6 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:08 AM 2 comments


“Ma, ini slip gaji bulan ini. Coba besok kamu cek sudah masuk ke ATM belum gajinya?”, ucap Papa sambil menyerahkan selembar kertas kecil.

“Iya…iya besok aku cek, andai sudah masuk paling juga cepat habis. Buat bayar inilah, itulah. Belum lagi harga kebutuhan yang semakin mahal. Duh, pusing deh”, cerocosku tiap tanggal 1.

“Sudahlah Ma, gak usah terlalu dipikirkan. Yakinlah bahwa selalu ada rejeki untuk umatNya yang pandai bersyukur. Makanya kita syukuri aja setiap rejeki yang kita terima, berapapun besarnya”, tegas Papa.

“Tapi tetap aja pusing, coba kalau pas pertengahan bulan gaji tiba-tiba habis, bagaimana coba?”, lanjutku.
“Makanya ATM itu Mama yang bawa, Mama yang atur semuanya, Papa gak ikut campur. Papa percaya kok Mama seorang Manager Keuangan yang hebat”, tegas Papa.

**********

“Ma, besok beliin sepatu ya, sepatu Fawaz sudah jelek nih”, rengek Fawaz suatu hari karena melihat sepatu baru milik temannya.

“Aduh Fawaz, Mama belum punya uang, nanti ya kalau dapat arisan pasti Mama beliin”, jawabku.

“Ah Mama pelit, minta sepatu aja gak boleh”, Fawaz sedikit marah.

*************

Rupanya Papa mendengar pembicaraan kami di dapur. Buru-buru ia menghampiri kami.
 “Kamu mau sepatu apa Fawaz?”, Tanya Papa kemudian.

Mata Fawaz terbelalak mendengar pertanyaan papanya.
“Emang Papa mau beliin Fawaz sepatu? Bener Pa? Janji?”, cerocos Fawaz.

“Iya bener…….”

Sontak Fawaz pun berteriak kegirangan dan segera berlari mencium pipi papanya.
“Hore aku mau dibeliin sepatu…..”

***********

Melihat keceriaan mereka berdua, rasanya ada sedikit ganjalan dihatiku. Suamiku memang suka memanjakan anaknya. Meski dengan berbagai alasan dia kemukakan, namun tetap saja bagiku itu adalah sesuatu yang kurang bagus.

“Sudahlah Ma, apa sih salahnya membahagiakan anak. Pahalanya besar lho bisa membuat anak senang.”
Itu salah satu alasan suamiku.

Dan tak begitu lama, diapun menceritakan kalau tadi siang baru saja mendapat uang saku dari atasannya sebagai bonus kerja lemburnya selama beberapa hari. Tak lupa dia juga menunjukkan amplop lengkap dengan isinya. Namun prinsipku, diberi kepercayaan untuk memegang ATM-nya saja adalah sebuah amanah yang harus kujalankan dengan baik, dan itu lebih dari cukup. 

Sementara bila diluar gaji bulanan suamiku, ia masih menerima bonus dan sebagainya, aku tak berhak memilikinya. Aku selalu memberi kesempatan kepada suamiku untuk memegang uang, agar suatu saat bila dia membutuhkannya, tidak perlu repot-repot mencari pinjaman.

Tetapi, suamiku adalah imam yang baik bagi keluargaku. Itu menurutku. Ia banyak mengajarkan tentang arti kehidupan. Ia selalu menuntunku untuk taat beribadah. Bahkan, ia tak pernah menyimpan rapat-rapat segala sesuatu yang didapatkannya. Meski aku yang memegang ATM-nya, namun ia masih sering membagi uang bonus untuk menambah belanja dapur atau sekedar membelikan sepatu anaknya. Intinya, ia seorang yang sangat terbuka dalam berbagai hal.

*************

“Hari ini aku capek banget Pa, cucian banyak, seterikaan menumpuk, rumah belum disapu lagi. Aku gak 
sempat masak”, keluhku suatu hari.

