22 Juni 2013

Posted by Sri Wahyuni on 11:13 PM 1 comment
Cerebrovit Xcel, multivitamin remaja, anak cerdas & xcelbrain



Bagi saya mendampingi anak dalam belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.  Apalagi anak yang kita dampingi adalah anak kelas 2 SD yang usianya belum genap 8 tahun.  Sungguh diperlukan kesabaran dan ketelatenan untuk menghadapinya.

Saya tidak pernah memaksa anak saya untuk bersekolah sebelum waktunya.  Umur 4 tahun dia sudah minta sekolah TK.  Lantas saya pun mencobanya memasukkan ke TK.  Awalnya banyak kesulitan yang saya hadapi.  Apalagi guru kelasnya kadang mengeluhkan jika anak saya tergolong anak yang lambat menangkap pelajaran di banding teman-temannya.  Namun saya tetap menanggapinya sebagai hal biasa, karena mengingat usianya yang masih kecil, saya rasa itu hal yang wajar.

Sesering mungkin saya berkomunikasi dengan guru kelas, walau hanya sekedar memantau perkembangan kemampuan anak saya di sekolah.  Saya tak pernah memaksa anak saya untuk menjadi anak yang pandai di kelasnya.  Saya yakin, setiap anak yang lahir ke dunia ini pasti membawa talenta masing-masing.  Andai dia kurang mampu pada bidang pelajaran, pasti dia mempunyai keahlian di bidang lain.  Dan sebagai orang tua kita harus jeli melihat hal ini sedini mungkin.

Lambat laun anak saya mulai beradaptasi dengan lingkungan di sekolahnya.  Meski tergolong agak lambat, tetapi akhirnya dia bisa mengikuti semua pelajaran di sekolahnya.  Bahkan di saat memasuki TK B, dia tergolong anak yang pandai, tulisannya mulai bagus, bisa mewarnai dengan rapi bahkan dapat menyanyikan lagu sesuai dengan irama musik yang mengiringinya.  Itulah kadang dia mendapat kesempatan dari sekolah untuk mengikuti beberapa perlombaan.

Setelah lulus dari TK, anak saya bersemangat melanjutkan ke SD.  Walau usianya belum genap 6 tahun tapi saya yakin dia pasti bisa.  Meski ketika mendaftar beberapa guru sempat meragukan kemampuannya.  Akhirnya saya mengadakan perjanjian dengan guru SD  tempat saya mendaftarkannya.  Jika suatu saat anak saya tidak bisa mengikuti semua mata pelajaran di sekolah, saya bersedia anak saya tidak dinaikkan ke jenjang berikutnya.

Saya tidak mempunyai ambisi untuk memasukkan anak saya ke sekolah bertaraf internasional atau sekolah-sekolah lainnya yang sangat lengkap fasilitasnya  dengan biaya yang cukup mahal.  Bagi saya, sekolah negeri pun juga sama bagusnya, asalkan orang tua ikut berperan aktif dalam mendampingi pendidikannya, saya yakin anak akan mempunyai kemampuan yang sama bagusnya dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional.

Terus terang saya merasa kasihan melihat seorang anak yang bersekolah karena tuntutan orang tuanya.  Dengan alasan supaya anaknya pandai, akhirnya orang tua memasukkan anaknya di sekolah khusus yang fasilitasnya serba lengkap, dan biayanya cukup mahal, sementara sang anak tidak mampu mengikuti aturan main dari sekolah tersebut.  Akhirnya yang ada,  prestasi anak tersebut semakin menurun, anak jadi tidak semangat belajar bahkan bersekolah.  Ujung-ujungnya pasti mengecewakan orang tua.

Pendidikan anak bagi saya sangat penting.  Bukan berarti, ketika kita memasukkan buah hati ke sekolah negeri sama halnya tidak mengutamakan pendidikan anak.  Justru saya ingin membuktikan bahwa sekolah negeri pun tidak kalah bagusnya dengan sekolah-sekolah lain yang fasilitas dan sarana pendidikannya serba lengkap.  Saya pun sudah membuktikannya.

Tahun pertama anak saya memasuki bangku SD sungguh menguras tenaga saya.  Artinya saya harus ekstra sabar menghadapinya.  Kejadian serupa seperti saat dia masih duduk di bangku TK kembali saya alami walau dengan alasan yang agak berbeda.  Guru kelasnya mengeluhkan anak saya yang masih cengeng, suka main sendiri bila guru menjelaskan di papan tulis.  Namun pada prinsipnya anak saya tergolong anak yang pandai, setiap mata pelajaran yang di ajarkan, dia bisa mengikutinya dengan baik.  Bahkan seringkali mendapat nilai yang bagus pada hasil ulangannya.

Demikian juga dengan guru lesnya, berulangkali guru lesnya mengeluhkan anak saya yang kadang kurang bisa konsentrasi dalam mata pelajaran tertentu, seperti matematika.  Hampir saja dia merasa putus asa mengajar anak saya.  Namun bagi saya, memarahi anak bukanlah sebuah keputusan yang bagus.  Sebaiknya terus mendampinginya dengan sabar dan telaten serta memberi arahan-arahan agar tetap semangat belajar.

