14 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 9:54 PM 1 comment
Day 13 :

62:25 

wahuwa alladzii ja'ala allayla waalnnahaara khilfatan liman araada an yadzdzakkara aw araada syukuuraan

Artinya: " Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. " (QS. Al-Furqan : 62)

Kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya. Makanya jangan sekali-kali menyia-nyiakan sebuah kesempatan. Karena kesempatan sangat berhubungan dengan waktu. Demikian berharganya waktu dalam kehidupan kita, hingga sebuah pepatah mengatakan “waktu adalah emas”. Waktu sangat berharga, walau hanya sedetik. Bila kita tak bisa memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya, itu sama halnya dengan membuang sebuah kesempatan berharga.


Memori beberapa tahun silam kembali mengingatkanku tentang berharganya sebuah waktu. Kala itu aku dan adikku masih sama-sama kuliah. Bedanya aku sudah mengambil jurusan S1, sementara adikku masih menyelesaikan D3-nya. Beberapa hari menjelang kelulusannya, adikku merasa gamang antara melanjutkan kuliah ke S1 atau bekerja. Pasalnya, ia masih belum puas dengan pendidikan yang ia raih saat itu. Harapannya, ia bisa menempuh pendidikan yang dipilihnya sesuai jurusan yang diambil.

Lantas, akupun memberi saran untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi seperti aku. Ternyata, saranku diterimanya. Setelah lulus dari D3 adikku berniat mengikuti program alih jenjang ke S1 di fakultas dan universitas yang sama. Berbagai persyaratanpun ia penuhi, namun hanya satu yang belum bisa ia tuntasnya sampai menjelang penutupan pendaftaran program alih jenjang, yaitu tanda tangan Dekan Fakultas di lembar legalisir ijasahnya.

Akupun maklum, bapak Dekan sangat sibuk, karena beliau juga menjadi dosen di universitas lain. Namun aku tetap menyarankan adikku untuk segera mendapatkan tanda tangan itu. Dan tepat setengah jam sebelum pendaftaran program alih jenjang itu, adikku baru mendapatkan tanda tangan Dekan. Deg-degan itu pasti. Pasalnya, waktunya mepet sekali. Adikku semakin gusar. Namun aku berusaha meyakinkan kalau ia pasti bisa.

Atas dasar tekat yang bulat dan nekat, akhirnya adikku berlari menuju loket pendaftaran itu. Karena sejak semula akupun sudah menyuruhnya untuk memanfaatkan waktu yang tinggal setengah jam itu. Dengan napas yang tersengal-sengal, adikku berusaha memohon kepada panitia untuk menerima blanko pendaftarannya. Tadinya panitia agak keberatan, mengingat waktu yang sudah mepet. Karena melihat wajah adikku yang memelas dengan sedikit tergopoh-gopoh, akhirnya permintaannya pun diluluskan. Adikku diterima menjadi mahasiswa program alih jenjang S1.

Contoh diatas adalah sebuah gambaran memanfaat kesempatan yang ada dengan keterbatasan waktu. Ternyata waktu itu sangat berharga. Dengan waktu yang bisa dibilang tinggal menghitung jari, bila kita mau berusaha keras, niscaya kesempatan itu bisa kita raih dengan mudah. Tak ada kata tak mungkin bila kita mau mengupayakannya. Jadi, marilah kita manfaatkan waktu kita sebaik mungkin, agar setiap kesempatan yang ada di depan mata dengan mudahnya dapat kita raih. Tentunya atas ijin Allah SWT.
  
http://theprimadita.blogspot.com/2013/12/1hari1ayat-ikutan-yuk.html#more 
Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. harus bisa memanfaatkan waktu. Kadang aku masih suka lalai akan waktu :(

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...