21 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 6:39 AM 8 comments


Sejak kecil aku memang suka kesenian.  Itulah sebabnya aku memohon kepada orang tuaku untuk memasukkannya ke sebuah sanggar tari.  Namun, ternyata keinginanku tak disetujui ayah kala itu.  Sedih rasanya.  Aku hanya bisa menatap nanar dan tertawa getir manakala melihat temanku berhasil mementaskan sebuah tari pada acara pertunjukan di desaku.

Alasan ayahku memang masuk akal. Beliau hanya ingin aku menjadi anak yang berprestasi di sekolah.  Bagi ayah, dengan berlatih menari  pasti akan menyita waktu belajarku.  Bahkan, mungkin menurut ayah aku tidak akan menjadi anak berprestasi seperti impian beliau. 

Hmm…mengenang masa itu, ingatanku seperti kembali tertuju pada sosok ayah yang kini sudah tiada.  Ayah….bagaimanapun juga adalah figur yang penuh semangat dan selalu sukses mendidik anak-anaknya meski kadang sifatnya yang keras membuat kami takut akan gertakannya.  Namun, rasa sayangnya yang begitu besar pada keluarganya membuat ayah akan selalu ada di hati kami.  Hiks…jadi sedih mengenang ayah.

Aku sedih karena ayah belum sempat melihatku tumbuh menjadi seorang anak dambaan beliau meski aku tetap menggeluti kesenian yang dari dulu menjadi cita-citaku.  Aku ingin menepis bahwa anggapan ayah kala itu salah.  Namun apa dayaku, ayah telah tiada.  Tapi aku yakin, ayah pasti tahu itu.

Dan sebuah moment terindah yang akan kukenang selalu, adalah saat aku mengikuti suamiku bertugas ke Papua.  Ternyata kepindahanku ke Papua membawaku untuk mempelajari beberapa kebudayaan yang ada di sana.  Aku memang tertarik dengan seni budaya Papua dan ingin mempelajarinya.

Beberapa kali aku bergabung dengan tim tari yosim pancar (yospan) untuk mengikuti berbagai lomba.  Dan Alhamdulillah tim kami kerap kali memenangkan lomba itu.  Bukan main senangnya hatiku.  Terlebih saat pelatih tari itu yang “notabene” asli Papua mengacungkan jempolnya saat melihatku berpakaian adat…wih rasanya tersanjung hati ini.

Di lain waktu, tim kami mendapat kesempatan untuk mengisi acara khusus.  Kebetulan kami adalah keluarga besar TNI-AD, jadi kegiatan itu memang rutin menjadi tugas kami untuk bisa tampil maksimal dalam acara serah terima jabatan di Kodam.

Bukan hanya tari yospan saja yang kami kuasai.  Demi membuat para penonton terkesima dengan penampilan kami, akhirnya kami harus berlatih dan menguasai gerakan tari lain.  Sekali waktu kami berlatih tari mambesak, bahkan di kesempatan lainnya kami harus berlatih tari anire yang gerakannya sangat keras.
Setiap hari tim kami terus berlatih, bahkan malam pun kami rela meninggalkan rumah demi menguasai tari-tarian itu.  Yang kami inginkan adalah sebuah kebanggaan.  Bangga bisa menampilkan yang terbaik dan membawa nama besar satuan suami.  Bahkan kami pun makin antusias berlatih manakala apa yang kami lakukan mendapat dukungan penuh dari suami.

Tari Mambesak
Tari Anire
Olala….akhirnya hari yang kami nantikan tiba juga.  Hari dimana kami harus menampilkan sebuah tarian pada acara Serah Terima Jabatan Kasdam XVII/Cenderawasih.  Sejak pagi kami sudah berkumpul di sebuah tempat untuk di make-up dan didandani ala penari.  Satu persatu dari kami di make over hingga selesai semuanya.  Dan……alangkah bangganya hatiku kala berpakaian adat ala penari anire.  Hal yang sama juga dirasakan teman-temanku yang tergabung dalam tim.

Kami menarikan dengan apik dalam acara itu, hingga applause tak henti-hentinya pun kami dengar di akhir penampilan kami.  Bahkan di akhir acara, dengan bangganya kami kembali tampil ke panggung untuk berfoto bersama dengan para petinggi Kodam.  Wihh…..sebuah kehormatan, kebanggaan sekaligus moment terindah yang tak pernah terlupakan, rasanya kami sungguh tersanjung saat itu.

Itulah ceritaku, meski aku tinggal di Papua, yang “notabene” jauh dari keluarga besarku, tak serta merta membuatku melankolis teringat akan kampung halamanku.  Ada teman-teman di sekelilingku yang bersama-sama menghidupkan suasana dan mengukir cerita indah di pulau seberang.  Aku pun tak pernah merasa kesepian.  Bersama mereka hari-hariku terasa indah.  Mereka selalu ada di saat aku sedih dan gembira.  Terima kasih ya Allah atas nikmat yang sungguh indah ini.


 


Categories:
Reaksi:

8 komentar:

  1. Good luck buat GA nya ya Mak..
    Sekarang ini sedikit ya yg mau menari daerah, smoga banyak bibit baru yg muncul, amiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya mak, itu kenangan terindahku

      Hapus
  2. pasti bangganya luar biasa :D
    beruntung suaminya mengijinkan ya?

    Makasih udah share ceritanya..
    OK. Tercatat sebagai peserta^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...iya kalau sudah mengantongi ijin suami, semangat itu kian membara
      terima kasih

      Hapus
  3. Kita masing2 memmang memiliki momen indah ya jeng
    Sayapun pernah menari pada Asean Night di Namibia waktu bertugas sebagai anggota Kontingen Garuda pada misi UNTAG

    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul pakde....mungkin momen indah yang saya miliki hanya seujung kukunya pakde hehehe.....tp kenangannya itu yang membuat saya tak akan pernah melupakannya.
      terima kasih pakde

      Hapus
  4. Keren deh.. bisa menari tradisional. Waktu kecil, saya pun ingin sekali bisa menari jaipong, tapi sayang sampai sekarang belum kesampaian :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kenangan ketika masih di Papua mbak, karena saya penasaran ingin bisa menari akhirnya nekat ingin ikut, alhamdulillah bisa....makasih ya mbak

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...