7 Juli 2017

Posted by Sri Wahyuni on 11:02 PM 23 comments
Ramadan selalu menjadi bulan yang istimewa bagi saya dan keluarga. Terlebih semenjak kami tinggal di Bali. Menjadi kaum minoritas yang dikelilingi oleh tetangga non muslim, tak menyurutkan kami untuk tetap istiqomah dalam beribadah. Barangkali ada yang bertanya, bagaimana Ramadan di Bali? Sementara mayoritas umat Bali beragama Hindu.


Inilah yang membuat saya tetap merasa nyaman menjalankan ibadah puasa ditengah-tengah umat Hindu yang tunduk dan patuh pada adat istiadat setempat. Mereka tetap menghargai umat muslim. Meski pemandangan di siang hari tidak seperti kenyataan yang ada di pulau Jawa, dimana warung makanan tetap buka seperti biasa. Namun bukan berarti kami umat muslim menjadi warga yang terkucilkan.

Sering saya mendengar kata “maaf” dari teman atau tetangga yang kebetulan mengunyah permen tanpa sengaja didepan saya yang tengah berpuasa. Toleransi bukan hanya sebatas itu saja. Ketika malam hari, umat muslim tengah menjalankan ibadah sholat taraweh, dengan ikhlasnya umat Hindu membantu mengatur kendaraan para jamaah. Mereka menjaga kendaraan tanpa dipungut biaya.

Pemandangan yang tak kalah menariknya saat bulan Ramadan adalah banyaknya pasar kaget yang menjual aneka macam takjil dan sayuran untuk berbuka. Inilah ajang untuk mengais rezeki di bulan yang penuh berkah. Saya pun kembali dibuat takjub, bahwa toleransi itu tetap terjaga. Meski mayoritas penjual makanan adalah umat muslim, namun disekelilingnya banyak warga non muslim yang membantunya. Entah itu membantu menjualkan dagangannya, atau sekedar mengatur lalu lintas yang begitu ramai karena dipenuhi oleh para pencari takjil.

Lalu bagaimana cara saya dan keluarga menyiapkan diri dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan?

Terus terang Ramadan kali ini sangat berbeda dengan Ramadan sebelumnya. Cuaca di Bali yang cenderung panas, kadang membuat kita sering merasa haus. Namun tidak dengan Ramadan kali ini. Seolah menghargai kami yang tengah berpuasa, cuaca di Bali sepanjang bulan Ramadan cenderung dingin dan mendung. Kami pun dapat khusyu’ menjalankan ibadah puasa hingga adzan maghrib berkumandang. Apalagi tempat tinggal kami dekat dengan masjid, semakin meringankan langkah kami untuk menuju ke masjid.

Sementara dengan Fawaz, anak semata wayang kami, mungkin inilah saatnya kami mengajarkan untuk berpuasa penuh. Barangkali saya termasuk orang tua yang terlambat mengajarkan pentingnya berpuasa kepada Fawaz, mengingat usianya yang menginjak sebelas tahun. Namun sekali lagi, hidup di lingkungan yang notabene dikelilingi oleh warga non muslim, diperlukan sebuah kesabaran untuk memberikan pengertian tentang agama kepada anak. Apalagi Fawaz bersekolah di sekolah negeri. Tentu sebuah tantangan terbesar kami untuk mengajarkan agama kepada anak.

“Mengapa Fawaz tidak disekolahkan di sekolah Islam?” Pertanyaan ini yang kerapkali saya dengar. Memang benar, harusnya saya menyekolahkan Fawaz di sekolah Islam agar pengetahuannya tentang agama tidak dangkal. Namun sekali lagi, saya bukanlah orang tua yang otoriter, yang lebih suka memaksakan kehendak sementara anak sendiri tidak suka.

Kebetulan suami saya adalah anggota TNI, meski kami sama-sama asli Jawa, namun suami saya tidak pernah ditugaskan di Jawa. Dinas pertama di Papua. Itupun berulangkali pindah tempat tugas. Hingga akhirnya kembali ditugaskan di pulau Bali. Tentunya tinggal di dua pulau ini (Papua dan Bali) menjadi tantangan terberat saya untuk mengajarkan agama kepada Fawaz. Namun saya yakin, keluarga adalah tempat pertama mengajarkan akhlak dan aqidah yang baik kepada anak.

