22 November 2016

Posted by Sri Wahyuni on 9:37 AM 15 comments

Wow sudah hampir 40 tahun nih...sedih, marah, takut atau nangis? Enggah lah ya. Seperti bumi yang selalu berputar pada porosnya, umur manusia pun makin hari makin bertambah. Bukan untuk disesali, namun harus dinikmati. Syukur-syukur dengan bertambahnya usia, kita lebih produktif bahkan bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Begitu menapaki tangga #UsiaCantik, saya serasa ingin kembali mengingat perjalanan yang telah saya lalui. Barangkali kalau tidak menikah dan merantau, mungkin saya tak mempunyai banyak pengalaman. Seolah semuanya sarat dengan pelajaran hidup. Dan inilah alasan saya untuk resign dari tempat kerja. Saya menikah dengan seorang tentara berpangkat letnan satu waktu itu, dan berdinas di Papua. Sebuah pulau yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan demi pengabdian kepada suami, saya bertekat menjadi pendamping suami kemanapun ia bertugas.

Sudah pasti semua rasa bercampur menjadi satu saat itu. Sedih...karena harus meninggalkan ibu, sanak saudara, kampung halaman dan teman-teman kerja. Bahagia...karena saya sudah mempunyai suami dan siap menjadi istri yang sanggup melayaninya dalam berbagai hal. Sekaligus was-was....menjalani hidup di Papua, sebuah pulau di ujung timur Indonesia, yang saya sendiri belum tahu bagaimana adat istiadat dan kebiasaannya. Bahkan yang menjadi ketakutan saya adalah bagaimana menghadapi ibu-ibu yang notabene adalah istri tentara, sementara mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda?

Yah....Papualah tempat saya memulai kehidupan baru. Hidup dengan suami di sebuah rumah dinas berukuran kecil. Kala hujan datang kadang rumah kami kebanjiran karena selokan belakang rumah tersumbat kotoran. Kadang pula saya harus numpang mandi ke tetangga gara-gara saluran air tidak mengalir dengan lancar.

Bahkan, kami harus menjalani hidup dalam keprihatinan. Hidup ngirit karena harga kebutuhan di Papua sangat mahal, ditambah kami harus berjuang demi mendapatkan anak. Ya...hampir dua tahun kami berjuang, berbagai terapi, pengobatan bahkan beberapa dokter kandungan saya datangi. Otomatis menguras tenaga dan pikiran saya.

Jujur, semenjak gadis saya bukanlah tipe orang yang suka dandan. Namun saya juga bukan orang yang cuek pada penampilan, terutama untuk masalah perawatan kulit. Kebetulan kulit wajah saya berjerawat, jadi saya sering bolak-balik ke dokter kulit demi menyembuhkan jerawat. Anehnya, semenjak menikah kulit wajah saya jadi bersih. Jerawat membandel yang kadang bermunculan di wajah hingga ke punggung, tiba-tiba menghilang. Apakah ini merupakan efek setelah menikah...(bingung deh).

Ternyata menjadi istri tentara itu sangat sibuk. Saya yang tengah berjuang mendapatkan keturunan waktu itu, sudah cukup sibuk lahir dan bathin, datang dari satu tempat ke tempat lain untuk berobat. Belum lagi menghadapi situasi di lingkungan asrama. Ibu-ibu yang datang ke rumah untuk sekedar berkonsultasi, atau bahkan mengadukan masalahnya. Sementara didalam asrama pun kegiatan sangat padat. Olahraga bersama, pertemuan anggota, menerima pesanan tumpeng dan makanan ringan. Belum lagi mempersiapkan diri bila ada kunjungan, acara ulang tahun satuan atau bahkan berlatih senam, tarian dan sebagainya saat menghadapi perlombaan.

Bersyukur dua tahun penantian saya membuahkan hasil. Allah mempercayai saya untuk bisa mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Bagi saya melahirkan di perantauan menjadi sebuah pengalaman berharga. Hanya ditemani suami, minim pengalaman, tentu membuat saya mencari tahu sendiri bagaimana masa-masa awal memiliki bayi. Dan alangkah bahagianya saya karena tinggal di lingkungan yang penuh kekeluargaan. Tetangga sudah saya anggap saudara sendiri, mereka siap membantu kesulitan saya.

