15 Desember 2017

Posted by Sri Wahyuni on 7:32 PM 19 comments



Bagiku, anak adalah anugerah terindah di kehidupanku. Entah, apa jadinya bila jalan kehidupan yang terbentang ini tanpa ditemani seorang anak laki-laki yang buatku amat menggemaskan. Ya….meski Allah hanya menitipkan seorang anak laki-laki di keluarga kecilku, namun syukur itu tak pernah henti kupanjatkan kepada Sang Maha Pencipta. Bahwa, aku telah mendapat kepercayaan untuk merawat, mendidik, bahkan mencintai buah hatiku setulus hati.

Aku termasuk seorang ibu yang beruntung, yang bisa mendampingi tumbuh kembang anak setiap saat. Karena kutahu, tak semua ibu mampu melakukannya. Pun dengan anakku. Barangkali dia menjadi salah satu anak yang berbahagia, karena selalu ditemani dan ditunggui ibunya dalam berbagai suasana. Karena kuyakin masih banyak anak yang kurang beruntung, sehingga mengalami berbagai hal yang kadangkala amat menyedihkan.


Demikian yang dikatakan Deddy Corbuzier di acaranya “Hitam Putih” yang disiarkan di trans7. Bahkan, perjalanan panjang artis Venna Melinda mengadopsi baby Vania Athabina, begitu menginspirasiku. Seorang artis yang juga anggota DPR, mampu mencintai setulus hati seorang anak yang bukan darah dagingnya, rasanya sungguh luar biasa.

Di lain kasus, artis Iis Dahlia dengan dua anaknya yang sudah beranjak dewasa, juga mempunyai permasalahan sendiri. Sudah menjadi tanggung jawab orang tua menjaga anak. Bukan berarti mereka selamanya akan dikurung di rumah, atau dibawah pengawasan pembantu. Anak harus keluar rumah, berinteraksi dengan dunia luar. Meski dunia luar kadang menbawa pengaruh buruk bagi perkembangannya, namun mereka harus tetap bersosialisasi agar wawasannya luas. Tugas orang tualah yang mengarahkan dan membimbing agar anak tidak terjerumus dalam pengaruh buruk itu.

Ternyata, menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah.  Dibutuhkan keikhlasan dalam hati untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa beban sedikitpun.  Apalagi aku hanyalah ibu rumah tangga, yang lebih banyak melihat dengan mata kepala sendiri tumpukan baju kotor di mesin cuci, atau tumpukan setrikaan yang menggunung, atau bahkan sampah-sampah berserakan di halaman rumah. Belum lagi rengekan anak yang minta ini-itu seolah membuatku ingin berteriak. Barangkali kejadian yang berulang-ulang setiap hari itu akan membosankan bila kita tidak ikhlas menerimanya.

Namun jangan salah, meski aku hanya mempunyai seorang anak, tak pernah sedikitpun memanjakannya. Dia selalu kuajari bagaimana menjadi anak yang mandiri yang tidak terus menerus bergantung pada orang lain. Kami adalah keluarga perantau karena mengikuti dinas suami. Sama-sama asli Blitar tapi berpindah-pindah tempat tugas. Hampir delapan tahun menetap di Jayapura – Papua. Dan kini sudah memasuki tahun keenam berada di Denpasar, Bali. Sudah barang tentu bukan perkara yang mudah. Terlebih soal anak.

Tinggal berpindah-pindah membuat anakku harus berulangkali pindah sekolah. Seperti saat memasuki bangku sekolah TK, terpaksa harus dua kali pindah sekolah. Di TK A masuk sekolah Islam, lalu di TK B masuk sekolah Kristen. Begitu masuk bangku SD, dua kali pula harus berpindah sekolah. Awalnya bersekolah di Jawa karena ayahnya masih menempuh pendidikan di Jawa. Tahun berikutnya terpaksa harus pindah sekolah ke Bali dan mengikuti adat istiadat daerah setempat.

Pertanyaannya!

“Apakah anak mampu mengikuti pelajaran dan bagaimana dengan prestasi akademiknya?”

Jawabanku “mampu”.

Alhamdulillah meski berkali-kali harus pindah sekolah karena keadaan, ternyata anakku mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru. Bahkan untuk mata pelajaran yang diterimanya pun masih bisa diserap dengan baik.


Tinggal di Papua yang mayoritas warganya beragama Nasrani, dan di Bali yang mayoritas warganya beragama Hindu, kadang membuat kita takut dengan perkembangan kejiwaan anak. Seringkali tetanggaku di kampung bertanya, “apa tidak takut anaknya terpengaruh dengan budaya yang berlaku di Papua atau Bali?”

