27 September 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:01 AM 7 comments
Lebaran adalah saat yang selalu kunantikan untuk kumpul bersama keluarga besarku. Disinilah aku merasakan indahnya jalinan silahturahmi antar sesama keluarga, sahabat atau kerabat, yang kadang menyisakan sebuah kisah tentang cerita kehidupan. Islam mengajarkan begitu pentingnya silahturahmi, karena selain mempererat tali persaudaraan, dapat juga memperpanjang umur. Bukan berarti kita akan diberi kesempatan hidup lebih lama, akan tetapi sisa umur kita akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Memang umur manusia adalah rahasia Allah. Siapapun tak akan bisa menebak berapa lama ia dapat bertahan di dunia ini. Kadang kita sempat membayangkan, seseorang yang tengah kepayahan dalam sakitnya, kemungkinan ia akan segera dipanggil Allah. Sebaliknya, ketika kita melihat seseorang yang sehat, energik, rasanya tak mungkin bila secepat itu dipanggil Allah. Namun siapa sangka bila Allah menghendaki sebaliknya.

Moment lebaran, dimana umat muslim yang seharusnya bergembira merayakan kemenangannya, ternyata ada sebagian yang diuji oleh Allah. Kematian itu memang takdir Allah, namun selalu menyisakan kepedihan bagi yang ditinggalkannya. Aku turut merasakan sedih, manakala dua orang kerabatku meninggal tepat di hari lebaran. Satu meninggal karena menderita suatu penyakit, sedang satu lagi meninggal secara mendadak.

Semua larut dalam tangis dan haru. Namun itulah takdir. Satu persatu dari kita pasti akan sampai pada gilirannya nanti. Akupun ikut menangis. Justru tangisku untuk diriku sendiri. Aku membayangkan malaikat maut itu akan datang menjemputku, sementara bekalku belum cukup. Padahal hidup di dunia ini hanya sementara. Tak perlu kita mengejar nafsu duniawi. Justru kehidupan di akhiratlah yang kekal abadi, yang harus kita persiapkan jauh-jauh hari.

Dan kejadian yang menimpa kerabatku itu membuatku sadar, betapa pentingnya waktu yang kita miliki. Kematian bukan untuk ditakuti, namun sisa umur kita harus benar-benar kita manfaatkan untuk beribadah, bersedekah, berdzikir, yang semata-mata sebagai bekal untuk menghadap-Nya.

Bukan hanya tangis kesedihan yang kualami disaat lebaran. Tangis bahagiapun bahkan membuatku bersyukur kepada Allah. Almarhum ayah memang menikah dua kali, dengan istri pertama beliau mempunyai satu orang anak laki-laki. Setelah istri pertama meninggal, ayah menikah dengan ibu dan mempunyai dua orang anak perempuan. Dan aku adalah anak sulungnya. Dari dulu aku ingin bertemu dengan kakakku, namun selalu saja gagal, bahkan aku hampir putus asa.

Aku tak pernah tahu mengapa kakakku antipati denganku. Bahkan istrinyapun selalu menghalangi perjumpaan kami. Setiap keluarga besarku datang kerumahnya, selalu ditolaknya dengan berbagai alasan. Ada yang bilang kakakku berusaha menghilangkan tali persaudaraan. Padahal kami satu ayah. Tapi entahlah, hasratku untuk bertemu dengannya masih menggebu. Dan jalan satu-satunya adalah bersilahturahmi ke rumah bibi.

Ternyata benar. Rumah bibilah yang membuatku dapat bertemu dengan kakak. Sujud syukur kupanjatkan kepada Allah atas perjumpaan yang tanpa kusengaja itu. Tangis harupun terpaksa kusembunyikan demi menjaga perasaanku yang sesungguhnya. Aku melihat seorang lelaki yang harusnya kupanggil kakak, yang dulu sangat gagah dengan balutan pakaian mewahnya, kini berubah seratus delapan puluh derajat.

Ia tampak tua, seluruh rambutnya memutih, bahkan jalannyapun harus dipapah istrinya. Hanya bibilah yang membuat suasana kaku menjadi sedikit melunak, bahkan senyum hambar itu seketika berubah menjadi senyum ceria yang setengah dipaksakan, ketika lelaki itu memandangi wajah anakku. Apakah dia perlahan mau mengganggapku adik? Ataukah dia memang mendambakan kehadiran anak dikehidupannya?

Sekian puluh tahun dia bertahan dalam pernikahannya, meski tidak dikaruniai keturunan.  Andai dia mau menganggapku adik, akupun siap merawatnya. Tapi, tatapan perempuan disampingnya tetap saja terlihat sinis. Hatinya masih tetap seperti dulu, keras bagai batu. Aku tak mau berharap banyak. Dapat bertemu, berjabat tangan atau berbicara basi-basi sudah membuatku sangat bersyukur. Apalagi ketika tangan itu membelai lembut rambut anakku, ada rasa haru yang tiba-tiba mengusik batinku.

