23 Januari 2017

Posted by Sri Wahyuni on 9:12 PM 13 comments
Sengaja saya menulis ini bukan bermaksud menyindir atau menyalahartikan kata "berhutang". Dan memang tak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup itu tak luput dari hutang. Barangkali manusia yang kecukupan secara finansial saja yang tidak perlu berhutang.
Hidup bahagia bebas dari hutang



Namun coba lihat, banyak diantara para pengusaha atau pebisnis yang rela berhutang demi menambah modal usahanya. Mereka ingin memperluas bidang usahanya, sementara modal usahanya kurang mencukupi. Jalan satu-satunya mencari pinjaman bank. Kalau cara berhutang semacam ini masih boleh dilakukan, asal modal yang dipinjam benar-benar diputar dan pada masa yang diinginkan usahanya kian berkembang.

Nah...yang tidak disarankan adalah berhutang untuk foya-foya. Saya pernah melihat sebuah kehidupan yang memprihatinkan dari pasangan suami istri yang sebenarnya bukan dari golongan kurang mampu. Memang, sumber penghasilan mereka adalah suami, si istri adalah ibu rumah tangga yang menggantungkan pendapatan sepenuhnya dari gaji suami. Kalau dilihat dari segi penghasilan sebenarnya gaji suami lumayan banyak, namun istri tidak pandai mengelola gaji suami.

Setiap gajian selalu saja ada yang baru. Baju, tas, sepatu semua baru. Makan pun dibela-belain ke restaurant, membeli makanan yang serba mahal. Walhasil ditengah bulan, gaji ludes, biaya pendidikan anak terbengkalai.

Seolah menggampangkan masalah, si istri menganggap segalanya menjadi mudah. Selama masih bisa berhutang, maka semua masalah akan beres. Akhirnya berhutang ini menjadi kebiasaan, bahkan sampai gali lubang tutup lubang.

Tidak bisa membeli kebutuhan pokok, masih ada koperasi yang bisa dimintai kasbon, ambil barang-barang dengan cara potong gaji. Tidak bisa membeli baju, tas atau sepatu, masih bisa mengambil barang ke ibu-ibu yang biasa mengkreditkan barang dagangannya. Ironisnya, ketika tanggal muda, saat orang lain menerima gaji, pasangan ini hanya bisa menerima slip gaji, sementara gajinya sudah kepotong kasbon yang lumayan banyak jumlahnya.

Lantas apakah demikian yang dikatakan hidup bahagia? Bahagia itu bukan soal baju baru, tas baru atau sepatu baru. Bahagia itu menyangkut masa depan. Andai saat ini kita masih mempunyai kesempatan, maka pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Hidup dalam sebuah keluarga, sudah pasti masa depan akan menjadi prioritas. Bagaimana kita menyiapkan pendidikan anak, bagaimana kita memikirkan masa depan anak atau bahkan bagaimana kita menyiapkan masa tua kita nanti. Apa yang kita miliki saat ini bukan untuk dihambur-hamburkan, melainkan harus diupayakan demi masa depan kelak.

Sungguh saya miris melihat kehidupan seseorang yang harus gali lobang tutup lobang hanya demi memuaskan nafsu belaka. Saya yakin meski mereka bisa mempunyai baju baru, tas baru atau sepatu baru, namun mereka tidak mungkin bahagia. Mereka dikejar-kejar hutang.

