Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang Touring Denpasar Sampai Blitar

Menjadi istri seorang tentara dan mendampinginya kemanapun bertugas menjadi sebuah kebanggaan bagiku.  Senang bisa berpindah-pindah sekaligus menambah wawasan akan keanekaragam budaya Indonesia.  Aku jadi tahu adat, tradisi dan kebudayaan beberapa pulau di Indonesia.  

Namun disisi lain, ada sebuncah haru manakala rindu kampung halaman tapi tak bisa pulang, atau bahkan memikirkan ribetnya mengurus pindahan yang harus bawa barang-barang dari satu pulau ke pulau lain.  Sudah pasti butuh tenaga, waktu dan biaya ekstra.  Belum lagi proses perpindahan sekolah anak yang belum tentu sesuai ekspektasi.  

Kadang sempat terpikir, akankah anak bisa secepatnya beradaptasi dengan lingkungan baru? Atau dia nyaman dengan teman-teman barunya? Sungguh menjadi sebuah dilema, namun inilah resiko yang harus kuambil demi kebaikan bersama. Kemanapun suami dipindahtugaskan, aku dan anak harus mendampinginya, meski ada sebagian yang harus dikorbankan.

Lama kami menetap di Papua, itupun harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, sebelum akhirnya kami menetap di Denpasar.  Kebetulan aku dan suami sama-sama berasal dari Blitar jadi tidak ada kendala pada saat mudik ke kampung halaman.

Dulu sewaktu masih di Papua, kami jarang memikirkan mudik, karena bila kita berani mudik ke pulau Jawa itu artinya kita harus punya cukup tabungan untuk biaya perjalanan, dan setelahnya kita harus kembali bekerja keras demi terkumpulnya tabungan yang sudah terpakai. Perjalanan ke Jawa kami tempuh dengan jalur udara. Biaya pesawat untuk tiga orang pulang-pergi ditambah biaya di kampung halaman sangat besar. Sudah kebayang kan mengapa kami jarang mudik. Bukannya tak sayang orang tua, namun biaya di Papua hampir semuanya mahal. Kami harus pandai mengelolanya agar kebutuhan kami tercukupi.

Sekarang, ketika kami sudah pindah ke Bali,  biaya yang kami perlukan untuk mudik tidak sebesar dulu.  Jarak Denpasar - Blitar bisa ditempuh dengan berbagai jalur,  bisa dengan pesawat tujuan Denpasar - Surabaya atau Denpasar - Malang, bisa dengan bus malam, bisa dengan travel bahkan bisa pula dengan kendaraan pribadi.

Dulu awal suami dinas di Bali, aku memutuskan sementara waktu menetap di Blitar sambil menunggu proses pengurusan rumah dinas.  Selama satu tahun kami menjalani hubungan jarak jauh. Namun rasa was-was itu kerapkali muncul manakala mendapati suami yang tiba-tiba sudah sampai di rumah Blitar.  Setiap Jumat petang sehabis Maghrib, ia selalu nekat pulang ke Blitar dengan mengendarai sepeda motor, barulah keesokan harinya sampai Blitar.

Yang terbayang dalam benakku adalah penjalanan panjang di malam hari, mengingat jarak Denpasar - Blitar sangat jauh. Belum lagi rasa kantuk yang tiba-tiba melanda atau hujan yang turun dengan tiba-tiba. Itulah alasanku mengapa aku harus mendampingi suami saat ditugaskan di Bali, karena tidak tega melihat kenekatannya mudik setiap minggu. Dan semenjak kami sama-sama tinggal di Bali, hasrat untuk mengikuti jejak suami mudik ke Blitar naik motor makin besar.

touring

Ceritanya, waktu itu menjelang Hari Raya Nyepi.  Banyak yang bilang menjelang Nyepi semua warga non Hindu terutama yang berasal dari Banyuwangi dan sekitarnya akan mudik.  Selama Nyepi berlangsung, mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi keesokan harinya semua warga tanpa terkecuali tidak diperbolehkan beraktifitas diluar rumah. Rumah harus ditutup, lampu dimatikan. Bahkan siaran TV dan sambungan internet juga dinonaktifkan. Kebayangkan sepinya suasana saat Nyepi, terlebih ketika malam hari. 

Jadilah kami bertiga nekat pulang ke Blitar mengendarai Honda PCX, dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Jam 6 pagi aku berangkat dari Denpasar, berharap perjalanan lancar dan cepat sampai penyeberangan Gilimanuk.

