20 Mei 2014

Posted by Sri Wahyuni on 2:05 AM 6 comments

Erupsi gunung kelud mengingatkanku pada peristiwa beberapa tahun silam. Terus terang lahir dan besar di Blitar membuatku menjadi bagian dari sejarah meletusnya gunung berapi ini. Ingatanku seolah terpatri pada sosok almarhum ayah yang kukagumi. Sungguh, ayah adalah tokoh yang kuidolakan sejak dulu kala.
sumber ada disini
Masih lekat dalam ingatanku ketika guyuran abu vulkanik itu menyapu jalan-jalan di kotaku tahun 1990. Belum lagi atap rumahku roboh karena tak kuat menahan banyaknya abu yang berjatuhan diterpa angin. Bahkan, pohon rambutan di depan rumahku yang sedang berbuah lebat seketika itu tumbang karena terpaan angin yang begitu dahsyat. Nyaris semuanya hancur.

Yang kulihat anak-anak kecil sedang asyiknya memunguti rambutan yang berjatuhan. Sementara di jalanan teriakan orang seolah tak terelakkan.
“Gunung kelud meletus…..gunung kelud meletus………”
Mereka panik, takut bahkan trauma. Namun ayah tetap tenang seolah tak sedang menghadapi apa-apa. Itulah ayah, yang selalu menyembunyikan egonya setiap menghadapi musibah. Aku bangga mempunyai seorang ayah seperti beliau.

Tak banyak yang kenal ayah, karena beliau bukan artis. Ayah hanyalah seorang pensiunan polisi yang dulunya berprofesi sebagai penjahit dan petani. Pun ayah juga bukan orang berada. Beliau jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Sedikitpun tak pernah terpikirkan dibenaknya untuk menimbun harta, apalagi memilikinya seorang diri.

Sikap dermawan ayah itulah yang sampai saat ini tetap kukagumi. Ayah adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Setelah nenek meninggal, kakekpun menikah lagi dan mempunyai empat orang anak. Jadilah ayah dua belas bersaudara. Namun beliau tak pernah membeda-bedakan semua adiknya. Berkat kerja keras ayah, kesebelas adiknya mendapat bagian tanah yang luasnya sama.

Bukan hanya itu, setiap melihat sanak saudara yang kesusahan, ayahpun tak segan menolongnya, bahkan mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga besarnya. Dan tak pernah sedikitpun terpikirkan dalam benak ayah untuk meminta imbalan atas perbuatannya.

Ayah bukan saja sosok yang dermawan, namun beliau taat beribadah. Di sepertiga malam kusaksikan ayah selalu terbangun dan mengambil air wudhu. Dan di atas bale yang berukuran satu badan itulah ayah selalu menggelar sajadahnya, seraya bermunajad kepadaNya. Bahkan  selepas Shubuh telingaku selalu menangkap lantunan ayat suci Al-Qur’an dari kamar ayah. Beliau memang tak pernah membuang waktunya dengan percuma. Selalu ibadah yang ayah kerjakan, itulah yang beliau tanamkan kepada anak-anaknya.

Tak jarang ayah menjadi imam di masjid dekat rumahku. Ada rasa bangga saat melihat ayah berdiri di depan para jamaah untuk memimpin sholat. Beliau memang orang baik, yang selalu membantu siapapun yang membutuhkannya. Namun sebaik-baik ayah, masih ada yang berusaha menyakitinya.

Sungguh ceritaku bukan hayalan semata, tetapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri manakala ayah sedang melaksanakan sholat isya’ di atas bale kecil itu. Kala sujud tiba-tiba sebuah bunyi benda jatuh mengagetkanku. Aku yang duduk di tepi bale itu mengamati arah datangnya bunyi benda jatuh, namun tak juga kutemukan. Sementara ayah tetap khusyu’ berdoa, seolah tak terjadi apa-apa. Dan beberapa menit setelahnya, ayah membuka lipatan sajadahnya. Sebuah paku besar seukuran jari manis mendarat tepat di balik sajadah.

Astaghfirullah, subhanallah, aku seolah kaget dengan kejadian itu. Memang benar adanya, Allah akan melindungi umatNya yang khusyu’ berdoa. Demi melihat sebuah paku itu ayah hanya menghela nafas, seraya bibirnya mengucap “Alhamdulillah….” karena telah terbebas dari niat jahat seseorang yang ingin mencelakainya.

