31 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 6:14 AM 12 comments


Ayah meninggal ketika aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA.  Sudah otomatis kehidupanku saat itu resmi berubah.  Apalagi sebagai anak sulung dari dua bersaudara, aku seolah dituntut sebuah tanggung jawab bagi kelangsungan hidup kami.

Ibu yang terus berjuang demi anak-anaknya, rasanya membuatku bersemangat untuk membantu usaha ibu.  Semua usaha dijalaninya, meski itu harus berjualan kue, tukar tambah sepeda atau bahkan membuka warung kelontong dan menjadi agen minyak tanah. 

Sejak saat itu aku mulai membuka mata.  Bahkan akupun menaruh harapan besar pada sebuah kesuksesan tentang pendidikanku.  Walau aku berasal dari keluarga pas-pasan, namun aku tak ingin pendidikanku berhenti di tengah jalan.

Aku mulai membuat tulisan dan mengirimkannya ke media.  Alhamdulillah beberapa tulisanku di muat.  Aku merasa tujuanku saat itu tercapai.  Honor yang kudapat dari pemuatan tulisanku cukup membuatku bangga, meski dilihat dari nominal jumlahnya tak seberapa.

Pengalaman itu resmi membuatku ketagihan untuk kembali membuat tulisan.  Dan lagi-lagi tulisanku dimuat, honorpun tak lama kemudian kuterima.  Namun, sebagai anak yang masih sekolah, kegiatanku amat padat, hingga akhirnya aku tak mempunyai waktu untuk kembali menulis.

Begitu lulus SMA, atas seijin ibu aku melanjutkan kuliah pada sebuah perguruan tinggi negeri di Malang.  Tujuan awalku untuk meraih gelar sarjana itu masih tetap terngiang dalam telingaku.  Bahkan aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.

Tanpa mengenal waktu, terus kuasah otakku agar aku bisa menguasai setiap mata kuliah yang kuikuti.  Alhasil ketika Ujian Tengah Semester atau Ujian Akhir Semester, selalu kuikuti dengan baik.  Dan alangkah bahagianya aku ketika IPK yang kudapat selalu diatas 3,5.

Ternyata pihak kampus memberi penghargaan atas hasil yang kuraih setiap semester.  Aku mendapat beasiswa Supersemar selama 1 tahun.  Sujud syukur selalu kupanjatkan kepada-Nya atas berkah ini.  Artinya aku bisa membantu ibu meringankan biaya kuliahku.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba temanku datang menawariku sebuah pekerjaan.  Wow….sebuah mukjizat doa, rupanya apa yang kumohonkan kepada Allah telah terkabul kini.  Tawaran itu jelas membuatku senang.  Artinya aku akan mendapat penghasilan tambahan dari pekerjaan itu.  Aku mengajar komputer  pada sebuah lembaga pendidikan di Malang.

Resmi…hari-hariku kulewati dengan penuh kesibukan.  Pagi sampai siang aku harus berada di kampus, sementara sore harinya aku harus mengajar anak-anak STM Telkom di lembaga pendidikan komputer. Namun semua itu sama sekali tak pernah menyurutkan semangatku untuk terus belajar dan bekerja, demi sebuah asa.

Sayang…..lembaga pendidikan itu hanya setahun berdiri.  Karena berbagai faktor akhirnya lembaga itu bubar.  Sedih, kecewa itu sempat mengalir dalam nadiku.  Namun aku tetap sadar, bahwa hidup manusia itu bak roda yang berputar.  Kadang ia di atas, kadang juga ia harus terima berada di bawah.  Karena itulah war na-warni kehidupan.

Sambil terus kupanjatkan doa kepada-Nya, aku berharap hal yang baik akan kembali menghampiriku.  Menjelang semester akhir, rupanya aku mendapat teman mahasiswa tugas belajar dari berbagai daerah.  Berteman dengan mereka ternyata mendatangkan keuntungan bagiku.  Mereka bahkan sering memintaku untuk mengerjakan tugas-tugasnya.  Walau dengan ikhlas aku membantunya, namun mereka tetap saja menyelipkan amplop sebagai tanda terima kasih atas jerih payahku.

Bahkan suatu waktu, aku pernah diminta untuk menyelesaikan skripsinya hingga selesai.  Dari situ aku mendapatkan bayaran yang lumayan cukuplah untuk membiayai kuliahku.  Kadang aku juga dipanggil untuk mengikuti seminar ujian skripsi teman-temanku tugas belajar.  Bayaranpun juga kuterima dari situ.  Alhamdulillah, rupanya Allah Maha Tahu atas kesulitan hamba-Nya. 

Ketika menunggu wisuda, seorang temanku datang lagi kepadaku.  Rupanya ia menawariku sebuah pekerjaan di perusahaan swasta yang berada di Sidoarjo.  Tanpa pikir panjang kuterimalah tawaran itu. Ini adalah sebuah kesempatan yang menurutku harus segera kuraih.

