29 Agustus 2016

Posted by Sri Wahyuni on 7:27 AM 13 comments
Kemarin saya menghadiri acara pernikahan gurunya Fawaz. Namanya pernikahan, pasti sudah biasalah ya...Namun ini pernikahan adat Bali. Memang selama 3 tahun tinggal di Bali, baru kali ini saya bisa menghadiri acara seperti ini. Pasti yang terbersit dalam benak saya tak lain adalah aneka macam pikiran dan berandai-andai.

Wow...pernikahan adat Bali, bagaimana dengan pakaiannya, bagaimana dengan acaranya, makanannya atau bla...bla...bla....pikiran-pikiran itu kerap menghantui saya manakala diundang acara pernikahan adat Bali.

Namun, saya didera sebuah perasaan berhutang budi. Guru yang sudah dua tahun menjadi wali kelas anak saya, guru yang telaten mengajar, bahkan dengan rela meluangkan waktunya untuk memberi les privat di rumah meski jarak rumahnya dan sekolah amat jauh. Haruskah saya mengabaikan undangannya?

Setelah bertanya kesana-kemari perihal pakaian dan acaranya, akhirnya saya memantapkan diri untuk menghadiri undangan dari gurunya Fawaz. Yah....sudah pasti saya harus memutar otak untuk memilih busana yang pas. Dan rasanya tidak mungkin saya akan mengenakan gamis yang membuat para tamu undangan malah takut melihat saya hehehe.....
Nyaman dengan turban Kaloka 


Saya putuskan memakai celana dan kebaya berlapis manset, dengan turban yang menutup kepala saya. Rasanya cocok untuk menghadiri pesta pernikahan adat Bali. Kali ini saya mencoba memakai turban instan dari Kaloka. Jujur, saya bukan maniak turban, bahkan cenderung malu memakai turban diacara-acara lain. Namun dengan turban instan dari Kaloka ini membuat saya merasa nyaman tampil di acara semeriah ini.

Memang acara pernikahan adat Bali jauh berbeda dengan pernikahan adat Jawa. Kebetulan di rumah si empunya hajat tidak memasang janur di pinggir jalan, jadi saya atau bahkan orang lain tidak tahu kalau sebenarnya sedang berlangsung pesta pernikahan.

Yang terlihat unik adalah rumah mempelai laki-laki dimana pesta ini berlangsung. Dari pintu masuk saya tidak melihat ramainya tamu karena bentuk rumah Bali pagarnya terbuat dari tembok agak tinggi dengan pintu tertutup. Begitu masuk ke satu pintu, maka pemandangan yang saya lihat sudah berbeda. Ada deretan para penerima tamu yang siap menyambut kedatangan para tamu. Mereka berpakaian adat Bali. Yang wanita dengan kebaya dan kambennya, sedang yang pria memakai kamen dan udeng.

Kedua mempelai tidak duduk di singgasana pengantin, karena singgasana tidak ada. Mereka berjalan menyambut dan menemani para tamu. Sementara tamu-tamu yang berdatangan, mungkin kerabatnya yang datang langsung menuju ke tempat sanggah dimana terdapat banyak banten yang digunakan sembahyang di pura. Memang dalam rumah keluarga Bali, satu halaman berisi beberapa rumah yang didiami seluruh anggota keluarganya. Disalah satu sisi terdapat pura yang digunakan untuk sembahyang bersama.

Barangkali hal yang aneh berikutnya adalah jajanan yang disuguhkan untuk tetamu. Penerima tamu menghampiri para tamu dengan memberikan minuman seperti teh botol, spite, coca-cola atau fanta dengan jajanan yang ditaruh dipiring kertas. Jajanan itu berisi emping, kacang goreng dan sebuah kue. Ini yang baru saya lihat saat menghadiri acara pernikahan Bali,

Setelah para tamu selesai menyantap jajanan, selanjutnya mereka dipersilahkan menuju ke tempat prasmanan. dimana model rumah adat Bali ini bersap dan makin ke bawah. Dari tempat duduk semula, saya berjalan menyusuri tangga ke bawah menuju tempat prasmanan.

