22 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:35 PM 18 comments


Cinta memang indah pada awalnya.  Tak heran bila dua insan yang sedang di mabuk cinta menganggap hidupnya bak di surga.  Hmm….sayang perjalanan cinta tak selamanya menorehkan cerita indah.  Kadang rasa pahit itu tiba-tiba harus ditelan pada endingnya.  Yah…kembali kepada takdir.  Manusia hanyalah pelaku dan bisa berencana, namun Allahlah yang menciptakan skenario atas perjalanan cinta manusia.


Andai hal yang pahit menimpa perjalanan cinta kita, marahkah kita? Lalu untuk apa kita marah.  Marah tak akan menjernihkan masalah.  Justru apa yang kita alami merupakan sebuah pelajaran yang menempa kita menjadi pribadi yang mandiri, tidak cengeng bahkan cepat atau lambat kita bisa menghargai diri sendiri.

Aku pernah dua kali gagal menjalin cinta.  Boleh jadi kegagalanku itu merupakan proses untuk menjadi pribadi yang mandiri.  Sebenarnya aku tak pernah mengatasnamakan ‘materi’ dalam setiap hubunganku dengan lelaki.  Bagiku seorang lelaki yang sabar, pengertian dan bisa menerima aku serta keluargaku apa adanya itu sudah lebih dari cukup.  Namun entah mengapa setiap kutemukan lelaki yang kuanggap cocok, setiap itu pula aku harus menelan pil pahit.  Lelaki itu pergi meninggalkanku demi mendapatkan wanita lain.

Seperti kembali membuka luka lama saat mengingat kisah ini.  Itulah perasaan wanita, sepandai-pandai ia menutup rapat cerita kelamnya, masih ada juga celah yang berusaha menerobos ruang batinnya.  Sungguh aku tak akan pernah bisa melupakan cerita ini, walau dengan ikhlas aku sudah merelakan dia untuk wanita lain.  Terus terang aku sadar, bahwa ia memang bukan jodohku, jadi untuk apa mengejarnya.

Satu hal yang menghantuiku adalah rasa sakit atas penghianatan ini.  Aku bukan hanya dihianati bahkan dicaci, dituduh seolah aku wanita murahan yang suka merebut pacar orang.  Astaghfirullah…….ingin rasanya aku protes, ingin rasanya aku berteriak, namun kepada siapa?

Mungkin orang lain menganggap aku sebagai wanita murahan karena ketidaktahuannya.  Dan akupun bisa memakluminya. Terus terang aku berkenalan dengan lelaki itu pada sebuah bus kota juga secara baik-baik.  Lalu bincang-bincang kami dilanjutkan di rumahku pada malam harinya.  Rupanya lelaki itu adalah kakak kelasku SMA yang sekarang bekerja di Bandung.  Semenjak pertemuan itu kami semakin akrab.

Aku menganggap dia lelaki yang baik dan santun.  Beberapa kali aku diajak kerumahnya dan dikenalkan ibunya.  Sama sekali tidak ada masalah.  Ketika suatu hari dia mengutarakan isi hatinya, akupun langsung menerimanya.  Jadi suatu hal yang wajar dan tidak ada salahnya bila kami menjalani hubungan yang serius.

Dua kali kami harus menjalani LDR (Long Distance Relationship), selama itu pula hubungan kami baik-baik saja.  Namun saat kami kembali dipertemukan, rupanya inilah akhir dari cerita cintaku.  Dia datang dengan membawa bencana.  Dia putuskan hubungan kami secara sepihak.  Sontak telingaku serasa tuli, mataku seperti buta dan lidahku seakan kelu, kala itu.  Hanya air mata yang terus mengalir, akupun tak kuasa membendungnya.

“Dia lebih romantis, dia lebih berani, setiap aku datang selalu disambut dengan ciuman dan tanganku di gandeng.”
“Beda dengan kamu, yang dingin, tidak mau dicium.”

Itu alasan dia memutuskanku.  Ya…hanya itu.  Selebihnya aku tidak tahu, karena kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya, yang membuatku geram dan ingin melemparkan bogem mentah ke mulutnya.  Namun sekali lagi……aku tak sanggup!

Selang beberapa hari, suara telpon bordering di rumahku.  Suara seorang perempuan, yang mengaku pacar mantanku, dan sempat memakiku dalam telpon.  Dia menuduhku wanita perebut pacar orang.  Padahal demi Allah aku mengenal lelaki itu baik-baik, dan diapun mengaku dirinya masih single.  Andai boleh memilih, justru akulah yang harusnya memaki wanita itu.  Namun buat apa?  Pertengkaran tak akan menyelesaikan masalah.

Sedih…..memang.  Namun aku tak mau terus larut dalam kesedihan.  Aku merasa harga diriku tengah di uji.  Karenanya aku berusaha menghibur diri dengan aktif di berbagai kegiatan.  Dan memang benar adanya.  Kejadian itu membuatku menjadi pribadi yang tegar.  Putus cinta bukan berarti lemah dan merasa terpojok.  Justru aku berusaha menunjukkan kepada semua orang bahwa aku seorang wanita yang kuat.