Masih lekat dalam ingatanku kala kecil dulu. Setiap shubuh ayah selalu membangunkanku.
“Nak, ayo bangun dulu, sholat shubuh sana. Nanti selesai sholat kalau masih ngantuk, kamu bisa tidur lagi. Yang penting sholat shubuh dulu jangan sampai ketinggalan!”
“Baik Ayah”, aku hanya bisa menuruti nasehat ayah.
Dan…selalu kalimat itu yang terngiang-ngiang dalam telingaku. Tak pernah ayah kasar kepadaku dengan menyiram air atau membentakku. Sebaliknya, sembari membangunkanku ayah selalu membelai pipiku atau mengusap dahiku.

Selesai sholat shubuh bukan lantas ayah mengijinkanku kembali menikmati kasur empukku, namun beliau mengajakku bersepeda mengelilingi desa-desa di pinggiran sawah. Memang pada awalnya perkataan ayah seolah mengijinkanku untuk kembali tidur, namun itu hanyalah tipuan agar aku segera bangun. Senyatanya beliau tak suka melihat anak yang tidur di pagi hari.

“Tidak baik tidur di pagi hari, nanti rejekimu sempit, penyakit juga senang menghampiri. Lebih baik pagi-pagi begini kita gunakan untuk olahraga, supaya tubuh sehat, semangat kian menyala.”

Duh ayah…mengenang sosok beliau, buliran bening itu tiba-tiba jatuh membasahi pipiku. Setiap kalimat yang keluar dari bibir ayah seolah menyiratkan sebuah semangat bahwa hidup itu harus selalu diperjuangkan.
Ayah memang sosok yang cerdas. Beliau ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kaya iman dan kaya ilmu. Namun ayah tak begitu saja mengijinkanku mengikuti kursus di luar rumah. Melainkan beliau selalu mengupayakan keberhasilanku. Di rumah kami yang kini telah usang dimakan jaman itulah tertoreh kisah indah tentang kerja keras ayah mendidikku.

Ketika aku tak pandai mengaji, dengan telatennya ayah membimbingku hingga aku mahir membaca Al-Qur’an. Bahkan beliau sering memanggil teman-temanku untuk belajar mengaji bersama. Bahagia kala itu melihat rumahku yang ramai dipenuhi anak-anak yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Bukan hanya belajar mengaji, namun ayah mengajak aku dan teman-temanku sholat berjamaah di ruangan yang luas. Ya…ruang TV itulah saksi bisu kebersamaan kami.

Selepas belajar mengaji, ayah masih sempat mengajariku berbagai mata pelajaran yang diajarkan  di sekolahku. Bak seorang guru, beliau menerangkan dengan jelas dan mudah kumengerti. Itulah yang membuat rumahku makin ramai dipenuhi teman-temanku yang ingin belajar mengaji dan menyelesaikan PRnya dari sekolah.

Ayah selalu ikhlas berbuat. Dengan ibupun, beliau juga tak segan membantu. Aku merasa bangga manakala kulihat ayah dengan lihainya membantu ibu membuat kue lemper saat menjelang acara Maulid Nabi di masjid sebelah rumahku. Atau ayah yang membuat pagar rumah dan kursi taman sendiri, atau bahkan membuat anyaman bambu untuk mengganti atap rumahku yang sebagian berlubang karena di makan tikus. Semuanya membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Satu yang kuingat tentang petuah ayah, “kamu harus menjadi perempuan yang kuat. Untuk menjadi perempuan kuat dan hebat, kunci utamanya adalah rajin beribadah. Jangan pernah sekali-kali meninggalkan sholat, karena sholat itu akan membuat jiwamu tentram. Allah pun akan membantu kesulitanmu. Sempatkan membaca Al-Qur’an meski hanya lima menit, agar Gusti Allah menyayangimu. Dan ingat, jangan hanya pasrah, atau menjadi wanita lemah, yang tak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan. Gali terus potensi dirimu, dan tunjukkan kalau kamu mampu. Ingat jangan pacaran dulu sebelum kamu sukses!”

Ya…sebait kalimat diatas yang kini masih tersimpan rapi di relung sanubariku, yang menjadi penyemangatku manakala aku down. Ayah selalu ada untukku, bahkan dalam keadaan sedih sekalipun.

Kini, ayah telah lama tiada. Berita tentang erupsi gunung kelud itu yang sontak mengingatkanku tentang kenangan bersama ayah. Ayah selalu mengajariku kasih sayang. Beliau selalu membimbingku menjadi pribadi yang sederhana, bersahaja dan suka membantu.

