1 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 11:10 PM No comments



sumber: google

Kedua kalimat itu seolah tak terpisahkan. Seseorang yang mempunyai jabatan tinggi cenderung menjadi penguasa. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai jabatan rendah sering diperalat oleh sang penguasa.

Bahkan dalam beberapa kasus si empunya jabatan rendah sering dikambinghitamkan. Ironisnya, beberapa pejabat rendahan terpaksa menutupi kebobrokan sang penguasa demi loyalitas dan dedikasi. Ia rela mengorbankan segalanya demi mendapatkan pengakuan dari sang penguasa. Namun demikian, banyak bawahan yang mengaku dirinya ”sang anak buah” terpaksa menelan pahit getirnya keadaan, ia harus kehilangan jabatannya hanya karena janji palsu yang disebarkan sang penguasa.

Oh...sang penguasa.

Kemana larinya janji-janji yang telah kau tebarkan?

Akankah engkau lupa, atau itu hanya sekedar taktik untuk menarik simpati pengikutmu?

Saat promosi jabatan gencar-gencarnya dikobarkan, saat itu pula calon penguasa berusaha menebarkan pesona ke seluruh penjuru. Ia berusaha bermuka manis, santun pada sesama, memperlihatkan bahwa seolah-olah dialah yang terbaik di dunia. Ironisnya aksi suap atau yang sering dikenal dengan ”sogok sana-sogok sini” amat gencar didengungkan. Bak sebuah kampanye parpol, ia berusaha menarik simpati para pendukungnya sebanyak-banyaknya. Berbagai janji dan iming-iming diberikan ke semua simpatisan.

Sayang, ketika calon penguasa naik tahta dan dikukuhkan menjadi sang penguasa kenyataan berbalik seratus delapan puluh derajat. Ketenaran namanya tidak seperti janji-janji yang telah diobral. Bahkan sang penguasa yang dulu terlihat santun, baik hati, mengayomi, tiba-tiba bercokol dibalik kebengisan yang konyol. Ia mempergunakan jabatan dan kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang pada sang anak buah. Janji dan iming-iming hanya isapan jempol belaka. Ironisnya sang anak buah berlomba-lomba untuk merebut hati sang penguasa.

Berbagai cara mereka tempuh demi mendapatkan simpati sang penguasa. Dan pemenangnya adalah mereka yang gencar melancarkan propaganda jitu kepada sang penguasa. Berbagai aksi pendekatan terus dilakukan untuk meluluhkan hati sang penguasa. Sementara sang anak buah yang membisu, selamanya akan menjadi sasaran dan bulan-bulanan sang penguasa, walau sebenarnya ia amat berpotensi.

Wahai sang penguasa, sadarlah engkau, bahwa jabatan dan kekuasaan hanya bersifat semu, tidak kekal. Ia hanyalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ketika sang penguasa melejit bak busur panah yang ditancapkan, saat itu ketenaran melingkupi dirinya. Tapi ingat, tidak selamanya jabatan, kekuasaan, ketenaran lebih-lebih materi selalu menggelanyut manja di tubuh sang penguasa. Roda kehidupan selalu berputar bak sepeda mini yang dikayuh anak kecil, putaran rodanya sangat kencang. Adakalanya dia di atas atau juga di bawah.

Ketika sang penguasa berkuasa di atas singgasana yang empuk, dengan mudah ia mendapatkan segalanya. Namun ketika jabatan dan kekuasaan itu sudah enggan menghampirinya, akankah ia setenar dulu, saat menjadi sang penguasa?

Ya....jabatan dan kekuasaan sering membutakan mata hati seseorang. Ia tidak sadar saat keduanya ditanggalkan, ia akan berubah menjadi manusia biasa yang bisa jadi diacuhkan oleh sekelilingnya hanya karena latar belakang kebengisannya tempo dulu.

Masih adakah di dunia ini sang penguasa yang bertindak arif dan bijaksana dalam menyikapi segala persoalan?

Masih adakah di dunia ini sang penguasa yang menilai secara obyektif loyalitas dan dedikasi sang anak buah?

Atau ia pukul rata kinerja anak buahnya tanpa memperhatikan loyalitas dan dedikasinya?

Atau bahkan pemilihan anak buah didasarkan pada sistem random acak, hingga pemenangnya diperoleh secara kebetulan?

Akhirnya, bagi Anda sang penguasa, ingatlah bahwa jabatan dan kekuasaan hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Jangan terlena dengan keduanya, sesungguhnya jauh di luar sana banyak musuh yang tengah mengintai, bahkan suatu saat mereka siap menerkam Anda. Bersikaplah arif dan bijaksana dalam menanggapi berbagai problematika persoalan.

Pahami betul bagaimana kinerja sang anak buah, jangan hanya didasarkan pada naluri atau insting semata, karena banyak diantara mereka yang berusaha menjilat dan merongrong Anda, seolah mencari perhatian dan mendepak sesama.

Syukuri apa yang sudah Anda genggam, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan emas seperti Anda. Walau demikian jangan bertindak semena mena apalagi berusaha mendepak bawahan tanpa pertimbangan yang matang. Pun, jangan menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan untuk hal-hal diluar batas kewajaran, karena hal itu sama halnya dengan menjerumuskan Anda ke dalam lubang yang Anda gali sendiri. Keduanya merupakan penentu langkah dan tujuan hidup Anda.

Kalau Anda bisa menjaganya niscaya kesuksesan akan melingkupi Anda, tapi bila sebaliknya jangan harapkan sebuah keajaiban akan datang secara tiba-tiba. Karena jurang menganga yang ada di depan Anda siap menelan Anda hidup-hidup. Kehancuran-lah yang selamanya akan Anda dapatkan. Berhati-hatilah!!!
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...