Cegah Stunting, Yuk Jadilah Konsumen Yang Cerdas

Stunting merupakan sebuah bentuk kekurangan gizi kronis dimana keadaan ini baru nampak ketika anak berusia dua tahun. Meski demikian stunting ini dapat terjadi ketika janin masih berada dalam kandungan. Akibat kekurangan gizi inilah mengakibatkan pertumbuhan anak menjadi tidak normal, bahkan terlihat lebih pendek dari kebanyakan anak diusianya alias "kuntet".




Stunting termasuk salah satu malnutrisi yang ada disekitar kita. Dan menurut sumber WHO, Indonesia termasuk negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada tahun 2017, yaitu sekitar 36,4 persen. Namun di tahun 2018, menurut Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) stunting di Indonesia menurun menjadi 23,6 persen. Bahkan stunting pada Balita pun juga menurun prosentansenya menjadi 30,8 persen. 

sumber: Kemenkes RI dan dari data yang diolah

Meski menurut faktanya kasus stunting di Indonesia terus mengalami penurunan, namun belum sesuai standart WHO, karena batas maksimal menurut standar WHO adalah 20 persen atau seperlima dari jumlah balita.


Penyebab Stunting


Penyebab stunting karena kurangnya asupan gizi di masa 1000 HPK (Hari Pertama Kelahiran). 1000 HPK itu dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari). Saat inilah disebut saat terpenting dalam hidup seseorang, dimana dalam fase ini menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang. Inilah yang harus diperhatikan oleh ibu hamil, karena asupan gizi ibu hamil sangat mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam kandungannya, bahkan mempengaruhi fungsi memori, konsentrasi, pengambilan keputusan, intelektual, mood, dan emosi anak dikemudian hari.

Lalu bagaimana seorang ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan akan zat gizi?

Tentunya dengan cara mengkonsumsi makanan sumber zat gizi, makanan  yang difortifikasi zat gizi (susu atau MPASI yang difortifikasi) atau mengkonsumsi suplemen zat gizi (berupa obat) bila si ibu hamil ini sudah didiaknosis memiliki gejala klinis kekurangan gizi.

Bertempat di aula Gedung Keuangan Negara I, Jl. Kusuma Atmaja, Renon - Denpasar, pada tanggal 7 Desember 2019, sebanyak 155 undangan terdiri dari Muslimat NU se Bali, blogger dan media menghadiri sosialiasi tentang kasus stunting di Indonesia dan pentingnya bijak menjadi konsumen yang cerdas dalam rangka Hari Kesehatan Nasional 2019, dengan mengambil tema:

YAICI - Muslimat NU Gelar Edukasi Gizi Bagi Ibu 
untuk Menyikapi Iklan Pangan Menyesatkan dalam Upaya Melindungi 
& Mewujudkan Generasi Sehat, Indonesia Unggul

foto credit: Arina

Hadir di acara ini beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya, yaitu:
  1. Gubernur Bali yang diwakili oleh Ibu Dian Nurdiani SKM, MPH selaku Kabid Kesmas.
  2. Dinas Kesehatan Propinsi Bali yang diwakili oleh Ibu Dian Nurdiani SKM, MPH selaku Kabid Kesmas.
  3. BPOM Propinsi Bali yang diwakili oleh Ibu Budiastuti Arieswati, S.Si., Apt., M.Kes selaku Ahli Muda dan Pengawas Farmasi dan Makanan.
  4. Ketua PW Muslimat Propinsi Bali, Ibu Dra. Hj. Ani Haniah, MA.
  5. Ketua Harian YAICI, Bapak Arif Hidayat, SE, MM.

Dalam sosialisasi ini YAICI atau Yayasan Abihpraya Insan Cendekia Indonesia yang berdiri sejak tanggal 28 Juli 2017 bertekad mengawal surat edaran BPOM tentang label dan iklan pada produk Susu Kental Manis (SKM) dan mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa menurut faktanya SKM ini bukanlah susu tetapi minuman  yang terbuat dari gula dan susu serta hanya bisa dipakai sebagai topping untuk makanan.


Jadi yang harus diketahui oleh para ibu khususnya yang mempunyai anak balita, bahwa SKM ini bukanlah susu yang baik dikonsumsi oleh anak-anak sebagai pengganti ASI, tetapi fakta sesungguhnya tentang SKM adalah:
👉 SKM mengandung gula 40 - 50 persen
👉 SKM mengandung kadar gula tinggi, sehingga dapat meningkatkan resiko diabetes dan obesitas pada anak
👉 SKM banyak mengandung gula yang dapat merusak gigi anak
👉 Kandungan gizi didalam SKM sangat rendah dibandingkan jenis susu lainnya.
👉 Kalsium dan protein SKM lebih rendah dibandingkan susu bubuk atau susu segar.