Sekali lagi jawabku tentu “tidak”. Selama orang tua menanamkan nilai-nilai agama sejak dini kepada anak, yakinlah bahwa anak tidak mudah terpengaruh oleh budaya atau kepercayaan lain.

Sejak kecil, aku telah mengajari anakku (Fawaz) dengan nilai-nilai agama Islam. Meski dulu pernah bersekolah di TK Nasrani, namun setiap hari aku selalu mengajaknya ke masjid untuk melakukan sholat berjamaah dan belajar mengaji. Bahkan di rumah pun masih kuupayakan untuk memanggil guru ngaji agar anakku lebih mengenal agamanya dengan baik.

Begitupun saat tinggal di Bali seperti saat ini, agama tetap menjadi prioritas utama untuk mendidik anak. Anakku bersekolah di sekolah negeri. Namun aku tetap membimbingnya agar taat menjalankan ibadah, termasuk sholat lima waktu dan mengaji.


Kalau boleh dibilang anakku ini ahli bahasa….hahaha…… meski kedua orang tuanya asli Blitar tapi dia lahir di Jayapura, Papua. Sampai umurnya 6 tahun logat bahasanya khas Papua. Namun begitu pindah ke Jawa Timur, dia pun fasih berbahasa Jawa. Kini saat kami tinggal di Bali, ternyata dia bisa bahasa Bali meski kurang lancar. Kadang suka cekikikan sendiri saat mendengar Fawaz bercakap-cakap dengan temannya yang asli Bali.

Yang bikin melongo, ternyata dia mudah beradaptasi. Saat mudik ke Blitar, bertemu dengan teman-teman sebayanya, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Jawa. Namun ketika kembali ke Denpasar, Bali dan bertemu dengan teman-temannya, bahasa Indonesia campur bahasa Bali-lah yang digunakan.


Ternyata berpindah-pindah tempat tinggal tak membuat anakku kesulitan mendapatkan teman. Dengan mudahnya ia memperoleh banyak teman, bahkan seringkali mereka datang ke rumah meramaikan suasana rumah. Inilah yang membuatku tidak khawatir akan pergaulan anakku.


💞Cara Tepat Mengungkapkan Cinta Anak

Anak laki-laki kadang malu memeluk atau mencium ibunya di tempat umum, apalagi ketika ia sudah beranjak dewasa. Sejak kecil, aku dan suami sudah mengajarinya  untuk saling menyayangi. Bahkan, tidak pernah sekalipun kami menunjukkan sikap permusuhan didepan anak. Beberapa hal yang kuajarkan sejak kecil dan akhirnya berhasil hingga saat ini, menambah rasa syukurku kepada Allah SWT karena diberikan anak yang begitu manis dan penurut.


Dan cara yang tepat untuk mengungkapkan rasa cinta kepada anak tidak harus dengan barang mewah. Anak merengek minta sepeda motor, lalu dibelikan. Anak meronta minta handphone baru dengan harga mahal, lalu dituruti. Itu bukan ungkapan cinta yang benar, namun malah menjerumuskannya ke pengaruh buruk.

Ungkapan cinta yang benar tak lain adalah berusaha memberikan pengertian, perhatian, kasih sayang yang tulus, mendampinginya dalam berbagai kegiatan, bahkan mengajaknya berdiskusi dan mencurahkan segala keluh kesahnya, tentu membuat anak merasa nyaman berada ditengah-tengah orang tuanya. Anak bahkan akan semakin terbuka menceritakan segala permasalahannya dan menganggap orang tua sebagai teman diskusinya yang tepat.

💞CARA TEPAT MENANGANI ANAK YANG SEDANG SAKIT
Meski tubuhnya terbilang gendut, namun Fawaz termasuk anak yang aktif. Berbagai aktifitas dilakukannya bersama teman-temannya. Futsal, sepak bola, berenang, dan bersepeda adalah rutinitas yang dilakukan Fawaz diluar jam sekolah. Kadang aku khawatir dengan kesehatannya. Ingat waktu kecil dulu, beberapa penyakit sering hinggap ditubuhnya.

Saat umur enam bulan, ia pernah alergi susu formula, akibat ASI-ku kurang lancar. Sekujur tubuhnya melepuh dan berair. Ibu mana yang tidak sedih, sementara suami sedang penugasan. Bukan itu saja, typus, malaria-pun sempat menjangkiti tubuh Fawaz ketika kami masih tinggal di Papua.

Namun alhamdulillah semenjak tinggal di Bali, Fawaz makin sehat. Hanya cuaca ekstrim yang kadang membuat daya tahan tubuhnya menurun. Flu dan demam kadangkala menghinggapinya karena kurang memperhatikan makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Saat cuaca terik, sebotol teh pucuk dingin langsung habis diminumnya. Awalnya terasa segar, namun lama kelamaan flu disertai demam pun datang melanda.