Aku yakin, suatu saat Allah pasti menyadarkannya, karena aku datang bukan untuk memusuhinya, justru sebaliknya. Aku ingin jalinan persaudaraan kami makin erat, karena kami satu ayah, rasanya tak mungkin bila ikatan itu benar-benar mati.

Dan ketika kuinjakkan kaki di rumah masa kecilku, cerita lainpun sempat membuatku haru. Bukan lagi dari kerabatku, melainkan cerita tentang tetanggaku. Dulu, rumah yang berhadapan dengan rumahku adalah milik seorang pedagang kaya. Mereka hidup bahagia dengan kedua anaknya. Kini, rumah itu menyeramkan dan tak terawat. Bukan karena ditinggal pergi penghuninya. Namun, ayahnya meninggal karena suatu penyakit.

Sejak ayahnya meninggal, keadaan keluarga itu makin kacau. Apalagi saat ibunya menikah lagi dan anak pertamanya memutuskan tinggal di rumah suaminya. Ternyata anak keduanya mengalami guncangan hebat. Sosok tampan itu berubah menjadi sosok menyeramkan dan kurang waras. Semua yang tinggal di rumah itu diusir. Bahkan beberapa bulan setelahnya, ibunya meninggal.

Tak ada yang berani mendekati rumah itu. Semua ketakutan, apalagi saat mendapati si empunya rumah sedang mengamuk. Semua perabotan dibanting, pintu lemari dipukul, bahkan pintu rumah ditendang hingga lubang separo. Namun berbeda dengan ibuku. Meski para tetangga mewanti-wanti ibuku untuk tidak membukakannya pintu, tetapi beliau masih menaruh iba padanya.

Seringkali Anto (tetangga depan rumahku) datang ke rumah untuk meminta makan. Beberapa kali ibu memberinya, namun ternyata keterusan. Anto semakin sering minta makan ke rumah. Awalnya ibu menganggap kedatangan Anto sebagai beban. Namun beberapakali setelah Anto datang ke rumah, ternyata dagangan ibu laris manis, beliaupun beranggapan bahwa Anto datang membawa rejeki.

Bahkan Anto sama sekali tidak seperti tuduhan para tetangga. Denganku ia mau berkeluh kesah. Ia sempat menceritakan cita-citanya yang terhambat karena sakitnya, atau perlakuan kakaknya yang kasar kepadanya. Sama sekali ia tidak melihatkan sosok yang tidak waras bila dihadapanku. Dari sinilah akhirnya aku dan ibu dapat memetik hikmah, bahwa sedekah sekecil apapun itu pasti akan mendapat balasan dari Allah.

Anto adalah anak yatim piatu. Dia kurang waras karena keadaan yang melilitnya. Dulu ketika ayah ibunya masih ada, dia termasuk anak yang serba kecukupan. Tetapi saat ini, tak seorangpun ada yang memperhatikannya. Memberinya makan membuat ibu laris dagangannya, itu bukanlah hal yang mistis. Namun hal ini merupakan sedekah, sedang larisnya dagangan ibu adalah balasan dari Allah. Inilah yang selalu ditanamkan dalam hati ibu, agar beliau selalu ikhlas memberi makan kepada Anto, meski hanya sepiring tiap hari.

Silahturahmi itu memang terasa indah. Bersamanya kita akan memetik hikmah yang luar biasa. Semoga kita termasuk golongan yang mudah menyambung jalinan silahturahmi.

Categories:
Reaksi:

7 komentar:

  1. Terharu sekali membaca pertemuan Mak Sri dg Kakak...sy jd teringat dg Kakak yg jg sama2 satu Ayah beda Ibu, tp bedannya Kakak yg mencari kami krn mmg kami tdk tahu keberadaannya.... dan stlh itu hub kami lbh baik, bahkan hub kakak adg ibu sy lbh erat drpd dg ibu kandungnya... indahnya silaturahmi ... Terimakasih sdh berbagi cerita dalam GA saya ya makkk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak lebaran tahun ini adalah lebaran terindah saya...semuanya karena silaturahmi....makasih mak

      Hapus
  2. Islam memang mengajarkan para pemeluknya untuk menjaga Silaturrahim dengan sesama muslim lainnya. Dan itu memang sangat dianjurkan sekali,. Karena dengan silaturrahim itulah semoga Allah SWT memperpanjang usia kita. Menambah atau memperluas rezeki dan diberikan keberkahan dan keselamatan bagi kita semuanya. Aminnnnnnnnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin-amin yaa rabbal alamin, terima kasih mas

      Hapus
  3. Telah begitu banyak bukti hikmah & berkah silaturahmi... semoga kita termasuk orang yg selalu menjalin silaturahmi.. aamiin... sukses di GA ini ya mbak...

    BalasHapus
  4. hiksss... !jdi terharu baca ttg pertemuan mak yuni dgn kk'y,btw... sy juga yakin setiap apapun yg kita sedekahkn pasti mendatangkn rezeki bagi kita,entah harta,kesehatan atau yg lain'y.smg sukses GA'y ya mak...:)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...