Bukan membanggakan diri, tetapi saya bersyukur bahwa di bulan Ramadan ini Fawaz bisa menjalaninya dengan baik. Puasanya penuh. Bermain bersama teman-temannya juga tetap dilakukan. Tak ketinggalan melaksanakan sholat lima waktu dan sholat taraweh di masjid. Bahkan ia tak berhenti membaca al-qur’an di malam hari.

Lalu bagaimana dengan sekolahnya?
Kebetulan saat ini Fawaz sudah kelas 6 SD. Ujian nasional pun sudah selesai. Masuk sekolah hanya mengembalikan buku pelajaran dan mendengarkan pengumuman dari guru. Namun saya mempunyai trik agar puasanya tidak batal. Saya ijin kepada wali kelasnya agar Fawaz diperbolehkan tidak masuk sekolah selama dua hari karena permulaan puasa. Disitulah saya memberikan pengertian kepada Fawaz bahwa dia sudah mulai dewasa, sudah di-khitan. Itu tandanya wajib menjalankan puasa Ramadan.

Meski awalnya terasa berat, dan saya harus sering bercuap-cuap memberinya pengertian, lama-lama Fawaz jadi terbiasa berpuasa. Namun di hari pertama masuk sekolah setelah dua hari meliburkan diri, tiba-tiba dia pulang diantarkan guru sekolahnya, dengan alasan kepalanya pusing. Sempat saya raba kepalanya, namun tidak panas. Tetapi wajahnya terlihat kusut, badannya lemas. Usut punya usut, dia melihat teman-temannya pada jajan di kantin dan makan sembarangan didepannya. Naluri kekanak-kanakannya dia ingin seperti teman-temannya.

Dan saya tidak patah semangat, tetap berusaha agar Fawaz bisa menjalankan puasa penuh tanpa terganggu oleh jenis makanan apapun. Selama bulan puasa saya berusaha menyiapkan menu berbuka di rumah. Mulai dari takjil, makanan kesukaan suami sampai makanan kesukaan Fawaz. Semua saya masak sendiri. Lalu Fawaz saya ajak ke dapur, saya tunjukkan cara saya memasak. Begitu aroma masakan tercium, tiba-tiba dia nyeletuk:

“Mama bisa tahan ya dengan aroma masakan ini, tidak lapar?”
Mendengar pertanyaannya, saya pun menimpali.

“Kalau kita sudah niat menjalankan ibadah puasa, godaan apapun itu tidak akan terpengaruh. Fawaz lihat sendiri kan, dari tadi mama masak. Bahkan, hingga masakan matang, tak sedikit pun mama berniat membatalkan puasa. Bila puasa kita batal, itu artinya kita berhutang dan harus membayarnya. Hutang puasa harus dibayar dengan puasa di lain hari.”
Melihat kebiasaan yang saya lakukan saat bulan puasa, Fawaz jadi mengerti. Tak bosan-bosannya saya memberinya pengertian, bahwa puasa itu yang penting niat. Niat yang tulus dan ikhlas dari dasar hati, Insha Allah saat melihat teman makan, Fawaz tak akan tergoda. Sejak saat itulah Fawaz kembali bersemangat menjalani puasa meski ia harus bersekolah di pagi harinya.
salah satu menu untuk berbuka puasa

Bulan Ramadan yang hanya sekali dalam setahun, tentu menjadi bulan yang amat dinanti umat muslim. Menjadi sebuah kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah. Saya juga tidak ingin membiarkan bulan yang penuh rahmat ini berlalu begitu saja tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Terlebih untuk saya dan keluarga. Saya berusaha mengisi mengisi hari-hari saya untuk beribadah dengan tujuan memberikan contoh kepada Fawaz.