Sadar akan harga kebutuhan yang makin membumbung tinggi, saya juga tidak ingin menjadi pribadi pemuas nafsu belaka. Ada beberapa trik yang saya lakukan agar masa depan keluarga saya kelak tercukupi secara finansial:
1. Tanggal muda saat suami menyerahkan gajinya, saya harus memilah-milahnya kedalam pos-pos pengeluaran.
2. Mengalokasikan biaya kebutuhan pokok dalam sebulan, termasuk biaya makan, bayar air, beli pulsa listrik, beli pulsa hp.
3. Menyisihkan biaya keperluan anak termasuk uang jajan, biaya beli buku, bayar tabungan sekolah, bayar les privat dan bayar asuransi pendidikan.
4. Menyisihkan sebagian uang untuk tabungan hari tua.
5. Menyisihkan sebagian uang untuk beli baju, kosmetik, makan diluar, namun yang sifatnya tidak menjadi keharusan. Sebisa mungkin meminimalkan keinginan seperti ini, namun sekali waktu bolehlah....
6. Menyisihkan sebagian uang untuk biaya lain-lain, biasanya 10% dari total penghasilan.
7. Bila ada penghasilan tambahan dari suami, mungkin lembur atau hasil kerjasama dengan rekanan, bisa digunakan untuk investasi. Investasi ini banyak macamnya, bisa investasi rumah atau tanaman, bisa jangka pendek bisa juga jangka panjang.
8. Memanfaatkan kemampuan diri sendiri untuk menghasilkan, itung-itung membantu menambah penghasilan keluarga, seperti jualan, menulis dan sebagainya.

Intinya, kalau ingin hidup kita bahagia, jangan berhutang deh. Lebih baik saat ini berjuang, berkorban untuk tidak menghambur-hamburkan harta yang kita miliki demi keinginan yang bersifat duniawi. Dan jangan menganggap masalah itu selesai dengan cara berhutang. Yang namanya hutang pasti harus mengembalikan. Pertanyaannya, mampukah kita mengembalikan pinjaman tepat waktu? Kalau tidak mampu mending puasa deh.

Lebih baik kita bersusah-susah dahulu yang nantinya akan meraih kebahagiaan, daripada hidup berfoya-foya dan tidak memikirkan masa depan. Jangan berhutang deh kalau ingin hidup kita bahagia, karena tak ada orang yang hidupnya bahagia bila dikelilingi oleh hutang dan dikejar-kejar oleh penagih hutang.

Yuk, persiapkan masa depan kita lebih baik!!!!
Categories:
Reaksi:

13 komentar:

  1. betul mbak,paling ngeri kalau berhutang untuk yang konsumtif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ini yang harus dihindari

      Hapus
  2. I see.. hihi..iya harus bener2 bisa menej nya ya kalo soal uang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uang itu sangat rawan mbak, bila kita tidak pandai mengaturnya maka hancurlah masa depan kita

      Hapus
  3. 8 langkahnya boleh dicoba nih mbk, tengkiu sharenyaaaa,

    BalasHapus
  4. Ku kurang pandai mengolah uang suami dan uangku nih, Mbak. Sering gali lubang tutup lubang. Tapi bukan untuk hal konsumtif sih. Mau beli lipstik aja ditahan2 padahal hang lama tinggal dikit. Pendapatanku mungkin yang harus ditambah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kalanya kita berhutang karena perlu Mbak...selama hutang itu adalah jalan untuk mewujudkan keinginan, saya kira tak ada salahnya...yg penting jangan dijadikan kebiasaan....hidup ini memang terasa kejam bila kita menghadapi kenyataan bahwa apa2 serba mahal...gajipun kadang tidak cukup...tapi ya itulah yang penting disyukuri saja sambil terus ikhtiar....

      Hapus
  5. Sebisa mungkin nggak berhutang. Hidup penuh pengiritan merupakan langkah menghindari hutang. Pengiritan bukan berarti pelit.

    BalasHapus
  6. Berhutang memang tidak dianjurkan oleh Rasulullah Saw
    Menjadi pikiran siang dan malam
    Terima kasih tipnya
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  7. Makasih tipsnya mba... iya bener utang bikin gak tentram..apalagi terjerat rentenir jangan sampai deh...

    BalasHapus
  8. Setuju banget tu mba, kalau ga bener2 terpaksa ga ada jalan lain memang sebaiknya hindari hutang, apalagi cuma untuk konsumsi atau memenuhi gaya hidup

    BalasHapus
  9. Jangan besar pasak daripada tiang ya mba Yun,aku mau jadi istri yang baik juga ah ikutin jejak mba Yun :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...