Hampir setahun aku hidup menjomblo, hingga akhirnya aku dikenalkan temanku seorang lelaki yang menurutku cocok buatku.  Setelah perkenalan itu, kami pun sering jalan bareng.  Kali ini lelaki itu berasal dari Surabaya dan bekerja disana juga.  Jadi menurutku sebuah jarak yang tidak terlalu jauh bila aku menjalin cinta dengannya, karena kebetulan waktu itu aku masih tinggal di Malang.

Dan memang benar, suatu saat kamipun mengikrarkan hubungan kami.  Yah..seperti layaknya pasangan yang baru jadian, hari-harikupun terasa indah.  Intensitas pertemuan kami jadi sering.  Namun rupanya, dia adalah lelaki penurut keluarga besarnya.  Neneknya tidak merestui hubungan kami.  Bahkan aku sempat dimakinya dalam telpon, aku dituduh wanita pengganggu kerja cucunya.

Astaghfirullah…..lagi-lagi aku dituduh ‘wanita pengganggu’.  Bahkan aku sempat berpikir, sedemikian jelekkah diriku. Hingga setiap hubungan yang kujalani selalu berakhir dengan kekecewaan?

Sejak perbincanganku dengan sang nenek di telpon, lelaki itu seolah bersembunyi dalam sebuah lubang yang teramat kecil.  Ia nyaris tak bisa dihubungi, apalagi ditemui.  Pupuslah harapanku.  Aku tak mau berharap banyak tentang hubungan kami.  Bahkan, di akhir cerita, aku mendapat kabar bahwa lelaki itu telah menikah.  Miris mendengarnya.

Dua kali gagal, membuatku harus dua kali pula menata hati.  Aku sadar, dunia ini hanyalah panggung sandiwara.  Aku hanyalah seorang pemain dari sebuah lakon yang telah diciptakan sang sutradara.  Justru disaat aku terjerembab dalam kegagalan, saat itu pula harga diriku tengah dipertaruhkan.

Aku yakin Allah pasti menciptakan skenario yang indah buatku.  Aku tak mau bermain-main lagi dengan hatiku.  Dalam pasrahku aku selalu berdoa, semoga Allah pertemukan aku dengan jodohku.  Selalu doa itu yang kupanjatkan, sampai akhirnya aku menerima jodoh dari langit.  Seorang lelaki yang kini menjadi suamiku adalah pilihan Allah.  Terima kasih Ya Allah, kan kurawat hubungan ini, karena untuk sampai ke titik ini aku harus berjuang mempertaruhkan harga diriku dalam pergulatan cinta.........





Categories:
Reaksi:

18 komentar:

  1. Duh mbak ... alur cintanya sebegitu seru juga ya. Moga samara rumahtangganya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenangan pahit mbak..hehehhe...makasih ya mbak....amin yra.

      Hapus
  2. Halo mbak Yuni, apa kabar?
    Melewati masa lalu seperti itu, tapi sekarang merasakan keindahan rumah tangga.
    Semoga sukses dengan GAnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah baik mbak......lama ya gak say hello hehehe.....
      Ya memang seperti itulah liku-liku hidup, mksh ya mbak Niken

      Hapus
  3. Ceritanya sangat memotivasiku mbak, aku jadi pengen dengar kisahnya pas ketemu suami yang skrg gmn ceritanya?? hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebuah kenangan pahit yang pernah kualami mbak susan....ntar cerita selanjutnya menyusul hehehe

      Hapus
  4. Jodoh memang Engga terduga ya mba...sudah 2x patah hati. Ternyata Allah memberikan yg lain Insya Allah terbaik. Terimaksih sudah ikutan GA KCHP. Tunggu pengumumannya ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap manusia yang dilahirkan memang punya skenario masing-masing, sedih dan senang tentunya sudah ditakdirkan Allah....terima kasih mbak Aida

      Hapus
  5. Jodoh dari langit, adalah jodoh yang telah Allah berikan pada setiap umatnya. Ketika kita mencari pasangan hidup belum tentu dialah yang akan kita nikahi karna Allah sudah mengatur semuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap betul setuju banget....makasih sudah berkunjung, salam kenal

      Hapus
  6. Bener2 pengalaman hidup yang sesuatu bangeeet deh :) siiip mb smoga sukses untuk GAnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe......pengalaman pahit mbak yang kadang bikin hati ini nggrundel bila mengingatnya......makasih mbak Tanty

      Hapus
  7. Hmm.. hayoo ini pengalaman atau curhat... hehehe... sukses yaaaa GAnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.....mbak Nunu, apa ya??? dicampur aja deh.....mksh mbak

      Hapus
  8. Selamat mbak...
    ceritanya bagus dan happy ending...mengharukan.. :D

    BalasHapus
  9. :'(
    Hmmm. Perasaan oh perasaan.
    Mungkin ini yang dinamakan proses pendewasaan.
    Selamat ya, Mbak. Alhamdulillah Mbak menang. :')
    Ceritanya. Huhuhuhu... >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, itulah kenyataan bukan mimpi, hehehe.....
      makasih mbak

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...