4 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 12:12 PM No comments



            Hari ini aku benar-benar merasakan sepi.  Di saat suamiku berada di kantor dan anak semata wayangku sedang belajar di sekolah.  Tiba-tiba air mataku mengalir manakala tatapan mataku tertuju pada sebuah bingkai foto.  Sebuah foto anakku berseragam tentara kala mengikuti pawai di TK dua tahun silam. Sejak dulu anakku memang bercita-cita ingin menjadi tentara seperti bapaknya. 


Aku menangis bukan karena takut anakku tidak bisa menggapai cita-citanya, tetapi aku menyesal atas apa yang kuperbuat padanya. Maafkan ibu, nak……

Suatu hari, tepatnya di hari jumat, dia merengek ingin mengikuti sholat jumat di masjid dekat rumah.  Aku berusaha mencegahnya karena dia masih kecil, tapi rasanya susah membendung niatnya.  Akhirnya kuijinkan dia berangkat seorang diri ke masjid.  Itulah anakku, yang tanpa paksaan dia selalu mempunyai semangat yang tinggi untuk mengerjakan kebaikan.  Bahkan, di lain waktu ketika dia harus mengaji ke masjid sementara aku terlambat membangunkannya, dia akan menangis sekencang-kencangnya, menyalahkanku yang tidak mau membangunkan seperti biasanya.  Atau ketika di sekolah mendapat nilai bagus, dia selalu riang dan menunjukkan hasilnya kepadaku.
            
         Lalu mengapa aku masih saja mencacinya, menghardiknya, seolah dia anak yang mempunyai banyak  kesalahan, hanya karena dia tidak bisa memenuhi harapanku?  Terbayang ketika aku mengajarinya matematika, dari beberapa soal yang kutanyakan hanya ada dua jawaban yang bisa dijawabnya.  Lantas aku menghardiknya dan mengatakan dia anak yang bodoh, bebal.  Atau suatu hari ketika aku memberinya soal-soal dan tidak segera dijawabnya atau bahkan tanpa sengaja dia meletakkan kepalanya di atas meja, lalu aku menyubitnya hingga dia menangis.  Atau mungkin ketika pagi dia tidak segera bangun, andai pun bangun pagi dia langsung memegang mainan dan bukan membaca buku pelajarannya, lalu aku mengumpatnya dengan makian yang panjang lebar hingga dia ketakutan.  Ya Allah ibu macam apa aku ini.  Sungguh banyak dosa yang kuperbuat kepada anakku.  Bukankah setiap ucapan seorang ibu itu adalah doa bagi anaknya?  Astaghfirullahaladzim, ampuni aku Ya Rabb, aku tidak ingin anakku menjadi bodoh, bebal seperti yang kukatakan.
             
          Masih jelas teringat ketika 1,5 tahun pernikahanku tidak juga dikarunia anak.  Lalu aku dan suamiku berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, sampai harus hutang sana-sini demi bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis.  Setiap malam kupanjatkan doa pada-Mu Ya Rabb agar rumah kami segera di warnai dengan tangisan bayi.  Sampai akhirnya bayi itu hadir dalam kehidupan kami.  Harusnya aku bersyukur.  Itu adalah anugerah terindah dari-Mu.  Aku adalah wanita yang beruntung, yang bisa mengandung 9 bulan dan melahirkan bayi sehat.  Karena tidak semua wanita mendapatkan anugerah seperti itu.  Memang tidak sepantasnya anak yang kukandung dan kulahirkan lantas kuhardik dan kumaki. 
             
          Hatiku semakin perih manakala mengingat perbuatanku sendiri.  Terngiang kata-kata anakku ketika kumarahi gara-gara dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan cepat, “untuk apa aku dilahirkan kalau harus dimarahi setiap hari.”.  Astaghfirullah, Ya Allah aku terlampau jauh berbuat jahat kepada anakku. Ampuni aku Ya Allah, ampuni aku. 
             
               Mulai detik ini aku berjanji akan menjadi ibu yang baik.  Sebelum semuanya terlambat dan sebelum Engkau murka padaku, ijinkan aku untuk merawat anakku dengan baik Ya Rabb.  Aku sadar, anak adalah titipan-Mu, aku hanya perantara yang Kau mintai untuk menjaga dan mendidiknya menjadi pribadi yang baik.  Tidak ada anak yang bodoh bila kita sebagai orang tua mengajarinya dengan penuh sabar dan kasih sayang.  Tidak ada anak yang nakal bila kita sebagai orang tua senantiasa mendoakan di setiap sujud kita, memberikan perhatian serta menunjukkan kepada kebaikan. 

Memang kita menaruh harapan yang besar, agar anak kita menjadi anak yang sukses.  Namun, ketika keinginan kita belum bisa terpenuhi, akankah kita menghardik anak kita, darah daging kita sendiri?  Ingatlah bahwa kesuksesan seseorang bukan diraih secara tiba-tiba, melainkan dengan tahapan.  Demikian juga dengan anak kita.  Itulah sebabnya lingkungan keluarga amat mempengaruhi tumbuh kembangnya anak.  Jangan pernah memaksakan sebuah keinginan kepada anak, tetapi tuntunlah anak kita untuk mengejar mimpinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, niscaya harapan kita terhadap anak akan tercapai.
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...