Ternyata di sepanjang perjalanan antara Tabanan sampai Negara sangat macet.  Sepagi itu umat Hindu sudah memadati jalan-jalan mengadakan upacara arak-arakan, mereka bilang "melis", membuang sesajen ke sungai.  Meski macet, tapi kami menikmati pemandangan itu.  Barisan anak-anak memakai baju adat lengkap dengan udeng dan kamennya bagi yang laki-laki dan bagi perempuan memakai kebaya dan kembennya.  Ada juga pertunjukan tari barong yang memukau.

touring


Sepanjang perjalanan kami menikmati arak-arakan umat Hindu menjelang Nyepi tiba, hingga akhirnya kami tiba di penyeberangan.  Memasuki penyeberangan ternyata tidak mudah.  Ada petugas yang memeriksa kelengkapan kendaraan, meliputi STNK, SIM dan KTP.  Bila semuanya lengkap baru diperbolehkan melanjutkan perjalanan.  Sebelum sampai kapal kami diharuskan membayar Rp. 15.000,- di loket pembayaran, baru kami bisa masuk kapal.  Sampai di kapal, motor di parkir di bawah dan penumpang diarahkan naik ke atas.

Sebuah pengalaman yang pertama kali kualami saat naik kapal. Aku jadi tahu ternyata naik kapal seperti itu.

Dan ternyata jarak tempuh penyeberangan untuk sampai ke Jawa hanya 30 menit.  Begitu sampai di Banyuwangi, kami lanjutkan perjalanan.  Ternyata lama juga dari Denpasar ke Banyuwangi.  Jam 6 kami berangkat, dan jam 12 siang kami baru melanjutkan perjalanan.

Baru sebentar kami jalan tiba-tiba hujan turun.  Tapi sejak awal kami sudah menyiapkan jas hujan lengkap.  Namun selengkap-lengkapnya jas hujan ternyata jika hujannya turun deras, bocor juga.  Ada bagian yang terkena siraman air hujan.  Akhirnya suamiku mengajak lewat arah Situbondo, karena ada anggotanya yang tinggal disana dan bisa dijadikan tempat singgah sementara.

Perjalanan menuju Situbondo kami harus melewati hutan yang panjang dan sepi.  Sementara hujan lebat tengah melanda, jadi kami harus menerjang arus air yang kencang.  Sesekali ketika kami berpapasan dengan truk besar atau barisan Motor Gede, kami harus menerima percikan air hujan bahkan air lumpur sampai ke helm kami.  Hehehe.....menyenangkan sekaligus menyedihkan.

Tak berapa lama setelah melewati hutan yang panjang kami sampai di rumah anggota suamiku.  Lumayan bisa istirahat sebentar.  Kami disambut dengan baik, disediakan makanan yang bisa mengganjal perut yang sedari tadi berteriak tanpa dihiraukan.  Bahkan kami bisa mengganti pakaian yang ternyata memang benar-benar basah gara-gara terjangan hujan lebat di hutan tadi.

Dua jam kami istirahat, setengah tiga kami melanjutkan perjalanan.  Duh ternyata panjang sekali jarak yang harus kami tempuh.  Dan kami pun memang sedang diuji kesabaran karena pada saat itu cuaca tidak bersahabat.  Ya, itulah resiko mengadakan perjalanan darat di musim hujan.  Jalan baru beberapa kilo hujan turun demikian seterusnya.  Sampai akhirnya kami tidak pernah melepas jas hujan meski dalam keadaan panas.

Rute yang kami lewati dari Situbondo adalah Bondowoso, Paiton, Probolinggo.  Jalan yang sangat panjang.  tapi untunglah di sepanjang jalan ada saja pemandangan yang bisa kami lihat, hingga perjalanan kami tidak membosankan. Kami bisa melihat hamparan pantai, bahkan kami bisa menyaksikan kepulan asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Paiton. 

Setelah Probolinggo jalan yang kami tuju adalah Pasuruan, di situ hujanpun juga masih mengguyur meski rintik-rintik.  Namun waktu ternyata tidak seperti dalam bayangan.  Jam 7 malam kami sampai Probolinggo.  Anakku mulai merasakan kejenuhan.  Akhirnya aku mengajak suami untuk berhenti sejenak di tempat penjual mie ayam agar rengekan anakku berhenti.  Kami nikmati mie ayam di pinggir jalan.  Nikmat juga bila hujan-hujan menikmati mie ayam yang hangat ditambah tes manis hangat.

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan, berharap sampai Blitar sekitar jam 9 malam.  Ternyata hujan pun masih juga turun dengan lebatnya.  Setelah Pasuruan, kami menuju Purwosari dan Lawang.  Sampai di Lawang hujan turun amat deras dan berkabut, maka kami memutuskan untuk berteduh di depan toko yang tutup.  Berharap semoga hujan lekas reda.  Ternyata hujan tak juga berhenti malah semakin deras.  Akhirnya kami memutuskan untuk menerobos lebatnya air hujan.  Sebenarnya kasihan melihat anakku yang terus kehujanan, tapi sudahlah harus bagaimana lagi demikianlah keadaannya.

