung mengikuti ayah ke Papua.  Bunda tak sempat mengenal lebih jauh tentang sosok ayah.  Dan waktu satu setengah tahun memang jarak yang Allah berikan kepada kami untuk saling mengenal satu sama lain.

Namun, bunda sangat bersyukur memiliki suami seperti ayah.  Tak henti-hentinya bunda bersujud kepada Allah atas anugerah terindah ini.  Walaupun engkau hadir setelah satu setengah tahun pernikahan bunda, namun ayah dan bunda tak pernah merasa kecewa akan semua ini.

Mengandungmu bukan hal yang mudah.  Hampir lima bulan bunda harus berjuang mempertahankanmu di rahim bunda.  Dan mengandungmu membuat bunda harus meninggalkan teman, aktivitas bahkan kegiatan yang selama itu bunda jalani.  Namun, karena bunda sangat menginginkan kehadiranmu, apapun bunda lakukan.  Bahkan, saat akan melahirkanpun, dokter menyarankan untuk melahirkan secara caesar, namun bunda menolaknya.  Bunda tetap kukuh ingin melahirkanmu secara normal.

Alhamdulillah, engkau lahir dengan sehat. Hadirmu membuat semua teman bunda ikut senang.  Meski saat itu bunda merasa kelabakan.  Engkau lahir di Papua, sementara tak ada saudara, kerabat bahkan family yang menemani bunda,  hanya teman dan tetangga, yang bunda anggap sebagai saudara, yang siap membantu bunda.


Anakku......hari demi hari engkau tumbuh dengan sehat.  Tak jarang orang-orang yang melihatmu selalu berebut ingin menggendongmu.  Di mall, saat bunda belanja, pelayan mall berebut ingin memegangmu, bahkan di warung sate, saat ayah dan bunda menikmati sepiring nasi dan beberapa tusuk sate ayam, penjual sate itu tiba-tiba menghampirimu dan menggendongmu.


Waktupun begitu cepat berlalu.  Engkau lahir di Papua pada tanggal 31 Juli 2005.  Selama enam tahun engkau hidup di Papua.  Selama itu pula bunda mengikuti perkembanganmu.  Namun karena kesibukan bunda sebagai anggota persit, tak setiap hari bisa mendampingimu nak.  Sering bunda menitipkanmu kepada tetangga saat bunda harus menghadiri sebuah acara.

Rupanya engkau membawa berkah bagi ibu-ibu yang bunda mintai tolong untuk menjagamu.  Tiga orang ibu yang sering menjagamu secara bergiliran tiba-tiba hamil.  Otomatis membuat bunda bingung, dan memutuskan untuk mencari ibu-ibu yang usianya lebih tua.  Tapi syukurlah, ibu-ibu di asrama sangat baik, mereka dengan ikhlas dan rela menjagamu dengan baik.

Hal yang menyedihkan, saat ayah harus bertugas ke Jawa mengawal jenazah anggotanya yang meninggal karena sakit, bunda terserang serampak.  Penyakit yang menyerang kekebalan tubuh bunda, hingga bunda merasakan demam dan seluruh tubuh bunda dipenuhi bintik-bintik merah.  Sementara engkau....tak begitu lama tertular penyakit bunda.  Syukurlah saat itu tetangga dekat bunda, rela merawat engkau dan membawamu tinggal bersamanya.

Betapa sedih hati bunda, saat bunda merasakan sakit tanpa ayah, sementara sakitmu juga kian parah nak.  Selain tertular virus serampak, engkau juga tidak cocok dengan susu kaleng.  Seluruh tubuhmu melepuh.  Begitu konsultasi dengan dokter, dokter menyarankan agar susu yang engkau konsumsi harus berpindah ke susu kedelai.  Demi engkau berapapun harga susu itu bunda tetap belikan.

Sayang....Papua tak seperti kota besar lainnya di Indonesia.  Bunda sempat kehabisan stok susu kedelai.  Om Ramdan, sopir ayah, yang sibuk mencari susu kedelai, ternyata tak berhasil juga mendapatkannya.  Sampai akhirnya, ketika engkau lapar, bunda hanya memberimu air putih hangat dicampur sedikit gula.  Itupun atas saran perawat pribadi bunda yang bunda anggap saudara sendiri.  Karena saat itu susu pengganti yang bunda berikan membuatmu mengalami diare yang hebat.

Duh....ingin rasanya bunda menangis.  Apalagi saat engkau tidak mau bunda gendong.  Engkau sudah tidak mengenal bunda lagi, karena sepuluh hari engkau tinggal bersama tetangga bunda.  Ya penyakit serampak itulah yang memisahkan kita nak.  Tapi syukurlah ketika ayah pulang, kita bisa berkumpul kembali, meski pada awalnya engkau meronta.  Ayah pulang dengan membawa sepuluh kaleng susu kedelai.  Kopernya bukan lagi berisi pakaian, melainkan sepuluh kaleng susu yang dibelinya di Jawa.

