4 Oktober 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:37 PM 7 comments
Dulu, saya sempat didera gunjingan yang seolah mempermasalahkan status saya.

“Rugi ya mbak kuliah bertahun-tahun kalau toh akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlanjur mengeluarkan biaya banyak…eee…tak tahunya malah tidak bekerja. Kalau tahu begini mending tidak usah kuliah ya mbak. Kan lumayan uangnya untuk beli rumah atau mobil.”

Mungkin bagi sebagian orang, keputusan saya dianggap sebuah keputusan bodoh, yang tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada. Namun sekali lagi, menjadi seorang ibu, pastinya dihadapkan pada berbagai pilihan yang sangat sulit. Ketika ia menjatuhkan pada sebuah pilihan, tentunya ia harus siap dengan segala konsekuensinya.

Berstatus sebagai ibu bekerja atau hanya menjadi ibu rumah tangga, rasanya tak perlu diperdebatkan lagi, karena semuanya merupakan pilihan yang mengandung alasan.  Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana seorang ibu bisa merawat dan mendidik anaknya menjadi pribadi yang menyenangkan.

Bagi saya, menjadi ibu rumah tangga memberikan pengalaman berharga dalam hidup saya. Dan melihat Fawaz, anak semata wayang saya tumbuh menjadi anak yang mandiri, merupakan gaji terbesar yang pernah saya terima sepanjang hidup saya.

Mendampingi anak dalam kesehariannya, tentunya memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Saya masih ingat kala melahirkan Fawaz ditengah keterbatasan yang saya miliki. Melahirkan di pulau ujung timur Indonesia, tanpa ditunggui orang tua dan sanak saudara, bahkan suamipun minim pengetahuan. 

Cara saya merawat Fawazpun tak ubahnya seperti air mengalir. Hari yang penuh heboh, panik atau bahkan dicekam rasa takut sering menghantui saya. Apalagi ketika Fawaz tiba-tiba terserang malaria, typus atau campak, sayapun semakin pusing dibuatnya. Hanya tetanggalah yang kerangkali menolong saya dan memberi arahan bagaimana cara merawat Fawaz.

Bahkan keputusan suami yang tak menginginkan adanya pembantu di rumah, membuat saya harus bolak-balik menitipkan Fawaz kepada tetangga, disaat saya sibuk mengikuti kegiatan. Inilah yang membuat saya merasa sedih, karena pada akhirnya Fawaz lebih dekat dengan tetangga ketimbang ibunya sendiri.

Namun tak semua tetangga ikhlas mengasuh Fawaz. Meski beberapa diantara mereka rela menghabiskan waktu bersamanya. Yang membuat saya sedih, ketika saya mendapati kepala Fawaz benjol atau bahkan ia menangis berkepanjangan.  Ternyata, tetangga saya telah sengaja menjatuhkan Fawaz hanya karena rengekannya.

Menyadari hal itu, sayapun mulai mengurangi kegiatan di luar rumah, dan lebih fokus untuk mengasuh Fawaz. Bersamanya saya selalu memberinya pengertian, dan mengajarinya berbuat baik. Dan ditengah keterbatasan saya sebagai seorang ibu, saya terus mengupayakan hidup yang lebih baik untuknya.

Saya tahu, lingkungan pertama tempat mendidik anak adalah lingkungan keluarga. Dan ibulah yang mempunyai andil terbesar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.  Sedang agama adalah pondasi utama untuk memperkokoh keimanan dan pribadi anak itu sendiri. Sayapun tak segan untuk menyelipkan cerita agama disela-sela waktu bermainnya.

Dan saya bersyukur ketika mendapati Fawaz tumbuh menjadi pribadi yang saya harapkan. Meski anak semata wayang, namun ia bukanlah anak yang cengeng atau manja. Bahkan ia termasuk anak yang penurut, rajin belajar dan taat beribadah. Ketika akan bermain bersama teman-temannya, ia selalu minta ijin. Disaat ada pekerjaan rumah dari sekolah, iapun selalu mengerjakannya. Disamping itu, ia termasuk anak yang tekun beribadah. Setiap hari Jum’at, ia selalu berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Di sore harinya, ia juga rajin belajar mengaji bersama teman-temannya.

Bukan hanya itu. Fawaz termasuk anak yang ringan tangan. Kepada orang yang lebih tua atau kepada teman-temannya, ia senang membantu dan memberi sesuatu yang ia punya. Masih terngiang dalam ingatan saya ketika Fawaz menuliskan kalimat dalam selembar kertas “Yes, Misiku Berhasil.” Berhari-hari tulisan itu membuat saya penasaran. Namun Fawaz bukanlah anak yang suka menyembunyikan sesuatu. Ia bahkan sangat terbuka dengan saya.

Ketika saya tanya perihal tulisan itu, ternyata mengandung arti bahwa Fawaz telah berhasil menolong orang lain. Yang pertama ketika bulan Ramadhan. Misi pertamanya untuk membangunkan sahur warga komplek ternyata berhasil. Setiap malam ia melakukan ronda keliling bersama teman-temannya. Dari sinilah akhirnya ia jadi dikenal banyak orang, bahkan semua warga merasa berterima kasih kepada Fawaz dan teman-temannya yang telah ikhlas membangunkannya di waktu sahur.