“Sudahlah, tenang Ma, gak usah terlalu dipikir. Aku belum lapar”, jawab Papa dengan nada datar.

Lantas suamikupun bergegas ke dapur mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Mulai dari mencuci, menyapu atau memasak. Kadang, diapun pergi ke pasar seorang diri membeli sayur mentah atau nasi bungkus. Ia resmi mengambil alih tugasku sementara waktu.

************

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang telah kami terapkan adalah hal yang aneh. Orang lain akan menganggap aku seorang istri yang suka menuntut dan tak bisa menjalankan peran secara baik. Namun sejak dulu kami sama-sama mempunyai prinsip “karena aku menghormatimu”.

Kami saling berbagi tugas dan peran. Bila aku yang merasa capek, suamiku-lah yang menggantikan peranku. Begitu sebaliknya. Aku sering menggantikan perannya manakala ia yang gantian membutuhkanku.

Pernikahan bagiku adalah Mitzaqan Ghalizaa (Perjanjian yang Kuat), yaitu perjanjian di hadapan Allah Swt yang tidak bisa dibuat main-main. Mungkin sebagian orang menganggap pernikahan kami ibarat kisah Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya. Kami bertemu dalam sebuah perjodohan, dimana masing-masing dari kami belum mengenal satu sama lain. 
sumber: soniazone.wordpress.com

Namun, aku menganggap bahwa lelaki yang kini menjadi suamiku adalah jodoh yang diberikan Allah untukku setelah melalui ikhtiar yang panjang. Aku tak pernah menyesal atas semua ini. Bahkan aku sangat bersyukur. Janjiku hanya satu, yaitu ingin membahagiakan Ibu, orang tuaku yang tinggal satu ini. Tak mungkin aku mengingkari sebuah ikatan suci yang telah terbina, demi baktiku pada Ibu.

Semenjak itu, kami berjanji ingin membina sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Meski jalan yang kami lalui tak selalu mulus, bahkan kamipun sempat jatuh bangun dan tertatih untuk menaiki jalanan yang lurus, namun kami tetap bersemangat. 

Saat ini, andai aku berani berteriak, akupun akan mengatakan bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia ini. Meski kami tak hidup glamour atau serba mewah, namun kami sangat bahagia. Bahagia itu bila kami dapat berkumpul bersama dalam keadaan apapun. 

Dan syukur itu selalu kupanjatkan padaNya. Sekian tahun perjalanan pernikahan kami, janji untuk saling percaya masih tetap kami pegang teguh. Walau kami masih berjuang mengupayakan hidup yang lebih baik, setidaknya kami masih bisa memenuhi kebutuhan anak kami. Limpahan rahmat itu senantiasa mengalir dalam perjalanan pernikahan kami. Suami yang setia dan penuh pengertian, anak semata wayang yang cerdas dan penurut, bahkan kebahagiaan yang melingkupi hari-hari kami adalah sebuah anugerah yang terindah.

Dalam doa yang kupanjatkan padaNya, aku selalu berharap semoga keluargaku senantiasa mendapatkan berkah. Hanya satu harapan kami, bisa mendampingi bahkan mengantarkan anak semata wayang kami menggapai asanya. 

credit
Kan kujaga ikatan suci ini. Kan kurawat benih cinta yang telah bersemayam dalam hati ini. Kan kupertahankan sebentuk kebahagiaan yang selama ini melingkupi keluargaku. Dan…kan kubisikkan sebuah janji yang dulu pernah tersemat dihati, bahwa…..karena aku menghormatinya!!!



"Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat"
Categories:
Reaksi:

2 komentar:

  1. Subhanallah.. baik banget suaminya, Bun. Makasih dah ikut GA saya ya :-)

    BalasHapus
  2. selamat ya menang GAnya Mak LeylaHana, Mak.

    Suaminya pengertian dan menghormati banget, Mak ^^

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...