6 November 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:25 PM 27 comments
Ibu….entah sampai kapan airmataku enggan mengalir bila mengingat kebersamaan itu. Terlalu banyak kenangan yang tertoreh sepanjang perjalanan ini. Tentang kenakalanku, manjaku, sifat egoisku atau bahkan bandelku yang membuat ibu harus mengalah dan berjuang demi aku. Ah, airmata ini selalu saja mewakili rasa bersalahku, meski tak pernah sedikitpun beliau menyalahkanku.


Andai harus memilih bidadari-bidadari yang terbang di angkasa, aku lebih memilih ibu sebagai bidadari kehidupanku. Tanpa beliau mungkin aku tak bisa seperti ini. Ibu yang membuatku sukses menempuh pendidikan dan mendapatkan pekerjaan, bahkan beliaulah yang mempertemukan aku dengan lelaki yang kini jadi ayah anakku.

Masih jelas teringat hari-hari yang penuh perjuangan bersama ibu. Beliau yang hanya seorang ibu rumah tangga, tiba-tiba harus menerima kenyataan menjadi janda disaat usiaku belum genap 17 tahun.  Ayah meninggal karena sakit. Inilah takdir, manusia hanya bisa berencana namun Allah jualah yang berkehendak. Tetapi ibu bukanlah wanita lemah. Beliau selalu tegar menghadapi segala problematika kehidupan.

Sepeninggal ayah, ibu terus menyemangatiku untuk melanjutkan pendidikan. Beliau terus berjuang dengan caranya sendiri, mulai dari menjualkan kue kering buatan temannya, membuka warung kelontong di rumah, berjualan sepeda bekas, bahkan merelakan beberapa kamar di rumahku sebagai tempat kos anak-anak sekolah.

Entah setan apa yang merasukiku saat itu, hingga sifat egoisku mengalahkan rasa iba terhadap kerja keras ibu. Aku terlalu menurutkan hawa nafsu, mengikuti tingkah polah teman-temanku. Aku yang merengek minta sepeda motor baru, padahal dengan sepeda gayungpun aku bisa sampai ke sekolah. Atau aku yang terus menghiba minta uang demi bisa mengikuti teman-temanku pergi ke Malang atau Bandung.

Ah, kenangan itu membuat rasa bersalahku semakin membuncah. Aku masih ingat, ibu dengan segala upayanya menuruti setiap permintaanku. Sedikitpun tak pernah terlihat kesedihan di raut wajahnya. Meski toh akhirnya aku tahu, demi memenuhi permintaanku beliau terpaksa berhutang kepada temannya.

Hati Ibu Seluas Samudera

Hati ibu memang seluas samudera. Akupun baru menyadari setelah menjadi ibu, mempunyai anak dan tinggal berjauhan dengan beliau. Kenangan-kenangan itu menyadarkanku begitu peliknya perjuangan seorang ibu.

Dari dulu sampai sekarangpun Ibu masih tetaplah sang bidadari, yang selalu ingin mendampingiku, yang selalu ingin memanjakanku, yang selalu memenuhi semua keinginanku. Bahagianya ibu ketika melihat anaknya bahagia. Air mata ibu ketika melihat anaknya sedih. Ibu merasa kenyang ketika melihat anaknya kenyang, bahkan rasa laparpun tak dihiraukan demi anaknya.

Aku masih ingat ketika ibu harus meninggalkan rumah demi menghadiri arisan, pertemuan atau rapat. Sepulang dari acara selalu oleh-oleh yang dibawanya. Beliau tidak tega menghabiskan hidangan atau snack di tempat rapat, yang teringat hanyalah anaknya di rumah. Jadilah hidangan itu dibawa pulang dan diberikannya kepadaku. Bahkan, ketika ibu membelikanku sebungkus sate ayam tepat di ulangtahunku yang ke-17, beliau rela memakan bumbunya saja. Oh, sungguh berdosanya diriku.

Aku selalu menjadi puteri di mata ibu. Masih lekat dalam ingatan ini ketika aku melanjutkan kuliah ke Malang. Setiap minggu kusempatkan diri untuk pulang ke rumah. Ibupun begitu meriahnya menyambut kepulanganku. Ada air hangat untuk mandi, ada makanan dan minuman kesukaanku, ada juga barang baru yang dibelikan khusus untukku.
Bahkan, untuk kembali ke Malang, dengan setianya beliau mengantarkanku ke stasiun di pagi buta, meski dengan jalan kaki. Hal inipun terulang kembali disaat aku sudah menjadi karyawan sebuah perusahaan di Surabaya. Ibu selalu setia mengantarkanku sampai tempat pemberhentian bus. Beliau menungguku sampai bus yang membawaku berlalu dari hadapan ibu.

Ibu memang bidadari kehidupanku. Sampai kapanpun beliau tetap menyayangiku. Bahkan sampai aku menikah dan mempunyai anak. Rasa sayang beliau terhadap suami dan anakku sama seperti rasa sayangnya terhadapku. Meski beliau baru mengenal anakku diusianya yang keenam tahun, namun ikatan batin antara nenek dan cucu sangat kuat.

Pernah aku kembali tinggal serumah dengan ibu dan anakku disaat suamiku menempuh sebuah pendidikan. Beliaulah yang telaten merawat dan mengasuh anakku. Bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayangku pada anakku. Ibu bahkan memperlakukan anakku sama seperti aku waktu kecil. Beliau yang selalu melayaninya, memenuhi permintaannya atau merelakan waktunya menemani anakku bermain.