Sedang misi keduanya disaat ia berhasil membuka pintu rumah tetangga saya. Kebetulan tetangga saya sedang menjemput anak pertamanya di sekolah dan meninggalkan anak keduanya yang masih tidur. Tanpa disangka anak kedua terbangun dan menagis kencang, hingga suaranya didengar Fawaz. Fawaz berusaha mendekati rumah itu dan mencari tahu letak kunci rumahnya. Begitu tahu jika kunci rumah terletak di atas box listrik, akhirnya Fawaz segera membuka pintu rumah dan memapah anak tetangga saya yang menangis.

Pernah beberapa kali saya salah sangka dan memarahinya, hingga membuatnya menangis. Awalnya saya mengira ia main ke rumah temannya, ternyata ia tengah sibuk membantu bapak-bapak di masjid. Bahkan ketika hujan tiba, iapun masih sempat mengantar temannya pulang dengan berbekal payung ditasnya.

Satu hal yang membuat saya menaruh iba pada Fawaz, ketika ia harus bolak-balik pindah sekolah. Saya sadar, inilah konsekuensi seorang istri tentara yang mengikuti suaminya berpindah tugas. Anak yang jadi korban, sehingga harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun inilah tantangan bagi saya sebagai ibunya. Dari sini saya bertekat menjadi guru di rumah bagi Fawaz, karena saya yakin tak  ada anak yang bodoh bila ibunya sanggup membimbingnya.

Ternyata benar adanya. Tiga kali Fawaz harus berpindah sekolah, dari Papua ke Blitar hingga ke Bali. Melihat perbedaan pulaunya, tentunya bahasa dan kebiasaannya juga berbeda. Namun saya selalu membimbingnya setiap hari, hingga akhirnya ia mampu mengikuti pelajaran di setiap pulau yang disinggahi.


Terus terang untuk pendidikan, saya berusaha menyeimbangkan antara kemampuan akademik dan skill yang dimiliki Fawaz. Meski saya tahu Fawaz mampu dalam hal pelajaran, namun saya tidak pernah menuntutnya untuk menjadi juara satu di kelasnya. Memang saya selalu mengupayakan yang terbaik, namun ketika ia mengalami hal buruk, bukan berarti saya menghakiminya.


Ketika Fawaz mengalami sebuah kegagalan, sayapun akan memberikan pengertian, bahwa itu tandanya ia harus lebih giat lagi belajar. Diluar itu saya selalu menerapkan etika yang baik saat berhadapan dengan orang tua, teman atau anak dibawahnya. Bahkan saya memberikan kebebasan kepadanya untuk mengembangkan bakatnya. Sama sekali saya tidak pernah menuntutnya untuk bisa karate misalnya, atau menyanyi, dan sebagainya. 
Namun saya terus berusaha menggali kemampuannya disela-sela aktivitas bermainnya.



Memutuskan menjadi guru di rumah bagi Fawaz, membuat saya jadi tahu, bahwa tumbuh kembang anak ibarat metamorphosis. Kita tidak boleh memaksakan sesuatu yang belum saatnya harus dilakukan, melainkan harus melalui tahapan sesuai umurnya. Memang menjadi ibu rumah tangga tidak ada pendidikan khususnya. Bahkan ini merupakan pekerjaan yang sangat mulia yang memerlukan pengorbanan dan keikhlasan. Namun hasilnya sangat luar biasa, kita jadi mempunyai rekam jejak tumbuh kembang anak. Hebatnya, kita jadi bangga disaat melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang kita harapkan. Bahwa ternyata, tangan kitalah yang mampu menjadikan anak tumbuh apa adanya tanpa sebuah paksaan. 

Categories:
Reaksi:

7 komentar:

  1. Fawwaz hebat ya saat to long tetangga ya..tetap jadi anak hebat ya. Jadi ingat anak teman jg namanya Fawwaz...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur mak, mungkin inilah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kami....terima kasih mak

      Hapus
  2. Fawwaz memiliki empati yg tinggi, hebat utk Fawwaz

    BalasHapus
  3. ketika akhirnya syaa memutuskan untuk resign juga banyak yang bilang kalau saya itu rugi. Udah sekolah tinggi, dapet kerjaan enak, malah memilih jadi ibu rumah tangga.

    Tapi, nyatanya kita nyaman2 aja, ya Mak. Pasti ada manfaatnya lah apapun pilihan kita selama niatnya baik :)

    BalasHapus
  4. Terima kasih sudah ikut GA saya mak Yuni :)

    BalasHapus
  5. Punya sang jagoan yang hebat dan memiliki empati besar. Sukses untuk GAnya ya mbak :)

    BalasHapus
  6. Fawaz pinteeeeer... Saya juga bahagia dengan pilihan saya sebagai ibu rumah tangga, walaupun sering dicibir orang, sayang katanya, karna saya S2. Tapi saya berasa nyaman dan bangga menjalaninya :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...