22 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 3:20 PM 13 comments
Ibuku memang seorang ibu rumah tangga yang sangat sederhana dan tak pernah macam-macam.  Beliau bukan seperti ibu-ibu pada umumnya yang suka dandan atau sering berganti-ganti baju.  Baginya pendidikan anak lebih penting.  Itulah sebabnya ibuku termasuk tipe pekerja keras.  Beliau lebih suka mengumpulkan uangnya di celengan ketimbang menghambur-hamburkannya untuk membeli sesuatu yang dianggapnya tak berguna.

Meski senang melihat wanita yang berdandan, tapi ibuku tidak pernah memakai bedak dan lipstik.  Bahkan bau tubuhnya pun berganti-ganti.  Ibuku akan tercium harumnya sehabis mandi dengan sabun bayi.  Setelah itu tergantung dimana ibuku berada.  Bila berlama-lama di dekat perapian, pasti yang tercium adalah aroma asap yang sangit.  Yang menyebalkan saat ibu berlama-lama mencabut rerumputan di belakang rumah, pasti deh aroma apeg tubuhnya mulai menyebar kemana-mana.

Ibu tak mau membeli parfum untuk mengharumkan tubuhnya.  Kata beliau itu sama halnya dengan menghambur-hamburkan uang.  Duh ibu.....pelit atau ngirit ya.......Namun begitu, dalam hal pergaulan ternyata ibu banyak temannya juga.  Bahkan tidak ada yang merasa risih berada di dekat ibu.  Mungkin sudah menjadi bawaan ibu kali ya, hingga orang-orang di sekitarnya memaklumi keadaannya.

Ibu memang kuno. Beliau menerima dirinya apa adanya, tak mau melebihkan atau menguranginya.  Ketika orang lain berusaha ingin bisa, tapi lain halnya ibu.  Sedikitpun ibu tak mau berusaha, apalagi ngoyo.  Pernah bapak membelikan mesin jahit untuk ibu.  Berulangkali mengajarinya, namun tak bisa juga.  Yang ada jarum mesin malah patah. Duhh ibu.....

Seolah tak jera dengan eksperimen pertamanya, bapak kembali mengajari ibu.  Kali ini bapak ingin ibu bisa naik sepeda motor.  Bapak membelikan ibu sebuah sepeda motor bekas yang bunyinya pun membuat telinga ini harus ditutup rapat-rapat.....sangat berisik.  Ternyata.....baru mulai belajar, ibu sudah memutar gas motor itu sangat kuat.  Alhasil motor itu melaju tak terkendali bersama ibu diatasnya.  Selang beberapa waktu kemudian.....braaakk...motor itu menabrak kandang ayam yang baru dibuat bapak, ban depannya terjepit diantara jeruji pintu kandang, sementara tubuh ibu terpelanting jatuh kedalam galian sampah di samping kandang ayam. Hahaha........bapakpun pasrah dengan semua itu.

Duh ibu, selalu membuatku terpingkal-pingkal.  Kadang ketika melihat acara di tv, tiba-tiba ibu tertidur dengan pulasnya.  Saat dering telpon di ruang tamu berbunyi, ibu langsung kaget dan lompat dari tempat duduknya menuju tempat itu. 

Berbicara tentang tempat duduk di depan tv, aku jadi ingat cerita adikku.  Hahaha...ngakak dulu deh melihat kelucuan ibu.....

Kursi itu memang sudah lapuk, namun ibu sering mendudukinya.  Saat makan pun ibu selalu menuju kursi itu sambil melihat tv. 

Suatu hari ketika ibu duduk di kursi itu sambil makan, tiba-tiba salah satu kaki kursi  patah dan braaaak.....ibupun terjatuh di lantai.  Karena terjepit badan kursi, ibu tidak bisa bangun.  Begitu melihat keadaan itu, adikku berusaha membantu ibu.  Sayang tubuh adikku terlalu kecil untuk mengangkat beban seberat ibu.  Akhirnya mereka berdua berusaha mematahkan bangkai kursi yang lapuk agar ibu terbebas dari badan kursi yang menjepitnya.  Dan....berhasillah mereka, ibu bisa berdiri lagi.