Ya…namanya anak semata wayang, kadang manja itu masih timbul dalam dirinya. Kalau badan terasa meriang, mata memerah dan kepala rasanya pusing, pasti Fawaz akan merengek. Sudah pasti sebagai ibu, akupun merasa sedih. Kadang sempat berujar….”kalau boleh meminta lebih baik penyakit itu pindahkan kepadaku Ya Allah……”

Tapi, aku bukanlah ibu yang gampang panik. Ketika anak sakit, langsung dilarikan ke UGD atau rumah sakit. Selama masih bisa kutangani dengan baik di rumah, maka akan kurawat semaksimal mungkin. Untuk demam anak, aku selalu sedia Tempra Syrup dengan rasa  anggur, yang mampu menurunkan panas dan meredakan nyeri.

Hal yang paling biasa kulakukan di rumah ketika anak demam, yaitu: menemaninya berbaring di tempat tidur, mendekapkan, lalu menutup badannya dengan selimut. Meski susah makan minum, namun aku berusaha memberinya minuman hangat, seperti teh hangat atau sirup hangat. Lalu menyuapinya bubur agar perutnya tidak kosong. Setelah itu barulah memberinya obat.

💞TEMPRA SYRUP PENURUN PANAS REDAKAN NYERI
Sebagai seorang ibu, aku selalu siap sedia, terutama dalam hal obat-obatan. Untuk urusan demam anak, maka kusediakan Tempra Syrup rasa anggur yang mampu menurunkan panas dan meredakan nyeri.  Tempra Syrup cocok untuk anak usia 1 – 6 tahun, dengan komposisi setiap 5 ml Tempra Syrup mengandung p160 mg paracetamol. Dan paracetamol ini bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit.


Tempra Syrup mampu meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi, demam setelah imunisasi dan lain sebagainya.
Bahkan, yang membuatku tidak khawatir,  Tempra Syrup ini aman di lambung, tidak perlu dikocok, larut 100% dan dosisnya tepat (tidak menimbulkan overdosis atau kurang dosis).

👦Aman di lambung. Tempra Syrup dengan rasa anggur terbukti aman di lambung, tidak membuat lambung bermasalah seperti menyebabkan lambung bengkak atau menimbulkan sakit maag.

👦Tidak perlu dikocok, larut 100%. Anak-anak pasti suka dengan rasa anggurnya. Sirupnya encer, tidak perlu dikocok, cukup tuang dalam gelas takar sesuai dosis yang ditentukan dalam kemasan, lalu berikan pada anak yang demam, maka demam pun segera sirna.

👦Dosis tepat (tidak overdosis atau kurang dosis). Dalam kemasan tersedia gelas takar dengan dosis yang tepat didalam kemasan, jadi tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis.


💞KEDEKATAN IBU DAN ANAK
Tidak mudah memang membuat anak mencintai ibunya. Kadang pula arti kata “cinta” itu disalahartikan dengan pemenuhan sebuah keinginan. Bahkan, seorang ibu berpikir harus memenuhi segala permintaan anak, agar si anak bahagia. Lalu, ketika semua keinginan anak terpenuhi, apakah ia akan semakin dekat dengan ibunya? 

“Belum tentu”.

Si anak bahkan akan terus menerus merengek minta hal-hal baru, itupun harus segera dipenuhi. Bila tidak dipenuhi, maka ia akan marah dan berontak. Tentu bukanlah hal yang baik bukan?

Lalu bagaimana menciptakan kedekatan ibu dan anak agar tampak harmonis?

Kembali mengutip kalimat Deddy Corbuzier, "mencintai anak dan membuat anak juga mencintai kita adalah hal yang sangat sulit." Barangkali yang pertama sekali kita lakukan adalah menjadi ibu yang manis untuk anaknya. Menjadi ibu yang selalu ada disaat anak membutuhkan. Dan tentunya, agama adalah pondasi utamanya.


💞Menciptakan kenyamanan di rumah, melingkupi rumah dengan suasana kasih sayang dan kekeluargaan, tentu membuat anak semakin dekat. Jangan menjadi ibu yang sok sibuk yang selalu berucap tidak ada waktu ketika anak butuh pertolongan. Sekali waktu ajak anak berdiskusi, menanyakan tentang sekolahnya, kegiatannya, dan sebagainya.

💞Selain itu, tugas ibu adalah memasak. Memasak menu spesial untuk keluarga, dan menghidangkannya di meja makan, menjadi cara menambah kedekatan hubungan dengan keluarga, baik antar suami istri, atau antar orang tua dan anak. Bahkan membawakan bekal sekolah anak dengan masakan sendiri juga akan memberikan kebanggaan tersendiri bagi anak.