Melalui sebuah tes, akhirnya aku diterima bekerja di perusahaan itu.  Aku resmi hijrah dari Malang ke Sidoarjo.  Meski lembaran ijasah itu belum ada di genggamanku, namun berbekal surat keterangan dari fakultas yang menerangkan bahwa IPK terakhirku adalah 3,68 sudah cukup menjadi bukti kalau aku memang sudah lulus kuliah, dan gelar sarjana itu sebentar lagi kugenggam.

Sejak saat itu, hari-hariku resmi kuabdikan untuk perusahaan itu.  Aku bekerja semaksimal mungkin agar tidak mengewakan pimpinan.  Alhasil anak pimpinanku memberiku tawaran untuk mengerjakan skripsinya hingga selesai.  Bahkan ketika dia dinyatakan lulus, aku juga kebagian kebahagiaan.  Honor dari pekerjaan tambahanku dan sebuah pesta kecil diadakan anak pimpinanku demi merayakan kelulusannya.

Di lain waktu, kinerjaku dalam perusahaan itu di nilai bagus oleh pimpinan.  Akhirnya setiap perusahaan mendapat keuntungan dari penjualan produknya, akupun juga kebagian keuntungan itu.  Bahkan, di akhir tahun bonus yang kuterima pun lumayan besar.  Aku bisa membantu membiayai kuliah adikku.

Itulah perjalanan hidupku.  Meninggalnya ayah bukan kumaknai sebagai kemunduran, namun aku merasa lebih terpacu untuk bersemangat dan mengisi hidup menjadi lebih berarti.  Justru setelah ayah meninggal, aku pun merasa berubah.  Aku lebih menjadi pribadi yang bertanggung jawab. 

Terlebih aku tidak ingin menyia-nyiakan sebuah kesempatan.  Karena kesempatan itu datangnya hanya sekali.  Dan aku tidak ingin menyesal dikemudian hari.  Yang kuinginkan agar ayah disana tetap tersenyum melihat orang yang ditinggalkannya terus berjuang demi hidupnya.  Dan demi hidup itulah aku jadi bersemangat.  Terima kasih Ya Allah atas karunia ini……………

 

Categories:
Reaksi:

12 komentar:

  1. Subhanallah, pinter banget deh mbak Yuni. Selamat buat semua yang sudah diraih.

    Sukses ya buat GAnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe mbak Niken, belum pantas kalau saya dibilang pinter, karena masih banyak orang yang lebih dari saya. Saya hanya ingin menggapai sebuah kesempatan saja.
      Trima kasih mbak Niken

      Hapus
  2. Inspiratif, Mbak... Moga menang, ya... Ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe makasih banyak mbak Ira......

      Hapus
  3. Mbak Yuni T_T kisah ini seperti saya, tapi ayah saya meninggal saat saya sudah semester dua di perguruan tinggi...tapi dengan ditinggal ayah saya semakin semangat meraih mimpi, karena ayah menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya.



    Maaf OOT. saya bisa minta tolong isi kuesioner penelitian sya tentang belanja online disini http://goo.gl/TtxTqf

    Terima Kasih Banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itulah hidup, kadang kita tidak tahu perjalanan hidup seperti apa yang akan kita lakoni. Mengikuti aliran hidup mungkin adalah jalan yang terbaik agar hidup kita lebih bersemangat apapun yang terjadi.

      Makasih, insyaallah saya isi kuesionernya nanti

      Hapus
  4. Postingan ini mengingatkan gua akan banyak hal yg harus gua syukuri dalam hidup. Hiks.

    Postingannya udah gua catet untuk giveaway =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hidup hanya sekali, dan bersyukur atas jalan hidup kita adalah sebuah upaya untuk memaknai hidup.

      Makasih

      Hapus
  5. Seorang wanita yang berdarah Kartini.

    Bu Yuni, mungkin itu yang dapat saya ungkapkan untuk panjenengan. Iri sekali rasanya melihat kehebatan dan ketegaran Bu Yuni dalam memperjuangkan kemerdekaan hidup.

    Salut sekali. Saya pun juga akan terus berusaha untuk lebih meningkatkan kualitas dalam bermasyarakat, khususnya masyarakat Blogspere yang sedang kita jalani dan nikmati ini ya Bu Yuni.

    Semoga berjaya selalu dalam GA Fluntter.

    Terimakasih, blognya sudah saya follow, G+ nya juga sudah, dan sudah comment. Lengkap kan???

    Salam persahabatan dari Kota Jember.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.....wah terlalu berlebihan mas kalau saya dibilang Kartini. Saya belum seperti itu. Hanya menuangkan cerita sambil mengingat kenangan yang pernah melekat dalam diri saya beberapa waktu lalu.

      Terima kasih banyak mas atas kunjungannya dan follow serta komennya, nanti pasti akan saya follback.

      Hapus
  6. Saya terharu membaca tulisan ini. Sebuah perjalanan hidup yang benar benar menggugah hati dan membuka cakrawala hati dan pikiran kita semuanya. Saya pun sudah lama ditinggalkan oleh Kakek saya tercinta. Saya bisa memahami bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang kita sayangi. Salam hangat selalu dari kami sekeluarga di Pontianak

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...