Lalu apa bahayanya bila anak mengkonsumsi SKM terlalu banyak?
Bila anak terlalu sering mengkonsumsi SKM, maka ia akan mengalami beberapa hal dibawah ini, diantaranya:
👉 Masalah gizi
👉 Karier gigi
👉 Gangguan pola makan
👉 Resiko penyakit degeneratif seperti obesitas dan diabetes
👉 Menghambat pertumbuhan karena kekurangan kalsium, kelebihan gula dan karbohidrat.

Hal inilah yang bisa menghambat pertumbuhan anak. Jadi berhati-hatilah dalam memilih susu, karena tidak semua jenis susu baik dikonsumsi setiap hari. Meski demikian susu merupakan salah satu sumber protein hewani dan sumber kalsium yang baik dan disukai anak-anak. Susu juga merupakan salah satu asupan penting dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, karena kandungan nutrisi yang tinggi untuk memenuhi kesehatan tulang. Dan memang dianjurkan bagi anak-anak yang sedang berada di fase tumbuh kembang untuk mengkonsumsi susu agar maksimal pertumbuhannya.

Beberapa jenis susu yang ada disekitar kita diantaranya:
  • ASI - ASI eksklusif wajib diberikan bagi bayi usia 0-6 bulan dan dapat diteruskan sampai usia 2 tahun.
  • SUSU UHT - boleh digunakan untuk anak usia diatas 1 tahun.
  • SUSU KEDELAI - boleh digunakan untuk anak usia diatas 1 tahun.
  • SUSU SAPI SEGAR - boleh digunakan untuk anak usia diatas 1 tahun.
  • SUSU PERTUMBUHAN - dapat digunakan untuk anak usia diatas 1 tahun atau sesuai petunjuk usia pada kemasan.
  • SUSU KENTAL MANIS - boleh digunakan untuk topping makanan.
Dari jenis susu diatas, diketahui bahwa Susu Kental Manis memang bukan susu yang baik dikonsumsi oleh anak-anak, melainkan hanya boleh dijadikan topping makanan seperti pudding susu, es teler dicampur susu, cake dan sebagainya.

Anjuran untuk tidak memberikan SKM kepada anak juga seringkali disampaikan pada saat posyandu, makanya petugas puskesmas gencar mensosialisasikan kepada kader posyandu agar tidak memberikan PMT (makanan tambahan) untuk balita ditimbang berupa SKM, susu kotak atau produk susu dalam kemasan. Mengingat anak butuh kecukupan gizi, sebaiknya saat posyandu PMT yang disediakan berupa bubur kacang ijo, atau makanan olahan yang dibuat sendiri dan tidak mengandung bahan pengawet atau pemanis buatan.

Bahkan para ibu yang memiliki anak balita hendaknya bijak serta pandai menjadi konsumen yang cerdas. Terutama dalam memilih makanan sehat untuk buah hatinya. Iklan tentang produk susu yang dirasa kurang mendidik hendaknya harus diperhatikan secara seksama, jangan sampai termakan oleh iklan yang menyesatkan. Termasuk kasus stunting yang terjadi di Indonesia, selain kurangnnya asupan gizi dan nutrisi di 1000 HPK, bisa juga kurangnya perhatian ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak-anak. Termasuk salah satunya memberikan mereka snack tidak sehat, seperti sosis, nugget siap saji atau minuman susu dalam kemasan kardus dan botol.

Sehat itu berawal dari isi piringku. 

Salah satu cara mencegah stunting adalah dengan memperhatikan batas konsumsi GGL atau gula, garam dan lemak, dimana menurut saran Kementerian Kesehatan RI per orang per hari adalah:
👉 Gula 50 gram atau setara dengan satu sendok makan
👉 Garam 5 gram atau setara dengan satu sendok teh
👉 Lemak 67 gram atau setara dengan lima sendok makan minyak.

Rumusnya adalah G4 G1 L5

Sementara untuk rumus panduan piring makan adalah setengah dari piring makan terdiri dari sayuran dan buah, seperempat piring makan diisi dengan protein dan seperempatnya lagi diisi dengan biji-bijian utuh dari beras, gandum dan pasta.

Dengan menjadi konsumen yang bijak saat membeli produksi makanan dan minuman dalam kemasan, serta memperhatikan asupan gizi yang seimbang, niscaya kasus stunting yang terjadi di Indonesia dapat terus menurun dan pada akhirnya akan sesuai dengan standart yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mari cegah stunting demi mewujudkan generasi sehat dan cerdas!!!

Posting Komentar

25 Komentar

  1. Semoga dengan sosialisasi ini banyak orangtua yang terbuka pikirannya dan menjadi konsumen cerdas ya. Yup, semoga dengan gizi yang seimbang, kasus stunting akan terus berkurang di Indonesia.

    BalasHapus
  2. Semoga sosialisasi semacam ini kian dipergencar..gak hanya utk cegah stunting tapi juga pemahaman yg tepat ttg gizi

    BalasHapus
  3. Memang butuh sosialisasi yang menyeluruh untuk mencegah stunting yah. Suka sedih lihatnya kalau ada anak yang stunting karena ibunya kurang edukasi.