Saya yakin elevenia mengerti keinginan saya. Salah satu yang saya inginkan di bulan Ramadan ini adalah sebuah mukena, yang bisa saya pakai di rumah, juga bisa saya bawa kemana-mana. Bukan berarti saya sudah tidak suka dengan mukena lama. Tetapi mukena lama saya sudah tidak nyaman dipakai, jahitannya ada yang lepas. Bahkan karena kebesaran, tas saya sampai terlihat penuh saat membawanya ketika jalan-jalan.
mukena katun jepang yang adem
Tak perlu mukena yang mahal, yang saya butuhkan adalah mukena yang nyaman dipakai dan bisa menemani saya beribadah setiap hari. Karena ketika ada waktu luang, saya ingin membaca al-qur’an, atau melakukan sholat shunnah, dengan harapan agar Fawaz bisa menirunya. Saya juga berusaha meminimalisir tidur siang. Bahkan, ketika ada undangan buka bersama dari teman-teman blogger atau dari hotel yang biasa mengundang blogger, saya pun berusaha memenuhinya. Dengan harapan setelah acara selesai saya pun bisa menceritakan kepada Fawaz tentang hikmah berpuasa.

Bukber bersama Best Western Resort Hotel
dan mengundang anak yatim
Bukan hanya itu, seringnya saya hadir di acara buka bersama dengan anak-anak yatim, dapat membukakan mata hati saya, bahwa masih banyak disekeliling kita orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Dari sinilah akhirnya tumbuh sebuah keikhlasan dan rasa syukur atas nikmat yang luar biasa Allah berikan dalam hidup kita. 

Mengapa Harus Elevenia?
Tak dapat dipungkiri bahwa belanja saat ini menjadi sebuah kebutuhan. Dan belanja online adalah cara praktis mendapatkan barang yang diinginkan dengan mudah. Ada banyak e-commerce yang siap melayani konsumen dengan memberikan berbagai kemudahan, salah satunya adalah elevenia

Sudah lama saya menjadi pelanggan elevenia, dan menikmati berbagai kemudahan dengan berbelanja kebutuhan disini. Intinya elevenia memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Barangkali ada yang belum tahu tentang e-commerce yang satu ini. Atau ragu untuk berbelanja disini, atau bahkan takut tertipu karena berbagai alasan, seperti barangnya murahan, barang tidak sesuai keinginan? Ada baiknya kita perlu tahu apa sih sebenarnya elevenia ini?







Sumber gambar: elevenia

Dari bagan diatas sudah sangat mewakili pengertian tentang elevenia lengkap dengan cara kerjanya. Dan sebagai pelanggan elevenia saya pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbelanja kebutuhan di bulan Ramadhan. Salah satunya berbelanja mukena yang saya inginkan. 

Sudah lama saya mendambakan mukena katun Jepang yang adem yang dapat saya gunakan selama bulan Ramadhan. Alhamdulillah saya mendapatkannya dari elevenia. Prosesnya pun cepat dan barang yang saya terima sesuai keinginan. Saya benar-benar puas dengan pelayanan di elevenia.

mukena katun Jepang di elevenia
Bersama elevenia, saya tidak ingin menyia-nyiakan bulan yang penuh rahmat ini. Saya ingin mendapatkan berkah dan hidayah-Nya. Terlebih saya ingin membimbing Fawaz menjadi anak yang sholeh, yang taat pada agama, meski kami tinggal di lingkungan minoritas.
Reaksi:

23 komentar:

  1. Menjalani bulan Ramadhannya jadi khusyuk ya Mak, ga perlu cape belanja antri, macet, tinggal mainkan jari aja belanja onlen hihii. Aku juga pernah belanja di Elevania beli celana gombrang hahaa,..

    Ihh Fawaz udah besaar yaa, salam dari Bandung, semoga sehat selalu Mak dan keluarga yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mak Nchie, menjadi kaum minoritas membuat kami makin khusyu' beribadah. Sekarang belanja onlen menjadi sebuah kebutuhan ditengah lalu lintas yang makin macet.

      Aih mak terimakasih banyak.....semoga mak Nchie juga diberi kesehatan...jangan sakit lagi ya.....salam balik dari kami di Bali

      Hapus
    2. Saya Atas nama IBU SITI AISYA ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus (4D) <<< 4 8 2 3 >>> saya menang togel (150,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.


      KLIK DISINI-AHLI-DUKUN-TOGEL-SAKTI-TERPERCAYA








      Hapus
  2. Seneng dengernya ada toleransi antar umat beragama, dewasa ini di media byk diberitakan yg buruk2

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini yang saya rasakan selama tinggal di Bali mas, kami saling bersahabat, mengunjungi bahkan curhat bareng meski kami berbeda agama. Hal-hal buruk itu kemungkinan ada namun tidak seburuk yang diceritakan. Bagaimana kita pandai-pandai menjaga diri dan menjalin silaturahmi aja mas.