Ya...saya adalah satu-satunya muslim yang datang saat itu. Sedikit banyak dandanan saya menjadi perhatian orang-orang disekitar saya. Namun mereka sangat baik. Disinilah saya merasa dihargai. Dalam pesta semacam ini sudah pasti menu babi dihidangkan untuk para tamu. Namun saya dibawa menuju ke hidangan yang halal, dimana terdapat aneka masakan seperti ayam betutu, sate lilit, ayam bumbu merah dan sayur kacang panjang. Dengan mengucap "bismillah" saya menyantap hidangan itu sebagai tanda untuk menghargai si tuan rumah.

Disini pun mempelai wanita juga menemani para tamunya. Dan yang membuat saya takjub, adat gotong royong dan saling tolong menolong di Bali masih kental. Acara semacam ini mengundang banyak tetangga untuk saling membantu. Aneka masakan yang dihidangkan dalam acara ini ternyata hasil masakan para tetangga dan kerabat yang dimasaknya di dapur, yang terletak paling bawah dari rangkaian bangunan rumah milik keluarga mempelai laki-laki.

Dan saatnya mengulik dandanan kedua mempelai. Kalau di Jawa, kebetulan saya memang orang Jawa hehehe....dandanan pengantin itu terlihat tebal, sepertinya sengaja dibuat sebagus mungkin agar sang pengantin wanita terlihat cantik (istilah Jawa: mangklingi, pangkling), namun beda dengan Bali. Mempelai wanita memang mengenakan busana adat pengantin Bali, dengan riasan yang tidak terlalu menor.

Lalu bagaimana dengan para tamu? Ternyata mereka mengenakan adat Bali pada umumnya. Memakai kebaya, kamben dan saput/selendang yang diikat dipinggang. Sedang riasan wajah tidak menonjolkan polesan yang terlalu menor. Mungkin hanya memakai bedak dan lipstik saja.

Jadi buat teman-teman yang kebetulan mendapat undangan pesta pernikahan adat Bali, jangan takut atau ragu ya. Untuk busana yang kita kenakan tak harus berpakaian adat Bali kok. Bebas rapi juga boleh. Bagi yang muslim bisa berpakaian seperti saya. Pakaian santai, namun tidak menghilangkan ciri khas sebagai muslim. Kalau ingin lebih nyaman dan simple, cobalah produk Kaloka.

Terus terang ini hanyalah testimoni saya yang mencoba turban instannya Kaloka, ternyata keren abis. Tidak norak dan tidak terlihat kampungan. Bahkan kita seolah terlihat muda kembali hehehe...gaul gitu lho. Penasaran dengan Kaloka? Banyak produknya yang ditawarkan di akun instagramnya @kaloka.id

Bahkan ada promo menarik dari Kaloka, mau tahu? Coba deh pantengin gambar dibawah ini....



Categories:
Reaksi:

13 komentar:

  1. Kalau saya mah suka pakai batik mbak kalau ke acara pernikahan mah soalnya kalau saya mah gak suka yang ribet yang penting rapih kalau saya mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas kalau saya bersama suami pasti memakai sarimbit...bapak-bapak memang suka memakai batik, beda dengan ibu-ibu kali ya hehehe

      Hapus
  2. turbannya bisa jadi identitas ya mbak, mungkin kalo ga berjilbab ga diarahkan ke menu halal kali ya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya mbak turban bisa jadi identitas muslim

      Hapus
  3. waah... pengalaman baru ya mba Yuni. Saya sendiri pun blm pernah datang ke adat pernikahan selain yg di pulau jawa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba pengalaman baru hehehe....

      Hapus
  4. aku punya turban satu doang dan jarang dipake, kayaknya gak cocok di mukaku hahah. itu photonya mungil banget mba jd gak bisa lihat mukanya mba yuni hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Masak sih kecil mba, kayaknya lumayan besar kok....

      Hapus
  5. Belum pernah Dateng ke kawinan orang Bali mbak, pasti penuh dengan adat istiadat yaa, salut Ama orang Bali yg masih kuat memegang budayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, liat adat orang Bali seperti liat kearifan lokal hehehe

      Hapus
  6. Wah seru bisa tahu adat pernikahan Bali kyk apa ya Mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba bisa melihat pernikahan adat bali jadi tahu sebuah budaya pulau lain

      Hapus
  7. It is very interesting and informative article. Sometimes it is difficult to decide where to start wearing turban. Thanks to you, now it is clear where to start.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...