Kini, bayi laki-laki saya sudah berusia 11 tahun,  yang sebentar lagi akan menamatkan bangku Sekolah Dasar. Namun kenangan mendampingi tumbuh kembangnya menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Saya bersyukur bisa menjadi ibu yang merawat dan membesarkan anak tanpa campur tangan pembantu. Banyak kenangan yang masih terpatri di benak saya, mulai saat kami sama-sama terserang campak ketika suami tugas ke Jawa. Atau bahkan anak saya yang alergi susu sapi, sehingga suami saya yang jauh-jauh dari Jawa pulang ke Papua menenteng koper berisi 10 kaleng susu soya.

Dan inilah kesalahan terbesar saya. Karena minimnya pengetahuan, akhirnya Fawaz, anak semata wayang saya adalah anak “sufor”, dan hanya beberapa bulan saja menikmati ASI. Sedih mengingatnya....namun masa itu telah berlalu, tak mungkin saya terus menyesalinya. Saat ini saya lebih fokus untuk membesarkan Fawaz dan membimbingnya menjadi anak yang mandiri dan sukses dalam segala hal.

Fawaz, anak semata wayang saya
Menjadi istri tentara memang banyak suka dukanya. Setiap waktu siap mendampingi suami berpindah tempat tugas, otomatis anak yang menjadi korban. Harus berpindah-pindah sekolah dan kembali menyesuaikan dengan lingkungan baru. Kadang harus menjalani LDR (Long Distance Relationship), yang tentunya tidak mudah. Selalu ada masalah atau kendala saat menjalaninya.

Inilah yang membuat saya harus mendampingi suami kemanapun bertugas. Beberapa tahun bertugas di Papua, kini suami saya ditugaskan di Denpasar, Bali. Saya kembali mengikuti suami dan memboyong anak untuk bersekolah di Bali. Bukan karena ego, namun hidup bersama dalam satu rumah akan menambah keharmonisan rumah tangga ketimbang menjalani LDR.

kegiatan di organisasi
Sama seperti di Papua, di Bali pun banyak kegiatan yang saya lakukan. Aktif di organisasi Persit (Persatuan Istri Tentara), aktif juga di Posyandu bahkan sempat pula menjadi guru les privat di rumah. Permasalahan pun masih tetap sama, sekali waktu saya ngumpul dengan ibu-ibu, sharing berbagai permasalahan dan mencari solusi pemecahannya.

Kegiatan di Posyandu
Sebagai seseorang yang dulunya pernah bekerja, sayapun sempat merindukan suasana kerja. Namun lagi-lagi harus saya tepis angan itu demi menjadi pendamping setia keluarga kecil saya. Saya bukan lantas diam tanpa berusaha. Berbagai upaya saya lakukan, mulai mengusahakan pengadaan atribut, baju olahraga dan perlengkapan Persit sampai menjalankan bisnis online. Bahkan saya mulai belajar ngeblog.

Ngeblog disela-sela rutinitas organisasi, sosial dan ibu rumah tangga

Sejak kecil saya memang suka menulis. Pernah menang lomba menulis di SD dan mendapatkan piagam. Pernah juga mendapatkan uang karena tulisan saya dimuat di media. Atas dasar inilah akhirnya saya mencoba ngeblog dan kembali belajar menulis. Meski bukan seorang blogger aktif atau penulis yang sering dimuat tulisannya, namun berkat ngeblog ini saya banyak mendapatkan berkah.
seru banget kalau sudah ngumpul bareng blogger
Sibuk dengan urusan organisasi kadang membuat tubuh saya penat, saya seolah terkurung dalam sangkar dan tidak bisa berkutik. Berkat ngeblog saya bisa menemukan keluarga baru, dimana banyak undangan berdatangan, temanpun semakin banyak. Disamping itu, dengan belajar menulis di blog sayapun pernah beberapa kali memenangkan lomba blog dan mendapatkan hadiah. Beberapa kali pula saya bergabung dalam proyek antologi dan mempunyai buku antologi. Inilah yang membuat saya semakin memantapkan diri menjadi ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah.

salah satu buku antologi saya bersama Pakde Cholik CS
Pernah suatu hari saya mengumpulkan foto mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah hingga menjadi ibu rumah tangga. Suami saya tertawa ngakak seolah tidak percaya bahwa foto yang saya tunjukkan itu benar-benar wajah saya. Bahkan, saat menghadiri acara reuni teman SMP di Jawa, sebagian dari mereka sempat berujar kalau kini wajah saya berubah jadi cantik. Hehehe.....serasa tersanjung sampai ke langit sap tujuh.