Bukan harta yang ayah cari di dunia ini, senyatanya kerja keras ayah bukan untuk menumpuk harta kekayaan, melainkan untuk saudara-saudaranya yang membutuhkan. Tanah yang terbentang luas, sawah yang dipenuhi padi dan tanaman palawija atau bangunan yang berdiri tegak, kini telah berpindah tangan seiring kepergian ayah. Namun ayah bahagia, karena beliau berhasil membuat orang lain juga bahagia.

Sementara aku, hanya bisa mengenang ayah. Rumah tua peninggalan ayah kini telah dihibahkan kepadaku. Nyaris bangunannya terserak satu persatu dimakan usia. Bahkan ia seolah tenggelam diantara dinding-dinding kokoh yang menjulang tinggi. Namun aku tak gentar. Ada cerita indah terukir didalamnya. Ada kenangan manis antara ayah, ibu, aku dan adikku yang tak mungkin terhapus. Pun juga abu vulkanik yang datang secara tiba-tiba mengguyur atap rumahku di malam hari. Ia tak bisa menyapu bersih ingatanku tentang ayah. Siapapun tak boleh menghapus kenangan itu, karena ia telah terpatri dalam relung sanubariku yang paling dalam.

Dan bingkai foto yang terjajar rapi di dinding rumahku, menyiratkan sebuah senyuman terindah milik ayah. Ayah yang penuh semangat menjalani hari-harinya, ayah yang selalu membantu setiap orang yang membutuhkan atau ayah yang menebar kasih sayang kepada semua orang, seolah nama baik beliau telah terbingkai rapi bersama foto manis itu.

Aku hanya bisa termangu sambil sesekali merenda ingatanku tentang ayah. Dalam anganku aku ingin menghidupkan kembali rumah peninggalan ayah bersama lantunan ayat suci Al-Qur’an sehabis shubuh, sama seperti yang ayah lakukan kala dulu. Pun aku juga ingin menyapa Allah di sepertiga malam melalui untaian doa-doa khusyu’ yang kupanjatkan, sama seperti yang ayah lakukan kala dulu.

Bukan aku latah, yang hanya bisa meniru, namun senyatanya semua itu adalah kewajiban bagi semua umat muslim di manapun berada. Jauh di dasar hatiku, aku ingin berubah menjadi pribadi yang kaya iman. Jujur, selama ini aku masih jauh dari sempurna, aku masih miskin iman dan bodoh ilmu. Dan aku ingin mewujudkan keinginan ayah untuk menjadi perempuan yang hebat dan kuat.

Sejenak kumengenang ayah, anganku membuncah mengingat peristiwa silam. Dan erupsi gunung kelud tiba-tiba menggugah adrenalinku untuk kembali mengenang Allah. Bahwa senyatanya setiap musibah yang datang hanyalah kuasa Ilahi. Kita tak boleh berburuk sangka apalagi ingkar pada kehendak-Nya. Dan kenangan tentang ayah disaat gunung kelud memuntahkan isinya, seolah mengingatkanku untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Ya Allah jadikanlah setiap musibah yang datang sebagai peringatan kepada kami untuk meninggalkan segala perbuatan yang Kau murkai, sehingga kami benar-benar meyakini bahwa musibah ini hanya Engkaulah yang menghendaki. Serta jadikanlah kami umatMu yang senantiasa taat beribadah, yang selalu sabar, tabah dan ikhlas setiap menghadapi musibah yang Kau berikan kepada kami. Sesungguhnya Engkau tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan kami. Jadikanlah iman Islam kami sebagai benteng untuk tetap mengingatMu Ya Rabb……amien.
Categories:
Reaksi:

6 komentar:

  1. Salut untuk ayahnya, moga mendapat tempat terbaik di sana, Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak...amin yaa rabbal alamin

      Hapus
  2. selalu mengajarkan hal yang baik ya. Ikut mendoakan untuk ayahnya mbak

    BalasHapus
  3. mak..maukah terima liebster award dariku? http://supertayo.blogspot.com/2014/05/liebster-award-dariku-untukmu.html

    BalasHapus
  4. Ayahnya menginspirasi, Mba. Asyik ya bersepedaan bareng Ayah.

    Turut mendoakan Ayah, Mba.

    BalasHapus
  5. Terharu saya bacanya, Mbak.

    Saya ikut mendo'akan beliau

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...