Sampai di Malng kota cuaca benar-benar terang, tidak ada tanda-tanda hujan turun sebelumnya.  Jalanan sangat kering tidak ada bekas siraman air hujan.  Akhirnya kami putuskan untuk berhenti dan melepas jas hujan yang sedari tadi membalut tubuh kami.


Sampai akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Blitar.  Dalam perjalanan menuju Kepanjen sampai Blitar kabupaten lancar-lancar saja tidak ada tanda-tanda turun hujan.  Suamiku mengemudikan motor dengan kencang supaya cepat sampai rumah, karena jam ditanganku sudah menunjukkan angka 11, berarti sudah jam sebelas malam.

Memasuki kota Blitar kembali hujan turun, lekas-lekas kami berhenti dan mengambil jas hujan untuk kami pakai lagi.  Tak berapa lama akhirnya kami sampai rumah dalam keadaan basah karena jas hujan yang tidak tertutup rapat.  Setelah membersihkan diri dan makan malam serta sedikit bercerita dengan orang rumah, akhirnya kami tidur pukul 12 malam.

Dua hari kami berlibur di Blitar karena suamiku mendapat ijin dari kantor 4 hari.  Memang ada pengumuman ketika Hari Raya Nyepi semua jalur transportasi ditutup termasuk penyeberangan, bandara dan sebagainya.
Waktu dua hari bisa kugunakan untuk istirahat melemaskan urat-uratku yang terasa kaku.  Perjalanan itu membuatku capek sangat.  Sekaligus menyenangkan.

Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan balik Blitar - Denpasar pada sore hari setelah nyepi berharap malamnya bisa menginap di Situbondo dan keesokan harinya bisa menyeberang ke Denpasar.

Ternyata manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan.  Hujan kembali turun di kota Malang.  Ya, memang Malang terkenal sebagai kota hujan.  Apalagi bila musim hujan tiba, pasti Malang akan sering turun hujan.  
Setelah berunding dengan suamiku, akhirnya aku mengajaknya untuk bermalam di Probolinggo, kebetulan ada kakak sepupuku yang tinggal di sana.  Kubuka semua kontak di hp jadulku.  Alhamdulillah nomor kontak kakakku masih ada dan saat kuhubungi masih nyambung.  Setelah mendapat ijin dari kakakku untuk bermalam di rumahnya, akhirnya kami m elanjutkan perjalanan.  

Umumnya jarak dari Malang  ke Probolinggo hanya 2 jam.  Saat itu kami berangkat dari Malang jam 4 sore, kemungkinan sampai Probolinggo jam 6 sore.  Ternyata Malang macet. Kami terjebak di kemacetan.  Memang jalan menuju Terminal Arjosari saat ini sangat macet, beda banget saat aku kuliah dulu.  Depan lapangan rampal trus arah ke Arjosari sampai Lawang, kendaraan harus rela antri bila ingin melewati jalan itu.

Akhirnya sampai Probolinggo sudah jam 8 malam.  Ketika kubuka hpku ternyata ada 8 kali panggilan tak terjawab dan 5 buah sms dari kakakku yang mencemaskan kami, karena sampai jam 8 malam belum juga sampai Probolinggo.  Setelah di jemput keponakanku akhirnya kami sampai rumah kakak.

Kami dijamu dengan aneka makanan yang membuat kenyang perut kami.  Setelah membersihkan diri, makan malam dan berhaha hihi dengan si empunya rumah akhirnya kami tidur malam.

Keesokan harinya setelah berpamitan dengan kakak dan keluarganya akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Denpasar.  Di perjalanan kembali anakku merengek, dia ingin singgah di Situbondo, rumah anggota suamiku.  Dua jam perjalanan kami dari Probolinggo ke Situbondo.  Di Situbondo kami singgah sebentar untuk beristirahat.

Tepat jam 1 siang habis sholat Dhuhur kami melanjutkan perjalanan.  Untunglah cuaca bersahabat, hujan belum turun.  Kami kembali melewati hutan yang panjang dan sepi.  Disitu akhirnya aku membayangkan suamiku yang sering pulang sendiri ke Blitar mengendarai motor.  Tengah malam, sendirian, harus melewati hutan yang gelap, sepi dan panjang seperti itu, belum lagi di dera rasa kantuk yang datang tiba-tiba atau bahkan air hujan yang tanpa di duga jatuh membasahi jalanan.  Duhh, kasihan suamiku, perjuangannya untuk menemui orang-orang tercintanya harus ditempuh dengan jarak ratusan kilo.