Wajah yang berubah dari tahun ke tahun

Apalagi saat belanja di sebuah mini market, lalu sang kasir menawari saya sesuatu:
“Pulsa isi ulangnya tidak sekalian mbak, atau mungkin minyak gorengnya. Mumpung ada diskon mbak.....”
Waaah....hari gini saya masih dipanggil “mbak” rasanya seperti kembali muda. Berarti wajah saya awet muda dong....padahal saya ini sudah 39 tahun yang sebentar lagi akan memasuki usia 40 tahun. Sudah tidak muda lagi bukan?

Kalau ditanya pencapaian apa yang sudah saya dapatkan menjelang usia 40 tahun, tentunya sudah banyak. Tak perlu saya jelaskan satu persatu, intinya saya bersyukur atas nikmat Allah yang luar biasa ini. Bahwa saya diberi kehidupan dan keluarga yang membuat hidup saya penuh warna, semoga semuanya berkah dan menjadi bekal di akherat kelak.

Keluarga yang selalu mensupport kegiatan saya
Saya berusaha menikmati bertambahnya usia dengan sesuatu yang positif. Memang, masa muda tidak akan pernah kembali. Kitapun tidak akan pantas berdandan ala anak muda atau bersikap seolah menjadi muda kembali. Namun kita harus menjelma menjadi pribadi yang matang, yang berani mengambil sikap dan mengelola kehidupan menjadi lebih baik.

usia 39 tahun
Berada di rentang #UsiaCantik harus kita hadapi dengan sikap dewasa. Jangan bersedih manakala garis kerutan di wajah mulai tampak, atau keriput di kulit bermunculan. Atau jangan panik saat satu persatu uban mulai bersarang di kepala kita. Akan tetapi kita harus pandai mengelola emosional, memanfaatkan sisa waktu untuk berbagai hal positif.

Kini, ketika anak sudah beranjak dewasa, saatnya bagi saya untuk “me time”, berusaha merayakan pertambahan usia dengan kegiatan yang bermanfaat. Saya berusaha memanage waktu sebaik mungkin agar kegiatan organisasi sebagai istri tentara bisa berjalan beriringan dengan kegiatan sosial dan ngeblog atau menulis serta aktifitas sebagai ibu rumah tangga. Bukan sekedar memoles bagian luar agar tetap tampik cantik namun berusaha menyeimbangkan seluruh anggota tubuh termasuk mengontrol emosi dan menjadi pribadi yang lebih gesit dan energik meski usia sudah 39 tahun.

anak sudah besar, saatnya "me time" nih

Untuk urusan kulit, saya mempercayakan pada rangkaian produk L'Oreal Revitatalift, seperti:

Revitalift Milky Cleansing Foam 
Sabun pembersih muka anti-aging, yang diperkaya dengan BHA + Glycerin yang secara lembut membantu mengangkat sel kulit mati dan menjadikan kulit tampak muda. Disamping itu, sabun pembersih ini mampu mengangkat sisa make-up, kotoran dan debu yang menjadikan kulit bersih. Menyiapkan kulit untuk perawatan rutin Anti-wrinkle + firming untuk hasil yang lebih maksimal.

Revitalift Dermalift Day Cream 
Krim siang untuk melawan tanda penuaan. Merupakan teknologi baru Dermalift yang meningkatkan produksi 8 natural lifters yang merawat kekencangan kulit dari dalam, dikombinasikan dengan Pro-Retinol A bahan anti-wrinkle yang mengoptimalkan regenerasi kulit. Mengandung Centella Asiatica dengan 2 aksi: mencegah timbulnya kerutan dari dalam dan memperbaiki kerutan dari luar. Teksturnya lembut dan ringan meresap dengan cepat kedalam kulit. Produk ini memberikan perlindungan terhadap UVA & UVB untuk mencegah penuaan diri.

Revitalift Dermalift Night Cream 
Krim malam untuk melawan tanda penuaan. Saat malam, kulit beregenerasi 2x lebih cepat, krim dengan formula inovatif yang menstimulasi 8 natural lifters pada kulit wajah untuk mengoptimalkan regenerasi kulit wajah. Saat bangun tidur, kulit terasa lembab, lembut dan nyaman. Kulit terasa lebih halus dan elastis, kerut tersamarkan. Selain itu, produk ini dikombinasikan dengan Pro-Retinol A bahan antri-wrinkle yang mengoptimalkan regenerasi kulit. Mengandung Centella Asiatica dengan 2 aksi: mencegah timbulnya kerutan dari dalam dan memperbaiki kerutan dari luar.

