2 Januari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 6:46 AM 4 comments
Day 2:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا



Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama. 

Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
(Al-Furqan: 74)

Setiap pasangan yang telah menikah pasti mengharap hadirnya seorang anak ditengah-tengah kehidupan mereka. Apalah jadinya bila pernikahan yang telah terjalin sekian tahun belum juga diramaikan oleh suara tangis bayi? Sedih pastinya, karena anak adalah perekat hubungan suami istri. Dialah yang kelak menjadi penerus sebuah keluarga.


Hampir dua tahun pernikahanku, tetapi anak yang kuimpikan belum juga hadir. Rumah kami sepi, tak terdengar suara tangis bayi di pagi hari. Bahkan hatiku pun terasa hampa, mataku menatap nanar setiap melihat seorang ibu, yang dengan senyum lembutnya mendekap seorang bayi mungil dalam gendongannya.

Bahkan, ragaku ingin menjerit, manakala tak bisa menjawab sebuah pertanyaan yang selalu datang bertubi-tubi. Ya…ibu, mertua, kerabat, teman, bahkan tetangga selalu menanyakan hal yang sama. Berulang kali! “Kapan kamu mempunyai anak? Jangan ditunda-tunda!”

Lantas akupun berusaha mencari jalan keluarnya. Berulangkali kudatangi dokter spesialis kandungan. Dari mereka kudapatkan informasi bahwa aku dan suamiku baik-baik saja. Tapi entahlah mengapa, anak itu tak kunjung hadir di kehidupan kami.

Lewat teman, kuikuti sarannya untuk datang ke seorang tukang pijit, karena dia telah berhasil membuat para wanita yang beberapa tahun belum mempunyai keturunan, akhirnya berhasil mendapatkan momongan. Namun tak juga usaha itu membuahkan hasil.

Bahkan dari embak jamu gendong, aku dengan rutin mengkonsumsi “pil bibit” seperti sarannya. Entah obat apa itu. Yang jelas kata si embak, itu adalah obat tradisional yang mujarab untuk mendapatkan keturunan. Tetapi…hasilnya tetap “nol”.

Perjalananku untuk mendapatkan momongan terasa panjang dan berliku. Hingga sebuah keputusan akhir yang kuambil, berobat pada seorang dokter spesialis kandungan yang termahal. Bahkan gaji suamiku harus ludes dan terpaksa berhutang pada sebuah bank demi mendapatkan anak. Namun hasilnya tetap saja.

Akhirnya….inilah puncak dari usahaku. Aku berihtiar kepada Allah seraya memasrahkan diri kepadaNya dan memohon agar segera diberi momongan. Tak henti-hentinya aku berdoa dengan sabar dan ikhlas, karena kuyakin Allah selalu mengabulkan doa setiap hambaNya yang sungguh-sungguh berdoa.

Sepenggal ayat diatas adalah doa yang selalu kuwiridkan setiap selesai sholat, baik itu sholat fardlu maupun sholat sunnah.

Subhanallah, ternyata inilah obat yang paling mujarab dari segala obat yang ada di dunia ini. Doa yang tulus dan sungguh-sungguh pasti dikabulkan Allah. Penantian panjangku berbuah manis. Anak yang sekian lama kunantikan akhirnya hadir di tengah kehidupan kami. Alhamdulillah wasyukurilah, terima kasih Yaa Rabb.

ayat
Categories:
Reaksi:

4 komentar:

  1. Alhamdulillah Mbak...postingannya menginspirsiku...selain berusaha tentunya doa yang ikhlas... kebetulan aku juga blm pny momongan...

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, akhirnya doanya terkabul. Semoga langkah ini juga membantu mereka yang belum juga dapat momongan!

    BalasHapus
  3. saya juga punya pengalaman yang sama.... ditahun ke 8 saya baru di beri momongan... dari pengalaman itulah saya baru mengerti arti SABAR dan Pasrah yg sebenarnya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...