Anakku......menceritakanmu memang tidak ada habisnya.  Enam tahun engkau tinggal di Papua.  Selama itu pula engkau tinggal di lingkungan asrama yang kekeluargaannya sangat kuat.  Sayang, engkau harus dua kali berpindah sekolah karena kepindahan tugas ayah.  


Begitu ayah pindah ke Jawa engkaupun juga harus berpindah sekolah ke Jawa.  Kasihan memang.  Namun bunda yakin, engkau anak yang cerdas.  Kemanapun ayah dan bunda pergi, tak sedikitpun terbersit niat bunda untuk menitipkannya kepada nenek.  Bunda akan membawamu serta.  Karena bunda yakin, bersama bunda engkau pasti mampu.











Engkau memang lucu nak, setiap apa yang kaulihat selalu saja kau ikuti.  Tak jarang raket tenis kau jadikan gitar, kau berlagak seperti musisi yang menyanyikan sebuah lagu.  Hehehe....lucu mengingat masa kecilmu nak.

Saat ayah mengikuti pendidikan di Bandung, engkau tinggal bersama bunda di Blitar.  Selama itu pula engkau melanjutkan pendidikanmu di Blitar.  Tadinya bunda pikir engkau akan kesulitan mengikuti pendidikan di Jawa.  Ternyata, bunda salah.  Engkau sangat cerdas.  Dan engkaupun cepat menguasai bahasa Jawa meski bunda pun tak pernah mengajarkannya.  Bahkan yang membuat bunda bangga, setiap terima raport, engkau selalu mendapatkan rangking lima besar.

r

Engkau anak yang disiplin, tak pernah sekalipun engkau malas untuk pergi ke sekolah, meski badanmu terlihat agak sakit.  Bahkan dalam bidang agama engkau tergolong anak yang rajin.  Setiap sore tak bosan-bosannya engkau datang ke masjid untuk mengaji.  Hari Jumat, engkau juga berangkat sendiri ke masjid untuk menunaikan sholat Jumat.  Semua itu murni keinginanmu, tanpa paksaan dari ayah dan bunda.




Sekali lagi, engkau harus mengikuti ayah dan bunda pindah ke Denpasar, Bali.  Otomatis sekolahmu pun juga ikut pindah.  Beberapa teman bunda bahkan mengkhawatirkan kemampuanmu.  Bagaimana dengan pendidikannya, penguasaan bahasanya, atau pergaulannya?  Wajar memang.....namun bunda yakin, dengan bimbingan bunda, engkau pasti mampu.  Buktinya tanpa mengikuti les privat di luar sekolah, saat kenaikan kelas dua kemaren, engkau mendapat peringkat lima besar dari enam puluh siswa.  Meski engkau sempat menangis dan kecewa karena tidak bisa mendapat peringkat tiga besar, namun bagi bunda itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa.

Bunda sayang padamu nak.....selain anak yang cerdas, disiplin dan taat beribadah, engkau juga anak yang sangat iba dengan pemandangan yang menyedihkan.  Ingat tidak saat melihat seorang kakek yang pincang di tv?  Tiba-tiba engkau menangis merasa kasihan melihatnya.  Di lain waktu ketika bunda mengajakmu ke mall, saat itu kau lihat seorang bapak yang tidak punya kaki, berjalan dengan tangannya, lekas kau hampiri bapak itu, kau beri ia uang selembar lima ribuan.




Anakku......sekali lagi bunda sangat bangga padamu.  Menceritakan keunikanmu mungkin bisa jadi satu buku dan tak akan selesai dalam sehari.  Yang jelas engkau hadir sebagai bintang di kehidupan bunda.  Engkau selalu menyinari hari-hari bunda.  Saat marah, tiba-tiba marah itu berubah menjadi iba karena bunda menyesal telah memarahimu.  Yang ada bunda ingin selalu mendekapmu dan ada didekatmu.




Duhai anakku.......
Engkaulah bintang kehidupanku
Engkau hadir menyinari hari-hariku
Bersamamu.....hidupku penuh warna
Kobarkan api semangatmu....nak
Agar bunda tak mati rasa
Agar bunda selalu bahagia
Menjalani hari-hari yang penuh arti