Jam 3 sore kami sampai di penyeberangan Ketapang - Gilimanuk.  Ternyata di luar dugaanku.  Tadinya aku berharap perjalanan bisa lancar.  Di jalan yang mengarah penyeberangan antrian sangat panjang dan tak terbendung ramainya.  Mereka berjejal dan berebut ingin bisa di depan.  Kamipun ikut dalam barisan itu.  Ada bus malam yang dari kemaren antri karena penyeberangan baru saja di buka.  Keadaan itu yang membuat Nahkoda kapal kalang kabut, karena satu kapal tentu tidak akan bisa memuat sekian banyaknya kendaraan.

Akhirnya petugas pelabuhan di bantu polisi ikut mengatur pemuatan kendaraan.  Para pengemudi kbuah kapal kendaraan bermotor saling berebut ingin naik di sebuah kapal yang ditunjuk.  Seperti biasa setiap akan memasuki pelabuhan harus membeli tiket tanda masuk di loket.  Ternyata antrian sangat panjang dan berjubel.  Akupun ikut menerobos kerumunan orang di loket itu. Tak kupedulikan cacian orang yang penting aku dapat tiketnya.  Dari situ kembali kami berebut lagi untuk bisa naik kapal.

Disitu kulihat pemandangan yang membuat aku harus mendesah.  Seorang pengendara mobil, mungkin dia orang kaya ingin mendapat perlakuan khusus, sampai harus adu mulut dengan nahkoda kapal dan petugas pelabuhan.  Kebetulan nahkoda kapalnya seorang wanita.  Ramai banget perseteruannya.  Sungguh sangat mengenaskan.

Ditengah hiruk pikuknya pengendara motor, mobil dan truk, akhirnya kami bisa ikut menerobos masuk ke kapal dan suamiku bisa mendapatkan tempat parkir motor meski harus berdesakan.  Seperti biasa setelah memarkir kendaraan kami naik ke atas mencari tempat duduk, sambil menikmati penyeberangan.  Capek rasanya menghadapi situasi seperti itu, belum lagi bawaan yang kubawa. Aku memanggul tas rangsel yang sangat berat, seberat bom atom.

Lumayan juga bisa duduk di kapal, bisa istirahat sebentar.  Suamiku bilang keadaan seperti itu hanya waktu-waktu tertentu saja.  Tidak tiap hari penyeberangan seperti itu.  Buktinya waktu berangkat kemaren lancar-lancar saja.
Setengah jam kami menyeberangi Ketapang - Gilimanuk, sampai akhirnya kami tiba kembali di Pulau Dewata.
Sungguh tidak sesuai harapan lagi.  Jalanan kembali macet, kali ini bukan lagi dipenuhi oleh upacara adat melainkan arus balik pendatang yang membuat sesak jalanan.  Kami harus berebut jalan agar bisa sampai Denpasar.

Kembali kami tempuh perjalanan yang panjang dan gelap.  Sesekali kubetulkan letak dudukku, karena rasa bete sudah dari tadi menderaku ketika harus berebut di jembatan penyeberangan.

Jam 10 malam kami sampai di Denpasar, perut rasanya sudah tidak kuat untuk menghentikan teriakannya.  Kami berhenti di penjual nasi goreng asli Blitar.  Kupesan 3 bungkus nasi goreng sebagai santap malam di rumah.  Setelah itu kami menuju asrama.  Kubuka kunci pintu dan kulihat kasur empukku yang memanggil-manggil.  Ingin rasanya aku segera merebahkan tubuhku diatasnya.  Tapi aku ingat tubuhku perlu dibersihkan dari debu yang sekian centimeter membalut tubuhku.  Dan perutku dari tadi terus berteriak-teriak ingin dimanjakan.  Akhirnya kuurungkan niatku untuk mengurus kasur kuutamakan tubuhku, tubuh anakku, suamiku dan perut kami, baru setelah itu kumanjakan kasurku.

Ya, itulah perjalananku yang menjadi pengalaman pertamaku.  Aku menyebutnya touring Denpasar  - Bali karena kami harus menempuh jarak berkilo-kilo untuk sampai tempat tujuan.  Banyak sahabat, saudara, kerabat bilang kami terlalu nekat.  Tapi bagi kami itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berharga sekaligus menjadi pengalaman yang tak pernah terlupakan.


Yuni Handono
Yuni Handono Blogger, Penikmat Kuliner, Suka Travelling

3 komentar untuk "Mengenang Touring Denpasar Sampai Blitar"

  1. Membayangkannya pegel banget nih mak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe gak usah dibayangkan langsung di praktekkan mak, pasti deh seru

      Hapus
  2. thks ya mbaaa, berkat artikel ini aku terbantu bikin tulisan..muaccch ;)

    BalasHapus