Tak jarang ketika ibu mendapatkan rejeki selalu membaginya denganku, meski aku sudah menolaknya. Tentang senyum itu, sampai saat ini ibu selalu menyimpan rapat-rapat kesedihannya. Beliau selalu menunjukkan senyum manisnya dihadapanku. Walau kadang aku ingin sekali waktu menjadi teman curhatnya. Namun sekali lagi, ibu tak pernah mengumbar rasa sedihnya kepada orang lain, meski dengan anaknya sendiri.

Kini jarak itu memisahkan aku dan ibu. Aku memang tidak ingin membebani pikiran ibu dengan kenakalan anakku. Aku ingin beliau menikmati masa tuanya dengan kebahagiaan. Namun, ketika ibu tidak ada didekatku, rasa kehilangan dan kesepian itu makin besar kurasakan.

Kadang, airmataku tanpa sengaja mengalir sendiri, mengingat kerja keras ibu yang sampai sekarang masih dilakukan. Beliau dengan sepeda gayungnya harus berulangkali mengambil beras di toko langganannya, atau kadang beliau harus mengalahkan ketakutannya menyeberang jalanan yang padat kendaraan demi mengisi bahan-bahan di toko kecilnya. Oh, andai saja aku punya uang, pasti tak kubiarkan beliau bekerja keras di masa tuanya.

Tapi…sekali lagi ibu bukanlah wanita lemah, yang hanya bisa menengadahkan tangan. Selama beliau masih kuat, usaha apapun akan beliau lakukan. Ibu selalu sabar menghadapi kerasnya hidup. Beliau selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan, seberapapun besarnya. Ibu memang sosok yang berhati mulia, cintanya kepada almarhum ayah membuat beliau ikhlas menutup hatinya untuk lelaki lain. Beliau bahkan lebih memilih cintanya kepada Allah dan kepada anak-anaknya. Samudera itu terbentang luas dihati ibu.


Oh, ingin rasanya aku mendekap erat tubuh ibu. Senyum indah beliau selalu terbayang di pelupuk mataku. Ingin sekali aku pulang ke rumah, bersimpuh dihadapannya sambil memohon ampun atas segala salahku. Semoga di hari ibu nanti, yang bertepatan dengan hari kelahiran ibu, aku bisa memberikan kado spesial untuknya. Pintaku hanya satu, semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan dan kebahagian untuk ibu….amin.

Hati Ibu Seluas Samudera

Categories:
Reaksi:

27 komentar:

  1. dari kemarin airmataku mengalir deras membaca kontes ini,baru mau bikin naskah saja udah mewek terus bu,,semoga Ibu-ibu kita selalu mendapat rahmat oleh Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebersamaan dengan ibu selalu menyisakan tangis, karena begitu besar cinta ibu kepada anaknya, amin terima kasih bu

      Hapus
  2. jadi kangen Mama. Pengen pulang kampung jadinya :(
    semoga Allah selalu memberi kebahagiaan untuk Ibu-ibu kita. Aamiin

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Mbak kuliah di malang? saya jugaaa....hehe
    btw, sepede gayung itu yg spt apa ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak di UB. Hehehe kebiasaan bahasa Bali, sepeda gayung itu sepeda kayuh mbak

      Hapus
  5. Ibuk sering bilang, nanti kalau kamu sudah jadi ibu dari anak-anakmu juga ngerti kenapa ibu melarang ini dan itu. Dan benar ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bener banget, ternyata dulu ibu melarang kita memang ada alasannya, sayang kita masih terlalu kecil untuk memahaminya mak

      Hapus
  6. Ibu memang tiada duanya...selalu siap buat anaknya

    BalasHapus
  7. bener banget mak, ibu memang tiada duanya

    BalasHapus
  8. huwa selalu dimanjain ibu ya mbak, senangnya... banyak pelajaran yang bisa saya ambil. terimakasih mbak :) aamiin untuk doa kepada ibunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan mewek ya biar aku aja yang mewek huahuahua.......btw terima kasih atas doa dan ucapannya mbak

      Hapus
  9. hiks.... Ibu memang bidadari kehiduoan, ya mbak yuni

    BalasHapus
  10. seorang ibu memang diharuskan tegar menghadapi kenyataan bahwa belahan hatinya harus lebih dahulu tiada. Seperti ibu saya, yg ditinggalkan ayah saya, ketika anak2nya masih kecil2

    BalasHapus
  11. ibu emang bidadari di dunia dan juga salah satu harta yang tak bisa digantikan..
    i love u mom.. T_T

    BalasHapus
  12. saya bisa sampai sekarang.. karena semua itu doa dari seorang ibu.. Ibu memang bidadari kehidupanku ^_^

    BalasHapus
  13. ibu.... Bidadari..dunia,..yang ketika kita berbakti padanya...kita pun dapat menjadi bidadari surga...karenanya...

    BalasHapus
  14. Ibuku sama, selalu mendahulukan anaknya. Dalam hal makanan juga. Bahkan mening anaknya dulu yang makan, beliau belakangan. Ibu ngga ada habis ya kebaikannya dibahas.

    http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/2014/11/mama-rahasia-di-bali-kediaman.html

    BalasHapus
  15. Semoga ibu selalu diberikan kesehatan ya Mba Yuni. Sungguh ibu kita itu memang tiada tandingannya.

    BalasHapus
  16. Selamat yah sudah terpilih atas kontesnya pak abdul cholik.

    Sahatago

    Salam hangat tanpa gosong
    Dari: Yogyakarta

    BalasHapus
  17. memang tidak heran disebut surga dibawah telapak kaki ibu

    BalasHapus
  18. ibu memang tempatnya surga ya.....pokonya taat kepada orang tua

    BalasHapus
  19. alhamdulillah ibu saya masih ada, jadi bisa berbakti penuh

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...