Sepi.........itulah yang kurasakan saat Ramadhan pertama.  Nyaris tak ada kegiatan yang membuatku berarti, kecuali menemani anak semata wayangku dan menggerakkan jemariku di atas tuts netbook mungilku.  Terlebih bila mengingat suamiku nun jauh di sana.  Ingin rasanya ku elus dadaku.  Rasa sedih bercampur haru mengingat suamiku yang sendirian menjalani Ramadhan pertamanya.  Tak ada yang menyiapkan menu untuk berbuka walaupun hanya segelas air putih pembatal puasa.

Haru tiba-tiba menyeruak dalam batin ini manakala kami saling berbalas BBM (Blackberry Massanger)
"Papa sudah buka?"
"Sudah ma"
"Makan pakai apa?"
"Tidak makan, hanya minum segelas energent."

Duh......kasihannya melihat suamiku yang menjalani puasa seorang diri di pulau seberang.  Ini adalah Ramadhan pertamaku berpisah dengan suami sepanjang pernikahan kami.  Bukan tanpa sebab.  Namun aku menjalani ini tak lebih karena harus menuruti anak semata wayangku yang lebih memilih berlibur di rumah neneknya ketimbang berdiam diri di rumah dinas yang sekarang kami tempati.



Agaknya anakku kurang bersahabat dengan suasana di Denpasar.  Kalau dulu ketika kami masih di Papua, ada alasan untuk tidak menghabiskan masa liburan ke Jawa.  Selain tiket pesawat yang mahal, anakku masih tergolong kecil, hingga diapun lebih memilih menghabiskan masa liburannya di Papua.

Setahun aku di Jawa sambil menunggu penempatan suamiku di Denpasar.  Sepertinya hal itulah yang mendorong anakku untuk mencintai kampung halaman orang tuanya.  Kepindahannya ke Denpasar tak lain hanyalah bingung dihadapkan pada dua pilihan, berpisah dengan ayahnya atau kumpul bersama kedua orang tuanya.

Jadilah pikiran anakku bercabang.  Ketika libur tiba dia lebih memilih berlibur ke Jawa dan akan kembali ke Denpasar menjelang masuk sekolah.  Namun demikian, justru keadaan inilah yang menyadarkan kami.  Bahwa kami memang tidak bisa hidup terpisah dan saling membutuhkan.

Suamiku selalu mengharap kehadiranku untuk sekedar menemani hari-harinya, mencuci dan menyetrika bajunya atau bahkan membuatkan masakan kesukaannya.  Duuuhh...kembali aku trenyuh dibuatnya, ingat saat membuatkan sayur lodeh kesukaan suamiku.  Meski sayur lodeh biasa, namun dia sangat menyukainya.

Demikian juga anakku, dia akan menangis manakala berpisah lama dengan orang tuanya.  Jadilah kami selalu mendampinginya dalam segala hal.  Terutama dalam belajarnya, karena aku yakin anakku pasti mampu meraih mimpi-mimpinya bersama kami, orang tuanya yang selalu mendukung dan membimbingnya.

Sementara aku.  Pastinya hidupku akan terasa hambar tanpa kehadiran dua arjunaku.  Mereka adalah  sosok yang membuat hidupku penuh warna.  Bersama mereka kulalui hari-hariku dengan penuh canda dan tawa.  Kadang sedih pun tak kami rasakan, karena kami yakin bahwa kebersamaan akan membuat semuanya terasa indah.

Ramadhan pertama ini jelas membukakan mata batin kami untuk saling mencintai, mengusir lara dan membuang ego jauh-jauh. Karena senyatanya kami tidak bisa hidup terpisah.  Bahagia itu telah kurasakan kini, sebuah keluarga kecil yang saling menghargai, mencintai bahkan saling membutuhkan, telah melingkupi hidupku.  Doaku di bulan Ramadhan ini mudah-mudahan rasa sayang kami tak akan pernah pudar dan hanya mautlah yang sanggup memisahkan pendar-pendar cinta di hati kami.  Bismillahirrohmaniirrohim..............


4 Komentar

  1. hai mbak yuni, eeh itu anaknya gendut banget kelas berapa yaa sekarang??

    kalau ujiannya jauh begitu pas lebarang makin sip deh :D

    BalasHapus
  2. Itulah Ramadhan, mampu mengusik hati kecil kita terhadap rasa cinta yang dalam.

    BalasHapus
  3. Pasti rindu banget ya kak.
    Yang biasanya selalu berdua harus dipisahkan jarak karena ikatan dinas dan liburan.

    BalasHapus
  4. semoga do'anya dikaulkan, Mbak. Aamiin

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...