Revitalift Intensive Repairing Essence 
Serum untuk melawan tanda penuaan. Merupakan serum untuk membantu memaksimalkan kerja produk perawatan kulit. Kandungannya 10 kali lebih aktif dibandingkan dengan Day Cream, sehingga memberikan perawatan intensif , kulit terasa lebih kencang dan tampak lebih muda, karena didalamnya merupakan kombinasi Pro-Retinol A bahan anti-wrinkle yang mengoptimalkan regenerasi kulit.


Dengan rangkaian produk L'Oreal Revitalift Dermalift, sayapun tidak khawatir akan pertambahan usia saya. Bahkan, ketika menapaki tangga-tangga #UsiaCantik saya dapat menikmati setiap jengkal bertambahnya usia dengan menghadirkan kebahagiaan dan meminimalkan emosional. Niscaya, segala keresahan menghadapi pertambahan usia, seperti perasaan tidak lagi terlihat cantik, keresahan akibat munculnya tanda-tanda penuaan, dapat kita hindari.


Tentunya dengan cara memaksimalkan potensi diri. Apalagi saat anak sudah mulai dewasa, saatnya kita mengoptimalkan “me time”, membuat kulit wajah kita tetap berseri meski usia tak lagi muda. Dan Loreal Revitalift-lah jawabannya.



banner-lomba-usia-cantik

Categories:
Reaksi:

15 komentar:

  1. kalau istri tentanra ngga boleh keraj ya mba <--nanya beneran

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh mba Kania.....banyak kok istri tentara yang kerja, namun harus bisa membagi waktu antara waktu kerjanya dengan kegiatan di Persit.

      Hapus
    2. Setahu saya tentara itu jam kerja kadang tinggi. sering di tinggal keluar kota juga. Kasihan si kalo anaknya jarang ketemu sama orang tuanya karena sibuk kerja :) cuman ngasih unek unek aja kok mbak :D hehe

      Hapus
  2. Malah keliatan tambah muda ya mbak, sehat selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Amun yra... Terimakasih mbak

      Hapus
  3. Merantau di papua dan menjalani hari2 sebagai istri abdi negara hihi, sungguh pengabdian yang mulia mb yuni
    Cantik memang kompleks dan sangat relatif
    Jika hati memancarkan sesuatu yang positif niscaya kecantikan akan terpancar dg sendirinya
    Wah harus kurekomendasikan ni produknya ke ibuku mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merantau menjadikan kita kaya pengalaman Mba...
      Silahkan direkomendasikan mbs, semoga cocok ya

      Hapus
  4. Hai mba Yuni, usia 40 tahu tapi dipanggil 'mba' pasti senang banget. Hiiihii. Seru juga ya jadi istri tentara :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.... Berasa muda ya mbak....

      Hapus
  5. Perjalanan hidup berpindah dari satu pulau ke pulau lain, itu pengalaman yg tak terlupakan ya mbak. Usia cantik itu sesuatu banget, ga usah pakai ragu menjalaninya.

    BalasHapus
  6. alhamdulillah masih dipanggil mbak :)
    semoga makin menginspirasi di usia cantik ini yaa
    sukses buat lombanya

    BalasHapus
  7. Wah mbak Sri kok malah makin cantik, dan keliatan tambah muda, aja,,,
    semoga sehat selalu ya mbak Sri...

    BalasHapus
  8. Salut utk Mba Yuni yang tetep semaangat ngeblog di sela-sela aktifitas ibu persit yang padat. Sehat dan sukses selalu ya mba..

    BalasHapus
  9. Maknyus ulasannya mbak, benar-benar mewnggugah yang lain, tapi jangan sampai artikel ini dibaca istri saya, karena pasti langsung memesa. kecuali kalau sudah tanggal muda hehehe

    BalasHapus
  10. Emang kalonada yang manggil mbak pada kita tuh berasa doping, makin semangat seharian ngurusi rumah, hahahaa. Eh tapi nggak terlihat usia 39 loh. Mungkin karena bahagia menjalani hidup jadi terlihat lebih muda ya mba

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...