Peluk cium dari bunda untukmu nak
Fawwaaz Rheznandya Rizki Yuandono 


Tulisan ini terinspirasi oleh cerita emak-emak KEB yang sangat menyentuh, senang rasanya bisa berbagi cerita disini.  Bagi yang ingin membaca cerita #DearSon lainnya, bisa klik link di bawah ini :
  1.  http://jihandavincka.wordpress.com/2013/09/09/dearson-fly-abandonedly-into-the-sun 
  2.  http://www.deyfikri.com/2013/09/dear-son-karena-ibu-sayang-aa.html 
  3. http://www.susantidewiok.blogspot.com/2013/09/dearson-farras-yang-menakjubkan.html 
  4. http://www.istiadzah.com/2013/09/dearson-this-story-is-about-you-mas-iam.html 
  5. http://astinas.blogspot.com/2013/09/dear-son-bukan-tom-and-jerry.html 
  6.  http://rurumahku.blogspot.com/2013/09/dearson-my-smile-and-my-hope.html 
  7. http://nurulnoe.com/dearson-ibu-sayang-kalian/ 
  8. http://eviindrawanto.com/2013/09/dear-sons-koko-dan-dede/ 
  9. http://www.elisakaramoy.com/2013/09/dear-son-bersamamu-mengukir-cerita.html 
  10. http://renapuspa.blogspot.com/2013/09/dear-son.html 
  11. http://pedas.blogdetik.com/2013/09/13/sepucuk-surat-lagi-untukmu-matahari-kehidupanku/ 
  12. http://emakgaoel.blogspot.com/2013/09/dear-son-untuk-fadhil-yang-super-keren.html 
  13. http://www.wylvera.com/2013/09/my-dear-son.html 
  14. http://kinzihana.blogspot.ae/2013/09/dearson-my-sun-my-moon-my-star-my.html 
Dan masih banyak cerita #DearSon lainnya, yang di update oleh emak-emak KEB setiap hari secara bergiliran, dan sebelum membaca cerita-cerita ini siapkan tissu ya, karena membaca cerita ini bakal menguras air mata, sangat mengharukan.  Selamat Membaca!!!
  
Categories:
Reaksi:

23 komentar:

  1. hebat mba... putranya pinter beradaptasi. senasib kita ya mak aku juga menghabiskan waktu ke dokter, laparaskopi dll buat punya anak eh kita sealumni lo, aku dari FE akuntansi ub, cm lebih tuwir dari mba Yuni

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.....sebuah perjuangan ya mbak untuk mendapatkan anak. wah seneng saya bisa ketemuan alumni UB disini, umur tak jadi masalah yang penting bisa menambah persahabatan dan mempererat tali silahturahmi, salam kenal ya mbak

      Hapus
  2. Terharu membacanya, semoga menjadi cerita yang indah buat Fawwaaz ya :)
    Terima kasih sudah mau menuliskan cerita di #DearSon, Mak Yuni *ketjup*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks....sepenggal kisah masa kecil fawaz MakPuh.......terima kasih sudah meninggalkan jejak disini ya MakPuh...peluk cium

      Hapus
  3. Surat cinta yang indah buat Fawwaaz, semoga. Titip sun buat anaknya ya, Mak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mak.......hehehe, nanti kutowelkan pipi tembemnya....makasih

      Hapus
  4. terharu baca ceritanya Fawwaz, Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sepenggal cerita sedih fawaz mak kala masih tinggal di pulau sebrang nu jauh disana hiks.....sedih juga bila mengingatnya

      Hapus
  5. Bravoooo Fawaaaaz dan Mak Yuni...aku merasakan sendiri 'serunya' hidup nomaden dan pindah-pindah...memang tidak mudah ya mak, taoi penuh warna..dan kalau kita menjalaninya dengan penuh syukur, Yang kuasa selalu bermurah hati....salam kompak buat kaka Fawwaz, toss dari Bo et Obi, yang suratnya lagi digarap :D...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga Mak, tak mungkin dilupakan ya...ditunggu suratnya ya hehehe.....

      Hapus
  6. Pasti Fawwazz bahagia dan haru membaca ini, Mak. Sungguh, Fawwaazz memiliki seorang ibu yang hebat dan penuh kasih. Salam sayang untuk putra tercinta ya, Mak. Trims for share. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe......sayangnya fawaz belum menerima surat ini Mak.....duh, jadi malu, saya masih belajar menjadi ibu yang baik. terima kasih sudah meninggalkan jejak disini

      Hapus
  7. Suka banget pas liat pake topi koboi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu topi kertas Mak, saat diundang ulang tahun anak tetangga hehehe

      Hapus
  8. Akan menjadi cerita indah untuk selalu dikenang, terutama untuk ananda Fawwaz :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya betul sekali mak.........cerita yang tidak akan dilupakan, oleh ibu dan anaknya

      Hapus
  9. Sedihnya pas berdua sakit tapi nggak ada ayah... Setiap ibu selalu punya kisah yang pantas menjadikannya memiliki gelar ibu yang hebat. Salam buat fawwaz :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak sedih banget, tapi saya bersyukur ada tetangga yang baik-baik, yang mau merawat saya dan Fawaz saat sakit, sementara suami dan kerabat dekatpun tidak ada, sungguh mereka sangat berjasa bagi kami...terima kasih mak

      Hapus
  10. Hebatnya si Fawaz ini,jagoan yunior Bunda yang bikin bangga MamaPapa :) Ceritanya sungguh mengharu biru deh ini Mak, bikin meweeeek wae, salam deh untuk si Bunda yang hebat n smart BIG HUG HUG :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe jangan mewek dong Maakkk ini cuma sepenggal kisah yang sudah berlalu cukup untuk di kenang saja biar gak mewek....salam baik untuk Mak Tanty peluk cium dari jauh

      Hapus
  11. ah mbak terharu sekali.. apalagi cerita yang di papua, semoga Fawas sehat selalu yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah mbak itu hanya kenangan yang tak kan terlupakan.......amien doakan ya mbak, terima kasih

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...