Berbicara masalah telpon dan alat elektronik lainnya ibuku tergolong gaptek.  Mungkin orang lain akan berlomba-lomba membeli handphone baru agar komunikasinya lancar.  Namun tidak dengan ibu.  Cukup dengan telpon rumah saja yang irit.  Akupun pernah menyarankan ibu untuk membeli handphone yang murah, tapi sekali lagi ibu menolaknya.  Alhasil, ibu pernah berjalan sepanjang 10 km gara-gara acara yang diikutinya batal.

Coba kalau ibu mempunyai handphone, minimal bisa menelponku untuk menjemputnya kalau tidak mau mengeluarkan uang untuk naik kendaraan umum.

Ibu memang gokil abis.  Seringkali aku dibuat malu oleh tingkah ibu.  Pernah suatu hari ibu kebagian giliran ketempatan arisan.  Jam sudah mendekati dimulainya acara, namun pembawa uang arisan belum datang juga.  Akhirnya seorang teman ibu meminta ibu untuk menelponnya.  Lama ibu membolak-balik buku telpon, sampai akhirnya ibu pun memanggilku.  Dan aku membantu ibu mencarikan nomor telpon yang dituju, dan tak begitu lama kutemukan nomor itu.  Ibu pun tak mau memencet tombol telpon dengan alasan takut kesetrum.

Setelah kupencet tombol telpon itu segera kuberikan gagang telpon kepada ibu.  Dan ibu langsung berkata....
"Halo....halo....halooooooo bu Weny cepetan....haloooo"
Tak begitu lama ibu menggedor-gedor gagang telpon, lalu.....
"Maaf ibu-ibu telpon saya rusak, tidak bisa dipakai......."

Haahhh...aku pun terperanjat.  Segera mungkin kuhampiri box telpon itu, kucoba ngetest telpon itu ke nomor handphone-ku, ternyata bisa.  Duh ibu......pasti belum ada sahutan dari pihak yang di telpon ibu sudah nerocos saja.  Malu-maluin aja ibu ini.

Tak mau ketinggalan, seorang ibu juga menghampiri box telpon yang dianggap rusak.  Dia pun balik mencoba telpon itu.  Di cobanya nomor telpon tadi, dan tak begitu lama terjadilah percakapan antara pihak penelpon dan penerima telpon.  Setelah itu....ibu itu langsung nerocos juga.

"Duhh....bagaimana bu Sholeh ini, wong telpon masih bagus gini kok di bilang rusak?"
"Mbaaakkk.....nanti ajari tuh ibunya cara menelpon agar tidak dibilang rusak lagi!"

Jleppp....seperti tertampar mukaku langsung memerah....duhh ibu-ibu malu-maluin aja, pakai acara telpon rusak lagi.  Sementara ibu hanya cengar-cengir seolah merasa tak bersalah.

Yah...itulah ibu dengan segala kenorakannya, kegokilannya, kelucuannya yang malu-maluin.  Tapi semua itu tak kan pernah menyurutkan rasa sayangku pada ibu. I luv U Mom.......


 

Categories:
Reaksi:

13 komentar:

  1. Bukann gokil tapi sederhana, apa adanya dan tak mau hidup boros.
    Semoga berjaya dalam kontes
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha......ya apalah pak de namanya......terima kasih pak de

      Hapus
  2. Ibu mbak polos, lugu. Salam untuk Ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mbak, makasih ya mbak

      Hapus
  3. Duh, jadi kangen ibuku..
    Salam juga buat Ibunya mbak.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibu selalu ngangeni ya disaat kita jauh dari beliau
      makasih

      Hapus
  4. hehe, saya juga ada cerita unik tentang ibu saya mbak, semoga bisa segera menuliskannya

    sukses mbak dengan GA nya :D

    salam kenal juga dari saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo buruan ditulis ceritanya biar aku juga bisa baca, terima kasih, salam kenal balik

      Hapus
  5. Wah karakter bunda yang naif alias lugu adalah ciri khas orang jama dulu yaa mbaa... inget ibu mertua malahan..hihi sukses untuk GAnya ya ;)

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. ibu memang yesssss....makasih ya mbak

      Hapus
  7. Terima kasih sudah ikutan
    Tunggu pengumumannya dalam waktu dekat ini ya ;)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...