      Hapus
  3. Mukenanya cakeeep mba.. memang bulan penuh berkah harus dipersiapkan dengan cermat ya. Selamat hari raya idul fitriii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba saya suka mukena katun Jepang yang adem bahannya. Bulan Ramadan hanya sekali setahun harus benar-benar kita siapkan dengan baik. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan ya mba....mohon maaf lahir dan bathin ya mba...

      Hapus
  4. Alhamdulillah y mba walaupun berada di lingk non muslim tapi bisa berpuasa dgn baik. Juga buat fawaz, tdk terpengaruh tmn2nya yg tdk puasa. Fawaz hebat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak mba....alhamdulillah bersyukur kami bisa melalui Ramadan kali ini dengan baik.

      Hapus
  5. memang keluargalah yang bertanggung jawab penuh pada anaknya ya, sekolah dll hanay menunjang, anakku sekolah di sekolah katolik, puasa bagi mereka tetap menjalankannya denagn senang hati, bahkan mereka tetap berolahraga walau diijinkan gak ikut sama gurunya, dia bilang aku puasa kan krn Allah pasti kuat, dan malah happy dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hebat ya bunda....saya salut dengan bunda Tira yang selalu menginspirasi dan memang keluargalah tempat pertama kalinya pendidikan itu dimulai...

      Hapus
  6. Maaf lahir batin ya mbak
    Kalau ada yang nyaman kenapa harus milh mukena yang mahal ya mbak. Bisa jadi mukena yang mahal itu malah berat karena ada segala payet dan bordiran , dan kadang malah panas juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Astri, mohon maaf lahir dan bathin juga ya mba. Betul banget mba, saya tidak pernah pilih-pilih kalau beli barang, terutama masalah harga. Yang saya butuhkan cuma kenyamanan saat memakainya.

      Hapus
  7. Terima kasih untuk infonya,sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah....terimakasih kembali ya

      Hapus
  8. Semangat Fawaz, semoga kelak bisa menjadi anak yang sholeh dan membanggakan orangtua nya. Amin ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...amin...amin yra....terimakasih doa dan supportnya.

      Hapus
  9. Wah si Fawaz udah gede nih..bentar lagi SMP...Semoga jadi anak yang sholeh...Aamiin YRA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba gak terasa...berarti emaknya sudah tuwir hehehe...amin YRA terimakasih doanya ya mba

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Maaf sebelumnya udah ngotorin teh, tadi ada kesalahan jadi hapus komennya lagi..hehe

    Wah, suami tugasnya jauh ya. Seperti tetehku, di Timika, Papua. Semoga sehat selalu ya, Teh..

    Aku setuju, terutama ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi selagi kuat apa yang diajarkan, in shaa Allah anak sudah bisa membedakan ya.

    Ide yang bagus untuk kasih pencerahan terhadap Fawaz ya, Teh, dengan begitu dia jadi tahu dan mengerti akan pentingnya kewajiban sebagai seorang muslim untuk melaksanakan puasa wajib.

    Sekarang aku yang malah tergoda melihat masakan itu..haha
    Betul, lagi-lagi setuju, tak perlu mukena yang mahal, justru dengan kenyamananlah ibadah akan lebih nyaman juga :)

    Di jaman sekarang ini teknologi semakin canggih. Begitu juga dengan belanja online. Tak hanya pakaian saja, makanan sekalipun bisa. Salah satunya seperti yang disarankan teh Yuni ini. Aku belum pernah beli di elevenia sih. Karena saat ini belum ada keperluan untuk belanja online. Next time bisalah aku coba..

    Semoga Fawaz jadi anak yang sholeh. Semua doa serta cita-citanya terkabul ya..aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak uraiannya yang panjang lebar ya mas Andi, sharingnya bermanfaat banget bagi saya yang masih belajar jadi ibu..meski bertahun-tahun belajar tapi gak kelar-kelar hehehe....dan terimakasih juga doa dan supportnya untuk Fawaz ya

      Hapus
  12. Udah dapet email? kayaknya ini lombanya penipuan deh :I pihak managemen elevenia tidak ada kejelasan mengenai lomba ini..

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...