Lantas saya pun teringat akan nutrisi otak yang sangat bagus bagi perkembangan daya ingat anak, yaitu Cerebrovit X-cel.  "Cerebrovit X-Cel" adalah nutrisi yang bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh dan otak yang bisa di konsumsi oleh siapa saja termasuk anak-anak, karena di dalamnya mengandung berbagai zat seperti Asam L-Glutamat, Asam Folat, Vitamin B Kompleks, Vitamin C, Vitamin E dan Zinc dan Selenium.

Meskipun saya minta bantuan guru les privat untuk mengajar anak saya di rumah, namun saya tidak tinggal diam dan memasrahkan semuanya pada guru lesnya.  Selesai di ajar guru lesnya, saya mengulangi pelajaran yang diajarkan walau hanya 15 menit.  Tak lupa saya memberikan multivitamin sebagai nutrisi otaknya.  Saya beri anak saya cerebrovit x-cel sehari dua kali.  Ternyata hasilnya sungguh luar biasa.  Semenjak saat itu anak saya semakin mudah berkonsentrasi.  Nilai-nilai ulangannya pun semakin bagus.  Bahkan satu hal yang memuaskan, ketika kenaikan kelas anak saya mendapatkan peringkat 5 besar di kelasnya.

Memasuki kelas 2 SD saya mencoba mendampingi belajar anak saya sendiri.  Tidak memanggil guru les privat bahkan tidak juga memasukkannya ke dalam kursus-kursus lainnya.  Namun pemberian cerebrovit x-cel setiap harinya tidak pernah saya hentikan.  Dengan harapan supaya kebutuhan vitamin dan mineral bagi tubuh dan otak anak saya bisa terpenuhi.

Bagi anak saya, mungkin belajar dengan ibu sendiri pasti terasa membosankan, karena tidak ada teman untuk sekedar ngobrol atau adu kemampuan.  Saya pun tidak patah semangat.  Saya mencari solusi supaya anak saya betah belajar di rumah.

Akhirnya saya menemukan ide.  Saya mengajak beberapa teman sekolah anak saya untuk belajar bersama di rumah pada sore hari.  Dan ide itupun ditanggapi dengan bagus oleh orang tua teman anak saya.  Alhasil saya membuka les privat untuk anak saya dan teman-temannya yang gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun.

Jadilah setiap sore saya mempunyai pekerjaan baru.  Saya mengajar anak saya dan teman-temannya di rumah.  Seperti layaknya sebuah tempat kursus, saya siapkan kebutuhan belajar mereka, seperti papan tulis whiteboard lengkap dengan boardmarkernya, meja untuk anak-anak dan alat-alat tulis lainnya.  Cara mengajar saya pun saya sesuaikan dengan sekolah.  Dan setiap hari selalu anak-anak itu saya beri soal, dengan harapan untuk meningkatkan pemahamannya pada semua mata pelajaran di sekolahnya.

Lambat laun cara yang saya terapkan kepada anak-anak itu diterima dengan baik.  Mereka bisa menangkap apa yang saya ajarkan.  Bahkan yang kadang membuat saya senang, ternyata apa yang saya ajarkan di rumah sesuai dengan pelajaran yang di berikan gurunya di sekolah.  Akhirnya pada saat ulangan, mereka mendapat nilai bagus.

Di lain waktu, saya mensosialisasikan manfaat cerebroxit x-cel kepada orang tua dari teman anak saya.  Saya menunjukkan bukti-buktinya.  Bahwa anak saya mempunyai kemampuan yang lebih setelah mengkonsumsi cerebrovit x-cel.  Terbukti dia bisa menghafal semua perkalian sampai 100, perbendaharaan kosakata bahasa Inggrisnya pun juga banyak.  Bahkan dia cepat menghafal dan mengerti setiap pelajaran yang saya berikan padanya.  Akhirnya ibu-ibupun mengikuti saya untuk membeli multivitamin itu bagi anaknya.

Saya mempunyai trik mengajar anak SD yang belum genap berusia 8 tahun.  Anak seusia anak saya adalah anak yang masih senang dengan mainan, bahkan kurang mempunyai kesadaran di dalam belajar.  Di otaknya yang tergambar adalah sebuah imajinasi tentang mainan dan mainan.  Lantas saya pun memasukkan pelajaran dalam bermainnya.  Di saat saya menemani anak saya bermain di kamar, saya selalu menyelipkan sebuah pelajaran, seperti hafalan perkalian, pembagian, kosakata bahasa Inggris atau hafalan-hafalan lainnya.  Demikian juga saat mengajaknya jalan-jalan atau menjelang tidur.  Saya selalu mencari waktu yang tepat untuk menerapkan pelajaran di setiap aktifitas anak saya agar tidak bosan.

Alhasil, berkat cerebrovit x-cel  anak saya bisa tampil cemerlang, otaknya semakin mampu untuk merekam setiap pelajaran yang diajarkan.  Saya pun bisa membuktikan betapa besar peran orang tua dalam mendampingi belajar buah hatinya.  Tanpa bantuan guru les pun, anak saya bisa membuktikan bahwa dia mampu mendapatkan peringkat 5 besar saat kenaikan kelas 2.  Bangganya saya melihat kerja keras saya selama ini membuahkan hasil.  Dan itulah suka duka saya mendampingi anak dalam belajar. Cerita kebahagian saya juga tertuang disini.






 Tulisan ini diikutsertakan dalam "XcelBlog Competition"

Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. semoga sukses ya mbak :) salam untuk putranya yang gemesin :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...