    BalasHapus
  4. Stunting saat ini menjadi kekhawatiran tersendiri ya mbak, saya juga sediakan asupan gizi dan susu untuk si anak-anak. Untuk si kecil masih ASI Ekslusif mbak.

    BalasHapus
  5. Sosialisasi seperti ini memang harus dilakukan secara berkala, agar semakin banyak para ibu yang tercerahkan mendapatkan informasi yang akurat untuk mencegah stunting pada anak

    BalasHapus
  6. Sosialisasinya bagus sekali utk terus mengingatkan orgtua Indonesia spy lebih memperhatikan asupan makan anak2nya ya. Sayapun sejak hamil sudah concern dgn stunting ini, dsa anak jg ikt pantau. Untuk urusan susu, saya skrg berikan formula dan uht untuk anak

    BalasHapus
  7. Datanya bikin terenyuh rata-rata propinsi NTT ya mbk. Semoga bisa berkurang stuntingnya

    BalasHapus
  8. Sejak dulu, saya juga gak pernah menganggap SKM sebagai susu yang bisa dikonsumsi seperti susu lainnya. Rasanya terlalu manis. Ya biasanya memang saya jadikan topping aja

    BalasHapus
  9. Setuju mbak, susu yg banyak mengandung banyak gula berpotensi penyebab karies gigi, apalagi kalo diminum sebelum tidur dan tanpa gosok gigi.

    BalasHapus
  10. Waktu saya kecil, saya sering dikasih susu SKM Mba, hahaha.
    Sekarang Alhamdulillah pakai SKM buat toping doang.

    Tapi masih ada loh perusahaan yang membodohi karyawannya dengan memberikan SKM sebagai kewajiban dari syarat terpenuhinya ISO :D

    BalasHapus
  11. bener si mbak, minum minum yang mengandung gula trus lupa gosok gigi yang memicu karies gigi lebih cpt, kata dokterku juga begitu... huhu

    BalasHapus
  12. Isi pirjng yang berwarna dan penuh sayuran serta buah segar akan sangat bergizi.. sedih ya stunting masih menjadi masalah di Indonesia. Di sisi lain banyak yang obesitas

    BalasHapus
  13. Duku tuh orang anggap remeh banget soal stunting. Apa karna dulu tuh informasi soal stunting nggak segede ini ya? Smoga berkurang anak yang stunting ya

    BalasHapus
  14. Wahhh daerahku Buton Tengah masuk dalam daerah yang paling banyak angka stuntingnya yaa, Mba, huhuhu :(

    BalasHapus
  15. Semoga dari tahun ke tahun kasus stunting di Indonesia bisa semakin menurun lagi ya Mbak Yun. Kalau bisa jadi 0%. Ini artinya kecukupan gizi ibu hamil dan balita bisa merata di seluruh pelosok tanah air.

    BalasHapus
  16. Bener-bener banget, kudu jadi konsumen yang cerdas. Supaya makanan yang kita konsumsi terpantau nutrisinya dengan baik ya Mbak!

    BalasHapus
  17. Stunting emang ngeri banget karna bahayanya gak keliatan gitu kan, jadi orang tua harus jeli kalau mulai melihat gejala

    BalasHapus
  18. Swdih banget kalau ada yg abai ttg stunting ini.
    Apalagi buibu yg punya anak balita
    Alhamdulillah
    Makin banyak tulisan ttg stunting
    Bikin ortu makin melek

    BalasHapus
  19. Sebagai ibu, masih sering khawatir dengan persoalan stunting ini, berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memberikan gizi seimbang pada anak, anak-anak malah doyan SKM karena rasanya manis, untungnya hanya dijadikan toping roti

    BalasHapus
  20. Ternyata banyak banget ya, mbak. Dampak kurang baik yang diakibatkan mengonsumsi SKM. Aku juga baru tahu ��

    BalasHapus
  21. Aku ini termasuk stunting bukan ya? Xixixixi
    Habisnya diantara dua saudaraku aku ga tinggi, paling mungil jadinya kalau beli gamis ga pernah pas, kepanjangan mulu.

    BalasHapus
  22. Benar banget jadi konsumen kudu cerdas, jangan sampai menjadi korban iklan, karena susu kental manis bukanlah untuk anak anak di bawah 6 bulan

    BalasHapus
  23. setuju bangt kak. saya masih banyak juga harus belajar. apalagi ini pengalaman pertama dan masih anak pertama. takut2 gizi anak kurang eiii.

    BalasHapus
  24. Setuju banget bund, banyak mitos tentang kehamilan yang menyesatkan. Contohnya mitos tuna kaleng yang katanya tidak boleh dikonsumsi saat hamil. Ini mitos ya bund, justru nutrisi dari ikan Tuna baik untuk pertumbuhan bayi karena mengandung tinggi protein dan omega-3.
    Semoga bermanfaat dan sukses selalu!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...