💞Menonton, juga menjadi salah satu mediasi mendekatkan hubungan ibu dan anak. Memutar CD di ruang TV misalnya, sambil duduk santai dan menikmati makanan ringan. Atau sekali waktu menonton bersama di gedung bioskop, bisa jadi ajang kedekatan ibu dan anak.


💞Rekreasi, termasuk cara menciptakan kedekatan hubungan ibu dan anak. Tak perlu mengeluarkan dana yang banyak. Mengunjungi tempat rekreasi di sekitar rumah sambil menghabiskan hari libur dapat membuat anak menjadi makin dekat dengan ibunya, karena ia merasa mendapat perhatian dan kasih sayang penuh dari ibunya.

Ya...itulah caraku membuat anak menjadi dekat, sehingga rasa cinta dan sayang dalam hubungan ibu dan anak akan semakin terpupuk dengan harmonis. Bagaimana dengan Anda?


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.
Reaksi:

19 komentar:

  1. Senang ya jika bisa bersama anak selalu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak...sebuah kesempatan berharga bisa mendampingi anak dlm tumbuh kembangnya

      Hapus
  2. setuju banget memasak salah satu yg mendekatkan ibu dan anak terus hasil masakannya dimakan bareng-bareng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak memasak menu kesukaan anak bisa mendekatkan hubungan ibu dan anak

      Hapus
  3. Tak mudah memang menjadi seorang ibu ya mba. Tapi karena tak mudah itu, Allah emmberikan pahala bagi ibu yang berjuang demi keluarganya. Aamiin. Saya pun selalu berusaha memberikan kedekatan dengan keluarga mba walau bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bgt mbak...bersyukur Allah menitipkan seorang anak yg bisa sy rawat dan didik...itu artinya sayapun dituntut untuk terus belajar dan menemba ilmu di sekolah kehidupan

      Hapus
  4. Sebagai ibu baru jujur ngga mudah menjalankan peranan ini mba.Tapi setiap kali dengar atau baca pengalaman ibu-ibu lain tentang mengurus anak aku jadi semangat, sepeti punya motivasi baru. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya bersyukur seraya menanamkan rasa ikhlas dlm diri bahwa anak adalah anugerah terindah dlm hidup kita yg tdk boleh disia2kan...karena tdk semua wanita mendapat amanah untuk merawat anak...insyaallah beban itu akan sirna dan kitapun kembali bersemangat....

      Hapus
  5. Alhamdulillah, ikut senang punya anak lelaki yang jadi penyejuk pandangan. Mohon doanya supaya saya juga bisa jadi Ibu terbaik 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur mbak....tapi saya juga masih belajar menjadi ibu yg baik....semoga demikian dg mbak Nabila...karena menjadi ibu yg baik itu tdk bisa lgsg sekaligus butuh proses panjang dan perlu belajar terus....

      Hapus
  6. Ikut seneng, Teh..
    Terima kasih tipsnya, semoga membaca khususnya calon ibu bisa mengambil pelajarannya..

    Seorang ibu memang best buat anaknya.. Semoga semua ibu sehat selalu..

    Terus berbagi dan menginspirasi lewat tulisan, Teh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mas...terimakasih atas apresiasinya...saya akan berusaha terus menjadi ibu yg baik buat anak saya meski butuh proses yg panjang.

      Hapus
  7. Seneng banget bisa sama sama anak terus ya mbak

    BalasHapus
  8. sayang ke anak juga bisa dilakukan dengan menyiapkan obat di rumah. kalau anak sakit sudah sedia obat.

    BalasHapus
  9. Memasak. Bener bnget mba.. meski aslinya aku nggak pinter masak, tapi suka aja klo bisa semakin deket ke anak..misal dengan ngajakin dia masak bareng..meski cuma mbuka bungkus tempe atau potong sayuran. Dan happy klo anaknya bilang.."Bu..enak" bahkan barusan matang langsung dipake rebutan

    BalasHapus
  10. Fawaz... sehat sehat terus yaa

    BalasHapus
  11. Benern bangett bun... menjadi seorang ibu itu nggak mudah.. bahkan setelah melahirkan anak kita masih harus menjaganya, merawatnya, membesarkannya, memberikan pendidikan dan lain sebagainya yang mana tugas itu gak akan ada habisnya,, peru kesabaran dan keikhlasan untuk menjalani itu semua.

    BalasHapus
  12. Selamat Tahun Baruuu.. Semoga sehat-sehat terus yaaa.. Mendidik dan merawat anak itu seruu... Selama ada Bunda dan Tempra, tidak perlu panik saat anak demam.

    BalasHapus
  13. Semoga Fawaz sehat selalu ya mbak. Dan tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa. Amin. Semangaaaat!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...